![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
18+++ ( tolong lebih bijak dalam membaca )
Setelah melewati serangkaian acara resepsi sederhana, akhirnya Risa bisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, Lian sudah lebih dulu membersihkan dirinya, sejak tadi dia terus mengeluh soal tubuhnya yang lengket karena keringat.
Risa menarik nafas dalam-dalam, jantungnya mulai berdetak kencang saat pintu kamar mandi berderit, awalnya mereka akan langsung pulang ke Seoul, tapi Lian melarangnya.
Jika dipikir-pikir, Risa memang terlihat kekanakan, mencari cara agar dia tidak berakhir satu kamar dengan Lian di saat suasana yang canggung ini, Risa sengaja mengajak Kevin bersamanya.
Dua orang yang awalnya seperti magnet yang saling bertolak Kevin dan Hye-In, akhirnya bisa sedikit akur, Risa jadi tidak perlu cemas saat dia akan pergi bulan madu bersama Lian tanpa mengajak Kevin.
“cepat pergi mandi” Lian keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan celana pendek berwarna coklat, tetesan air dari rambutnya mengalir di dada bidangnya, dengan gerak teratur tengahnya masih mencoba mengeringkan surai hitamnya.
Bel di pintu menyadarkan lamunan Risa, dia hampir saja meneteskan air liurnya jika kesadarannya masih melalang buana pada otot-otot tubuh Lian yang tercetak jelas.
Kenapa sekarang sepertinya Risa tidak sabar untuk merasakan kerasnya otot Lian dengan tangan nya, pikirannya mulai berkelana jauh.
“mungkin itu layanan kamar” Lian menunjuk pintu dengan dagunya, melemparkan handuknya sembarangan lalu bergegas ke arah pintu.
“Lian--” dalam sisa-sia kepanasannya, Risa mencoba menyadarkan Lian. “kamu mau membuka pintu dengan penampilan seperti itu?”
“memang kenapa? Aku memakai celana, hanya tidak memakai baju saja, itu cukup wajar untuk seorang pria”
Lian melanjutkan langkanya dengan santai, sebelum akhirnya Risa mencekal tangannya
“tidak boleh, biar aku saja”
Sebelah alis Lian terangkat “kenapa sayang?’
Ya Tuhan, Risa bisa cepat hilang kesadarannya jika Lian seperti ini, Niat awalnya hanya ingin mencegah Lian membukakan pintu kamar hotelnya, mana sudi Risa membiarkan tubuh Lian dilihat perempuan lain.
Walau kemungkinannya kecil jika pelayan itu seorang perempuan, sepertinya Risa mulai tertular sifat posesif milik Lian.
“Hm?” Lian kembali membuka mulutnya, dan sialnya nafas panasnya veroaroma mint itu menerpa wajah Risa, membuat sesuatu dalam perutnya tegelitik dan menegang bersamaan.
“aku saja yang--membukanya--”
Risa bergegas meninggalkan Lian yang masih memasang wajah tidak mengerti.
Dan benar saja, layangan kamar yang menyediakan makan malam, beberapa pelayan membawa sebuah trolly yang berisikan makan malamnya, “jika ada yang kurang, anda bisa menelpon kami”
Pelayan itu tersenyum sebelum akhirnya pamit undur diri “ya terima kasih”
Risa dengan cekatan menutup pintu, lalu memandang trolly yang berisikan beberapa makanan.
Memangnya siapa yang mau makan malam di malam pertamanya? Risa pikir Lian akan lebih suka memakan dirinya, dibanding hidangan yang disajikan di depannya ini.
Risa tersenyum penuh arti, belum genap satu hari statusnya menjadi seorang istri, tapi pikirannya sudah mulai berangan-angan jauh, padahal beberapa jam yang lalu di ketakutan setengah mati harus menghabiskan malamnya berdua bersama Lian.
Mungkin ini efek melihat otot-otot milik suaminya, ya suaminya lagi-lagi Risa tersenyum mengingat satu fakta jika Lian sekarang sudah menjadi suaminya.
“sampai kapan kamu akan memandang makanan itu?” Lian berdiri di sana dengan tatapan bingungnya.
__ADS_1
“Em, aku rasa aku harus mandi” Risa berlari kecil ke arah kamar mandinya, tapi baru saja dia menutup kamar mandinya dia lupa.
Jika gaun pengantinnya tidak bisa dilepaskan sendiri. “Lian--”
“tolong aku sebentar” Risa mengintip dari balik pintu kamar mandinya.
“pasti tidak bisa membuka gaunmu kan?” pertanyaan Lian langsung membuat wajah Risa merenggut.
Sudah jelas susah, tapi suaminya satu ini malah menggodanya.
“aku mau membantumu, tapi--”
“tapi apa?” tanya Risa cemas, matanya menatap penuh selidik pada seringai nakal yang terpasang jelas di wajah Lian.
“Hei, kenapa kamu jadi ketakutan seperti ini, sayang?” Lian membuka pintu kamar mandi lalu masuk bergabung dengan Risa.
“aku--aku--” dan belum sempat Risa melanjutkan perkataannya, bibir sensual Lian sudah menjelajah diatas bibirnya.
Tangan Lian mulai mengusap punggung belakang Risa yang masih terbalut kain, mencari resleting yang menjadi permasalahan Risa sejak tadi.
“Engh--”
Risa mendesah pelan saat Lian menyapu lidahnya di langit-langit mulutnya, membuat Risa mau tidak mau turut memainkan lidahnya. Tanpa sadar gaun Risa sudah terbuka, Lian menarik pelan gaun Risa hingga gaun itu terbuka sebatas pinggang Risa.
Matanya cukup terkejut melihat tubuh depan Risa sat gaun itu jatuh sepenuhnya diatas lantai, jadi gaun ini digunakan tanpa bra?
Oh Tuhan sepertinya dia harus mengingatkan Risa agar tidak membeli gaun semacam ini, tidak memakai bra sejak tadi pagi?
Lian bisa gila jika Risa melakukan itu lagi, dia takkan pernah mau jika tubuh Risa menjadi objek fantasi liar lelaki diluar sana, meski tertutup gaun pun, pokoknya Risa tidak boleh.
“Maaf” Lian terlihat salah tingkah, dia melangkah mundur dari yang terjadi malah dia tidak sengaja menekan tombol turn on di showernya.
Tubuh keduanya kini malah basah kuyup, Risa menggigit bibir bawahnya pelan “Em--ini bagaimana?”
“apa yang bagaimana?”
“bagaimana caranya melakukan malam pertama?”
Mulut Lian terbuka sepenuhnya, dia bahkan tidak peduli jika air shower masuk kedalam mulutnya,
Wajah Risa merona total, dia tidak sadar jika pertanyaan yang dia lontarkan sangat konyol.
Tanpa aba-aba Lian malah mendekap tubuh Risa, membiarkan kulit polos mereka bergesekkan memberikan sensasi menggetarkan untuk pertama kalinya bagi Risa.
Risa sempat meratapi nasib gaun yang teronggok di bawahnya, gaun itu kini terinjak kaki jenjang Lian.
"Risa kamu membuatku tidak bisa menahannya lagi, kamu akan tahu caranya secara alami, jadilah selesai dulu acara mandimu, aku akan menunggu di ranjang" ucap Lian tepat ditelinga Risa, dan membuat Risa bergetar.
Lian melangkah keluar meninggal Risa yang masih terdiam di tempat, mendengar suara pintu tertutup membuat kesadaran Risa kembali, dengan cepat dia menyelesaikan acara mandinya.
"astaga aku lupa membawa baju ganti! tidak mungkin aku keluar hanya mengenakan handuk!"
__ADS_1
dengan perasaan ragu-ragu Risa melangkah keluar kamar mandi, dia memegang handuk itu dengan kencang, dengan langkah cepat dia mendekati lemari mencari pakaian yang akan dia kenakan.
"untuk apa memakai pakaian jika pada akhirnya kamu akan melepasnya" entah sejak kapan Lian sudah berada di belakang.
Risa hanya terpatung ditempat mencoba mencerna setiap perkataan Lian,
satu tangan mengelus punggung Risa, satu tangan lainnya mengelus perut Risa, dengan santainya Lian memeluk tubuh Risa. menciumi setiap lekuk kan tubuh Risa.
"Risa kenapa kamu terus menggodaku,"
"aku-- aku--, sedang tidak menggodamu..aku hanya--" Risa tidak mampu melanjutkan kata-katanya, karena Lian terus menciumi lekuk tubuh.
"hanya? Risa---aku ingin dirimu" Ucap Lian, dengan cepat dia menggendong Risa, berjalan mendekati ranjang.
meletakkan Risa diranjang dengan sangat lembut, Lian mulai naik keranjang merangkak menaiki tubuh Risa.
"Risa apa kamu gugup?" tanya Lian
"aku percaya padamu" Ucap Risa sambil mengelus wajah Lian.
Lian memulainya dengan mencium bibir Risa, mencium penuh dengan kelembutan menikmatinya, ciuman berubah menjadi ******* yang sedikit kasar. menggigit bibir bawah Risa, berikannya isyarat untuk membuka mulutnya, agar mempermudahkan Lian memperdalam ciumannya.
cukup lama ciuman itu berlangsung cukup menghabiskan pasukan udara yang Risa miliki, menggunakan kedua tangan dia mendorong Lian.
Lian yang mengerti, dia pun melepaskan dengan cepat, menatap wajah Risa yang sudah memerah dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Risa lihatlah aku!"
"Lian aku malu untuk melihat nanti saat kita tidak memakai satu helai benang pun"
"Risa, Be Mine"
Lian mulai membuka handuk yang menutupi tubuh Risa, dengan satu tarik tubuh Risa susah bisa Lian lihat.
"Risa mungkin ini akan sakit untukku, tapi biarkan aku melakukannya, aku janji takkan membuat merasa kesakitan"
"lakukanlah Lian"
Lian sudah diambang nafsu, dia melebarkan kaki Risa, mencoba memasukkan secara perlahan Lian melakukan dengan sangat hati-hati.
"sakit!!!" Ucap Risa, kedua tangan meremas sprei dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Lian yang melihat itu mulai ragu untuk melanjutkan, tapi sedikit lagi dia akan seutuhnya masuk kedalam hanya tinggal menyobek selaput keperawanan Risa, Dia tidak punya pilihan dengan sedikit kasar Lian menghentakkan juniornya.
"SAKIT!! Lian!!"
tepat saat juniornya seutuh sudah ada di dalam, Risa menjerit kesakitan, dia juga terpaksa menggigit bahu Lian untuk melampiaskan kesakitannya.
"Aku mencintaimu Risa" ucap Lian
dia menghapus air mata Risa dipipi, lalu dia mencium bibirnya agar kesakitannya teralihkan, menunggu Risa untuk terbiasa.
__ADS_1
malam itu adalah malam panjang yang harus Risa melewati, dimana identitasnya berubah yang dulunya adalah seorang gadis berubah menjadi wanita dewasa.
malam pertama yang mereka lewatkan diiringi dengan derasnya Air hujan dan Kehangatan yang mereka rasakan