![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Pria berjas abu-abu itu, menatap heran pada makam sang Ibu, ada sebuah buket bunga yang seperti baru diletakkan di sana, dari melihat bunga itu Han sudah bisa mengira jika itu adalah bunga yang biasa adiknya kasih saat dia mengunjungi sang Ibu.
“sepertinya putramu mengunjungimu hari ini” ucap Han yang kini telah duduk di sisi makam sang Ibu.
Dia menatap makam Sang Ibu dengan tatapan yang sedih sambil meletakkan satu tangkai bunga kesukaan sang Ibu satu bunga tulip berwarna biru.
"akhir-akhir ini aku jadi sering mengunjungi makammu, Ibu tahu makam Kaira tidak jauh dengan makam Ibu, tiba-tiba aku sangat merindukannya, sudah tiga tahun berlalu tapi kenangan bersamanya tak pernah meninggalkanku, hari ini adalah hari ulang tahunnya dan tetap hari kematian Ibu juga, hari berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah tujuh tahun yang lalu Ibu meninggalkan aku”
Han berhenti sejenak untuk menghapus air matanya, lalu melanjutkan lagi ucapanya.
“Ibu, aku benar-benar sangat merindukanmu, walaupun aku bukanlah anak kandungmu tapi kamu tak pernah membedakan aku dengan Sean, kamu adalah Ibu yang baik, karenamu juga aku bisa menjadi seorang dokter”
“Ibu ingat aku pernah bercerita pada Ibu tentang seorang gadis yang sangat mirip dengan Kaira? Gadis itu bernama Lisa, dia sangat mirip sifatnya dengan Keira dan sekilas wajahnya juga mirip dengan Kaira, Ibu tahu? Gadis itu mencintaiku---”
“tapi aku masih ragu untuk mengatakan jika aku mencintainya juga, aku takut jika itu hanya perasaan semu saja, Ibu tahu sendiri bagaimana perasaanku pada Kaira, hingga detik ini aku masih mencintai Keira--”
“setelah merenungkan semua ini, aku berfikir jika aku hanya menganggap Lisa sebagai Kaira, aku tidak bisa mencintai Lisa dengan bayang-bayang Keira Ibu, aku juga telah melukai perasaan gadis itu, aku benar-benar tidak layak untuknya Ibu”
“apakah ada kemungkinan untukku bisa mencintai Lisa seutuhnya dan hidup bersama dengannya Ibu?” ucap Han yang tersenyum suram, ingin rasanya dia menertawakan dirinya sendiri, bagaimana bisa Han berfikir seperti itu!
“baiklah, aku harus pergi mengunjungi Kaira, senang rasanya bisa membicarakan ini dengan Ibu, aku akan mengunjungimu lagi nanti”
Han mulai melangkah menjadi makam Kaira yang jaraknya tidak jauh dari Ibu, makam Keira berada di Blok C.
Tak lama kemudian Han sudah berdiri di sebuah makam yang bertuliskan nama “ Park Lee Kaira ”.
Han mendidik dirinya tetap di samping batu nisan Kaira, Han tersenyum sangat manis saat menatap makam sang kekasih, dia juga mulai membuang dedaunan yang menutupi batu nisan itu, setelah itu memberikan sebuket bunga mawar merah.
“apa kamu bahagia sayang? Aku sangat merindukan suara tawamu, selamat ulang tahun sayang, harapanku semoga aku bisa mengikhlaskan kepergianmu, kau tahu aku masih memakai cincin pertunangan kita, cincin ini seperti tidak mau lepas dari tanganku atau mungkin aku yang belum bisa melupakannya” ucapan yang melihat cincin dengan bertuliskan “your mine” dan berwarna perak.
“bagaimana aku bisa melepaskannya jika saat kamu pergi pun kamu bersikeras untuk membawanya terkubur bersamamu--”
“Kaira, sudah tiga tahun berlalu kau meninggalkanku tapi kenapa aku masih belum bisa merelakan, kamu pergi membawa hati tapi kamu meninggalkan luka untukku, Keira ini tak adil untukku! Aku juga ingin hidup bahagia walau tak bersamamu”
“waktuku sudah habis, maaf tak bisa lebih lama, aku akan kembali nanti sayang, sampai jumpa, aku mencintaimu”
Han bangkit dari posisinya dan mulai melangkah meninggalkan makam sang kekasih.
Han memilih untuk kembali ke rumah sakit, ada hal yang ingin Han sampaikan pada dokter Park. Untuk sampai ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan, mengingat jarak makam dan rumah sakit sangat jauh.
Han tiba di rumah sakit sangat matahari sudah terbenam, sebelum menuju ruangan dokter Park, Han menyempatkan diri untuk melihat keadaan Lisa. 'dia terlihat baik'
Setelah melihat Lisa, Han segera mendatangi ruangan dokter Park.
“Han?” ucap dokter Park yang terkejut melihat Han yang ada diambang pintu.
“kemana saja kau pergi? Tiga harua kau menghilang tanpa kabar,”
“Tuan Park, apa benar? Jika minggu depan Lisa akan dioperasi?”
“Ya, kamu akan terlibat untuk operasi Lisa” ucap dokter Park.
“tapi--Tapi---Tuan Park,”
“Han, mau sampai kapan kamu akan menghindari ruangan operasi? Apa kamu masih memikirkan putriku?”
“Tuan Park, aku mohon jangan membuatku takut, cukup Kaira---, ”
“Han, kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu, bukankah aku sudah mengatakan jika itu bukan kesalahanmu, itu sudah menjadi takdir tuhan dan aku sudah mengikhlaskan kepergiaan Kaira”
Dokter Park berjalan mendekati Han yang sedang duduk di sofa, “kau belum bisa melupakan Kaira? Han aku sudah memberitahumu untuk berhenti memikirkan Kaira bukan? kamu juga punya kehidupan dan kamu layak untuk bahagia, jika kamu seperti ini aku yakin Kaira juga tidak bahagia disana”
Ucapan dokter Park menyadarkan Han tentang satu hal, 'dia layak untuk bahagia', Han langsung merenungkan semua itu,
'jadi selama ini Kaira tidak bahagia melihat diriku yang seperti ini?'
“Han, kau sudah ku anggap seperti putraku sendiri, mulai hari ini lepaskan cincin pertunangan itu, relakan Kaira dan mencobalah membuka hati untuk yang lain, sudah cukup tiga tahun pengabdianmu terhadap Keira dan juga rumah sakit ini”
“kamu bisa merenungkan semua itu, kembalilah nanti sebelum operasi Lisa dilaksanakan, aku yakin kamu bisa Han, aku harus keruangan Lisa untuk mengambil sampel darahnya” ucap Dokter Park, sebelum pergi dia mengusap rambut Han.
"terima kasih Dokter Park”
Sekarang Hanya ada Han di ruangan dokter Park, didalam ruangan itu terdapat banyak foto Kaira disetiap dinding dan juga meja Dokter Park, dirinya dan Dokter Park sama-sama sendiri di dunia yang fana ini.
Jika Dokter Park sudah kehilangan istri dan juga putrinya, maka hanya tidak memiliki siapapun didunia ini, Han bukanlah anak dari Ayah Sean, Han hanya anak panti asuhan yang mereka angkat menjadi anak, jika mereka tidak mengasuhkan mungkin nasib Han sama seperti Dokter Park yang hidup sebatang kara.
“aku harus bagaimana Kaira” ucap Han, dia menyandarkan tubuhnya ke sofa, tubuhnya terasa begitu lelah, sudah dua hari Han tidak bisa tertidur nyenyak.
__ADS_1
Tak lama kemudian, rasa kantuk menghampiri Han, secara perlahan Han mulai menutup kedua matanya dan mulai tertidur di sofa.
Di dalam mimpi Han .....
Ada kabut putih yang tiba-tiba menghampiri Han, membuat pandangannya menjadi buram, namun hembusan angin meniup kabut putih itu bertukar menjadi semua taman yang dipenuhi dengan bunga lavender.
Tatapan Han tertuju pada seorang gadis yang mengunakan gaun putih yang membelakanginya, sehingga membuat sulit untuk melihat wajahnya.
“Han ...”
Gadis itu memanggil Han namun tak mau melihat ke arahnya.
Han hanya terdiam setelah mendengar suara itu, suara itu ... Suara yang seseorang sangat Han rindukan. Tak menunggu lama Han segera berlari mendekati gadis bergaun putih yang berada ditengah-tengah hamparan bunga lavender.
“Han....” ucap sang gadis yang kini menoleh kebelakang, gadis itu menunjukan wajahnya pada saat Han sedang berlari mendekatinya.
“aku sangat merindukanmu, Kaira” ucap Han, pria itu langsung memeluk Kaira dengan sangat erat, saat Han sudah ada didepannya.
“aku juga merindukanmu, Han”
“Kaira, jika ini mimpi aku harap aku tak pernah bangun lagi”
Kaira yang mendengar itu mencoba melonggarkan pelukannya pada tubuh Han, dan menatap pria itu dengan tatapan yang sedih.
“hidupmu pasti sangat menderita, Han berhentilah mencintaiku, kamu layak untuk bahagia bersama orang yang akan kamu cintai, aku hanyalah masa lalumu Han, cintai kita tak bisa abadi bersama”
“bagaimana aku bisa bahagia jika bayanganmu masih terus ada berada di sekitarku, bagaimana bisa aku mencintai orang Kaira?”
“Han! Kamu bisa melalui semua ini, kamu hanya perlu belajar melupakanku dan mengikhlaskanku, Han dengar aku---” ucap Keira, dia memegang pipi Han dengan kedua tangannya.
"jika kamu seperti ini terus--Bagaimana aku bisa mengingat--- bagaimana aku bahagia disana Han, Jika dirimu terus menahanku dengan semua rasa penyesalan yang kamu rasakan selama tiga tahun”
“jika kamu tidak bisa maka lakukan demi diriku, kamu ingin aku bahagia,kan? Maka lupakan aku Han .... Relakan diriku pergi”
Kaira melangkah mundur, di iringi dengan kembalinya kabut putih yang langsung menutup jalan Han untuk mengejar Keira yang sudah menghilang.
“Kaira!!!!!”
“Han!”
“Han! Bangunlah!”
“Han, sadarlah jika Keira sudah tidak ada” ucap Dokter Park yang kini sedang menatap sedih kearah Han yang masih kebingungan.
“Maaf Tuan Park” jawab Han yang tertunduk sedih, Han terus meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.
“mau sampai kapan kamu akan melarikan dirimu dari semua kenyataan ini Han? Bukankah kamu menyukai pasien yang bernama Lisa itu?”
“ak--Aku--Tidak menyukai”
“aku yakin kau menyukainya namun kamu ragu untuk mengakuinya Han, kau menyangkal semua perasaanmu terhadapnya, seakan-akan kamu anggapnya hanya batasan seorang dokter dan pasien, cobalah untuk terbuka padanya dan mengerti tentang perasaanmu sendiri .... ”
“Han, ingatlah satu hal jika kau mencintai kejarlah tapi jika kau tidak mencintainya jangan pernah mencoba untuk memberikan harapan palsu untuknya, hari aku memperbolehkan untuk tidur ruanganku, aku pergi dulu" ucap dokter Park, hari ini dia memutuskan untuk pulang lebih awal.
Dan Han yang berada di ruangannya hanya terdiam, ucapan dokter Park bagaikan pisau tajam yang siap untuk melukainya.
'Lisa pasti sangat terluka dengan semua ucapanku, terhadap semua hal yang telah Han lakukan, apakah itu membuat Lisa berharap padaku? Atau mungkin diriku yang belum yakin dengan perasaanku?'
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Han, membuatnya semakin kebingungan dengan semua ini, kenapa cinta itu begitu rumit? Bahkan Han pun tak tahu jika dia mencintai Lisa atau hanya menganggap Lisa sebagai Kaira?
Tak mau terlarut dalam pikiran yang rumit, Han memilih untuk mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya dan suasana hatinya yang berantakan, tempat favorit Han dirumah sakit ini adalah taman yang ada di belakang rumah sakit ini.
Namun langkah Han terhenti, ketika dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“Maaf---Sean?”
“kakak? Bagaimana mana bisa kakak disini? Tunggu! Kakak sudah menjadi dokter?”
Sangking senangnya Sean langsung memeluk sang kakak, dia tampak sangat senang bisa bertemu dengan kakak, itu berarti misinya tinggal membawa sang kakak kembali pulang.
“bagaimana jika kita berbicaranya ditaman saja”
******
Han dan Sean, kini keduanya sedang duduk ditaman belakang rumah sakit, padahal hari sudah malam dan juga angin di sana cukup kencang, udara disana juga cukup dingin mengingat ini sudah memasuki musim salju atau musim dingin.
“kenapa kamu bisa ada di jepang? Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Han yang memulai percakapan terlebih dahulu.
__ADS_1
“aku kesini karena temanku sedang sakit kakak, untuk kuliah aku mengambil cuti selama 3 minggu, temanku akan menjalani operasi, dia butuh semangat dari orang sekitarnya tapi keluarganya sangat sulit untuk membagi waktu untuk temanku,itu adalah alasanku disini” ucap Sean, dia memberikan coffe hangat pada kakak yang sempat dibeli sebelum ke taman.
“seorang gadis? Jika benar, mungkin alasannya akan berbeda, apa kamu menyukainya?” tanya Han sambil minum coffe hangat itu.
“aku tidak tahu menyukainya atau tidak, tapi itulah bukan hal yang penting kakak”
“lalu hal penting apa yang membuatmu sampai ke jepang? Kau bahkan sampai mengambil cuti disaat kelulusanmu sudah di depan mata?”
“Kakak Han, hal penting itu kamu kakak, aku kesini ingin mengajakmu pulang, kakak tahu kondisi ayah sangat buruk akhir-akhir ini, dia bahkan terus menanyai dirimu kepadaku kakak”
“apa kakak sudah menemukan kekasih kakak?”
“aku kehilangan dia Sean, dia sudah pergi”
“pergi bersama pria lain?”
“bodoh! Dia sudah meninggal”
Sean : “..........”
“alasanku pergi dari rumah bukan mengejar kekasihku, karena ada hal yang membuatku tak pantas untuk tinggal bersama kalian”
“apa karena ayah?”
“tidak, bukan salah ayah atau ibu Sean, tapi karena aku bukan anak kandungnya”
“itu ... Kakak pasti berbohong! Tidak mungkin!”
“alasan aku pergi karena ayah ingin menyuruhmu untuk menggantikannya tapi dia takut menyinggung perasaanku”
“pantas saja ayah terus memaksaku untuk mendekati putri dari teman ayah, aku belum siap untuk memegang perusahan Ayah, kakak”
“Sean kamu adalah anak kandung ayah, kamu punya hak untuk itu”
“tapi kakak? Kenapa ayah terus bertanya padaku tentang kakak?”
“aku juga tidak tahu, seperti kita harus
kembali, angin malam tidak baik untuk kesehatan”
“setidaknya temuilah dia sekali saja kakak”
Ucapan Sean tidak dihiraukan oleh Han sesama sekali, pria berjas putih itu terus melangkah, meninggalkan Sean sendirian di bangku taman.
'kakak, kamu tak pernah berubah! Selalu sulit untuk dipahami' ucap Sean.
Setelah Han sudah mulai menghilang dari jangkauan Sean, dia baru melangkah meninggalkan bangku taman itu dan kembali keruangan Lisa.
Di dalam ruangan Lisa, gadis itu sedang melihat gelang yang diberikan Han pada saat mereka berkunjung ke museum doraemon, Lisa merindukan pria yang memberikan gelang ini, sudah tiga hari tak melihatnya membuat hidupnya hampa.
Dengan susah payah Lisa mencoba untuk tidak berharap jika pria itu akan kembali, tapi perasaannya berbanding terbalik dengan harapannya, hati selalu berharap jika pria itu cepat kembali dan menemuinya.
“Lisa? Kamu belum tidur?” tanya Sean, yang kini sedang berjalan mendekatinya sambil membawa susu hangat.
“aku baru saja akan tidur, apa kamu akan menemaniku malam ini?”
“ini minumlah, seperti aku tidak bisa Lisa, aku ada urusan yang sangat penting malam ini”
“urusan apa?” tanya Lisa sambil meminum susu yang diberikan Sean.
“aku tidak bisa memberitahumu, aku akan pergi setelah kamu tertidur”
“kamu bisa pergi, aku tak apa-apa sendiri disini, aku sudah terbiasa”
“baiklah, jaga dirimu baik-baik, aku pastikan sebelum kamu membuka matamu aku sudah ada disampingmu” ucap Sean, sebelum pergi dia menyempatkan untuk mengelus rambut Lisa.
Setelah Sean pergi, Lisa segera menarik selimut untuk tidur dan mematikan lampu yang ada disampingnya. Secara perlahan Lisa mulai menutup kedua matanya, dan mulai terlelap dalam tidurnya.
Tiga puluh menit berlalu .....
Secara diam-diam Han datang keruangan Lisa, pria itu melangkah dengan hati-hati mendekati Lisa yang sudah tertidur.
“kamu masih terlihat cantik walau sedang tidur Lisa, maaf jika aku baru menampakan diriku lagi” ucap Han yang kini berdiri disamping Lisa yang tertidur lelap.
“Lisa, aku tidak bisa berjanji padamu untuk hal ini, tapi aku akan mencoba untuk meyakini hatiku, maukah kamu menungguku?”
Han bertanya pada Lisa yang tak mungkin akan dijawab, Lisa bahkan tak bisa mendengar apa yang Han ucapan sekarang, Han sedikit menundukan kepalanya, dengan lembut Han mencium kening Lisa.
__ADS_1
“aku merindukan senyuman manismu Lisa”
Setelah puas berada di ruangan Lisa, Han segera meninggalkan ruangan itu, dia tak mau Lisa melihatnya sekarang. Han masih butuh beberapa hari untuk mencari jawaban untuk setiap pertanyaan yang ada di dalam pikirannya dan hatinya, Han ingin muncul di depan Lisa sangat sudah yakin dengan semua ini, yakin apakah dia mencintai Lisa atau tidak.