![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
hari terus berjalan seiring berjalannya waktu, hari demi hari, bulan pun mulai berganti bulan, perputaran waktu yang tak ada hentinya.
kandung Risa sudah memasuki usia bulan keenam, Di mana berat badan Risa terus bertambah setiap hari, dengan bertambahnya berat badan membuatnya harus mengurangi aktivitas kesehariannya, Karena tubuhnya gampang merasa lelah dan terkadang bayi yang ada dikandungnya suka menendang.
“Lian apa kita sebaiknya menyiapkan peralatan untuk anak kita nanti?” ucap Risa, dia sedang membuat Coffe untuk Lian di dapur, sedang Lian masih sibuk dengan laptopnya.
“kamu ingin kita berbelanja untuk calon anak kita sayang? atau kamu ingin aku menyuruh Asistenku untuk membelikannya”
setelah Coffe sudah siap, Risa membawakannya ke ruang tamu Dimana keberadaan Lian, Risa juga mulai sulit berjalan karena perutnya yang sudah membesar, dengan hati-hati dia membawa Coffe dan memberikannya pada Lian.
demi menjaga kesehatan Risa dan calon anaknya, Lian memutuskan untuk bekerja dirumah, memindahkan semua pekerjaan di rumah, dia tidak akan membiarkan Risa sendirian di rumah melakukan aktivitas berat, banyak kekhawatiran yang Lian cemaskan, dia benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu pada Risa.
"terima kasih sayang, lain kali biar aku sendiri yang membuatnya" ucap Lian dengan senang hati dia menerima Coffee buatan Risa, meniupnya lalu mencoba Coffee itu,
“aku ingin kita yang membeli sendiri perlengkapan untuk anak kita”
"apa kamu yakin? kamu tidak boleh terlalu banyak berjalan Risa, bukankah masih ada tiga bulan lagi?" Lian mendekat ke Risa, tangannya terulur untuk mengelus perut Risa yang sudah membesar, dia juga memberikan beberapa kecupan kecil di perut Risa.
“aku yakin Lian! aku ingin sekali merasa seperti orang lain yang membeli perlengkapan untuk bayi,mendorong trolly dan memilih barang yang akan digunakan untuk anak kita”
“jika itu keinginanmu, ayo kita membeli perlengkapan untuk bayi kita sore nanti, setelah aku Benar-benar menyelesaikan pekerjaanku”
“Lian kenapa kamu memilih untuk bekerja dirumah?” tanya Risa, dia melihat banyak sekali berkas dan dokumen yang berserakan di meja ruang tamu.
“aku ingin menjadi suami yang bisa dibutuhkan saat kamu butuh sayang, apa kata orang lain jika aku meninggalkanmu dirumah seperti ini? ini adalah kehamilannya yang pertama akan banyak rintangan dan juga tantangan yang kamu lewati, aku tidak ingin kamu melewati itu semua sendiri, aku ingin membantu lewati semua itu. Risa, tahukah kamu? aku sangat mengkhawatirkanmu, saat aku bekerja pikiranku tidak pernah lepas darimu, setidaknya sangat bayi itu menentangnya dan membuatmu kesakitan, aku masih bisa memberikan pelukan hangat untuk menguranginya”
hati Risa benar-benar menghangat, setiap ucapan yang Lian keluarkan, seakan-akan Risa bisa merasakan kekhawatiran dan juga rasa cintanya pada Risa, selama dia menikah dengan Lian, kebahagian tidak terduga selalu berdatangan tanpa hentinya, dan itu membuat Risa selalu mensyukuri apapun yang Tuhan berikan padanya untuk saat ini dan nantinya.
“sayang? apa kamu mendengar Ayah? kamu anak yang sangat aktif tapi jangan sampai menyakiti ibumu, oke”Lian tiba-tiba menundukan kepalanya untuk menghadap ke perut Risa, dia berbicara pada calon bayinya yang ada di dalam perut Risa.
“jika kamu ingin tidur siang, tidurlah sayang, aku akan membangunkanmu” setelah berbicara dia sekarang berbicara dengan Risa, tangannya memegang pipi Risa yang sangat tembem.
“aku tidak ingin tidur, aku ingin menemanimu Lian”
Lian hanya mengelengkan kepalanya, dia memajukan wajahnya lalu mulai memberikan kecupan pada bibi lalu kedua pipinya dan terakhir kelopak matanya, dia mengambil bantal dan menidurkan Risa disofa tempat mereka tadi duduk.
"selamat tidur, dan mimpi udahlah sayang" sebelum dia menutupi tubuh Risa dengan selimut, dia memberikan satu kecupan cukup lama pada kening Risa, tak lama kedua mata Risa tertutup dan dia mulai tertidur terlelap.
Lian memindahkan semua berkas dan juga laptopnya di sofa lainnya, dia tidak ingin mengganggu tidur istrinya, dia juga sebisa mungkin untuk tidak berisik saat dia sedang mengetik di keyboard laptopnya. dan mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
hingga tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah menunjukan pukul jam setengah tiga sore, Lian yang melihat itu memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya, dia melihat Risa yang masih tertidur tapi sudah waktunya untuk minum susu Ibu hamil dan memakan buah. Lian dengan sigap menyiapkan semua itu sebelum sang istri membuka kedua matanya.
saking asyiknya Lian sampai tidak menyadari jika Risa sudah bangun dan tiba-tiba memeluknya dari belakang, saat Lian sedang memotong buah-buahan untuk Risa.
“sekarang aku sulit untuk memelukmu” Risa agar kesulitan memeluk Lian Karena perutnya tapi ktu malah membuat Lian tertawa dan dengan cepat dia membalik tubuhnya agar menghadap Risa.
"jangan seperti itu Risa, Kasian dengan anak kita yang harus terjepit Karena kamu memaksa untuk memelukku, ini minumlah susumu"
“kamu membiarkannya untukku? dan juga buah itu?”
“Ya, sayang semua itu untukmu dan aku yang membuatkannya, selagi kamu makan aku harus menyiapkan keperluan kita untuk berbelanja nanti” Lian Meninggal-kan Risa di dapur, dia melangkah pergi ke kamar mereka,
tepat setelah Risa selesai, Lian juga sudah menyiapkan semua keperluan mereka, Lian membantu Risa berjalan menuju mobil mereka, membukakan pintu untuk Risa, memakaikan sabun pengaman juga, lalu mengemudi dengan baik, tujuan mereka ke Lotte mall, yang terdekat di daerah kawasan mereka.
hanya memerlukan sekitar dua puluh lima menit untuk sampai disana, sebelum memasuki Mall, Lian memberikan Risa sebuah jaket untuk menutupi tubuh Risa, Karena Lian tahu bahwa saat hamil biasanya wanita tidak akan menggunakan BH, dia sangat tidak menyukai jika pria lain melihat tubuh istri, dia juga melarang Risa untuk memakai pakain yang ketat, Lian sampai memanggil desainer untuk merancang baju khusus untuk Ibu Hamil agar Risa merasa nyaman.
“sekarang lebih baik, Ayo kita masuk” tangan Lian menggenggam kuat tangan Risa, kini kedua mulai berjalan memasuki Mall tersebut, tujuan mereka tentu saja membeli perlengkapan bayi dan tersedia di lantai lima, mereka tidak naik eskalator tapi Lian memilih untuk naik lift.
saat pintu lift terbuka, toko perlengkapan bayi sudah terlihat jelas, jarak tokonya tidak jauh dari lift,
“Lian aku lupa untuk membuat daftar apa saja yang akan kita beli”
“tidak apa-apa, kita bisa bertanya pada pelayan disana, kebutuhan apa saja yang dibutuhkan kita”
Risa hanya mengangguk sebagian jawabannya, dia mengikuti langkah kaki Lian, hingga mereka sudah berada di dalam toko itu,
“selamat datang di toko kami, ada yang bisa kami bantu Tuan dan Nyonya” ucap salah satu pelayan yang langsung menghampiri Risa dan Lian.
“kami ingin membeli perlengkapan bayi”
“kalau boleh saya bertanya, bayi Tuan dan Nyonya seorang perempuan atau laki-laki?”
“kami tidak memeriksa apa jenis kelamin anak kami” ucap Lian
“baiklah, jika Tuan dan Nyonya bersedia saya akan menunjukan beberapa produk terbaik kami yang bisa digunakan untuk bayi perempuan atau bayi laki-laki jika nanti Nyonya sudah melahirkan”
“terima kasih, tolong bantuan” ucap Risa.
"Tuan dan Nyonya, bisa mengikuti saya"
pelayan itu memimpin jalan di depan, dengan sangat baik dan sopan dia menjelaskan satu persatu produk yang baik, dia juga menjelaskan bagaimana cara menggunakannya, pelayan itu sudah seperti pemandu wisata untuk turis yang sedang berkunjung ke suatu negara.
Lian Dan Risa juga sangat menikmati penjelasan yang diberikan oleh pelayan itu, dengan mudahnya Lian membeli semua produk yang menurutnya baik untuk calon bayi nanti, dia juga menuruti semua yang Risa inginkan, sampir semua produk terbaik di toko itu Lian beli, jika saja Risa tidak menghentikannya mungkin dia sudah membeli semua seisi toko itu.
“terima kasih sudah membeli perlengkapan bayi di toko kami” ucap pelayan itu yang sedikit menunjukan kepalanya.
__ADS_1
“apa kamu tidak pernah membeli perlengkapan bayi sebelumnya?” tanya Risa,
“tidak! Karena Lisa tidak pernah mengajakku beli barang seperti ini”ucap Lian dengan santai,dia masih fokus mendorong trolly menuju lift.
Risa hanya bisa diam, dia melihat trolly yang Lian dorong penuh dengan banyak sekali barang, mulai dari perlengkapan pakaian, makan, mandi, tempat tidur dan lain-lainnya.
sembilan bulan kemudian....
jika dihitung usia kandungan Risa sudah waktunya untuk melahirkan, hari demi hari Risa lewati, semakin hari tubuhnya semakin besar, dia sangat mempersiapkan segala sesuatunya untuk calon bayinya, mereka juga sudah menyiapkan kamar kecil untuk calon bayi mereka nantinya, dan yang paling khawatir adalah Lian, pria itu selalu saja menanyakan apa saja yang Risa rasakan, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Risa, Lian sampai memberikannya dokter pribadi untuknya agar mereka tidak mengunjungi rumah sakit.
matahari hari sudah menampakkan dirinya di luar, cahaya sudah menerangi bumi dan juga mulai masuk mencari cela-cela dari jendela untuk menerangi kamar di mana ada sepasang dua insan yang masih memejamkan kedua matanya dibalik selimut sangat mereka masih tidur lelap, sang suami yang sangat posesif memeluk perut istrinya dari belakang. hari ini adalah hari minggu yang cerah, waktu yang saat baik untuk menghabiskan akhir pekan untuk bepergian ataupun sekedar pergi berjalan-jalan.
saat membuka kedua matanya Lian, pandangan yang pertama dilihat adalah punggung mungil Risa, dia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat apakah Risa masih tertidur atau sudah bangun, dia tersenyum saat melihat istrinya masih tertidur lelap, wajahnya terlihat sangat pucat karena Risa selama mengandung dia tidak pernah memakai Make up, dia hanya memakai perawatan kulit untuk khusus Ibu hamil saja.
Lian bergeser sedikit, dia mengubah posisi menjadi menghadap ke Risa, dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Risa, lalu dia mulai memperhatikan wajah Risa yang sangat berbeda saat dia memandang wajah Risa sangat pertama kali mereka tidur diranjang yang sama, Risa yang sekarang terlihat sangat dewasa dan jiwa keIbuan sudah saat terlihat.
“Tuhan, tolong lindungi istriku saat nanti dia akan melahirkan anakku, aku sebenarnya sangat sedih melihat dia yang akan kesakitan melahirkan nanti, tapi aku percaya dia adalah wanita yang kuat”
Lian tahu sesakit apa rasanya melahirkan, saat dulu Lisa melahirkan Kevin, Lian sendiri yang menemani, melihat perjalanannya sampai harus nyawanya yang tergantikan, demi melahirkan seorang yang dia jaga selama sembilan bulan, maka dari itu dia tidak ingin menyakiti Risa sedikitpun.
“Good morning!” ucap Lian, saat Risa mulai membuka kedua matanya
"morning too, kapan kamu bangun?" tanya Risa
"aku baru saja bangun, bagaimana kondisimu sekarang? pasti sangat menyusahkan tidur dengan posisi seperti itu?"
Risa mengangguk sebagai jawabannya, dia mulai merasa tidak enak pada perutnya, seperti ada pergerakan di dalam sana dan itu membuat Risa merasa kesakitan, apa mungkin bayi ingin keluar itu berarti dia akan segera melahirkan!
“Lian--Akh-- ”
“Risa? apa yang terjadi? katakan padaku"
“Lian sakit!!” Risa terus memegang perutnya, rasa sangat sakit hingga membuatnya sulit berbicara.
“tunggulah sebentar aku akan menyiapkan mobil, kita akan kerumah sakit” dengan sigap Lian berlari keluar menyuruh pelayan di rumah menyiapkan segala keperluan,
Risa yang tidak mematuhi perintah Lian, dia sudah tidak bisa menunggu lagi, dengan berani dia mencoba melangkah keluar kamar, berjalan dengan susah payah, hingga tanpa dia sadari darah mengalir membasahi dress yang dia kenakan, Lian yang baru ingin menjemputnya melihat Risa yang sudah terduduk di lantai langsung berlari dan membawanya turun, dengan cepat dia membawa Risa ke rumah sakit terdekat.
“tolong bertahanlah sebentar Sayang, kita akan sampai”
namun seperti tidak semudah untuk sampai disana, jalan yang mereka lewati cukup macet pada hanya beberapa langkah lagi mereka akan sampai, tidak punya pilihlah lain dengan cepat Lian turun dari mobil, lalu mengeluarkan kursi roda, dia membantu Risa untuk duduk di kursi roda, wajahnya terlihat sangat kesakitan.
“Risa tolong sebentar kita sudah dekat dengan rumah sakit, tolong tetap menahannya” dengan kekuatan yang dia miliki secepatnya dia membawa Risa,
“tolong suster! istriku ingin melahirkan”
"Tuan, tolong menunggu diluar"
“tolong izinkan saya menemaninya di dalam”
tak lama dokter pun datang dan langsung memberikan isyarat pada suster itu untuk mengizinkan Lian masih dengan syarat dia harus mengikuti perintah dokter, termasuk memakai pakaian yang bersih.
“suster tolong sarung tangan, aku harus memeriksa sudah memasuki pembukaan berapa”
“Lian” Risa yang melihat Lian memasuki ruangan itu, langsung mengulurkan tangannya.
“aku yakin kamu bisa sayang, kamu wanita yang kuat, aku percaya itu” dia menerima uluran tangan itu, lalu menciumnya dengan penuh cinta, satu air mata mengalir dari mata Lian.
“Lian aku mencintaimu, aku juga mencintai Kevin, dan mencintai anak yang akan aku lahirkan, tolong---”
“tidak! kita akan merawatnya bersama sayang”
“Nyonya, jika ada memaksa untuk tetap melahirkan dengan normal kemungkinan anda akan sulit untuk melahirkan lagi” ucap dokter.
“aku akan tetap melakukannya, aku akan menanggung semua resikonya”
“Risa--”
“kamu percaya padaku,kan Lian?”
“Ya, aku sangat yakin”
“baiklah, kita mulai saja, tarik nafas secara pelan lalu buat secara perlahan, lakukan itu secara berulang-ulang” Risa mengikuti semua instruksi yang dokter katanya,
“aaaakkkkhhhh” Risa berteriak sekencang-kencangnya satu tanganya memegang erat tangan Lian dan satu lagi memegang tangan suster.
“ayo Nyonya, kepalanya bayinya sudah mulai terlihat"
“sayang kamu pasti bisa” ucap Lian, dia terus mendukung Risa,
“Lian---Aaaaaaaahhhhhhhh”
suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan itu, itu adalah suatu kebahagian yang tidak pernah Risa rasakan sebelum, perasaan yang lega dan sudah mengharukan bercampur menjadi satu, semua tenaga terkuras sangat banyak.
Lian yang melihat itu hanya bisa berterima kasih pada Risa dan juga merasa bersyukur kepada Tuhan, namun saat dia ingin melihat istrinya, tangan Risa yang digenggam terasa seperti ingin terlepas.
__ADS_1
“Risa!!! Risa!!! tidak---dokter tolong istriku kenapa?” Lian sangat panik, dia menggoncangkan tangan Risa, tapi Risa tidak merespon kedua matanya tertutup dan tubuh sangat lemas.
“pasien hanya pingsan, tekanan darahnya turun drastis, Suster tolong berikan pasien infusan”
Setelah selesai dengan semua urusan, Risa bisa dipindahkan di ruangan perawatan, Lian tidak sedikitpun meninggalkan Risa sendirian, Dengan sabar dia menunggu Risa membuka kedua matanya, dokter mengatakan jika Risa harus beristirahat.
“Lian--” ucap Risa dengan suaranya masih lemas, dia melihat Lian yang sepertinya ketiduran.
“kamu sudah bangun? terima kasih sayang” Lian yang merasa kepalanya ada yang menyentuh langsung membuka kedua matanya, dan benar Risa sudah bangun.
“Lian apa aku masih hidup?”
“Risa kenapa berbicara seperti itu, kamu hanya pingsan sayang”
“Lian, saat aku pingsan aku bertemu dengan Lisa, dia berkata padaku untuk menjagamu dan merawat Kevin karena tugasnya sudah selesai, dia berharap kamu selalu bahagia, aku pikir setelah itu aku akan ikut-- ”
“tidak! Risa aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku, bukankah kamu ingin melihat anak kita sampai dewasa dan menua bersamaku”
“Lian terima kasih sudah menemaniku saat aku sedang Melahirkan, aku ingin melihat bayi kita”
Lian mengambil bayi mereka yang sudah rapuh dengan pakaian dan juga sudah dibersihkan,
“Lihatlah, dia sangat cantik sama sepertimu”
“Hai sayang, kamu sangat cantik, Lian bolehkah aku memberi namanya Lisa”
“kenapa kamu ingin memberi nama itu?”
“tidak tahu aku hanya menyukai nama itu, Jung Lisa Eun, bukankah itu cocok untuknya”
“Ya, sangat cocok” Lian mendekat lalu memberikan satu kecupan manis di kening Risa, lalu menggenggam satu tangan Risa dengan penuh kehangatan.
Lian takkan menolak jika Risa sudah berkata seperti itu, yang terpenting dari ini semua adalah dia bisa memiliki Risa dan bisa bahagia bersamanya, menjadi suami yang baik dan ayah yang baik sudah lebih dari cukup untuknya, kenangan ini akan dikenang hingga akhir hidupnya.
tiga tahun berlalu dengan cepatnya...
“Ibu! Lisa terus saja menggangguku yang sedang menggambar, jika seperti ini tugasku tidak akan cepat selesai” Kevin terus merengek meminta pertolongan pada Ibu yang sedari tadi hanya menahan rasanya melihat tindakan Lisa yang tidak diam, dia selalu ingin mengikuti apa yang kakaknya lakukan.
“Lisa, aku bermain sama Ibu, jangan mengganggu kakakmu”
“tapi Ibu, Lisa juga ingin menggambar” ucap Lisa, dengan imutnya dia menunjukan wajah sedihnya didepan Ibu
“bukankah Ibu sudah memberikan Lisa buku gambar dengan krayon juga”
“Lisa ingin menggambar bersama kakak Kevin saja”
“Tapi ini tugas sekolah kakak Lisa!, kalau Lisa ikut menggambar pasti akan jelek hasilnya”
“Tidak!”
“Ya!”
“Tidak! kakak Kevin!”
“Ya, Lisa”
Risa yang melihat pertengkaran kedua kakak beradik ini hanya bisa tersenyum dan menahan tertawa, kedua terlihat sangat lucu dan juga menggemaskan, tidak ada yang mau mengalah,
“hai sayang!” satu kecupan Lian berikan pada pipi Risa, dengan posesifnya dia melingkar kedua tanganya pada perut Risa yang sudah rata.
“kamu pulang lebih awal?”
“Ya, aku merindukan kalian, apa mereka bertengkar lagi”
“Ya, seperti biasa, mereka sangat mirip seperti kita”
“Ayah” Lisa yang melihat Ayahnya yang sudah pulang langsung meninggalkan pertengkaran itu dan berlari mendekati ayahnya.
“hati-hati putri kecil! kamu bisa terjatuh” ucap Lian, yang langsung menyambut putri kecilnya itu dan Menggendongnya.
“Ayah! apa ayah merindukan Lisa?”
“Ayah selalu merindukan putri kecil ayah yang sangat cantik ini”
“Lisa juga merindukan ayah”
“ayo semuanya kita makan malam dulu” ucap Risa yang suaranya berasal dari dapur.
“apa putri ayah lapar?”
“ayah nanya bertanya pada Lisa saja, Kevin tidak!”
"putra ayah yang sudah dewasa ini ternyata cemburu pada adiknya sendiri, sudah ayo kita makan bersama"
satu tangan Lian menggandengan tangan Kevin dan satu tangan Lian menggendong Lisa, mereka berjalan bersama menuju dapur Dimana sang Ibu sudah menunggunya disana.
__ADS_1
hari ini sama seperti hari sebelumnya yang selalu dipenuhi kebahagiaan, pertemuan yang tidak pernah diduga oleh Lian dan Risa, sebuah perjanjian yang mereka buat malah membuat mereka jatuh cinta yang sebelum tidak mereka pikirkan, lika-liku perjuangan untuk sampai titik Dimana mereka bersumpah di depan Tuhan bukanlah suatu yang bisa dilupakan begitu saja,
Lian Dan Risa adalah satu bukti cinta, bahwa Cinta akan datang di waktu yang tepat saat hati kalian sudah dia untuk bertemu dengan sesuatu yang tak terduga.