Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 71 - Swiss


__ADS_3

Satu minggu berlalu ….


Dipagi yang indah dipenuhi dengan butiran salju yang menutupi jalanan kota Seoul, jadi malam tiba-tiba saja salju terus hingga mengubah seluruh negara yang memiliki empat musim, dalam waktu semalam kota Seoul benar-benar berubah menjadi lebih banyak warna putih.


Bukan hanya salju yang tiba-tiba turun, namun suhu menjadi lebih dingin hingga rasanya air mineral yang diletakkan di raci-pun bisa berubah menjadi dingin atau mungkin membeku menjadi es, semua orang akan mengubah suhu ruangan menjadi lebih panas lagi agar tidak mengalami hipotermia.


Setelah malam yang dipenuhi badai salju, hari ini Kevin dan Sona akan melakukan perjalanan Honeymoon mereka ke negara dengan sejuta pesona dan memiliki julukan “the land of milk and honey” kota yang memang memiliki sejuta tempat yang belum tentu ada di korea.


Karena Swiss termasuk dalam benua Eropa, itu berarti perjalanan penerbangan dari bandara Incheon sampai ke Swiss bisa menghabiskan waktu lebih dari 8 jam, itu merupakan satu hal kenapa Kevin dan Sona memutuskan untuk memilih penerbangan pagi. 


Sebelum sampai di bandara Incheon, Sona sempat menghubungi Lisa dan mengatakan jika dia akan pergi selama satu bulan lamanya, Sona juga bertanya hadiah apa yang Lisa inginkan saat dirinya kembali, selama perjalanan Sona lebih fokus menghubungi sang sahabat sekaligus adik iparnya, sedangkan sang suami hanya dibiarkan fokus untuk mengemudi saja.


“apa kamu tidak punya rencana untuk Honeymoon Lisa?” 


Dengan pakaian musim dingin, Sona menatap Lisa melalui layar ponselnya, dari layar ini Sona bisa melihat jika Lisa baru saja bangun dan wanita itu masih sedikit tidak fokus saat diajak bicara.


“Honeymoon? Mungkin saat musim semi aku akan melakukannya” - Lisa


“aku pikir setelah Han kembali, kamu akan segera melakukan perjalanan Honeymoon, jika alasannya karena pekerjaan, ayolah Lisa kamu sudah bekerja dirumah sakit selama enam bulan, apakah begigu sulit meminta izin untuk dirimu sendiri”


“aku akan mendiskusikan ini dengan Han, dia belum kembali dari kantornya, Sona bisakah kita mengakhiri Videocall ini? Aku baru saja kembali dari rumah sakit dan ingin beristirahat” - Lisa


“baiklah, jaga kesehatanmu Lisa dan tolong sampaikan pesanku untuk ibu dan ayahmu, sampai jumpa”


Setelah melambaikan tangannya pada layar ponsel, Sona segera mematikan panggilan video call tersebut dan memilih untuk menatap keluar jendela mobil, seperti sebentar lagi mereka akan sampai di bandara Incheon, bersyukur karena hari ini jalanan tidak begitu padat kendaraan belum lagi jalanan yang tidak sepenuhnya sudah dibersihkan dari salju. 


Suasana kembali hening, namun tak lama terdengar suara helaan nafas yang berasal dari Kevin, entah apa yang dia pikirkan hingga tiba-tiba melakukan hal itu di suasana seperti ini.


Sona tentu saja langsung menatap kearah sang suami, dari samping Sona bisa tahu jika ada kegelisahan terukir di wajah Kevin “kenapa? Ada yang tertinggal?”


“aku? Tidak ada hanya ingin melakukannya saja, apa itu salah?” tanya Kevin, dia sibuk mengemudi.


“kamu tidak mungkin melakukan itu jika bukan karena alasan, akhir-akhir ini seperti ada satu beban yang membuatmu resah, kamu tidak ingin menceritakannya?” 


“hanya masalah kantor, tiba-tiba saja Yoona mengundurkan diri dan semua membuatku kacau karena tidak mengerti semua itu” ucap Kevin, sambil sesekali menatap ke arah Sona.


“Yoona?”


“itu sekretarisku, dia sangat pandai membuat semua pekerjaanku menjadi lebih mudah” 


“kenapa dia tiba-tiba mengundurkan diri?”


“aku tidak tahu, saat aku sampai di kantor tiba-tiba sudah ada surat pengunduran diri dari Yoona dan saat setelah itu dia sulit untuk dihubungi”


Tak lama kemudian mobil mereka sudah berhenti di bandara tepat pada pukul 8 pagi, Kevin dan Sona bekerjasama mengeluarkan koper yang cukup besar dan banyak, bagaimana tidak Sona saja butuh dua koper untuk dirinya sendiri. 


Keduanya melangkah bersama-sama menuju ke dalam bandara untuk menunjukan paspor dan visa, karena sebentar lagi akan penerbangan akan segera berangkat, kali ini perjalanan honeymoon mereka penuh dengan persiapan dan juga daftar tujuan yang akan mereka tentukan.


******


“beristirahatlah” ucap Kevin.


Kini keduanya sedang duduk di satu tempat yang sama dengan kelas terbaik untuk penerbangan kali ini, baik Sona dan Kevin keduanya sibuk dengan urusan masing-masing entah Kevin yang sibuk dengan ipad-nya atau Sona yang sibuk dengan buku untuk mengisi data berjalanan mereka, Sona ingin mengabadikan setiap tempat atau yang ingin dikunjungi di Swiss nanti sebagai kenangan yang akan dia lihat 10 tahun mendatang atau bahkan lebih dari itu.


“bagaimana denganmu?” 


“aku? Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku akan beristirahat” 


Sona mengangguk, dia mengubah kursinya menjadi sebuah ranjang sederhana, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu memunggungi Kevin.


Dan Kevin, pria itu sebenarnya sedang menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan Yoona yang tiba-tiba menghilang dan bahkan terakhir yang Kevin tahu jika wanita itu tiba-tiba saja pindah rumah, sangat aneh dan juga membuat Kevin bingung padahal saat mereka di jepang tidak terjadi apapun namun setelah kembali wanita itu benar-benar berubah menjadi sedikit aneh dan sangat takut bertemu dengan orang lain.

__ADS_1


Kevin menyuruh bodyguard-nya untuk mencari terakhir kali Yoona terlihat dan kapan wanita itu pindah. Bukan alasan karena Kevin ingin tetap wanita itu berada tetap di dekatnya namun untuk saat ini Yoona masih memegang chips berharga milik Grup Jung yang waktu itu Kevin titipkan pada wanita itu. Jika benda itu sampai ditangan orang lain akan sangat berbahaya dan bisa menghancurkan Grup Jung dalam sekejam jika benar-benar disalahgunakan.


Tak lama kemudian satu panggilan masuk dari ponsel Kevin saat dia sedang melihat foto-foto terakhir kali Yoona terlihat. 


“ada kabar baik?” tanya Kevin, dia memakai earphone untuk menghindari kebisingan di sana.


“Apa? Bagaimana bisa?”


“temukan dia segera, dan laporkan semua ini pada ayahku”


Untuk sementara waktu ini Kevin benar-benar dibuat tidak bisa berpikir jernih, semua berjalan baik-baik saja kenapa masalah ini harus datang disaat dirinya sedang melakukan honeymoon yang tidak mungkin dia batalkan begitu saja, Kevin sudah banyak menyiapkan sesuatu disana untuk Sona dan akan sangat disayangkan jika Sona harus menunda lagi keinginannya, bagi Kevin hanya Sonalah yang bisa membuatnya melupakan pekerjaannya dan bagi Kevin kebahagiaan Sona adalah hal yang ingin selalu dia berikan.


Bisa dihitung dalam satu menit Kevin bisa menghela nafas sebanyak lima kali, pikirannya dan perasaan mengatakan hal yang bertolak belakang membuat dirinya semakin takut jika semua hal yang dia pikirkan akan terjadi.


“kamu baik-baik saja?” tanya Sona, sebenarnya wanita itu tidak bisa tidur dengan baik karena suara Kevin dan resahnya membuat Sona sulit untuk mengabaikan sang suami.


“kamu tidak bisa tidur bukan?” tanya Kevin balik, dia tidak ingin membuat Sona khawatir tentang masalah dirinya, sebisa mungkin pria itu akan mencoba menutupi semua masalah perusahaannya.


Sona mengangguk dengan sedikit menunjukkan senyumannya, dia menarik tangan Kevin dan berkata “masih tidak ingin menceritakan apa yang terjadi?”


“Sona, tidak ada masalah yang perlu dipikirkan, ini hanya masalah kecil” 


Kevin menggenggam tangan Sona dengan kedua tangannya, sambil menunjukan senyuman pada sang istri sebagai tanda jika dia benar-benar baik dan bukan suatu masalah yang perlu untuk Sona ketahui.


“bagaimana jika kita tidur sekarang, masih ada banyak waktu dan sebaiknya kita beristirahat bukan?”


Dengan sengaja Kevin menarik tubuh Sona untuk kembali berbaring dan menarik selimut untuk mereka berdua, bukan Kevin mencoba menutupi masalah ini tapi akan lebih baik jika rencana mereka berjalan dengan baik daripada memikirkan masalah perusahaannya.


perjalanan yang cukup lama dari benua pasifik hingga menuju benua eropa, dari awalnya mereka berangkat pagi baru sampai kesana saat hari menjelang malam, berada diatas ketinggian 3600 kaki, membuat siapapun tidak tahu sudah berapa negara yang mereka lewati dan juga perubahan waktu, di dalam pesawat semua orang disibukkan dengan kegiatan masing-masing sesuai dengan keinginan mereka.


Sekarang Kevin dan Sona dalam perjalanan menuju rumah atau apartemen yang mereka sewa selama satu bulan, setelah hampir 8 jam mereka tertidur didalam pesawat kini rasanya tidurnya tidak akan bisa tidur dan mungkin akan lebih indah jika mereka memutuskan untuk mengunjungi beberapa restoran di pinggir jalan.


Kali ini mereka memilih memesan rumah di kota ‘necessary‘, salah satu tempat panggil bersejarah di Swiss yang menawarkan pemandangan yang menyenangkan dan juga indah. Terletak di Danau Geneva, sangat cocok mencari ketenangan dan banyak direkomendasikan oleh pasangan yang sering berkunjung disana.


“aku tidak mengatakan kita harus mengunjungi semua tempat ini, hanya beberapa yang benar-benar ingin aku kunjungi” ucap Sona, dia sangat menyukai pemandangan jalanan yang sangat berbeda dengan Seoul, pemandangan jalanan yang dipenuhi dengan khas dari negara Swiss, terlihat begitu indah namun tidak bisa selamanya dilihat.


“kenapa di setiap halaman selalu ada tempat yang sengaja dikosongkan? Dihalaman ini bahkan seperti dibuat untuk menaruh foto?” tanya Kevin, setiap dia akan membalik halaman berikutnya akan ada halaman kosong setelah dia membaca tujuan tempat.


“itu benar, aku ingin membuat kenangan kita tertulis di buku itu, dan aku ingin menunjukkan pada anak kita nanti, agar kelak mereka tahu jika kedua orangtuanya sangat bahagia dan aku juga ingin mereka mengetahui betapa besarnya cinta ayahnya terhadap diriku” 


Kevin terdiam, betapa senangnya saat dirinya mendengar Sona mengatakan ‘ingin menunjukkan pada anak kita’ itu berarti secara tidak langsung Sona mengatakan jika dirinya sudah siap untuk memiliki anak, dengan cepat Kevin menutup buku yang berjudul “memories note” dan dia menarik Sona untuk menghadap ke arah lalu tanpa menunggu lama pria itu mencium wanita itu dengan perasaan senangnya.


Jika saja mereka tidak sedang dalam taksi mungkin Sona sudah memberikan pukulan pada Kevin dan beberapa cubitan di tubuhnya, Sona tentu saja terkejut lama bukan masalah itu yang membuat dirinya ingin memukul Kevin namun pria itu yang tidak tahu tempat dengan semau dirinya dia mencium Sona di depan orang yang sudah lebih tua dari mereka.


“sekali lagi k--”


Baru saja dilepas dan Sona baru berkata beberapa kalimat pria itu kembali menciumnya hingga rasanya Sona bisa mati muda jika pria itu terus membuatnya kesal, dengan perasaan yang emosi Sona mendorong Kevin untuk menjauh dari hingga pria itu menabrakkan tubuhnya ke pintu taksi, untung saja Kevin bisa menahan jika tidak mungkin kepalanya sudah terbentur kaca.


“kau kenapa?”


“seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kau kenapa? Apa otakmu bermasalah?” tanya Sona, dia sampai malu untuk melihat kearah pak supir yang masih mengintip melalui kaca di depan. 


“tidak ada” ucap Kevin, dia tersenyum pada Sona, perasaan begitu bahagia dan tentu saja pria itu langsung membayangkan betapa senangnya akan melihat Sona yang selalu manja pada dirinya dan akan banyak sekali hal baru yang terjadi pada mereka saat Sona sedang hamil, Kevin juga berharap setelah kembali Sona bisa langsung memberi kabar pada dirinya nanti jika dirinya sudah hamil.


“jika kau bertindak seperti ini lagi aku akan--”


“akan apa?”


“memukulmu!”


“sebenarnya aku menikahi siapa? Seorang penjahat atau wanita, pukulanmu bahkan lebih kuat dari seorang petinju!”

__ADS_1


“mafia”


“wah, really? Tidak bisa dipercaya gadis bodoh sepertimu seorang mafia, apa kau seorang buronan? Atau jangan kau ingin membunuhku?” ucap Kevin, dia menunjukkan jika dirinya takut seperti benar-benar sedang berhadapan dengan seorang mafia kelas atas.


“gadis bodoh? Buronan? Kau ingin ku kirim kerumah sakit atau tempat kremasi?” 


“aku ingin dikirim ke hati saja, rumah sakit tidak mampu mengobatiku tanpa ada dirimu”


Dengan malas Sona memutar bola matanya dan dia sedikit memajukan badanya untuk berbicara dengan pak supir “pak bisakah anda menurunkan aku di halte sana?”


“baiklah, Sona aku hanya bercanda kenapa kau sangat tidak bisa diajak bercanda sedikit? Lagi pula pak sopir itu tidak akan mengerti bahasamu”


“dia masih mengerti bahasa inggris bukan?”


Dengan itu Kevin langsung menarik Sona menjauh saat dirinya ingin berbicara lagi, “bagaimana jika kamu duduk diam disampingku? Istriku yang cantik ingin pergi kemana setelah ini?”


“aku ingin mengunjungi Danau Geneva, yang tidak jauh dengan perumahan kita, disana sangat indah jika dikunjungi saat malam hari karena banyak sekali kunang-kunang disana”


“makan malam?”


“aku ingin mengunjungi restoran pasta, atau mungkin kita bisa memasak, aku membawa beberapa ramen” ucap Sona.


“ramen? Itulah alasan kenapa kopermu lebih banyak?”


Sona mengangguk, ini perjalanan di luar negeri dan butuh waktu bagi Sona untuk terbiasa dengan makanan disana yang tidak seperti di korea, disana mungkin akan lebih banyak makanan dengan menu musim dingin yang sudah pasti di dominasi dengan makanan pedas dan hangat, Sona tidak bisa memakan makanan yang terlalu pedas dia cenderung bermasalah dengan makanan dana mengakibatkan pencernaan yang tidak baik.


“aku tahu istriku, akan sangat sulit memilih makanan disini, aku akan lebih sering memasak untukmu” 


Setelah menempuh waktu lebih dari 30 menit akhirnya mereka berhenti di depan halaman rumah yang sederhana, rumah berlantai satu itu memiliki halaman yang dipenuhi dengan pekarangan bunga dan juga dikelilingi dengan rumput yang terlihat rapi, benar-benar memiliki khas Swiss walau mungkin tertutupi oleh butiran salju namun tidak mengurangi keindahannya.


“thanks you sir” ucap Kevin.


Sona begitu bahagia melihat rumah ini yang sama persis dengan rumah yang ibunya libatkan padanya di masa remajanya, tidak akan terbuang disana, dia berjalan bersama dengan Kevin memasuki rumah sewa mereka.


“kamu sangat pintar dalam memilih sesuatu, aku sangat menyukai suasananya nyaman seperti dirumah”


“aku juga merasakannya, kamu lelah?” tanya Sona, kini keduanya sedang duduk di sofa yang seperti baru saja diganti, dibelakang mereka langsung disuguhi oleh pemandangan pohon tua yang tertutup salju tebal dan meja seperti memang tempat untuk bersantai disana.


“hanya sedikit, kamu ingin mandi bersama?” 


“man-di--ber-sama?” Sona sempat mengedipkan matanya beberapa kali, padahal mereka sering mandi bersama tapu kenapa rasanya sedikit aneh dan terdengar membuat dirinya gugup.


“baiklah aku akan menyiapkan air panas” ucap Kevin, pria itu melangkah meninggalkan menuju bathroom yang terpisah, dirumah sewa hanya ada satu kamar, bathroom, dapur, dan ruang tamu.


Saat Sona melangkahkan kakinya dengan handuk kimono dirinya dibuat terkejut dengan gaya bathroom yang begitu indah dipandang, inilah perbedaan Swiss dengan negara lain karena didalam bathroom ini terdapat bath up yang begitu besar seperti mangkuk dan disisi-sisinya ada beberapa lilin, lantainya terbuat dari kayu dan beberapa bambu seperti dibawa ke suasana hutan yang tenang.


Setelah mengagumi indahnya, pemandangan Sona tertuju pada Kevin yang sudah di dalam bath up sambil memandang menyalakan lilin beraroma kan berbagai jenis bunga terutama aroma bunga mawar.


“kemarilah” 


Sona kembali melangkahkan kakinya hingga dia berhenti di sisi bath up, dia membuka handuk kimononya dan melangkah masuk kedalam, dia menyandarkan dirinya di tubuh Kevin, Sona tidak pernah berpikir semua ini bisa membuat dirinya merasa lebih baik dan bahkan suasana yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Kevin membuka ikatan rambut Sona, dia mengelus tubuh Sona dengan telapak tangan besarnya, betapa indahnya tubuh itu setiap kali dia menyiramnya dengan air yang sudah diberi sabun, lalu bibir ikut ambil dalam mengecup setiap inci di lekukan leher Sona, sudah lama dirinya tidak memperhatikan sang istri.


“Sona, aku sedang saat kau berkata ingin memiliki anak, aku pikir kamu akan terus menunda hingga tahun atau hingga tahun lagi” 


Dengar itu Sona membalik tubuh untuk menatap Kevin, dia juga menyiram tubuh Kevin dengan perlahan “aku tidak bisa melihat dirimu terus menahan keinginanmu Kevin, aku tidak ingin menjadi egois seperti sebelum kita menikah, aku juga ingin melihatmu bahagia”


Kevin menahan tangan Sona saat wanita itu berhenti menyiram tubuhnya, dia mencium tangan itu sambil menatap Soan dengan tatapan seperti antara bahagia atau sebaliknya akan menyerang Sona.


“kali ini tidak ada pengaman?”

__ADS_1


Sona mengangguk dengan malu-malu, dia bingung antara bahagia dan juga malu jika dirinya akan lebih banyak memikirkan cara menghindari Kevin jika sudah mode romantis seperti ini.


Seperti pasangan lainnya, keduanya melewati mandi bersama dengan indahnya walau mungkin disana pasti melewatkan dari sekedar membersihkan tubuh, tapi semua itu memanglah tujuan mereka.


__ADS_2