![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Hari-hari sudah berlalu begitu saja, tidak terasa juga pernikahan Kevin dan Sona sudah terlewat satu minggu.
Setelah kejadian itu Samuel tidak pernah muncul lagi dalam kehidupan Sona, itulah alasan kenapa sekarang Kevin bisa bekerja dengan tenang tanpa harus menghubungi waktu itu setiap saat bahkan jika di hitung dalam tengah hari Kevin bisa menelpon Sona sampai 15 kali panggilan, padahal Kevin bisa saja menyuruh anak buahnya untuk menjaga Sona namun Kevin tidak ingin mengganggu ketenangan Sona.
Apartemen Kevin adalah tempat privasi dimana tidak boleh ada yang mengganggu Sona dan juga dirinya, Kevin juga sedang mencari-cari rumah yang sesuai dengan keinginannya dan juga membuat Sona nyaman, cukup sulit menjadi perumahan yang dekat dengan kantor Kevin.
“Tuan Kevin, semua sudah menunggu di ruang meeting” ucap sekretaris yang berada di depan pintu.
“baiklah”
Kevin meletakkan ponselnya, baru saja dia ingin menanyakan kabar Sona apakah wanita itu sudah makan siang atau belum, dia berjalan keluar ruangannya setelah beberapa menit sekertarisnya pergi, melewati beberapa ruangan hingga kaki Kevin berhenti di ruang meeting, tanpa menunggu lama lagi tangan Kevin menyentuh gagang pintu dan membuka-nya.
Semua orang yang ada didalam langsung bangkit dari posisinya saat melihat sang Ceo sudah berjalan ke kursi kebesarannya, setelah Kevin duduk semua karyawan kembali duduk di kursi masing-masing dan memegang naskah yang ada di hadapan mereka.
“silakan mulai rapat ini” ucap Kevin,
*******
Di sebuah apartemen terpopuler di Seoul, dimana sebagian pemilik apartemen adalah pengusaha muda dan para idol yang hanya beli namun tidak menyempatinya, mungkin itu bisa dibilang intervensi masa depan, entah Sona hanya menatap bingung pada suasana di luar apartemen yang begitu sepi.
Sambil membawa barang belanjaan yang ada di tangannya, kakinya melangkah memasuki bangun dengan 19 lantai, namun sebelum menyentuh lift untuk kembali ke apartemen, seorang kurir mendekati Sona sambil membawa kontak yang tidak terlalu besar.
“Nyonya Sona?” ucap kurir itu saat sudah ada dihadapan Sona
“Ya?” jawab Sona, dia sedikit ragu dengan paket yang ada di tangan pria didepannya.
“ada seseorang yang mengirimkan paket ini untuk anda, bisakah saya meminta tanda tangan anda” ucap kurir itu, dia menyerahkan kotak kecil berwarna coklat.
“terima kasih Nyonya Sona”
“Ya, terimakasih juga”
Sona kembali melangkah mendekati lift, dia mengamati kotak yang ada di tangannya, di kotak tersebut tidak tercantum kartu nama pengirim, Sona pikir mungkin ini dari Kevin. Lift terbuka, Sona langsung berjalan ke arah apartemen Kevin, dia meletakkan barang yang sebagian isinya adalah sayuran dan buah-buahan, dan sebagian adalah minum dan makanan ringan.
Di ruang tamu, Sona masih ragu untuk membuka kotak berwarna coklat itu, dia segera mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya dan menelpon Kevin, namun sudah beberapa kali Sona menghubunginya tak ada jawaban dari Kevin.
“mungkin dia sedang sibuk atau sedang ada rapat”
Dengan rasa penasaran Sona membuka kotak itu yang berisi satu surat dan miniatur jam London, Sona langsung mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama.
'Sona ..
Ini aku samuel, jika kamu sudah menerima surat ini itu berarti aku sudah berada di London, Sebelumnya aku minta maaf untuk apa yang telah terjadi padamu karena perbuatanku.
Sona, aku tidak akan mengganggumu lagi, sebaliknya aku berharap kamu bahagia, Dan selamat untuk pernikahanmu, aku belum sempat mengucapkan itu padamu. Sebenarnya saat aku menyelinap ke dalam kamarmu itu, aku sedang menjalankan misi yang aku buat sendiri.
Misiku hanya memastikan jika pria yang menikah denganmu mampu untuk menjaga dirimu dan mengukur seberapa sabar dirinya dalam cintamu, Ada satu hal juga yang harus aku pastikan, yaitu dirimu Sona, aku takut kamu masih menyimpan perasaan padaku dan pada akhirnya kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, tapi semua itu sudah terjawab bahwa kamu mulai menyukainya, namun kamu mencoba menyangkanya Sona.
Sona, cobalah untuk memahami perasaan dirimu pada suaminya, janganlah membuatnya lebih lama menunggu, masa lalu hanya akan menjadi masa lalu yang tidak bisa kembali terjadi, Remember always to be happy.
Salam perpisahan Samuel'
Sona tidak tahu jika semua ini terasa begitu melegakan, dia tidak pernah berpikir begitu pentingnya Sona bagi Samuel, dia bahkan sampai harus melakukan hal yang mungkin tidak pernah terfikir oleh semua orang.
“terimakasih”
Setelah membawa surat dari Samuel seperti ada sesuatu perasaan yang lepas dari dalam hatinya yang sudah lama menghuni disana, semua terasa begitu tenang untuk Sona rasakan, dia meletakan hadiah Samuel di dekat bingkai foto pernikahan Kevin dan Sona.
Tiba-tiba kata-kata yang ada di surat Samuel menyadarkan Sona pada suatu hal 'Sona, cobalah untuk memahami perasaan dirimu pada suaminya, janganlah membuatnya lebih lama menunggu, masa lalu hanya akan menjadi masa lalu yang tidak bisa kembali terjadi, Remember always to be happy'
Kata-kata yang seperti tamparan keras untuknya, itu alasan kenapa Sona begitu bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, seharusnya Sona tidak memikirkan dirinya sendiri hingga lupa cara mencintai orang lain, jika Samuel tidak berkata seperti mungkin pernikahan ini akan cepat berakhir dengan Sona yang terus merasa jika dia tidak bisa mencintai suaminya sendiri.
Padahal sebenarnya Sona sudah menyukai Kevin saat pertama kali mereka bertemu di rumah Lisa, namun Sona terus menangkalnya hingga rasa itu ikut hilang namun pada akhirnya Sona sadar kenapa dia tetap memilih menikah dengan Kevin, menangis saat pria ikut berkelahi, Sona bahkan lebih memilih Kevin daripada Samuel yang terluka waktu itu.
Betapa bodohnya Sona tidak menyadari jika selama ini dia sudah menaruh hati pada Kevin, namun mencoba untuk terus menyembunyikannya, jadi selama ini Sona hanya melarikan dirinya dari labirin yang dibuat hanya untuk mengakui jika dia mencintai Kevin.
'Ya, aku mencintainya'
'itu benar aku mencintainya'
Sona tersenyum senang saat mengakui kebenaran jika memang dia telah mencintai Kevin selama ini, dia pikir akan segera memberitahu Kevin bahwa Sona sudah mencintanya.
Terbukanya pintu apartemen mengejutkan Sona yang ada di ruang tamu, dia melihat Kevin yang tergesa-gesa menghampirinya, raut wajah Kevin memperlihatkan jika pria itu khawatir dan juga panik, dia menarik Sona kedalam pelukannya.
“tidak apa-apa Sona aku disini” ucap Kevin, dia masih mengatur nafasnya, karena dari parkiran mobil dan keluar dari lift Kevin berlari,
Sesaat selesai rapat dia melihat ponselnya yang terdapat tiga panggilan tidak terjawab dan langsung memutuskan untuk pulang begitu saja.
“aku baik Kevin, tidak ada yang terjadi”
Kevin langsung mengangkat wajah Sona untuk menatap gadis itu, tidak ada raut ketakutan ataupun air mata di sana, “lalu kenapa kamu menelponku?”
__ADS_1
“karena aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu”
“apa? Sona bisa kamu ulangi perkataanmu lagi” ucap Kevin, ada raut wajah yang begitu bahagia, rasanya seperti ada kebahagian yang tidak bisa digambarkan saat ini.
“aku mencintaimu”
“aku mencintaimu Kevin”
“itu berarti kamu milikku?”
“Ya, aku milikmu”
“baiklah waktunya untuk melakukan yang sempat tertunda”
Kevin mengangkat tubuh Sona begitu saja seperti karung beras, dia berjalan kearah kamar mereka.
“Kevin turunkan aku!”
“tidak, kali ini kamu tidak bisa lari Sona dan mungkin berjalan pun sulit”
Sona hanya bisa pasrah ketika Kevin sudah mengunci pintu kamar mereka, dan selanjutnya hanya seisi kamar yang tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar di waktu yang seharusnya mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing tapi jika sudah seperti tidak akan kenal waktu dan tempat.
Setidaknya tidak ada penyesalan apapun yang Sona, rasakan saat memberikan dirinya secara seutuhnya, sekarang hanya waktunya untuk saling mengerti satu sama lain, saling mencintai itu penting namun jika tidak saling mengerti cinta hanya akan menjadi hal yang biasa.
Keesokan harinya …..
Musim dingin masih setia menemani wilayah yang termasuk dalam zona dengan empat musim, hari ini matahari juga masih setia memberikan cahaya yang memiliki begitu banyak manfaat untuk semua makhluk hidup yang tinggal bumi, dan suara kicau burung yang berasal dari halaman belakang.
Di Sebuah kamar yang terdapat dua orang yang masih menikmati indahnya berbaring di ranjang, menyembunyikan tubuh polos mereka di balik selimut dengan kamar yang kedap akan cahaya hanya cahaya matahari menjadi penerangan satu-satunya di dalam kamar, jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi, bukahnkah itu waktunya kembali beraktivitas? Oh kita melupakan jka hari ini adalah hari libur, mungkin sebagian manusia memiliki banyak cara untuk memanfaatkan hari libur seperti : berolahraga pagi, menikmati pagi dengan minum teh, atau bermalas-malasan di ranjangnya.
Seperti kedua orang ini terlalu banyak menguras tenaga mereka dalam kegiatan 'olahraga malam' , tidak lama kemudian akhirnya salah satu dari mereka mau mengalah untuk bangun lebih dahulu.
Kevin, dia menatap wajah Sona yang tertidur sangat lelap hingga cahaya matahari saja tidak bisa mengusik tidurnya, ada senyum yang tidak bisa Kevin hilangkan saat menatap tubuh sang istri yang penuh dengan tanda kepemilikan akibat ulahnya, Kevin benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Sona hingga hanya kepalanya saja yang tidak tertutup oleh selimut.
Kevin masih tetap di posisi yang sama, yaitu menghadap ke arah Sona, tangannya masih posesif memeluk tubuh mungil yang ada di dalam pelukannya, dia menyentuh wajah sang istri dengan lembut sambil menyingkirkan rambut berwarna coklat yang menutupi pandangan Kevin.
Tak lama kedua mata Sona terbuka, mungkin gadis itu bukan wanita itu merasa terusik dengan apa yang Kevin lakukan, masih ada rasa kantuk di matanya, Sona ingin sekali tidur lebih lama karena rasa lelah yang membuatnya merasa tidak puas.
“kamu masih mau tidur lagi?” tanya Kevin
“Ya” ucap Sona dengan suara khas orang yang baru saja bangun, serak namun masih jelas didengar.
“kamu masih lelah? Apa itu masih terasa sakit?” tanya Kevin, dia sedikit ragu untuk mengajukan pertanyaan seperti itu, mengingat ini pertama kalinya untuk Sona dan Kevin juga, Kevin mencoba untuk melakukannya dengan lembut namun tetap saja dia tidak bisa mengontrol dirinya.
“maafkan aku”
Kevin menarik Sona kedalam pelukannya, dia mencium kening Sona beberapa kali, lalu membiarkan tubuh mereka saling bersentuhan. “aku akan membantumu jika kamu sulit berjalan”
“lain kali lakukan lebih lembut”
“baiklah, aku mencintaimu” ucap Kevin.
dia mengecup bibir Sona sekilas, kemudian pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Saat Kevin meninggalkan Sona sendiri, wanita itu kembali memejamkan kedua matanya, rasa kantuknya mengalahkan segala keinginannya.
Kevin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, dia berjalan ke arah lemari untuk mengambil kaos dan celana bahan, kemudian Kevin mematikan penghangat ruang, lalu pergi keluar kamar meninggalkan sang pujaan hati untuk tidur beberapa jam.
Dia membuka kulkas untuk menentukan menu sarapan pagi ini, dia mengeluarkan beberapa sayuran, daging dan roti, dia mulai mengiris tipis-tipis sayuran itu sambil menunggu rotinya matang, dia juga mengeluarkan sekotak susu coklat kesukaan Sona.
Kevin memilih untuk membuat sandwich dengan isi beberapa sayuran dengan daging yang sudah Kevin bentuk bulat dan tidak lupa untuk menggorengnya, setelah menyajikannya di dalam piring, kemudian Kevin meletakkan piring dan segelas susu coklat ke dalam nampan dan membawanya ke dalam kamarnya.
Saat Kevin membuka pintu dia melihat Sona yang mencoba untuk turun dari ranjang yang terlihat agak kesulitan, pria itu segera berjalan mendekatinya dan meletakkan nampan itu di samping ranjang.
“mau aku bantu?” tanya Kevin.
“tidak perlu, aku masih bisa berjalan, aku hanya ingin kekamar mandi” ucap Sona, dia melilitkan selimut di tubuhnya yang polos, padahal Kevin sudah melihat semuanya untuk apa Sona masih merasa malu.
“kamu ingin mandi?”
“Ya”
“baiklah”
Di luar dugaan Sona, pria itu malah mengendongnya menuju kamar mandi, Sona terlihat panik karena selimut itu terlepas dari tubuhnya, dia sampai mengalihkan pandangannya karena merasa malu, hingga akhirnya Kevin meletakkannya di dalam bak mandi, pria itu juga membantunya menyalakan air hangat untuk Sona.
“jika membutuhkan sesuatu katakan saja” ucap Kevin, tidak rasa canggung atau malu dari raut wajah pria yang akan berjalan kembali kedalam kamar.
Sona hanya diam, dia merendamkan semua tubuhnya dalam air hangat yang benar-benar membantu tubuhnya menghilangkan sedikit rasa sakit dan merilekskan tubuhnya.
Setelah selesai dengan urusan membersihkan dirinya, Sona lupa jika dia tidak membawa handuk atau pakaian, dia membuka sedikit pintu kamar mandi untuk melihat apakah Kevin masih ada disana.
“itu--bisakah kamu mengambilkan aku handuk dan juga pakaian”
__ADS_1
Tidak lama kemudian hal yang diinginkan Sona langsung diberikan oleh Kevin, dengan gugup dia mengambil handuk dan juga pakaiannya.
Hingga lima belas menit terlalu, pintu kamar mandi itu baru terbuka memperlihatkan Sona yang sudah bersih dan juga harum, dengan jalan yang sedikit aneh dia mendekati Kevin yang terus menatapnya tanpa berpaling.
“ada yang aneh dengan diriku?” tanya Sona, dia masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“tidak, mau mencoba sarapan yang aku buat?”
“apa yang kamu buat?”
“hanya sandwiches saja, kemarilah dan coba makanlah”
Sona berjalan ke arah ranjang, dia menerima nampan yang diberikan Kevin dan menatap sarapan yang ada di tangannya, tiba-tiba rasa lapar menghampiri Sona, dengan sangat terburu-buru Sona menikmati sarapan paginya dengan senang, baru kali ini dia memakan sandwiches yang begitu enak ditambah dengan daging.
“terimakasih, kamu tidak sarapan?” ucap Sona.
“aku lebih suka Coffee”
Kevin menunjukan Coffe yang ada di tangannya, dia lagi menikmati indahnya membaca buku sambil menikmati Coffee di pagi hari.
“sandwiches-nya sangat enak, aku tidak tahu jika ini akan terasa enak ditambah dengan daging karena biasa aku membuatnya dengan telur”
“baguslah, saat di rumah ibuku sering membuat itu untukku sebelum berangkat kuliah, dan bahkan bekal makan siang isinya sandwich dengan daging”
“lain kali saat kamu kerja aku akan membuatkannya untukmu”
Sona sangat bersyukur dirinya karena tidak terlambat mencintai pria yang banyak diinginkan oleh kaum perempuan di luar sana, bukankah harusnya yang merasa beruntung Sona karna Kevin bersedia menikahinya? Seharusnya Sona dulu tidak mengabaikan pria itu, seharusnya dia jika tidak menyangkal perasaannya, jika hari ini dia tidak menyadari perasaannya terhadap Kevin mungkin suatu hari nanti dia akan kehilangan pria itu dan baru akan menyesalinya saat dirinya berpisah dengan Kevin.
Sona berjalan ke arah Kevin yang duduk di sofa, dia menarik kepala Kevin lalu memberikan kecupan di kening pria itu, dan kemudian duduk di pangkuan Kevin.
“terimakasih, aku benar-benar sangat mencintaimu”
Kevin hanya tersenyum, pria membiarkan Sona melakukan apa yang ingin dia lakukan, setidaknya masih ada banyak waktu untuk dirinya membaca buku itu, dia menatap Sona dengan hati yang begitu senang, rasanya Kevin tidak membutuhkan apapun lagi di dunia yang fana ini, kekayaan dan kekuasaan tidak akan bisa membandingkan kebahagian yang bisa didapatkan tanpa harus memaksakan seseorang, dan tentu kebahagian ini akan terus berjalan seiring berjalannya waktu dan dunia yang semakin bertambah tua.
“Sona” panggil Kevin, dia meletakkan buku di tangannya, dan menatap ke arah Sona yang ada disampingnya.
“Ya?”
“kamu tidak akan dikerjakan? Maksudku kamu tidak sedang melamar di sebuah perusahaan”
“kenapa kamu berkata seperti itu? Aku baru-baru ini sedang melamar disebuah perusahaan penerbit” ucap Sona, dia meletakkan ponselnya di meja dan menatap Kevin dengan wajah yang bingung.
“aku ingin kamu hanya bekerja di rumah”
“tunggu Kevin, jangan bilang kamu tidak ingin aku bekerja?”
“Ya, Sona kamu istri seorang Ceo, kamu tidak perlu bekerja, biar aku yang memenuhi semua kebutuhanmu”
“tapi--kevin aku ingin bekerja--”
“Sona, aku ingin ketika aku pulang aku bisa melihat wajahmu yang cantik menyiapkan aku makan malam, dan kamu juga pasti akan menjadi seorang ibu”
Dengan wajah yang kecewa Sona meninggalkan kamar mereka, dia berjalan kearah teras rumah, mencoba mencerna setiap perkataan yang Kevin ucapkan.
“Sona, kamu salah paham, aku tidak mau melihatmu kelelahan karna pekerjaan yang terus menuntutmu, perusahaan penerbit bukanlah perusahaan biasa”
“aku tahu, tapi aku ingin mencobanya”
“berjanjilah satu hal padaku Sona, jika perusahaan penerbit tidak menerimamu maka kamu harus bekerja di perusahaan sebagai sekretarisku”
“terserah padamu”
Sona kembali meninggalkan Kevin, dia pikir jika Kevin akan membiarkan Sona untuk menikmati indahnya bekerja, menghasilkan uang yang tidak sebanding dengan uang milik suaminya, Sona tahu, jika dia hamil nanti dia bisa berhenti bekerja.
“Sona, ayo kita bicara, jangan marah seperti ini” ucap Kevin, dia mengetuk beberapa kali pintu yang sudah Sona kunci.
“Sona”
“apa?”
“Sona, aku ingin mengatakan jika aku akan pergi ke inggris bulan depan dan akan kembali setelah enam bulan, kamu tahu alasan aku tidak ingin kamu bekerja karena aku tidak akan bisa mengawasimu, aku juga takut jika kamu tidak mau ikut denganku”
“enam bulan?”
“Ya, ini project yang sangat penting untukku Sona, dimana aku akan bekerja sama dengan perusahaan Victory”
“aku tidak ingin membahas ini” ucap Sona, dia berjalan keranjang tidur, lalu membaringkan tubuhnya.
“Sona--”
“Kevin, aku ingin sendiri”
__ADS_1
Kevin menurut begitu saja, mungkin Sona butuh waktu untuk memahami semua ini, pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan membiarkan Sona menyelesaikan masalahnya sendiri atau menunggu semua situasi yang begitu tegang padahal baru beberapa menit yang lalu mereka menikmati dunia yang serasa milik berdua kini hilang dalam sekejap karena kesalahpahaman.