![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Hari ini Sona bangun saat sang fajar belum menampakkan dirinya, dia terbangun dengan perasaan yang sangat gelisah hingga membuatnya sulit bernafas, mencoba menenangkan pikirannya dan hatinya dengan mengelus-elus dadanya dan mengatur.pernafasannya, mimpi buruk yang dialami membuat Sona sulit untuk membedakan itu nyata atau hanya mimpi buruk saja.
Belum pernah dia mimpi buruk hingga membuatnya takut untuk memejamkan mata lagi, jam sudah menunjukan pukul 4 pagi, padahal jika diingat kembali baru pukul 12 malam Sona tertidur karena harus membantu Kevin menata ulang kembali ruang tamu dan juga ruang kerja, untuk bagian kamar mereka memutuskan akan melakukannya besok sore setelah Kevin pulang dari kantor.
Setelah bertemu dengan Samuel perasaan Sona benar-benar dibuat takut untuk melakukan apapun, pria itu berubah dari Sona yang kenal, dia bahkan sampai mempunyai pemikiran untuk memperkosa Sona.
Sikap kasar yang Samuel tinggalkan membuat Sona takut untuk mengatakan apa yang terjadi pada dirinya kepada Kevin, Sona hanya ingin hidupnya berjalan dengan baik seperti pasangan normalnya pada umumnya.
'aku bahkan belum bisa meyakini diriku sendiri untuk mencintai Kevin, kenapa sekarang Samuel yang datang membuatku ragu untuk mengambil langkah berani'
Saat sedang melamun tiba-tiba suara dering ponsel membuat Sona terkejut, dengan ragu-ragu mengambil ponsel miliknya, menatap pada layar ponselnya yang bertuliskan 'Samuel'
Sona menatap layar itu dengan takut, bagaimana bisa ponselnya menyimpan nomor Samuel, dan bahkan dia itu seakan-akan tahu jika Sona sedang memikirkannya, lalu tak lama kemudian sebuah pesan membuat Sona semakin gemetar hebat, sampai membanting ponselnya dan memeluknya lututnya dengan cemas.
By : Samuel
Kamu sudah bangun?
Bagaimana mimpi indah bukan sayang?
Kevin yang terusik karena suara hantaman dari ponsel dengan lantai membuatnya bangun dan langsung menatap Sona yang bertingkah seperti kemarin sore, dengan wajah yang penuh ketakutan. Kevin bangkit dari posisi, duduk bersilang dia hadapan Sona yang mulai mengigit jari-jari.
Penuh kasih sayang Kevin melepaskan tangan Sona, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya, dia mengelus-elus kepala Sona dengan sabar dan berkata dengan nada yang terdengar sangat lembut namun masih jelas terdengar di telinga Sona.
“tenanglah, semua akan baik-baik saja, apakah kamu bermimpi buruk? Hingga membuat kamu sulit untuk menerima mimpi buruk itu?”
Sona segera mengangkat kepala dan menatap Kevin sambil menggelengkan kepalanya, “tidak itu bukan mimpi Kevin itu-- it--.”
“sudah, tenanglah Sona, aku disini untuk melindungimu” ucap Kevin.
“Kevin aku takut” ucap Sona, dia mulai menangis di depan Kevin.
“beri tahu aku apa yang membuatmu takut Sona”
Kevin menghapus air mata Sona dengan kedua tangannya, lalu memberikan kecupan di kening nya, dia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Sona yang suhu udara di pagi ini yang cukup dingin.
“aku masih ragu”
“baiklah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita kembali tidur, ini masih sangat pagi untuk bangun, aku pastikan kamu tidak akan bermimpi buruk”
Tak lama kemudian keduanya kembali tertidur.
*******
Saat membuka kedua matanya Sona tidak menemukan sosok Kevin di sampingnya, dia melihat kearah kamar yang tampak sepi, dari kamar mandi pun tidak ada suara percikan air. Dengan badan yang masih lemas Sona beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Kevin.
Saat berjalan ke arah balkon Sona melihat Kevin yang sedang menikmati indahnya berenang di kolam yang cukup luas untuk dirinya sendiri, pemandangan yang sangat indah untuk diabaikan, Sona berjalan mendekati kolam renang, dia memilih untuk duduk di tepi kolam sambil memainkan air kolam.
“bagaimana tidurmu?” ucap Kevin, pria itu sudah ada didepan Sona.
“terimakasih, aku merasa jauh lebih baik” ucap Sona.
“apa kamu juga ingin berenang?”
“tidak! Aku tidak suka berenang di cuaca yang dingin seperti--”
Kevin dengan sengaja menarik kaki Sona, membuat wanita itu terjun ke dalam kolam renang yang cukup lama membuatnya tidak bisa menyentuh lantai kolam, Sona sangat panik karena dirinya tidak bisa berenang.
“Kevin! Aku tidak bisa berenang!”
Kevin yang melihat itu langsung menarik Sona, dia menyandarkan tubuh Sona ke tembok kolam. Namun gadis itu malah memeluk tubuh Kevin.
“aku takut, tolong jangan lakukan itu”
“aku pikir kamu bisa berenang, maafkan aku Sona”
Sona masih mengatur kepanikkannya, dia sampai mengalungkan tangannya di leher Kevin dan tiba-tiba saja matanya bertemu dengan mata hitam pekat milik Kevin yang membuatnya tidak bisa memalingkan pandangan, jantung juga berdetak begitu cepat hingga Sona rasa jika mukanya mulai memerah.
“Aku--”
Tiba-tiba saja Kevin memotong ucapan Sona dengan bibirnya, entah apa yang ada dipikiran Kevin hingga mencium Sona di cuaca yang begitu dingin ini, bahkan keduanya sudah mulai kedinginan.
Sona mendorong Kevin untuk melepaskan ciuman mereka yang sudah membuat bibir Sona rasanya akan bengkak, hingga akhirnya hanya ada kecanggungan setelahnya, Kevin membantu Sona mendekati anak tangga dan membiarkan gadis itu untuk keluar dari kolam.
Saat sarapan pun tidak ada yang berani mengusir kecanggungan yang semakin dalam, baik Sona dan Kevin kedua masih bingung untuk melewati kecanggungan yang terjadi, bukankah itu hal yang wajar jika sudah berstatus suami istri? Apakah salah jika melakukan itu?
Sona menatap jam dinding yang menunjukan sudah pukul 9 pagi, dia buru-buru menatap Kevin sampai pria itu salah tingkah saat Sona menatapnya.
“kamu tidak bekerja?”
“tidak, aku khawatir padamu Sona, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian”
“tapi--”
“aku masih bisa bekerja dirumah, lagi pula aku baru saja menikah, aku wajar untuk tidak bekerja beberapa hari”
“....” Sona hanya menatap sandwich yang ada di tangannya, lagi-lagi Kevin membuat Sona merasa telah merepotkan pria itu.
“bagaimana jika melanjutkan kegiatan kemarin?”
“baiklah”
Kevin tersenyum saat mendengarkan jawaban Sona, dia kembali menyentuh sarapan yang ada di hadapannya dengan lahap, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya saat mengingat kejadian dimana Sona membantu mengeringkan rambut, padahal hanya hal kecil seperti itu tapi sudah membuat Kevin bahagia, apalagi jika dengar kata Sona mengatakan jika Sona mencintainya.
__ADS_1
Sona dan Kevin setuju untuk membagi tugasnya masing-masing, dimana Sona bagian yang merapikan pakaian miliknya dan Kevin, sedang pria itu bertugas meletakkan sepatu dan barang-barang lainnya di kamar kecil sebagai tempat penyimpanan.
Sona mulai memasuki pakaian satu.persatu ke dalam lemari yang cukup besar, dia menggantungkan seragam kerja milik Kevin dan melipat pakaian miliknya, Sona juga menaruh dasi milik Kevin di laci yang ada di dalam lemari, hingga saat Sona ingin menaruh pakaian miliknya lagi ada sepucuk surat yang jauh dari salah satu pakaiannya.
Tak lama Sona segera meraih surat berwarna abu-abu itu, dan membacanya dengan seksama.
' surat ini adalah sebuah peringatan untuk dirimu Sona, Ingatlah satu hal jika dirimu adalah milikku, akan kupastikan hidupmu tidak akan tenang selama kamu masih bersamanya'
Sona kembali merasakan kecemasan yang membuatnya menjatuhkan tubuhnya ke lantai, keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya, Sona tahu jika itu surat dari Samuel, Sona tidak bisa menyembunyikan semua ini lebih lama lagi dari Kevin, dia butuh perlindungan dari pria itu, Sona segera berlari menjadi keberadaan Kevin.
Sampai saat melihat Kevin yang ada di ruang tamu Sona segera memeluk tubuh Kevin sambil menggenggam surat itu. “Kevin aku takut”
“apa yang terjadi Sona?”
Kevin membalik tubuhnya untuk melihat wajah pucat Sona yang ketakutan, dia melihat ke pucuk surat ditangan gadis itu, dengan cepat meraih surat itu dan membacanya dengan wajah yang terkejut.
“siapa yang berani mengancammu seperti ini Sona?” ucap Kevin, dia menarik Sona untuk dia peluk.
“Kevin, aku takut, aku tidak mau kembali padanya, tolong buat dia menjauh dariku”
“jadi itu perbuatan pria brengsek itu! Aku pastikan dia tidak akan bisa mengancam dirimu lagi Sona”
Kevin menggenggam kertas itu dengan sangat erat hingga memperlihatkan urat tangannya, jadi semua alasan kenapa Sona begitu takut karena pria brengsek itu yang mengancam istrinya.
“tenanglah Sona, aku ada disini untukmu, bagaimana jika kita keluar sebentar untuk menenangkan pikiranmu”
Sona hanya mengangguk sebagai jawabannya, jika sudah berada di sambil Kevin semua akan terasa baik-baik saja.
Sona menceritakan semua yang terjadi di rumah saat dirinya di datangi oleh Samuel, sekilas ada rasa kecewa dalam diri Kevin yang tidak bisa melindungi Sona dari kekerasan yang Samuel berikan pada Sona hingga membuat sang istri cukup takut untuk ditinggal sendirian.
Kevin mengambil kedua tangan Sona, menatap jemari yang begitu indah dan memberikan beberapa kecupan pada punggung tangan Sona.
Bola mata Kevin membulat saat melihat luka di jari manis Sona yang terdapat cincin pernikahan mereka, dia secara perlahan melihat luka yang sudah membiru itu.
“sakit” ucap Sona
“bagaimana luka ini bisa terjadi?” tanya Kevin, dia melepaskan cincin pernikahan dijari manis Sona, disana seperti ada luka goresan kuku yang membuat kulitnya terluka di dalam.
“saat itu Samuel terlalu kuat menahan diriku hingga luka ini ada”
“bagaimana lagi dia menyentuhmu?” tanya Kevin, suara seperti terdengar marah namun dia mengecilkan nadanya.
“kamu marah?” Sona menyentuh kedua pipi Kevin mencoba menangkat kepalanya untuk menatap dirinya.
“aku tidak bisa marah pada dirimu Sona, aku tidak mau membayangkan jika saat--”
Sona menutup mulut Kevin dengan tangannya, gadis itu mengelengkan kepalanya memberitahu Kevin untuk berhenti melanjutkan kalimatnya yang akan membuat Sona semakin takut.
“kita akan kemana? Diluar masih dingin”
“bermain Ice skating? Atau mau ke tempat lain?”
“baiklah”
Kevin membantu Sona untuk menyelesaikan tugasnya, baru kedua pergi setelah berganti pakaian yang tebal karena musim dingin masih akan berakhir satu bulan lagi, dan keduanya segera pergi ketaman Ice Skating yang cukup jauh dari daerah apartemen milik Kevin.
Hingga waktu yang ditempuh untuk sampai di arena ice skating butuh waktu sekitar satu jam perjalanan itu pun jika tidak ada macet selama perjalanan. Kevin membawa Sona kedalam area dengan menggenggam tangan sang istri dengan penuh kebahagiaan.
Memesan alat-alat yang akan mereka kenakan di area bermain, dia menatap Sona yang terlihat cantik seperti hari biasanya, Kevin masih tidak mengerti kenapa dia rela mengorban segalanya untuk Sona padahal Kevin tahu jika Sona tidak mencintainya, bahkan dia sampai saat ini belum memberikan dirinya sepenuhnya pada Kevin.
Entahlah, Kevin hanya ingin hidupnya jauh dari kata menyesal dan dari kata kehilangan, dia hanya menunggu waktu yang akan menjelaskan semua misteri kehidupannya yang akan datang. Selagi Sona percaya akan cinta yang diberikan Kevin padanya itu sudah lebih dari cukup untuk Kevin.
“anda terlihat begitu mencintaimu Tuan” tanya salah satu penjaga kasir yang sedari tadi memperhatikan Kevin yang tidak melepaskan pandangannya dari Sona.
“Ya, itu memang benar” ucap Kevin, dia menyerahkan beberapa lembar Won kepada kasir yang sudah menghitung pembeliannya.
“semoga harimu menyenangkan Tuan”
Kevin berjalan mendekati Sona yang sedang menatap anak kecil di area bermain salju, beberapa anak kecil sedang membuat boneka salju dan beberapa lainnya sedang bermain melempar bola salju yang mereka buat, suatu pemandangan yang jarang Sona lihat.
Sejumlah pertanyaan melintas di benak Sona 'apakah dimasa depan kita akan memiliki satu atau dua anak yang dapat membuat apartemen Kevin menjadi bisik?'
“sangat lucu bukan mereka?” tanya Kevin, di berdiri tepat dibelakang Sona yang terkejut saat mendengar suara lembut Kevin di telinganya.
“ingin membuat satu?” tanya Kevin lagi.
Ucapan itu berhasil membuat wajah sona memerah, dia menutup wajahnya dengan malu, dan berjalan meninggalkan Kevin begitu.
“Sona tunggu, kamu harus memakai ini untuk keselamatanmu” ucap Kevin, dia berlari mengikuti Sona yang berjalan ke arah ruang ganti.
Kevin membantu Sona memakai satu persatu alat pelindung di tubuh sang istri, dia juga sampai memakaikan sarung tangan untuknya, membuat iri yang melihat kemesraan yang mereka buat, hari ini cukup banyak berkunjung kesini jadi wajar saja jika banyak gadis-gadis yang mengagumi ketampanan Kevin dan sikap lembutnya yang mengistimewakan wanita yang duduk di hadapannya.
“aku berharap bisa memiliki kekasih seperti dia” ucap salah satu gadis yang jaraknya tidak jauh dari Kevin dan Sona
“seperti mereka membicara dirimu” ucap Sona.
“siapa?” tanya Kevin, dia tidak menoleh kearah lain, pria itu terlalu sibuk memasang alat pelindung tubuh Sona.
“gadis-gadis itu”
“itu sudah hal biasa untukmu Sona, aku sudah populer di kalangan gadis-gadis saat duduk dibangku smp”
“kau terlalu percaya diri!”
__ADS_1
Sona membuang pandangannya saat Kevin menatap dengan mata yang berbinar membuat kinerja jantung menjadi tidak stabil.
“apa itu salah? Aku memang tampan, kamu saja yang tidak menyadari jika memiliki suami tampan”
“baiklah Tuan tampan, apa sudah selesai? Aku ingin segera bermain”
“beri aku satu kecupan”
“tidak--”
Seperti pria ini perlu diajari untuk tidak sembarangan mencium Sona tempat umum, didepan mereka banyak anak remaja yang melihat belum lagi anak kecil dan para orang tua yang langsung memberikan tatapan menyebalkan mereka.
Sona mendorong pria itu untuk segera menjauh darinya, rasanya muka Sona dibuat merah oleh perbuatan Kevin, dia berjalan dengan hati-hati karena permainan meninggalkan Kevin yang juga bingung apa yang telah dia lakukan, jika sudah dekat Sona hal yang Kevin tahu adalah dia tidak bisa membedakan tempat dimana dia bisa leluasa bersama Sona, itunya pria itu sulit mengabaikan wajah Sona yang begitu imut membuatnya ingin mencubit atau menciumnya.
Tak lama keduanya menikmati indahnya bermain ice skating bersama, kedua tidak memerlukan pelatih untuk membantu mereka karena Kevin dan Sona keduanya sudah sering bermain jadi itu merupakan hal mudah dilakukan.
Saat Sona menikmati indahnya bermain sendiri, tiba-tiba seseorang mendekati Sona dengan langkah yang tidak begitu terdengar hingga saat pria itu sudah berdiri di belakang Sona, dan sedikit menepuk punggung agar sang gadis itu membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang ada di hadapannya.
“bagaimana? Senang bertemu denganku lagi”
Sona melangkah mundur untuk menghindari pria yang ada dihadapan, namun Samuel bukanlah pria yang akan menerima menolakkan, dia menarik tangan Sona mencegah gadis itu untuk pergi darinya.
Samuel bisa melihat wajah yang begitu ketakutan dari Sona, bahkan tubuh gadis itu bergetar hebat saat Samel menggenggam tangannya, ada perasaan bersalah saat Samuel melihat Sona yang sudah berubah.
“Sona, kamu tahu, aku tidak pernah mau menyakitimu apalagi berbuat kasar padamu”
“lepaskan aku!”
“Sona, aku kita kembali, kamu tahu aku tidak bisa melupakanmu, aku yakin kamu masih mencintaiku”
Gerakan pemberontakan Sona berikan pada Samel berangsur berkurang, perkataan itu membuat Sona tenggelam dalam perasaan yang begitu rumit, dia melihat raut wajah sedih yang Samuel tunjukan padanya.
“aku sudah menikah Samuel” ucap Sona, dia berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Samuel.
“apa kamu bahagia?”
“aku bahagia memiliki suami seperti Kevin yang sangat sabar dalam memahami isi hatiku”
Dari arah kejatuhan Kevin berlari dan menarik ketak pakaian Samuel, menatap pria itu dengan tatapan kebencian dan amarah yang sudah nengebu-gebu didalam hatinya, tanpa menunggu lebih lama Kevin memberikan beberapa pukul di wajah Samuel tanpa ampun.
“brengsek! Berani sekali kamu menyentuh istriku”
“kau bahkan ingin menghancurkan hidupnya! Terima semua ini brengsek”
“sudah cukup! Kevin”
Sona menarik tubuh Kevin untuk melepaskan tubuh Samuel yang sudah tidak berdaya memberikan perlawanan padanya, Sona menangis saat tubuhnya memeluk tubuh kekar Kevin.
“tidak, jangan berkelahi Kevin”
Amarah dan kebencian itu hilang bagai ditiup angin, tangisan Sona membuat segalanya menjadi perasaan bersalah pada sang istri, Kevin membalik tubuhnya untuk kembali menatap Sona yang sudah berlinang air mata. Dengan kedua tangannya Kevin menghapus sisa air mata diwajah Sona.
“Sona jangan menangis aku tahu jika aku salah”
“tidak Kevin, aku hanya takut dirimu hilang kendali dan membuat dirimu terluka, tolong jangan seperti ini”
Sona menarik Kevin untuk memeluk tubuh mungilnya, melampiaskan semua perasaan dalam pelukan Kevin, mengabaikan pria yang tubuhnya sudah penuh dengan tetesan darah dan luka di area wajahnya. Samuel melangkah meninggalkan Sona dan Kevin yang masih berpelukan.
Misinya sudah selesai, Sona sudah bisa melupakan Samuel sepenuhnya, dia berjalan ke arah Karan yang sudah menunggunya di luar area taman bermain.
“bagaimana perasaanmu?” tanya Karan, dia membantu Samuel untuk berjalan keluar dari mall itu.
“aku merasa bahagia, setidaknya Sona sudah bersama dengan pria baik, apa wajahku sangat penuh dengan luka?”
“kenapa kau tidak membalasnya?”
“aku tidak tahu, saat melihat Sona yang begitu khawatir melihat Kevin membuatku takut untuk melukai suaminya”
“kita harus kembali ke London”
“aku akan mengirim surat pada Sona”
Karan dan Samuel pergi meninggalkan Mall begitu saja, mereka adalah dua orang yang sebenarnya sangat baik, tujuan mereka kembali memang ingin menemui cinta mereka tapi seperti orang yang mereka cintai telah berpindah hati.
Kembali kedua orang yang masih berpelukan satu sama lain, Kevin membiarkan Sona untuk membasahi kemeja yang dia kenakan, dan saat semua sudah merasa lebih baik, baru dia mengajak Sona untuk duduk di luar area taman bermain.
“dia menyakitimu?”
“tidak”
“maafkan aku”
“sedari tadi kamu terus meminta maaf padaku, tidak ada kesalahan yang kamu lakukan Kevin”
“kamu ingin pulang? Atau kita makan malam di sini?”
“aku ingin kamu memasak sesuatu untukku”
“baiklah, apapun untuk istri tersayang”
“seperti aku mulai menyukai dirimu”
Kevin tersenyum mendengarkan apa yang Sona katakan, ada jutaan kupu-kupu yang meledak di dalam hatinya, seketika kebahagian memenuhi hati Kevin yang sempat ragu akan segalanya, dia mencium kening Sona cukup lama, lalu menggenggam tangannya untuk kembali pulang kerumah sederhana milik mereka.
__ADS_1