Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 48 - Counting the days


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu ...


Hari pernikahan Sona hanya tinggal menghitung hari, setiap harinya ibunya selalu menanyakan pada Sona berbagai pertanyaan yang semakin membuat Sona sulit untuk menjawabnya apalagi mengabaikannya, melihat wajah bahagia sang Ibu membuat Sona ingin menangis dia tidak pernah berpikir akan menjadi seperti.


Hidupnya selalu berjalan tanpa adanya satu harapan yang terkabulkan, setelah Samuel membuatnya sulit untuk membuka hati lagi kini pernikahan yang membuatnya akan sulit bahagia, Sona dia hanyalah gadis biasa dari keluarga sederhana yang tidak terlalu merasakan kasih sayang dari sang ayah, nenek, kakek atau pun saudaranya.


Ibu, hanya satu orang didunia ini yang tidak ingin Sona lukai, dia adalah sebagian kehidupan Sona, sejak kepergian ayah, Ibu tidak pernah mau menunjukan kesedihannya pada anaknya berjuang sendiri untuk memenuhi kehidupan yang keras, masa-masa dimana Sona hanya bisa diam tanpa bisa membantu sang ibu, semua itu adalah alasan mengapa Sona ingin sekali membahagiakan sang ibu dengan usaha yang akan dijalankan, bukan meninggalkan wanita itu disaat dia belum memberikan apapun.


Dari semua hal itu Sona mencoba untuk merenungkannya dalam pikirannya, setiap malam dirinya selalu bertanya-tanya pada gelapnya malam, Sona hanya berharap setelah menikah nanti dirinya masih bisa melihat sang ibu walaupun tidak setiap hari.


Setiap malam dia mencoba untuk tidak menangis, menahan semua rasa beban yang terus berkumpul di kepalanya, menikah bukan jalan satu-satu untuk membuat ibunya bahagia ada banyak cara dan metode untuk membuat sang ibu bahagia bukan? Sona merasa jika diluar sana banyak anak yang bisa membahagiakan ibu atau ayahnya dengan cara mereka sendiri tanpa perlu melalui jalur pernikahan.


Hari ini cuaca cukup baik untuk menenangkan hati Sona, hari ini calon suaminya akan mengajaknya untuk memilih pakaian pengantin dan cincin pernikahan, semua kebutuhan untuk pernikahan mereka sudah hampir selesai dan semua itu yang mengurusnya ibunya dan ibunya Lisa, Sona dia tidak ingin ikut campur dengan urusan apapun yang melibatkan dirinya bertemu dengan Kevin.


Seminggu kemarin Sona menghindari Kevin mulai dari tidak menerima telpon, pesan atau kunjungannya ke rumah Sona, hingga ajakan makan malam pun Sona tolak karna dirinya terlalu takut untuk menatap mata Kevin yang akan selalu membuatnya tidak bisa membela dirinya, Sona tahu pasti pria itu akan banyak mengajukan pertanyaan tentang Samuel.


Sejauh apapun Sona mencoba menjauh Kevin pada akhirnya Sona akan satu rumah dengan pria itu, hari ini dia menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Kevin yang akan menjemputnya pada pukul 9 pagi.


'kamu bahagia?'


Pertanyaan yang Samuel ajukan selalu memenuhi pikiran Sona akhir-akhir ini, dia menutup diri dari segala hal yang membuatnya berpikir keras, dia mencoba menatap dirinya di cermin meja riasan,  wajah yang sedikit kurus dan tidak terawat membuat Sona menatap iba pada dirinya sendiri, permasalahan ini bukanlah yang sulit untuk dimengerti oleh Sona hanya jaga hatinya yang belum siap untuk menerimanya.


Bagaimanapun Sona tidak bisa melarikan dirinya dari masalah yang terus berjalan, dia mengambil alat make upnya lalu mulai merias dirinya, Sona tidak boleh menjadi lemah hanya karna semua pernikahan, Kevin juga mengatakan jika mereka memang tidak memiliki kecocokan maka Kevin akan menceraikannya.


Tak lama kemudian Sona mendengar suara mobil yang akhir-akhir ini sering mengunjungi kediamannya, dan setelah itu datanglah suara ketukkan pintu yang berasal dari luar kamarnya, itu sudah pasti ibunya.


“Sona apa kamu masih lama? Kevin sudah datang keluarlah jika kamu sudah siap”


“aku akan segera keluar” jawab Sona.


Sona bangkit dari kursi, membuka lemari untuk mengambil syal dan juga tas selempang miliknya, lalu terakhir mengambil heels yang tidak terlalu tinggi, Sona harus membiasakan dirinya memakai sepatu heels karna saat pernikahannya setidaknya dia tidak membuat dirinya malu karena tidak bisa memakai sepatu heels.


Sona membuka gagang pintu kamarnya, memasang senyuman tipis di wajahnya saat melihat sosok yang dia hindari beberapa hari yang lalu, pria itu memang selalu terlihat tampan dengan apa yang dia pakaian.


“bersenang-senanglah, ibumu sudah memberikan alamat untuk memilih gaun pengantin kalian, setelah itu kalian tidak boleh ketemu sampai hari pernikahan” ucap ibu Sona pada Kevin dan Sona yang akan meninggalkan rumah.


“aku izin membawa putri anda untuk satu hari ini” ucap Kevin,


Tanpa Sona perkirakan pria itu menggenggam tangannya, di depan sang ibu yang menatapnya dengan wajah senangnya, Sona mencoba untuk tersenyum pada ibunya ini seperti dirinya akan dibawa oleh Kevin untuk meninggalkan ibunya.


“jaga dia dengan baik” ucap Ibu Sona, dia melambaikan tangannya saat melihat Kevin membukakan pintu untuk Sona dan meninggalkan dirinya.


'Sona, maafkan Mommy, Mommy lebih takut dirimu sendirian daripada melihatku pergi meninggalkanmu'


Di dalam mobil, Kevin mencoba untuk tidak mengajak Sona untuk berbicara, dia membiarkan wanita itu merasa nyaman didekatnya dulu baru Kevin akan membuka pembicaraan, Karena perjalanan menuju butik cukup jauh. Kevin memutuskan untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang biasa orang lain tanyakan.


“kamu baik-baik saja?”


“aku baik”


“bagaimana dengan persidangannya?”


“berjalan lancar”


“kamu bahagia?”


Lagi-lagi pertanyaan itu, Sona langsung menatap Kevin yang masih fokus dalam mengemudi, jantung Sona berdetak tidak stabil nafasnya terasa terengah-engah, dua kata itu seperti racun untuknya yang siapa menghancurkan tubuhnya secara perlahan.


“itu--maksudku apakah kamu bahagia karena persidangan mu sudah selesai dan tinggal menunggu kelulusanmu saja”


“ada kebahagian dan juga kesedihan yang aku rasakan saat ini”


“makanlah lebih banyak, kamu lebih lebih kurus dari terakhir bertemu”

__ADS_1


“ada hal yang kamu tanyakan padaku bukan? Tanyakan saja aku tidak akan mencoba lari atau mengalihkan pembicaraan”


“kita akan berbicara setelah makan siang, setelah memilih gaun pengantin”


Tak lama kemudian mobil mereka berhenti di sebuah butik yang cukup berbaik dikota ini, perancang disini sudah memenangkan kompetisi di berbagai negara dan juga perancang disini menjadi tempat para artis memesan gaun pengantin mereka. Kevin mengulurkan tangannya untuk mengajak Sona kedalam bersama.


Setelah pintu butik terbuka, para pelayan sudah menyambut mereka dengan senyum ramahnya, para pelayan membawa Kevin dan Sona untuk melihat-lihat gaun terbaik di butik itu, Sona menatap gaun-gaun itu dengan sedih, dulu dia pernah berharap jika dirinya bisa memakai gaun ini dan berjalan bersama dengan pria yang dia cintai, Sona menangis saat melihat salah satu gaun yang pernah dia lihat bersama Samuel.


“Sona kenapa? Bagaimana yang sakit?”


Kevin menarik Sona kedalam pelukannya, mencoba menenangkan sang gadis hingga menyuruh mereka untuk meninggalkan Sona dan Kevin.


“sudah merasa lebih baik?”


Sona mengangguk didalam pelukan kevin, dia tidak tahu jika dirinya akan lebih emosional seperti ini. “maaf”


“apa pernikahan ini sangat berat untukmu?”


“semua orang suatu hari nanti akan menikah entah itu pernikahan yang dua atau ketiga, intinya sejauh apapun aku menolak aku tidak bisa menolak pernikahan ini”


“baiklah, kalau begitu cobalah gaun ini semakin cepat kita menemukan gaun pernikahan semakin cepat kita keluar dari ruangan ini”


Sona menuruti perkataan Kevin, dia berjalan ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang tadi dia melihat, setelah itu dia membuka tirai ruang ganti itu yang langsung bertemu dengan kevin yang sedang melipat kedua tangannya di dadanya.


Gaun pengantin yang Kevin cukup sederhana, gaun ini tidak mengekspos tubuh Sona tapi cukup melihatkan kulit putih Sona yang tersamarkan dengan corak bunga, gaun itu memang sangat cocok untuk dipakainya. Sona pun juga sepertinya menyukai gaun itu.


Pelayan datang untuk mengantarkan pakaian untuk Kevin, pria itu langsung menerimanya dan berjalan mendekati ruang ganti.


“kamu sangat cantik” ucap Kevin pada Sona yang masih terdiam didepan ruang ganti.


Sona menatap dirinya di cermin yang memang disiapkan disana, dia menatap dirinya dengan gaun yang dia kenakan, rasanya memang gaun ini hanya bisa digunakan untuknya.


“bagaimana denganku?”


Sona menatap ke arah belakang untuk melihat Kevin yang sudah berganti pakaian, Sona terdiam melihat Kevin yang sangat berbeda saat dirinya memakai jas berwarna putih, dia terlihat seperti pangeran berkuda putih yang siap untuk menyelamatkan pujaan hatinya.


Setelah berganti pakaian, Kevin segera membawa Sona untuk ke restoran sudah lama tidak dikunjungi.


Waktu sudah menunjukan pukul satu siang ...


Kevin dan Sona, mereka tengah menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah restoran yang cukup terkenal di pusat kota, restoran yang memiliki dua lantai ini terlihat sangat mewah dengan tema yang bernuansa kombinasi warna hitam dan putih yang mengingatkan pada masa lalu, dan di lantai dua merupakan ruangan disiapkan untuk mereka yang membutuhkan privasi sendiri yang di sebuah ruang VIP.


Sona hanya menatap bingung pada restoran yang tampaknya sangat ramai dari pengunjung, seperti tidak ada tempat untuk mereka duduk atau menikmati makan siang, Kevin menarik lagi tangan Sona untuk berjalan ke lantai dua.


“Sona, perhatikan jalanmu” ucap Kevin, dia membantu Sona untuk menaiki tangga yang sedikit kesulitan karena sepatunya, akhirnya Kevin kesal sendiri melihat Sona yang kesusahan, dengan berani dia menggendong wanita itu.


“aku bisa sendiri” ucap Sona, dia sangat terkejut dengan apa yang Kevin lakukan hingga membuatnya tertunduk malu karena semua mata menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda, dengan terpaksa Sona mencoba untuk tersenyum pada mereka yang menatapnya.


“jangan paksakan dirimu jika memang tidak bisa memakai sepatu tinggi” ucap Kevin.


Dia masih menggendong Sona walaupun sudah sampai di lantai dua, pria itu mengikuti pelayan yang mengantar mereka keruangan yang biasa Kevin pesan saat dia ada pertemuan dengan klien atau teman-temannya.


“turunkan aku! Aku masih bisa berjalan”


“kenapa? Kamu malu? Tubuhmu terlalu ringan hingga aku seperti membawa kapas bukan lagi karung beras”


Setelah perdebatan yang panjang akhirnya hanya keheningan yang menjadi teman dalam ruangan yang cukup luas ini setara dengan satu kamar Sona, bahkan di ruangan ini terdapat meja makan dan juga tempat yang bisa dibilang lebih tepat seperti ruang karaoke.


Sona bingung kenapa pria di hadapannya ini sampai menyewa ruangan VIP hanya untuk makan siang? Bukankah itu hanya membuang-buang uangnya saja?


“apa kamu tidak suka tempat ini? Atau mau mencari tempat lain?” tanya Kevin, pria itu masih sibuk melihat-lihat menu makan, padahal mereka sudah memesan tapi demi mengusir kejenuhan Kevin lebih memilih membaca menu makan.


“tidak perlu, maksudku apa kamu tidak berlebihan? Kita bisa cari makan di restoran lainnya, ini terlalu mewah dan aku sedikit tidak nyaman”

__ADS_1


“seharusnya kamu nyaman karena hanya ada aku yang bisa melihatmu makan”


Tak lama kemudian menu makan yang tadi mereka pesan sudah datang, para pelayan dengan baik menyajikan makan mereka dimeja makan.


“selamat menikmati makan siang anda Tuan dan Nyonya” ucap kepala pelayan, mereka semua menundukan badannya sebelum meninggalkan Kevin dan Sona.


“kamu mau minum?” tanya Kevin, pria itu sedang menggenggam botol wine yang sengaja dia pesan tadi.


“ah--Itu--Aku tidak bisa minum, itu sangat berbahaya untukku” ucap Sona.


Dia tipikal orang yang tidak bisa minum dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, perutnya tidak bisa menerimanya dan akan membuat Sona sulit untuk mengendalikan dirinya, dia akan menjadi orang yang berbanding terbalik dengan sifatnya, maka Sona selalu menolak jika diajak untuk minum.


“berbahaya? Aku tidak mengerti” tanya Kevin lagi, dia mengangkat satu alisnya saat menatap Sona yang salah tingkah.


“apa sekarang aku boleh makan? Aku sangat lapar”


Sona lebih pada fokus makan siangnya hingga tidak menyadari jika Kevin, pria itu hanya menatapnya dengan gelas wine yang ada di tangannya, melihat Sona dengan sangat inter hingga rasanya ada rasa ingin sesuatu yang Kevin rasa, melihat gadis itu melahap makannya dengan baik membuat Kevin tersenyum.


Dia berjalan ke samping Sona, menarik kursinya untuk duduk disamping gadis yang sekarang menatapnya dengan bingung, dia menghentikan acara makan siangnya karna Kevin yang bertingkah sangat aneh.


“kamu.. Kamu tidak makan?”


“Sona, ada banyak hal yang ingin sekali aku tanyakan pada dirimu” ucap Kevin.


“kamu ingin bertanya apa?”


“apakah kamu mencintaiku?”


“seperti kita harus kembali, aku baru ingat jika--”


Saat Sona ingin menghindari Kevin, pria itu malah menarik Sona kedalam pangkuannya mencengkram tangan gadis itu untuk menghindari darinya.


“itu bukan sebuah jawaban Sona, setelah seminggu aku tidak bertemu denganmu aku sadar satu hal, jika aku mulai memikirkanmu dan aku mulai merindukan saat kita bersama hingga aku sadar jika aku mulai menyukaimu Sona”


“Kevin--”


Pria itu tetap menahan Sona dipangkuannya, Kevin tidak bisa menahan lebih lama lagi tentang perasaannya pada Sona, dia meletakan minuman wine di meja, melingkarkan tangannya di pinggangnya menarik gadis untuk menatapnya lebih dekat.


“kenapa Sona? Kamu masih mencintai pria masalahmu?”


“kamu salah paham, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya” jawab Sona, dia menatap wajah Kevin yang sudah memerah akibat wine yang dia minum, jika dilihat dari botol wine pria itu sudah minum setengah dari botol.


“lalu mengapa selama satu minggu ini kau menghindariku? Kau tau itu sangat menyakitkan untukku, kau lebih memilih untuk berbicara dengan pria itu dibandingkan dengan diriku”


“karena aku tidak bisa memiliki hubungan dengan pria lain disaat aku akan menikah, dia pernah meninggalkanku namun belum memutuskan hubungan denganku, aku sudah menghapus segalanya tentang dia”


Dengan keberanian yang Sona miliki dia mengusap wajah kevin yang menatapnya dengan sedih, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, kemudian dia menarik ke dalam pelukannya.


“maafkan aku karena tidak bisa mencintaimu untuk saat ini, maafkan aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri, kamu seharusnya tidak menaruh perasaan apapun padaku Kevin, kau tampan dan juga kaya banyak wanita yang akan mengantar--”


Sona berhenti berbicara saat Kevin mencium bibirnya secara tiba-tiba membuat Sona hanya membulatkan kedua matanya, pria itu mencoba menerobos untuk masuk kedalam mulutnya. Kevin menggigit bibir bawah Sona hingga wanita itu terpaksa membuka sedikit mulutnya membiarkan pria itu masuk.


Seketika aroma wine membuat kepala Sona terasa begitu pusing, bagaimana bisa dirinya tidak meminum wine itu bisa ikut mabuk, Kevin seperti sudah terlalu mabuk hingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Sona mencoba untuk mendorong Kevin sejauh mungkin jika dibiarkan maka pria itu akan semakin lancang padanya.


“Sona! Kenapa kau seperti ini? Aku benci dengan semua penolakan yang selalu kamu lakukan”


“kita harus pulang, kamu sudah mabuk”


Sona membantu Kevin untuk keluar dari ruangan, kemudian meminta bantuan pada para pelayan untuk membantunya untuk membawa Kevin kedalam mobil, untung saja Sona sudah pernah belajar mengemudi jadi dia tidak perlu meminta bantuan para pelayan untuk mengantar mereka pulang.


Sebelum meninggalkan restoran, Sona memasang sabuk pengaman untuk dirinya dan untuk Kevin yang sudah tertidur, Sona menatap sedih pria itu, dia begitu menderita karena dirinya.


“kamu tidak sepantasnya mencintaiku, aku hanya gadis biasa yang tidak bisa memberikan apapun padamu, hanya luka dan rasa sakit yang akan kamu terima Kevin” ucap Sona.

__ADS_1


“tidak, suatu hari nanti kamu akan mencintaiku”


Sona terdiam saat Kevin yang seakan-akan membalas pertanyaan, dia kembali menatap pria itu yang belum mengubah posisinya, Sona kembali fokus untuk mengemudi, dia harus segera membawa Kevin kembali sebelum pria ini semakin bertingkah aneh dan membuat Sona tidak bisa memberikan alasan dengan apa yang terjadi nanti pada dirinya.


__ADS_2