![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Sebelum pulang kerumah Risa sengaja mampir makan di restoran cepat saji agar nantinya dia tidak perlu makan dirumah, dia sudah minta tolong pada Keira agar menjemputnya di sini karena mobilnya tiba-tiba saja mogok.
“Two Big Burger with Cheese”
Risa meletakkan nampan yang berisi dua Big burger dan dua Coca dengan gelas besar, bertamasya di kebun binatang menguras tenaganya, jangan lupa perjalanan pulang yang melelahkan menaiki kereta yang cukup padat, beruntung ada orang baik yang merelakan tempat duduknya untuk Kevin dan Risa, hingga mereka tidak perlu berdiri dan berdesak-besakan.
“Ayah biasanya hanya membolehkan Kevin makan setengah Burger” Kevin mulai menggigit Burger miliknya.
“kalau begitu tidak usah beritahu Ayah” Risa mengedipkan sebelah matanya membuat Kevin terkekeh geli.
“Ibu memang yang terbaik”
Risa mengusap rambut Kevin, sepertinya dia dan Kevin bisa menjadi sekutu yang baik, mengingat Kevin selalu saja bisa membuat Lian menuruti perkataannya,
Tiba-tiba saja otak licik Risa muncul.
Bolehkan jika sesekali Risa ingin membuat Lian kesal? Jangan hanya pria bodoh itu saja yang membuat Risa kesal dengan tingkah lakunya.
“Kevin” Risa menyuruh Kevin mendekat dan mulai berbisik di telinga kecil Kevin.
“apa Ayah tidak akan marah?” tanya Kevin
Justru itu yang ingin Risa lakukan, membuat Lian marah.
“Tidak apa-apa” Risa menahan senyumnya membayangkan bagaimana nanti reaksi Lian
“kita perlu sekali-kali memberi Ayahmu pelajaran!” ucap Risa
“apa Ayah tidak pintar sehingga harus diberi pelajaran?” tanya Kevin dengan mata yang bulat, setahunya Ayah kerennya itu sangat pintar, buktinya ketika ada PR matematika dia selalu dibantu Ayahnya.
“Ayah sangat pintar dalam pelajaran matematika, Ibu”
Risa menepuk dahinya berulang kali, Risa terkadang lupa jika dia sedang berbicara dengan anak kecil yang polos dengan rasa ingin tahu yang menggunung.
“lupakan itu, sekarang Kevin coba telpon Ayah”
Baru saja Risa akan mengeluarkan ponselnya, tapi dia orang yang baru saja memasuki restoran cepat saji membuatnya tanganku membeku.
“bukankah itu Ayah dan tante Jennie?” Kevin menunjuk dua orang yang baru saja masuk mata menatap khawatir pada Risa yang termenung.
“Ibu, baik-baik saja?”
“tentu saja, memangnya Ibu kenapa?” Risa mencoba tertawa untuk menyakinkan Kevin jika dia baik-baik saja.
Sepertinya Lian tidak menyadari keberadaan Risa dan Kevin, mengingat mereka memang terpisah beberapa meja, ditambah pengunjung restoran yang cukup ramai dikarenakan ini adalah hari ulang tahun restoran cepat saji ini.
“setelah ini kita pulang, Ya?” tanya Risa, dia mengunyah pelan-pelan burgernya yang hampir habis.
“tidak menghampiri Ayah?” tanya Kevin.
“Ayah mungkin sedang tidak ingin diganggu dengan tante Jennie” ucap Risa.
Kevin hanya mengangguk menyetujui permintaan Risa.
“Risa!”
Oh Tuhan, kenapa suara Keira begitu nyaring.
Risa nyaris lupa jika tadi dia meminta Keira menjemputnya di sini.
Dan tetap saat Risa mengangkat kepalanya, dia bisa melihat Lian yang menatapnya, pria itu sudah menyadari keberadaannya.
“Hai Kevin sayang” sapa Keira memilih duduk disebelah Kevin, dengan santainya dia meneguk milik Risa. “jadi mau pulang sekarang?”
“Ayah” Kevin tersenyum melihat Lian yang sudah berada didepan mejanya.
Risa berusaha menyembunyikan kegugupannya, lagipula kenapa dia harus gugup?
__ADS_1
“Lian? Kamu ada disini?” Tanya Keira, gadis itu kini menatap Risa.
“jika ada Lian disini, kenapa kamu meminta aku menjemputmu? Kenapa tidak pulang bersamanya?”
Rasanya Risa ingin menyumpal mulut Keira sekarang, Lian menatapnya dengan tatapan dingin tangannya disembunyikan di balik kantong celananya.
Sementara Risa belum mengeluarkan sepatah katapun, Jennie sudah berdiri disini menyusul Lian.
Lengkaplah sudah.
apa ini acara makan bersama? Batin Risa terus menggerutu.
“Kevin” mengecup pipi Kevin, sementara yang diberi kecupan masih tidak bergeming menatap Risa.
“ayo pulang” dua kata keluar dari mulut mampu menyentak kesadaran Risa.
Siapa yang diajak pulang Lian? Dia atau Jennie? Alis Risa terangkat melirik Jennie yang sedang kesal, mungkin acara makannya dengan Lian terganggu.
“aku pulang dengan Keira saja” ucap Risa tanpa berani menatap mata Lian secara langsung.
“dia sudah berbaik hati datang untuk kesini jemputku” Keira tersenyum kikuk, dia bisa mencium permasalahan yang terjadi antara Lian dan Risa.
“tidak masalah Risa, kamu pulang dengan Lian saja, aku harus pergi, pacarku pasti sudah menunggu lama dimobil” Sebelum meninggalkan Risa, Keira berbisik pelan di telinga Risa.
“cemburu tanda cinta, jika kamu cemburu pada perempuan itu, artinya benih-benih cinta mulai tumbuh dihatimu yang gersang”
Risa mengumpat dengan apa yang Keira ucapkan, sahabatnya macam apa yang meninggalkan temannya saat terpuruk seperti ini.
“jadi tunggu apa lagi?”
Suara dingin Lian lagi-lagi membuat Risa semakin menciut, sudah bisa dipastikan setibanya dirumah Risa tidak akan bisa lepas dari Lian, padahal dia sudah berusaha keras untuk menghindar beberapa hari dari Lian.
Sesampainya dirumah Lian.
“kenapa?”
“ehm--” Risa berdehem kecil mencoba memberanikan menatap Lian dengan santai, tangan kanannya menarik handle pintu agar pintu kamar Kevin tertutup rapat,
“ku rasa aku harus membersihkan tubuhku, jadi bisakah kita bicara lain kali”
“kapan?” tanya Lian datar,
“terakhir kali kamu ucapkan nanti adalah kemarin siang dan setelahnya kamu menghindariku seolah aku virus yang mematikan”
Wajah Risa merenggut mendengar ucapan Lian, dia memang menghindari Lian tapi apa pria itu harus mengucapkan segamblang itu?
“berhenti main-main, Risa” Lian mengambil nafas panjang, mencoba bersikap lembut jika dia sama kerasnya dengan Risa maka takkan ada jalan keluar, gadis di depannya bisa menghindarinya lagi, dan Lian tak ingin itu terjadi.
“katakan sesuatu?” Lian berjalan mendekat, membuat nafas Risa tersenggal mencari cara agar dia bisa mengatasi Lian kali ini.
“aku sudah mengucapkan banyak kata sejak tadi” Risa mengusap tangannya gugup, dia tidak bisa mengatakan apa yang ada dihatinya. Dia terlalu takut hanya untuk berkata jika dia benar-benar tidak suka saat Jennie bersama Lian.
Lian mengecup bibir Risa cepat, membuat matanya membulat sempurna, tawa ringan Lian terdengar ketika Risa masih sibuk dengan pikirannya “aku tidak mengerti apa masalahmu denganku, jika kamu hanya diam”
“aku tidak punya masalah apapun denganmu, Lian” jawab Risa cepat, dia mencoba melangkah meninggalkan Lian tapi tangannya dicekal, dalam sepersekian detik tubuhnya sudah ada diatas bahu Lian.
“apa yang kamu lakukan?!!” jerit Risa ketika Lian menggendongnya di atas bahu seperti sedang memikul barang.
“menyelesaikan masalah kita!” dengan gemas Lian menepuk bokong santal Risa.
“sudah ku bilang tidak ada masalah!” Risa memukul punggung Lian, berharap pria itu akan menurunkannya, tapi sepertinya itu mustahil.
“menghindariku beberapa hari, menjauhiku saat aku mencoba mendekatimu, tidak pernah mau mengangkat telepon dariku, bahkan tadi kamu sengaja meminta Keira dibandingkan aku yang menjemputmu” tutur Lian panjang lebar, sebisa mungkin dia tidak melibatkan emosi nya kali ini.
“jangan lupakan kamu pura-pura tak menyadari keberadaanku tadi di restoran, aku sangat yakin jika kamu menyadari keberadaanku”
Tamatlah riwayatku!! - Risa
__ADS_1
Risa menggigit pelan bibirnya, dia tidak berkutik saat Lian mendudukannya di atas ranjang milik Lian, ya sekarang Risa ada di kamar milik Jung Lian.
Tubuh Lian tiba-tiba saja menunduk, membuka pelan heels yang Risa kenakan sejak tadi pagi, rintihan kecil lolos dari mungilnya saat menahan perih, dia baru sadar jika kakinya lecet dan sedikit ruam.
“lain kali kenakan sepatu yang lebih nyaman, jangan menyiksa seperti ini”
Risa semakin menunduk, sementara Lian pergi ke kamar mandi entah apa yang akan dia lakukan.
Telapak kaki Risa terlihat begitu merah, dia melupakan kemalangan kakinya karena terlalu menikmati acara tamasya dengan Kevin mengelilingi kebun binatang mengenakan heels.
Tiba-tiba saja Risa merasakan kehangatan menyapa kakinya, matanya terkesiap menyadari jika Lian sedang merendam telapak kakinya di dalam air hangat.
“aku sudah menambahkan antiseptic ke dalam airnya, agar kakimu cepat sembuh”
Tangan besar Lian memijat pelan kaki Risa membuat tubuhnya sedikit rileks.
“jika pergi ke suatu tempat bicaralah padaku, setidaknya jika aku tidak bisa menemani kalian aku bisa memastikan jika kalian berdua aman”
Kenapa justru sekarang Risa yang merasa bersalah melihat bagaimana Lian, begitu sabar menghadapi sifat kekanakannya padahal Risa harusnya mempertahankan amarahnya.
“selesai” Lian mengeringkan kaki Risa dengan handuk kecil yang sudah dia siapkan
“aku tidak bisa setiap saat menjagamu, jadi cobalah menjaga dirimu sendiri, sementara aku belajar menjadi sosok suami yang kamu inginkan, aku harap kamu tidak menghindar, agar aku bisa tetap belajar menjadi seseorang yang kamu inginkan untuk menemanimu selamanya”
Lian mengecup pelan kening isa, mengusap surai coklat Risa yang memang sudah berantakan “pergi mandi dengan air hangat, setelah itu kita bisa bicara lagi”
Risa menatap nalar pintu di depannya, setelah membersihkan diri Risa memakai kaos dan celana panjang yang diberikan Lian.
Apa dia bisa menghadapi Lian sekarang? Ada banyak kata yang ingin diucapkan, dia merasa menjadi pengecut yang kalah sebelum memulai.
Seharusnya dia bicara jujur soal ketakutan dihatinya pada Lian. Mungkin Lian bisa menjadi pendengar yang baik, tapi dia takut Lian menganggapnya kekanakan.
Kenapa masalah hati selalu menjadi soal yang rumit.
Risa memberanikan diri menarik handle pintu kamar mandi, tapi dia tidak menemukan keberadaan Lian dikamar, lalu kemana pria itu pergi? Kaki Risa melangkah menuju ranjang dan memilih duduk disana sambil memainkan ponselnya.
Deritan pintu terdengar ketika Lian masuk kedalam kamarnya dengan satu cangkir teh hangat dengan campuran mint karena aroma tercium kuat.
“minum-lah” Risa menerima teh yang Lian berikan, kenapa Lian tidak meminta salah satu pembantu membuatkannya, kenapa dia harus melakukannya sendiri?
Lian ikut naik keranjang duduk disamping Risa.
“apa kamu marah padaku karena Jennie?”
“tidak, aku hanya tidak tahu apa yang kurasakan sejak kamu mengatakan--” Risa menggigit pipi dalamnya pelan, apa dia bisa melanjutkan ucapannya.
“mengatakan apa?” Alis Lian terangkat, dia akan dengan sabar mendengar kata yang keluar dari mulut Risa.
“kamu tahu, aku sebenarnya masih belum percaya sepenuhnya jika seorang Jung Lian benar-benar mencintaiku, aku masih merasa tidak pantas ketika melihat kamu yang begitu sempurna sementara aku hanya gadis bodoh yang tidak mengerti semua ini, aku bahkan merasakan sesak di hatiku saat kamu bilang jika Lisa adalah perempuan pertama yang mengenalkan cinta, aku juga merasa kekanakan ketika aku tidak suka melihatmu begitu dekat dengan Jennie, aku seharusnya tidak begitu, aku--aku--” air mata Risa mengalir begitu saja membasahi pipinya, tangan Lian mengusap pelan air mata Risa.
“sudahlah” Lian menarik Risa kedalam pelukannya, membiarkan Risa membasahi kaosnya dengan air mata yang mengalir seperti sungai.
“jika kamu terus menangis seperti ini, aku seperti pria brengsek yang tidak bisa membuatmu nyaman di sisiku”
“aku senang kamu merasakan hal seperti itu, kamu tahu, aku juga tidak suka saat kamu dekat dengan Justin, aku pria yang menganut paham monogami, tidak suka berbagi apalagi dibagi” Lian mengangkat wajah Risa hanya sekedar untuk mengecup kelopak mata Risa yang memerah.
“mulai sekarang jika ada sesuatu tidak nyaman yang membuatmu sakit maka kamu harus mengatakannya padaku, ingat aku sudah pernah mengatakannya bukan, kita harus saling percaya agar bisa menjalin rumah tangga yang bahagia dan utuh”
Wajah Risa memerah, rumah tangga apa? Menikah saja belum bagaimana pria bodoh ini sudah mengatakan hal tak jelas.
“kita menikah secepatnya,Ya? Aku tidak ingin keraguan menghampiri lalu kau meninggalkanku” jelas Lian hampir saja membuat Risa tersedak cairan yang keluar dari hidungnya.
note : jangan lupa mampir di cerita lainku.
- Istri Lugu presiden Han
- aku bukan takdirmu
__ADS_1
- Angel of Death or The siren prince