Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 25 - Something Meet Up


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu.....


Keluarga Jung masih setia menunggu dan menjaga Lisa di rumah sakit yang belum bisa di izinkan pulang oleh dokter, padahal mereka cuman mengambil libur selama lima hari di jepang.


Pagi ini cuaca saat cerah dengan sinar matahari yang menerangi langit, cuaca disana sangat bagus tapi tidak dengan suasana hati Lisa.


Sekarang Lisa sedang berada di taman yang ada di rumah tempat Lisa dirawat, dengan ekspresi yang sedih dia menatap langit dan merenungkan sesuatu yang terus mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini.


'sebenarnya penyakit apa yang aku derita hingga aku harus di rumah sakit berhari-hari?' tanya Lisa pada dirinya, tangannya tak pernah lepas dari infusan. Dia pun tidak diizinkan memainkan ponsel lebih dari satu jam dan juga setiap Lisa ingin pergi ke suatu tempat entah itu ketaman atau keluar ruangan dia harus menggunakan kursi roda.


'separah itukah penyakitku hingga segala yang dia lakukan harus hati-hati dan juga harus ditemani'. 


padahal Lisa ingin sekali menghubungi teman-temannya, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar mereka dan bertanya selama libur apa yang mereka lakukan itu saja. Ini bukanlah harapan yang Lisa inginkan saat dia berlibur dengan keluarganya, Lisa juga sudah menyiapkan segala hal yang akan dia lakukan dengan keluarga-nya.


Mungkin sekarang mereka sedang mencari keberadaan Lisa sekarang, Ya Lisa, kabur saat tidak ada satu keluarga pun atau suster yang menjaga, Lisa hanya ingin menenangkan dirinya, dia saat bosan setiap hari harus melihat kamar yang hanya berwarna putih dengan bau yang sangat tidak dia sukai, dan tak lupa setiap hari dia harus meminum obat yang rasanya sangat pahit yang sangat menyakiti tenggorokannya.


Lisa hanya menghela nafas panjang dan memejamkan kedua matanya, menyandarkan tubuhnya ke bangku taman, yang kelihatan saat sepi, karena tidak ada satu orangpun di sana.


Saat sedang merenungkan pikirannya, Suara seorang yang sedang berbicara mengalihkan perhatian Lisa, dia langsung mencari dimana sumber suara itu berasal, suara itunya begitu pelan tapi Lisa dapat mendengarnya.


Seorang dokter muda sedang bertanya pada seorang pasien bayi yang berada di dalam dipelukannya, dokter itu tersenyum saat menatap bayi itu, yang sedang memainkan hidung dokter itu.


'apakah itu anaknya?' pikiran itu muncul saat Lisa terus menatap pria itu, dengan jas putih yang dia kenakan membuat Lisa tersenyum kagum, pria itu mempunyai senyuman yang manis yang dapat menghangatkan hati siapapun saat melihatnya, dia juga mempunyai paras yang tampan, suara yang lembut, sifatnya yang sangat menyukai anak-anak, dan tak lupa dimple yang membuat semakin manis ketika dia tersenyum.


'ayolah Lisa apa yang kau pikiran' ucap Lisa saat tanpa sadar dia memikirkan dokter itu, dia memukul kepalanya dengan tangannya dan terus mengutuk dirinya sendirinya.


“Ahk! Bodoh kenapa aku memukul kepalaku terlalu keras! Sekarang kepalaku mulai terasa sakit” ucap Lisa, tanpa sadar dia terlalu keras memukul kepalanya.


Teriakkan Lisa membuat dokter itu, sedikit terkejut dan langsung menjadi titik teriakan itu berada, lalu dokter itu menghampiri Lisa yang sedang memegang kepalanya sambil menggendong bayi yang sudah tertidur dalam pelukannya.


“apa kamu baik-baik saja Nona?” tanya dokter itu yang kini sudah berada di depan Lisa.


“Ah? Ak--Aku baik” ucap Lisa yang terbata-bata, saat tanpa sengaja matanya menatap mata dokter itu yang masih menunjukan senyuman manis.


“benarkah? Lalu tadi aku mendengar teriakkan darimu? Bagian mana yang sakit” tanya dokter itu, dia mengajukan banyak pertanyaan pada Lisa, membuat gadis itu bingung untuk menjawab yang mana dulu.


“Itu--Ak--Aku berteriak karena ada serangga di kaki saja”


“syukur, aku kira kamu sakit di bagian kepalamu, karena saat melihatmu kamu terus memegang kepalamu”


“bolehkah aku duduk?” ucap dokter itu.


“Ya..”


Setelah mendapatkan persetujuan dari Lisa, dokter tampan itu duduk di samping Lisa, dengan sangat hati-hati dia memindahkan posisi tidur bayi itu.


“apa kamu baru di sini? Aku baru melihatmu”


“Hm--Baru tiga hari yang lalu aku masuk rumah sakit ini”


“apa sangat membosankan berada di kamar rawat, hingga membuatmu melarikan diri kesini?”


Pertanyaan itu mampu membuat Lisa terkejut, dia langsung menatap dokter itu dengan mata yang menatap dengan kebingungan.


“bagaimana kamu bisa tahu?”


“hal itu sering terjadi di sini, remaja seusiamu sangat tidak menyukai lama berada dirumah sakit, apakah itu benar?”


Tatapan mereka bertemu lagi, seketika membuat jantung Lisa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, dia juga merasa jika pipinya mulai memerah seperti tomat, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya dari dokter itu.


“Ya itu benar, sangat membosankan berada di sana sendirian” ucap Lisa dengan nada yang sedih.


Dokter itu tidak menjawab pertanyaan Lisa, dia hanya mengangguk setelah mendengarkan jawaban Lisa.


“kamu terlihat sangat menyayangi bayi itu?” tanya Lisa yang terus menatap bayi yang tertidur pulas di pangkuan dokter itu.


“Ya, dia adalah belahan jiwaku”


Mendengar itu membuat Lisa sedikit kecewa, 'wajar jika dia menyayanginya Lisa, karna sudah pasti bayi itu adalah anaknya'. Lisa hanya bisa terdiam, dia bingung untuk menjawab apa.


“aku melihatnya berada di depan rumah sakit ini saat aku hendak pulang, seperti orang tuanya meninggalkan bayi ini karena mereka tak mau mengurusnya” ucap dokter itu melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“kenapa mereka sangat tega melakukan itu pada bayi yang tak bersalah ini”


“kamu masih belum mengerti, baiklah aku harus kembali ke dalam, mau kembali bersamaku?” dokter itu menatap Lisa saat dia sudah bangun dari tempat duduk.


Lisa tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawabannya.


Mereka berdua berjalan bersama, suasana hati Lisa membaik setelah berbicara dengan dokter yang bahkan Lisa tidak tahu nama.


Beberapa menit kemudian kini mereka sudah berada di depan kamar rawat Lisa, dokter itu memaksa untuk menghantar Lisa sampai kamar rawatnya.


“terima kasih”


“Ya..” dokter itu mulai melangkah meninggalkan Lisa.


“dokter! Boleh aku tahu siapa namamu?” ucap Lisa yang menghentikan langkahnya.


“namaku Kim Han Hyung, kamu bisa memanggilku Han” ucap dokter itu, dia menunjukan dimple saat tersenyum.


“namaku Jung Lisa Eun, Kamu bisa memanggilku Lisa” ucap Lisa yang sedikit malu melihat dokter itu tersenyum.


“senang bertemu denganmu Lisa, kamu harus menjaga kesehatanmu, sampai jumpa” dokter itu berbalik dan melangkah pergi.


Lisa hanya bisa tersenyum melihat punggung Han yang semakin menjauh dari pandangannya, pria itu sangat ramah dan juga menyenangkan. Setelah Han sudah tidak ada dari pandangan Lisa, dia membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk.


“Lisa! Kamu dari mana saja sayang” ucap Risa yang langsung mendekati Lisa yang masih berada di ujung pintu.


“maafkan aku Ibu, lain kali aku akan izin terlebih dahulu”


“baiklah sekarang waktunya kamu makan siang dan minum obat”


“Ya.. Ibu” ucap Lisa yang kini sudah berada di ranjangnya. Dengan senang dia menerima makanan yang Risa berikan padanya.


Setelah memastikan Lisa sudah tertidur pulas di ranjangnya, Risa memilih untuk keluar sebentar dari ruangan itu, Risa punya janji untuk bertemu dengan dokter yang saat ini sedang merawat Lisa.


Dengan sangat hati-hati dia menutup pintu kamar, lalu melangkah mencari ruangan dokter. Setelah melewati beberapa kamar rawat, kini langkah Risa berhenti di depan ruangan. Dengan langkah yang ragu Risa mencoba memasuki ruangan itu yang sudah ada seorang dokter paruh baya yang sedang menunggu Risa.


“Nyonya Jung, silahkan duduk” ucap dokter itu yang mempersilahkan Risa untuk langsung duduk.


“Nyonya Jung, Kita langsung pada intinya saja, untuk perkembangan penyakit yang diderita Lisa tidak bisa langsung kamu putuskan begitu saja, butuh waktu satu bulan untuk bisa memastikannya”


“saya tahu Nyonya Jung, tapi untuk langsung memulangkan Lisa begitu saja, itu akan memiliki resiko yang tinggi, bagaimanapun pasien Lisa masih harus menjalani berbagai macam tes dan juga terapi” ucap Dokter itu yang mencoba menjelaskan segalanya.


“aku harus berbicara apa pada Lisa, jika dia lama berada di rumah sakit” ucap Risa dengan suara yang menunjukan kesedihan seorang Ibu.


“cepat atau lambat pasien Lisa harus mengetahuinya, walaupun mungkin resikonya yang tinggi, setelah mengatakan penyakit itu pada Lisa, hal pertama akan terjadi pada pasien mungkin akan mengalami stress, mental down dan juga nafsu makan yang akan menurun”


“.........” 


Risa terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa? Dia sedang memikirkan kejadian yang akan terjadi jika Lisa mengetahui penyakitnya, apakah Risa akan sanggup melihat putrinya akan seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya, Memikirkan itu saja sudah membuat hati Risa sakit.


“Nyonya Jung, kamu harus mencoba itu, banyak diluar sana seorang anak yang sembuh dari penyakit mematikan karena semangat dan dukungan dari Ibunya”


“adakah cara lain untuk bisa membuat Lisa tidak bertanya mengapa dia berada dirumah sakit begitu lama tanpa menyebutkan penyakitnya dokter?”


“untuk sangat ini aku belum punya solusi untuk masalah itu Nyonya Jung, saya lupa memberitahu anda jika Lisa akan dirawat oleh dokter Kim”


Tak lama kemudian Han yang baru saja dibicarakan sudah muncul di depan ruangan dokter Park, tak menunggu lama Han langsung memasuki ruangan itu.


“Dokter Kim, perkenalkan ini adalah Ibu dari Pasien yang kamu rawat” ucap dokter Park.


“senang bertemu dengan anda Nyonya, aku adalah Kim Han Hyung, aku biasa dipanggil Dokter Han atau Dokter Kim” ucap, Han yang sedikit membungkukkan badannya ke arah Risa.


“senang bertemu denganmu juga Dokter Kim” ucap Risa.


“Han, aku serahkan tugas ini padamu, aku harap kamu dapat membantu memberikan semangat untuk anak Ibu Risa”


“mohon bantuan dokter Kim” ucap Risa, dia melipat kedua tangannya ke arah Han.


“Nyonya, anda tidak perlu seperti itu, aku akan membantu sebisa mungkin untuk kesembuhan putri anda”


“baiklah, Han kamu sudah bisa menemui pasien sore ini atau setelah dia selesai beristirahat”

__ADS_1


Han hanya mengangguk dan mengambil dokumen yang diberikan dokter Park padanya.


“baiklah dokter, saya izin untuk meninggalkan ruangan ini” ucap Risa yang bangkit dari kursinya. Sebelum pergi dia menundukan badannya pada dokter Park dan juga Han.


Setelah beberapa menit kemudian, dokter Han masih berada di ruangan Dokter Park, dia perlu data-data pasien itu, bagaimanapun juga dia harus bersifat profesional dalam hal bekerja, Han harus paham betul apa yang pasiennya derita.


'Lisa?' ucap Han dalam hatinya.


Saat pertama kali membuka dokumen yang diberikan Dokter Park, tentang biodata calon pasiennya, Han sempat terkejut sangat melihat nama yang tertulis di sana 'Jung Lisa'. Dengan teliti Han melihat isi biodata yang ada di dalam dokumen itu, membolak-balikan setiap halaman demi halaman, mencoba meyakini sesuatu yang membuat Han cukup bingung.


“apa anda tidak salah menyuruh saya Tuan Park?” tanya Han dengan bingung, dia membuka kacamatanya, setelah menutup dokumen yang ada di tangannya.


“Han, apa selama ini, aku pernah salah memilih pasien untukmu?”


“Tapi ... ”


“Han!”


“baiklah Tuan, kalau begitu saya pamit, selamat sore” dengan sopan Han membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan ruangan dokter Park.


********


Hari sudah menunjukan pukul tiga sore hari....


Saat membuka kedua matanya, Lisa merasa kepalanya semakin sakit saja, penglihatannya juga cukup buram.


“Ibu...”


Lisa memanggil Ibunya yang tanpanya di dalam ruangan hanya ada Lisa, dia mencoba membangunkan tubuhnya, namun sakit kepalanya membuat Lisa menjatuhkan tubuhnya lagi ke ranjang.


“Ibu--” panggil Lisa lagi.


“siapapun tolong aku!”


Tak ada satupun yang menjawab Lisa, kepala terasa semakin sakit, dengan memegang sisi ranjang Lisa mencoba untuk bangun lagi.


Han yang baru saja ingin memeriksa kondisi, saat melihat Lisa yang berusaha turun dari ranjangnya, dengan langkah yang cepat Han berlari mendekati Lisa sebelum tubuh itu menyentuh lantai.


“Lisa, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Han saat dia sudah memegang tubuh Lisa dalam pelukannya.


“Kamu--- Akk! Kepalaku” ucap Lisa, dia tidak bisa menahan sakit yang berasal dari kepalanya, tangan terus memegang kepalanya.


Tanpa menunggu lama, Han langsung mengangkat tubuh Lisa, menidurkannya di ranjang lagi, lalu mencoba memeriksa kondisi Lisa.


Beberapa menit kemudian, setelah memberikan obat penghilang rasa sakit, kini Lisa bisa sedikit bernafas lega.


“apa kamu merasa lebih baik Lisa?” tanya dokter Han.


“ini lebih baik, terima kasih dokter...” ucapan itu terhenti, Lisa tidak tahu siapa nama dokter itu.


“Han” ucap dokter Han, yang tak lupa menunjukan senyuman manisnya.


“terima kasih dokter Han” ucap Lisa dengan nada yang sedikit di rendahkan.


“apa kamu dokter yang akan merawatku?”


Han hanya menganggukkan kepalanya, dia hanya terdiam di samping Lisa, dia sedikit canggung untuk berinteraksi dengan wanita.


“apa keluarga meninggalkan aku lagi? Sebenarnya penyakit apa yang aku derita hingga membuatku harus lebih lama di sini” ucap Lisa yang kini menatap ke arah langit kamar yang hanya berwarna putih.


“aku yakin kamu bisa sembuh Lisa” ucap seseorang yang suara berasal dari pintu kamar, Ya itu adalah Kevin yang beberapa hari lalu terpaksa harus kembali ke korea untuk mengurus kuliahnya Lisa.


“kakak Kevin! Kenapa kamu baru menjengukku lagi?”


Kevin berjalan melangkah mendekati Lisa dengan membawa banyak buah-buahan dan juga makanan. “maaf ada urusan yang mendadak hingga aku harus pergi berhari-hari”


“baiklah Lisa, aku akan kembali nanti” ucap dokter Han yang mulai meninggalkan ruangan Lisa.


“apa dia dokter yang akan merawatmu?” tanya kevin, kini dia sedang duduk di sisi Lisa.


Lisa hanya mengangguk, dia terlalu fokus melihat Han pergi.

__ADS_1


"apa kamu sudah makan? Mau aku kupaskan apel untukmu?” tanya Kevin, dia menunjukan buah apel pada Lisa.


“Hm....” Lisa hanya tersenyum pada kakaknya.


__ADS_2