Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 63 - Danger to me


__ADS_3

Kesalahan atau pertengkaran yang terjadi antara Kevin dan Sona masih berlangsung hingga malam hari, padahal keduanya bisa saja menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan daripada saling mendiami satu sama lain seperti ini, seharusnya mereka merasa sangat beruntung bisa tinggal satu rumah yang sama dan setiap harinya bisa bertemu, daripada hubungan Lisa dan Han yang harus berpisah antar kota dan juga berpisah rumah, bahkan mereka tidak diberikan kesempatan untuk bertemu walau banyak hari libur yang mereka lewati.


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Kevin sengaja pulang lebih awal agar bisa bertemu dengan sang istri namun saat kembali dia malah bertemu dengan Sona dengan 'mode cool'. Baru saja meletakan sepatunya di rak hawa dingin sudah memenuhi sekeliling tubuh Kevin yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu, padahal pria itu sudah memakai sandal rumah tapi rasanya kakinya sedang menginjak bongkaran batu es.


Saat Kevin sampai di Sofa tempat biasa dirinya dan Sona melakukan segala hal disana entah itu menonton TV bersama, mengerjakan pekerjaan mereka atau hal lainnya disana. Di sofa besar berwarna coklat itu terlihatlah sosok Sona dengan pakaian? Pakaian yang bisa membuat darah Kevin mendidih seketika.


Kevin yang melihat itu segera berlari mendekati sang istri, jika seperti bukankah seharusnya Kevin senang kembali pulang dengan disuguhi oleh pemandangan yang sangat jarang dilihat.


“Sona apa yang terjadi?” 


“oh sayangku sudah pulang? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Menyenangkan?” tanya Sona dengan wajah angkuh dan nada sinisnya, dengan gayanya yang begitu anggun dia menunjukan seringai pada Kevin yang duduk di seberang Sofa.


“Sona, kamu salah paham? Aku--” 


Tiba-tiba saja Sona menutupi mulut Kevin dengan jari telunjuknya dan menunjukan jika dirinya tidak ingin mendengarkan apapun alasan pria yang ada di hadapannya, Kevin bahkan belum sempat untuk mengganti pakaian kerjanya. Dengan anggun Sona meletakkan anggur yang ada di tangannya dimeja dibelakangnya, kemudian wanita itu duduk di hadapan Kevin tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Kevin.


“apa aku salah berdandan untuk suamiku?” 


“T-Tidak salah sayang” jawab Kevin dengan gugup, dia mengerti bukan Kevin sangat paham jika saat ini Sona sedang mencarinya.


“lalu apakah aku jelek dengan pakaian ini?” tanya Sona, dia meletakkan tangannya di depan dadanya dan menyilangnya disana.


“T-tidak, tentu salah kamu sangat cantik menggunakan gaun itu Sona” ucap Kevin dengan gelisah, entah rasanya semakin dingin saja jika berdekatan dengan Sona, jika dilihat Sona memakai gaun yang hampir memperlihatkan belahan dadanya dan juga kulit putihnya, gaun berwarna merah sangat berbahaya untuk Kevin dan juga untuk Sona kenakan.


“itu bagus, malam ini tidurlah diluar!!”


Dengan langkah yang tegas Sona meninggalkan Kevin begitu saja yang mungkin saat ini sedang mengikutinya dari belakang, kemarahan Sona hari ini adalah Kevin membiarkan dirinya makan bersama dengan wanita lain dua kali, padahal Sona tidak tahu jika wanita itu adalah asisten baru Kevin.


“Sona, Tunggu dulu.. Kenapa aku harus tidur diluar? Apa salahku” tanya Kevin, dia menahan tangan Sonas untuk berhenti melangkah ke anak tangga. 


“tidak ada yang salah sayangku, hanya saja aku muak tidur bersamamu!!” 


Dengan sekali hentakan, tangan Sona sudah bisa lepas dari genggaman Kevin dan kembali melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka yang berada dilantai dua.


“tidak ada jatah untuk hari ini? Ayolah Sona aku merindukanmu” ucap Kevin, dia juga tidak mau kalah dengan Sona, dia terus mengikuti Sang istri dari belakang hingga mereka keduanya berhenti di depan kamar mereka.


Saat Sona ingin membalik tubuhnya, dirinya langsung dihimpit antara Kevin dan kedua tangannya yang ada di sisi dirinya, mengunci Sona di pintu kamar mereka yang masih tertutup rapat. Membuat segala pergerakkan Sona menjadi terhenti di hadapan Kevin dengan wajah senangnya.


Detiknya hanya ada sesi tatap menatap antara Kevin dan Sona, jika tadi suasananya terasa dingin kini sudah tergantikan dengan hawa panas yang berada didekat mereka, lagi-lagi Sona dibuat tidak bisa berkutip dengan Kevin yang selalu bisa mengembalikan keadaan dimana sekarang Sona yang merasa bersalah dan takut dengan apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.


Kevin tahu jika Sona sedang cemburu pada dirinya, jika biasanya Kevin akan menanyakan apakah Sona mau makan siang bersama atau setidaknya mengirimkan makanan pada dia, Kevin malah berkata jika dia akan makan siang dan makan malam dengan Hana, dan Kevin juga lupa jika Hana adalah sekretaris-nya yang baru dia terima.


Saat Kevin menyadari jika Sona mulai takut untuk menatapnya, maka hal selanjutnya dia lakukan adalah melakukan hal yang akan membuat Sona malu, pria itu menarik dagu Sona dengan lembut hingga mempertemukan kedua mata mereka, dan selanjutnya secara perlahan Kevin menyatukan kedua bibir merona dengan romantisnya.


Sentuhan demi sentuhan Kevin berikan pada Sona agar wanita itu untuk berani membalas setiap ciuman yang dia berikan, secara perlahan tangan Kevin mulai menarik tubuh Sona yang begitu dipenuhi oleh aroma lavender agar mempermudah Kevin untuk memperdalam ciuman mereka menjadi sebuah *******.


Ciuman yang sepenuhnya dipimpin oleh Kevin akan berlangsung lama hingga jika Sona tidak memberikan sinyal jika dia sudah kekurangan oksigen maka Kevin tidak akan rela melepaskan tautan bibir mereka.


“aku tahu, jika istriku sangat ini sedang cemburu bukan?” tanya Kevin, dia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sona dengan gaya posesifnya, jika dia tidak melakukan itu maka Kevin akan kehilangan Sona, karena dia tahu jelas Sona akan lebih sona menghindari segala kecemburuannya di depan Kevin.


“a-aku--”


“kamu tahu Sona, jika pria sudah bergairah apa yang akan terjadi pada wanita yang sudah menggoda mereka?”


“a-aku t-tidak tahu!”  ucap Sona dengan gugup, dia sampai mengalihkan pandangan untuk menghindari tatapan mesum Kevin.


Melihat Sona yang seperti itu Kevin malah semakin suka menggoda wanita itu, Kevin mendekatkan wajahnya pada telinga Sona dan berbicara dengan nada yang begitu menggoda.


“terkunci didalam kamar dan ada banyak sekali hukuman” 


“Kevin, Tunggu! Kam--”


******


Keesokan harinya ….


Seperti hari biasanya Kevin dan Sona melakukan aktivitasnya seperti biasa karena ini masih hari rabu dan masih ada dua hari lagi untuk menuju hari libur itu berarti mereka berdua masih harus menyelesaikan pekerjaan mereka hingga hari jumat entah itu sebagai Ceo dan seorang pengacara.


“Sona, mau sampai kapan kamu akan terus tidur?”


Seperti biasa jika saat malam harinya Kevin dan Sona melakukan 'olahraga malam' yang akan bangun dengan semangat tentu saja yang diberikan kesenangan sedangkan satunya lagi harus merasa sakit di tubuhnya.

__ADS_1


“5 menit lagi, aku masih mengantuk” ucap Sona, dia menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya yang belum memakai pakaian, dan tentu saja menghindari terpapar sinar matahari.


“tidurlah selagi aku menyiapkan sarapan”


Sebelum Kevin turun dari ranjangnya, dia menyempatkan dirinya untuk memberikan ciuman di kening sang istri sebagai tanda jika dia benar-benar mencintai Sona, bagi Kevin, Sona adalah rumah terbaik yang selalu membuat dirinya ingin cepat-cepat pulang dan segera menghabiskan waktu luangnya bersama sang istri walau sangat jarang dan sangat sulit didapatkan tapi bagi Kevin itu adalah hal terindah yang belum pernah dia dapatkan selama hidup.


Tak lama kemudian Sona turun dengan gaya jalan yang sedikit berbuka, ini tentu saja bukan hal baru yang sering dia lakukan namun tetap saja jika sudah melakukan Kevin tidak hanya melakukannya sekali tapi hingga dua atau tiga kali dalam setiap mereka lakukan, Sona bukan mengeluh dia hanya saja tidak mau orang lain menatapnya aneh jika gaya jalannya selalu seperti itu hampir setiap hari.


Dengan jas hitam dan celana panjang Sona berjalan mendekati Kevin yang sedang membuat sarapan untuk dirinya, seperti biasa Sona akan memeluk tubuh kekar itu dari belakang dengan wajah yang dipendam dalam punggung besar itu, semua wanita pasti sangat menyukai posisi seperti ini bukan? Sona-pun masa sangat menyukai jika dirinya dapat memeluk Kevin dari belakang.


“aku tidak suka jika kamu mengatakan dirimu makan siang bersama wanita lain, jika seperti ini terus aku akan mengganti pekerjaanku menjadi sekretaris” 


“Sona, bukankah aku sudah bilang jika kamu salah paham, dia adalah sekretaris baru namanya, Song Hana Ryu”


“apa dia cantik?”


“tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dirimu Sona, lagipula aku lebih suka dengan gaun merah itu”


Sona yang mendengar itu langsung memberikan pukulan pada punggung lebar Kevin, membuat Sona malas untuk memeluk tubuh pria itu, namun baru saja melangkah satu senci Kevin sudah kembali menarik tubuhnya dan membuat mereka kembali berpelukan. 


“kamu tahu Sona? Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika seseorang menunjukan kecemburuannya secara terang-terang itu berarti dia sangat takut kehilangan orang dia cintai” 


“siapa yang mengatakan itu?”


“aku” ucap Kevin, dia tersenyum saat menatapnya dengan kesal, lalu dia memberikan ciuman kilat setelah itu melepaskan tubuh Sona dan lebih memilih untuk melanjutkan membuat sarapan mereka.


“menyebalkan!”


“tapi kamu mencintai pria menyebalkan ini bukan?”


“aku tidak mendengarnya”


Dipagi yang indah bukankah sangat menyenangkan melaluinya dengan pasangan yang selalu membuat hidup ini menjadi lebih berwarna dan tentu saja bermakna, Kevin dan Sona hanyalah sebuah pasangan yang terlalu terburu-buru untuk melangkah pada sebuah arti sesungguhnya dari kata rumah tangga, tapi mau bagaimana lagi takdir memang yang memaksa mereka untuk segera mengikrarkan janji suci ketika keyakinan belum hadir dalam hidup mereka, lalu bagaimana jika kehidupan rumah tangga mereka ditimpa oleh masalah yang membuat keduanya memilih jalan perpisahan untuk penyelesaiannya atau akankah mereka tetap bersama walau banyak cobaan dan masalah yang terus membuat mereka berpisah?


Hari libur ..


Setelah menempuh banyak waktu yang terlewatkan di sebuah gedung yang tidak pernah kenal akan waktu, akhirnya 2 hari yang berharga bisa mereka manfaatkan untuk memulihkan kembali stamina untuk kembali mempunyai aktivitas di hari senin nanti. 


Dari cela jendela yang tertutupi oleh gorden berwarna biru bisa dilihat dari luar jika kedua pasangan itu masih terlelap dengan selimut yang masih setia menutupi tubuh mereka, baik Kevin dan Sona keduanya sudah terbiasa bangun siang saat hari libur tiba, rasanya sangat aneh jika keduanya bangun pagi dihari libur. 


Bagi Sona dan Kevin, hari libur bukanlah harus dihabiskan untuk berpergian ke tempat yang mereka suka, lagipula waktu libur bagi mereka adalah waktu untuk bersih-bersih rumah dan juga mencuci pakaian, jadi itu alasan kenapa pasangan itu lebih suka untuk bangun siang. 


Suara nada dering dari ponsel memaksa Sona harus mengangkat siapa yang menghubunginya di pagi ini, dengan selimut yang menutupi tubuhnya dan wajah yang masih setengah mengantuk Sona paksakan untuk mengangkat telepon itu.


“Ya, Lisa?”


“apa? Kenapa kamu tidak bilang Lisa, baiklah aku akan segera kesana, jangan pergi sendiri”


Sona segera bangun dari tempat tidurnya, dia lebih memilih untuk membersihkan dirinya lebih dahulu daripada membangunkan Kevin. Bagaimana bisa Lisa mengabari dirinya begitu mendadak hingga Sona bingung untuk melakukan apa lebih dahulu.


Hingga 35 menit berlalu, Sona keluar dengan pakaian yang baru saja dibeli 2 minggu yang lalu, sebuah dress berwarna hitam dengan lengan panjang dan panjang hingga melewati lututnya, wanita itu segera membangunkan sang suami yang masih saja belum bangun.


“Kevin! Ayolah bangun!” ucap Sona, dia menarik gorden kamarnya agar cahaya matahari bisa menerangi kamar mereka dan tentu saja memaksa Kevin untuk segera bangun.


“Kevin!” 


Dengan kesal Sona menjambak rambut Kevin yang baru-baru ini dia warna menjadi Coklat. Hingga pria itu merintih kesakitan barulah Sona melepaskannya.


“kamu ini kenapa? Tidak bisakah lebih lembut?” ucap Kevin sambil memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit.


“daripada kau terus protes, lebih baik kau segera mandi dan berpakaian yang tapi” ucap Sona, dia menarik Kevin untuk segera turun dari ranjangnya dan mendorong pria itu untuk masuk kedalam bathroom agar tidak ada lagi suara protes yang keluar dari mulut Kevin.


“Sona! Kau berhutang penjelasan padaku!”


Selagi menunggu sang suami mandi, Sona memanfaatkan semua waktu yang ada untuk menyiapkan segala kebutuhannya, dia juga mengirimkan pesan pada Lisa jika dirinya akan terlambat untuk hadir dan menyuruh Lisa untuk tidak menunggunya dan berangkat lebih awal karena jarak dari islan menuju Seoul butuh beberapa jam perjalanan.


“katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kevin, dia memeluk tubuh Sona dari belakang saat wanita itu sedang mengoles selai di roti bakar.


“Ibu dan ayahmu hari ini pulang Kevin, tidakkan kita seharusnya menunggu mereka di bandara?” 


“benarkah? Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal! Untuk apa kita masih disini? Ayo kita berangkat” ucap Kevin, dia menarik Sona untuk meninggalkan dapur dan menyeret wanita itu untuk segera keluar dari rumah.

__ADS_1


“t-tapi--kevin bukankah lebih baik kita sarapan? Setidaknya biarkan kan aku mengubah diriku dulu!”


“kau akan tetap cantik tanpa menggunakan make up sekalipun Sona”


Dan yang terjadi Sona hanya bisa pasrah saat Kevin membukakan pintu mobil dan segera membuka garasi mobilnya dan mengeluarkan mobil kesayangannya yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Tak lama kemudian mobil Kevin segera meninggalkan kawasan perumahan ‘Hyewon’ yang menjadi tempat tinggalnya.


“haruskan kita naik kereta agar segera sampai disana? Atau pesawat?” tanya Kevin, dia tahu butuh waktu lama jika hanya mengandalkan mobilnya saja karena jarak yang cukup jauh dari Seoul yang jika ditempuh butuh waktu 4-5 jam perjalanan jika ditempuh dengan mobil.


“aku akan mencari penerbangan hari ini” ucap Sona, dia segera mengeluarkan ponsel tipisnya dari saku pakaiannya, walau kedengarannya terlalu berlebihan jika mereka memilih untuk naik pesawat karena memang jika Kevin dan Sona ingin menjemput kedua orang tua Kevin di bandara bukankah seharusnya mereka sampai lebih awal. “hari ini penerbangan yang dijadwalkan pergi ke Seoul pukul 8.30 pagi dan 10.30 jika dari lihat sekarang jika bisa mengikuti penerbangan pertama”


“pukul berapa sekarang?” tanya Kevin, dengan sedikit mengencangkan kecepatan mobilnya saat mereka sudah berada dijalan raya yang tidak terlalu ramai.


“sekarang masih pukul 7.30 kita masih ada waktu satu jam untuk sampai di bandara, aku akan memesan secara online”


“baiklah, berpeganglah dengan kuat karena aku akan mengemudi seperti seorang pembalap” ucap Kevin, dia menunjukan seringainya saat secara perlahan laju mobilnya mulai kencang hingga membuat Sona terkejut.


“Kevin! Apa kau gila? Kau bisa membuatku terkena Serangan jantung mendadak!” 


“tenang saja, sebelum membuatmu hamil kita tidak akan mati” 


Dan selanjutnya hanya ada ketegangan yang Sona rasakan ketika laju mobil yang begitu cepat hingga rasanya dalam beberapa menit mereka akan sampai di bandara, lain perbedaannya dengan sang istri Kevin malah menikmati indahnya mengemudi dengan laju yang cepat, Hingga setengah jam mereka sudah sampai di bandara.


“aku rasa jika aku mengantarmu kerja secepat ini mungkin kamu tidak perlu lagi memakai supir” ucap Kevin dengan wajah senangnya. Namun saat dia menatap Sona wajah wanita terlihat begitu pucat seperti dirinya baru saja melihat hantu. “kamu baik-baik saja?”


“apakah wajahmu menjelaskan jika diriku baik-baik saja! Kau suami yang sangat suka membuat istri naik darah setiap harinya!” ucap Sona, dia membuka pintu mobil sebelum Kevin membukakan pintu untuknya, rasanya dia terlalu malas untuk berdebat dengan Kevin.


“Sona tunggu aku!” 


Kevin berlari dan meninggalkan mobilnya begitu saja disana, dia sangat menyukai jika Sona marah namun dia tidak suka jika Sona mulai mengabaikan, karena sekali Sona mengabaikan dirinya maka akan terus berlangsung jika dirinya tidak meminta maaf lebih dahulu, saat dia sudah sampai di dekat Sona pria itu segera menggendong wanita itu tanpa memperdulikan banyak orang melihat dirinya.


“Kevin turunkan! Kau ingin membuatku malu?” itu adalah reaksi pertama jika seorang wanita dikejutkan seperti itu, Sona mencoba memukul tubuh Kevin dan mencoba menghindari tatapan dari semua orang yang melihat mereka.


“berjanjilah jika akan mengabaikanku lagi baru aku akan menurunkanmu” ucap Kevin, itu merupakan salah satu cara agar Sona melupakan kemarahannya yang baru saja terjadi. Bukankah itu hal yang wajar atau bahkan sering terjadi pada pasangan yang baru saja menikah?


“baik, aku berjanji, jadi suamiku yang tampan tolong turunkan aku!” ucap Sona dengan senyum yang dipaksakan saat dirinya menatap Kevin.


“perjanjian diterima” 


Detik berikutnya Kevin menurunkan tubuh Sona, di sebuah restoran makan siap saji yang memang disediakan di bandara sana. “ayo kita sarapan, masih ada waktu setengah jam sebelum keberangkatan kita”


“baiklah”


Saat Sona membiarkan Kevin untuk memilih menu makan mereka selagi dirinya menghubungi Lisa.


 “Ya Lisa, apakah kamu sudah sampai?”


“aku sedang dalam perjalanan, nanti kita akan bertemu di bandara yang sama, kapan ayah dan ibu akan sampai?”


“pukul 10, baiklah aku akan sampai disana 9.30”


“Ya, kami sedang berada di bandara, karena jika menggunakan kereta atau mobil butuh waktu yang lama, aku tidak ingin membuat ayah dan ibu kalian kecewa jika hanya dirimu saja yang menjemput mereka” 


“baiklah aku akan menghubungi jika sudah sampai disana, hati-hatilah dijalan Lisa”


seperti layaknya seperti kakak ipar Sona memperlakukan Lisa seperti adiknya sendiri, bagaimana-pun jika Lisa adalah sahabatnya yang kini menjadi adik iparnya, Sona juga tahu jika Lisa sekarang harus tinggal terpisah dengan Han dengan alasan yang tidak bisa membuat mereka bersama untuk beberapa bulan, itu juga menjadi alasan kenapa Sona sangat khawatir saat Lisa lebih memilih untuk mengendarai mobil sendiri ketika bekerja atau ke tempat lainnya.


“kamu menghubungi Lisa?” tanya Kevin, saat dirinya membawa makan yang tadi dia pesan.


“Ya, bukankah seharusnya Han sudah kembali?” 


“jika dari jadwalnya seharusnya pria itu sudah kembali, lagipula untuk apa kamu bertanya itu padaku? Aku bukan istrinya Sona” ucap Kevin, dia mulai memasukan makannya.


Sona dan Kevin memutuskan untuk segera menghabiskan sarapan pagi mereka, setelah itu mereka juga harus membeli sesuatu untuk diberikan pada orang tuanya Kevin dan juga Lisa, atau mungkin beberapa pakaian karena tidak mungkin keduanya akan langsung kembali pulang hari ini.


Hingga akhirnya keduanya jika bisa duduk di dalam kabin pesawat setelah melakukan pengecekan dan lain-lainnya, perjalanan ini hanya membutuhkan satu jam perjalanan jadi mereka memutuskan untuk memilih kelas ekonomis agar keduanya tidak tertidur didalam pesawat.


“sudah beberapa kali naik pesawat tapi kenapa aku masih merasa tegang dan juga takut” ucap Sona, setelah para pramugari mengatakan jika pesawat dalam persiapan untuk lepas lantas ketegangan menyelimuti perasaan Sona, entah kenapa ini terasa aneh padahal dia tidak memiliki trauma apapun juga pengalaman buruk tentang pesawat.


“tenanglah aku selalu bersamamu, jika kamu takut aku siap memberikan pelukan” ucap Kevin, dia itu juga merentangkan kedua tangannya ke hadapan Sona jika dia benar-benar siap memberikan gadis itu pelukan.


“aku tidak butuh!”

__ADS_1


Tak lama kemudian pesawat-pun mulai berangkat, Sona lebih memilih untuk memainkan ponsel sambil menikmati makanan yang disiapkan oleh para pramugari, sedangkan pria itu sibuk menerima telepon dari sekretarisnya, bahkan di hari libur orang itu masih mengganggu temannya? Bukankah patut dicurigakan?


__ADS_2