Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 37 - Be Happy?


__ADS_3

hari yang berat pun sudah berlalu berganti dengan malam yang cukup dingin dari malam biasanya, salju masih setia menutupi setiap jalan tokyo, jalan pun tampak sepi tak ada satu warga yang berada diluar, semua orang lebih memilih berada didalam rumah berkumpul dengan keluarga dan menghabiskan hari ini dengan baik.


Malam ini, Risa dan Sona memilih untuk menginap di rumah sakit, ada hal yang ingin Risa sampaikan pada sang putri, dan Risa ingin membuat Lisa terbuka pada dirinya lagi.


Untung saja sona tidur lebih awal karena seharian ini mungkin cukup lelah untuknya mengingat Sona juga masih harus menyelesaikan tugas kuliah yang tak bisa ditinggalkan selama Sona mengambil cuti.


Risa dan Lisa, keduanya saling menatap satu sama lain, rasanya seperti sudah lama mereka tidak berduaan seperti ini layaknya seorang Ibu dan anak.


“kau bahagia?”


Lisa mengangkat alisnya saat mendengar sang Ibu bertanya padanya, Lisa dengan bingung menatap Risa.


“aku tidak mengerti Ibu”


“kalian saling mencintaikan?”


“Ibu, bicaralah dengan benar, aku benar-benar tak mengerti perkataan Ibu”


“putriku sudah banyak berubah, kau bahagia mencintai Han?”


“........”


“pasti sangat berat untukmu, mau dengar kisah cinta ibu pada ayahmu”


Risa mulai mencerita awal mula pertemuannya dengan Lian, lalu bagaimana bisa dia bisa mengenal Lian dan memutuskan untuk menghabiskan hidupnya bersama pria yang usianya sudah tua tapi masih bersikap posesif.


“kamu tahu Lisa, kadang hal yang kita anggap tak akan terjadi itu malah akan terjadi pada kita tanpa kita sadari, jika pertemuan Ibu dengan Kevin itu tak terjadi maka sampai detik ini, kita tak akan bisa berbicara tentang masa lalu”


“walaupun ku bukanlah cinta pertama bagi Lian, tapi siapa yang tahu jika cinta kita bisa bersatu hingga menghasilkan dirimu Lisa, aku tak pernah menceritakan ini pada Kevin karna aku tak ingin dia berpikir jika aku membedakan dirimu dengan Kevin, aku ingin kamu mengerti dengan apa yang baru saja aku cerita, Lisa cinta saja tidak cukup untuk membangun semua komitmen, butuh keberanian dan perjuangan dari kedua belah pihak”


“tapi Ibu, Han tidak mencintaiku, dia bahkan sudah memiliki tunangan”


“jika dia tidak mencintai, dia tak akan mendonorkan darah untukmu Lisa, kamu tahu jika dokter park mengatakan itu, mungkin Ibu tak akan tahu cinta tulus yang Han sembunyikan darimu, Lisa kamu hanya perlu membuatnya yakin, kamu juga harus mengerti dia, jangan hanya menjadi pihak yang ingin dimengerti saja”


“aku tak tahu jika dia mendonorkan darahnya untukku, Ibu saat mendengar kisah cinta kalian, hati bergerak untuk mencoba percaya padanya lagi”


“Ibu tahu, saat diriku depresi karena penyakit yang kuderita, saat orang lain tak ada dikamarku, aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku, saat aku sudah berdiri didepan jendela dan satu langkah lagi aku akan terjun dari rumah sakit ini, Han yang melihat itu langsung menarikku, yang Ibu dan Ayah lihat itu adalah salah paham karena Han tak pernah berani menyentuhku”


“Lisa, kenapa kamu melakukan itu? kamu tahu, bagaimana apa yang terjadi jika kita kehilanganmu sayang, bukan cuman kesedihan yang menimpah kita tapi juga rasa bersalah yang akan terus menyakiti Ibu Lisa”


“maafkan aku Ibu, aku tak memikirkan akibat jika aku bunuh diri, sejak saat itu aku sadar jika hidupku sangat berarti, namun setelah itu Han berubah Ibu, aku--,”


Risa menarik sang putri kedalam pelukannya saat Lisa mulai menangis.


“aku akan membantumu untuk melewati semua ini, lebih baik kamu beristirahat, atau kamu ingin makan sesuatu?”


“aku ingin susu coklat dan roti saja, berhati-hati Ibu cuaca sedang dingin”


Saat Risa membuka pintu ruangan rawat Lisa, dia terkejut yang melihat Han yang ada di luar dengan infusan yang masih melekat di tangan dan juga baju pasien yang dia pakai.


"Dokter Han? apa yang sedang kamu lakukan diluar? kamu ingin bertemu dengan Lisa?"


“aku--aku--hanya sedang ingin duduk di saja, Nyonya ingin kemana?”


“Lisa ada dokter Han, katanya dia ingin berbicara denganmu”


Han yang mendengar ucapan Risa barusan, langsung terkejut dan salah tingkah, kali ini dia ketahuan dengan melihat kondisi Lisa secara diam-diam diluar.


“Temui dia, jika kau membuatnya menangis, aku yang akan memukulmu lebih dahulu”

__ADS_1


Risa mendorong Han untuk masuk kedalam ruangan Lisa, dengan sengaja Risa segera mendorong pintu itu dan pergi meninggalkan mereka untuk beberapa waktu kedepan.


Lisa yang ada di dalam hanya menatap kearah Han yang mulai berjalan mendekati dengan infusan yang digantung, Han berjalan dengan bingung dan juga malu karena ini biasanya Han akan mengenakan Jas putihnya tapi kali ini dia juga berpakain sama dengan Lisa.


“Dokter Han, apa kamu sakit?”


“itu--aku hanya--,”


“kamu belum makan saat mendonorkan darahmu?”


“bagaimana kamu bisa tahu?”


“itu rahasia, kamu begitu sangat mencintaiku sampai tak ingin satu orang tak ingin tahu jika kamu mendonorkan darahmu”


“itu hanya kebetulan saja, karena darahmu sama denganku”


“benarkah? bukankah biasanya jika membutuhkan darah pihak keluargalah yang akan dipanggil terlebih dahulu baru orang lain”


“........”


“Han berhentilah untuk membohongi dirimu sendiri, aku juga tak ingin kamu menyakiti hatimu”


“Lisa aku sudah memiliki tunangan--,”


“kamu berbohong, Han setelah dirimu mau percaya padaku atau jika tapi seorang gadis datang kedalam mimpiku saat aku sedang menjalankan operasi, wanita itu berkata 'jika Han mencintaimu Lisa, buatlah dia yakin dengan perasaannya, aku sudah lelah melihatnya terus bersedih karena perasaan yang selalu dibuat rumit, aku ingin dia bahagia' ”


“awalnya aku tidak percaya dengan ucapannya, namun saat aku lebih wajahnya aku teriang dengan foto wanita yang ada di dalam kamarmu, Han, kita harus berjuang bersama”


“Lisa, seperti waktunya untuk dirimu istirahat, aku akan kembali ke ruanganku”


Han segera meninggalkan ruangan Lisa, lagi-lagi dia terus melarikan diri saat seharusnya dia menghadapi masalah, bukannya Han tak ingin menyelesaikan masalah, dia masih butuh waktu untuk menghadapi semua ini, Han pun belum mampu untuk melepas cincin pertunangannya dengan keira, bagaimana dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Lisa.


Lisa hanya terdiam melihat punggung Han yang semakin menjauh dari ruangannya, kali ini dia tak menangis tapi dia tersenyum karena hal yang dikatakannya mampu membuat Han tak bisa berkutik untuk berbohong lagi, sekarang Lisa hanya pergi membagi waktunya untuk berbicara berdua dengan Han.


Kevin, Sona, dan Sean, mereka bertiga memutuskan untuk pulang lebih awal karena alasan pribadi masing-masing, kalau Kevin dia harus mengurus bisnis sang ayah yang baru saja bekerja sama dengan salah satu perusahan di paris yang bergerak di bidang perhotelan, sedangkan Sona dan Sean kembali karena masa cuti mereka sudah berakhir, mereka harus segera kembali berkuliah lagi.


Hanya tinggal Lian dan Risa saja yang bisa menemani Lisa dirumah sakit, hubungan Lian dan Risa masih renggang karena keduanya masih tak mau menyelesaikan masalah, ralat bukan keduanya tapi Risa yang tak mau berdebat dengan Lian hanya karena masalah Han, saat aneh jika keduanya berdebat hanya masalah seorang pria, oh ayolah usia mereka sudah melewati 35 tahun, bagaimana bisa mereka bertengkar hanya karena masa sederhana. padahal usia pernikahan mereka sudah mau menginjak 20 tahun, bukan waktunya lagi untuk saling cemburu atau memperdebatkan hal sederhana.


kini keduanya hanya saling diam satu sama lain, Risa lebih memilih untuk duduk di samping Lisa yang masih tertidur, dan Lian hanya sibuk dengan pekerjaan di sofa.


Tak lama kemudian Lisa membuka kedua matanya, hari ini rasa sangat baik untuk Lisa, tadi malam dia bermimpi indah.


“good morning, Ibu”


“morning sayang, mimpimu indah tadi malam?”


“Hm--, rasanya aku tak ingin bangun, karna mimpinya terlalu indah bagiku, kapan Ibu datang? dimana yang lain”


“Kevin, Sona dan Sean, harus kembali lebih awal karena mereka mempunyai urusan mereka masing-masing”


“aku juga ingin cepat kembali, aku merindukan teman-temanku”


“kamu yakin ingin cepat-cepat meninggalkan rumah sakit ini?”


“tidak juga, aku perlu mengurus sesuatu disini sebelum pergi”


“kamu pasti bisa mendapatkannya, hanya pergi membuatnya yakin pada cintanya”


“terimakasih Ibu”

__ADS_1


Lian yang cukup penasaran dengan percakapan Ibu dan Anak itu, dia mulai meninggalkan pekerjaan dan berjalan mendekati mereka.


“apa yang sedang kalian bicarakan? Ayah juga ingin tahu”


“Tidak ada! kau lebih baik menyelesaikan pekerjaanmu”


Lisa hanya melihat kedua orang taunya dengan tatapan bingung, seperti kedua orang tuanya sedang bertengkar, rasanya ingin sekali Lisa tertawa melihat pertengkaran mereka yang sangat lucu, mereka seperti lupa usia.


tiba-tiba dari arah pintu terdengar langkah kaki seseorang, saat ketiga orang itu melihat ke arah pintu mereka melihat Han yang sedang melangkah mendekati mereka dengan jas putih seperti biasanya.


“sayang seperti aku lapar, bagaimana jika kita pergi untuk sarapan”


melihat Han yang datang dengan cepat Risa menarik sang suami untuk keluar dari ruangan dengan alasan jika dirinya lapar, Risa ingin mereka berdua menghabiskan waktu banyak untuk berdua, ideal memulangkan kevin, Sona dan Sean juga termasuk inisiatif dari Risa sendiri.


“Han jagalah Lisa selagi kami pergi, berbicaralah lebih lama dengan Lisa”


kini diruangan hanya ada Han dan Lisa, awalnya niat Han datang kesini karena ingin berbicara dengan orang tua Lisa mengenai kondisi Lisa, tapi kenapa mereka malah meninggalkan mereka berdua.


“bagaimana kondisi hari ini? saat mandi usahakan kepalamu tidak terkena air”


“sangat baik, karena pagi-pagi aku sudah melihat orang yang aku cintai, terimakasih sudah mengingatkanku dokter Han”


“Lisa--, kenapa kamu begitu yakin jika aku juga mencintaimu”


Han sedikit menundukan badannya pada Lisa, namun tiba-tiba dia menyentuh dada kiri Han yang membuat pria berjas putih itu tekejut.


“sederhana, saat seseorang sedang jatuh cinta, jantung ini akan berdebar kencang saat kamu berdekatan denganku dan saat Kita hanya berduaan, kamu akan lebih gugup dari biasanya”


Han dengan sudah payah menelan air liurnya dan dia melepaskan tangan Lisa yang ada di dada kirinya.


“jantungmu berdebar dan kamu terlihat gugup Han, itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya”


“akan menemuimu nanti saat makan siang”


Lisa yang melihat Han akan pergi dari ruangan segera menarik tangan pria itu yang sangat besar untuk ukuran tangan Lisa, dan berkata.


“mau sampai kapan kamu akan lari dari masalah ini Han? haruskan aku memegang tanganmu agar kamu tidak lari dariku? dan kenapa kamu terus menghindar dari pembicaraan ini Han?”


“Lisa, aku tidak pantas untukmu, aku juga bukan pria yang baik, kamu sudah tahu bagaimana sifatku terhadap wanita, haruskan aku menjelaskan lagi padamu”


“apa yang tidak pantas? kamu mencintaiku dan aku mencintaimu, apa itu masih kurang? jika kamu pria yang suka memainkan perasaan wanita, kamu pasti sudah mendekati ibuku atau mungkin Sona, aku bukan gadis bodoh dokter Han”


“Lisa, cinta saja tidak cukup untuk menjalani hubungan, perlu kesiapan yang matang dari kedua belah pihak, kamu tahu aku hanya dokter biasa, ayahmu tak akan setuju jika kita bersama”


Tanpa sadar Han mengakui jika dia memang mencintai Lisa dari ucapannya barusan, dan Lisa yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, dalam hatinya dia sangat bahagia mendengar ucapan Han.


“kamu mengakui, jika kamu mencintaiku? Han aku yakin kita bisa melewati ini bersama, kamu hanya perlu yakin dan percaya”


“aku--Ya, mungkin sudah waktunya untukmu tahu jika aku memang mencintaimu Lisa”


“aku juga mencintaimu Dokter Han, aku senang akhirnya kita bisa saling jujur satu sama lain, aku harap kita bisa melangkah ke hubungan yang lebih serius”


“tidak! kamu harus menyelesaikan kuliahmu, kamu harus bisa mengalahkanku”


“Baiklah dokter Han, setelah aku menjadi dokter aku yang akan melamarmu”


“aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena aku yang akan melamarmu”


“tidak! aku yang akan melamarmu”

__ADS_1


Lisa dan Han, kemudian balut dalam perdebatan lucu yang mereka buat, tanpa sadar ada kebahagian yang meliputi kedua hati mereka, setelah sekian lama akhirnya keduanya bisa tertawa bahagia setelah rintangan demi rintangan yang mereka lewati tanpa adanya orang ketiga dalam hubungan mereka.


intinya jika memang kau yakin mencintai maka kejarlah walaupun hasilnya nihil, setidaknya kita sudah mencoba yang terbaik, yang terpenting cintailah seseorang orang dengan tulus tanpa memandang siapapun dia.


__ADS_2