Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 69 - Jeju


__ADS_3

Sona begitu bahagia hingga tidak henti-hentinya melihat hadiah yang diberikan Kevin padanya lebih tetapnya Sona lebih suka memandang tiket penerbangan mereka.


‘Swiss’ 


Kota yang hampir sepanjang tahun ditutupi oleh salju, Swiss juga merupakan kota yang sangat indah untuk menikmati banyak tempat bersejarah dan bangun-bangun kuno yang cukup indah untuk menikmati indahnya masa liburan dengan orang terkasih, Swiss juga tempat dimana ayah Sona dilahirkan dan menjadi pertemuan kisah cinta ibu dan ayahnya yang bisa membuat Sona hadir didunia ini berkat cinta dan juga kasih sayang mereka.


Dulu Sona pernah membuat sebuah janji pada dirinya sendiri ketika dia menjadi wanita yang hebat dimasa depan, dia ingin sekali mengajak sang ibu melihat indahnya kota yang bisa mengingatkan indahnya pertemuan dirinya dengan orang yang dia cintai, tapi kini janji itu sepertinya hanya sebuah harapan Sona yang tidak akan pernah terjadi. 


Itulah kenapa sekarang dia sangat tidak sabar untuk pergi kesana, bukan satu alasan mereka akan melakukan honeymoon tapi Sona ingin membuat kenangan indah disana sama seperti kedua orangtuanya, hingga suatu suatu hari nanti dia bisa menceritakan kisah dirinya pada anak-anaknya nanti atau bahkan sampai cucu-cucunya, Sona melakukan itu sama seperti yang ibunya lakukan padanya untuk tidak membenci sebuah perpisahan jika salah satunya sudah pergi. 


Sang ibu selalu mengajarkan pada Sona dengan kalimat-kalimat yang selalu dia ingat.


‘kita hidup untuk kembali berenkarnasi, namun ketika kita di lahirkan kembali nasib akan berubah, namun jodoh kita akan pernah berbeda, intinya satu cinta untuk selamanya’


Maksud dari sang ibu adalah mungkin kematian adalah perpisahan yang pahit namun alangkah indahnya jika kita melepaskannya dengan terus mengingat kenangan manis yang pernah terukir oleh waktu, semua akan berlalu seiring bergantinya kehidupan dan jangan pernah hidup untuk menyesali apapun karena cinta tidak akan pernah salah dalam menentukan takdir pasangannya.


Kata-kata yang memiliki makna yang berbeda jika di salah artikan setiap orang namun itu adalah sebuah pemikiran tentang kehidupan yang akan terus berputar dan kembali pada titik awal. Walau tubuh dan raganya sudah tidak ada tapi kenangannya akan terus hidup bersama Sona.


“begitu senangnya, sampai sudah lebih dari tiga jam kamu terus menatap kertas itu” ucap Kevin, dia meletakkan cemilan untuk dirinya dan Sona, keduanya berencana untuk menonton drama yang baru-baru ini secara trending mengalahkan reating tertinggi dalam sejarah dunia per-dramaan. 


“rasanya … dua minggu terasa sangat lama sekali! Aku ingin segera memakai pakaian musim dingin” 


“apa yang membuatmu ingin sekali pergi kesana?”


Keduanya kini duduk di sofa untuk menunggu drama yang sebentar lagi tayang, sebenarnya Kevin sangat malas untuk menonton sesuatu seperti itu namun jika Sona sudah meminta maka apa yang tidak dia suka maka akan mendadak dirinya menyukai hal itu, seperti sekarang yang dia lakukan, namun ada keuntungan dari semua ini Kevin bisa lebih banyak memahami kepribadian Sona yang sikapnya masih kekanak-kanakan.


“sesampai disana, aku akan menceritakan semuanya padamu” ucap Sona, dia menerima kotak susu yang Kevin berikam pada dirinya, kemudian seperti biasa dia akan menonton drama dengan posisi kepalanya yang bersandar di paha Kevin, dan membiarkan pria itu menaikkan rambutnya yang mulai panjang.


“apa itu sebuah kisah pertemuanmu dengan cinta pertamamu?” 


“bukan, sudah aku ingin fokus menonton!”


Kevin tersenyum, dia benar-benar tidak memperdulikan yang akan tayang di layar TV mereka tatapannya hanya pada Sona yang kadang bersikap seperti dirinya seorang anak kecil yang terpaksa menikah dengan yang lebih tua, terkadang dia akan bersikap seperti layaknya istri pada umumnya dan juga terkadang Sona akan bersikap seperti ibu atau sebuah teman yang pengertian, secara perlahan dan seiring berjalanan waktu yang terlewati Kevin sekarang mengerti kenapa saat itu dia begitu tidak ingin menikah dengannya bukan karena dia tidak mencintai Kevin tapi sebaliknya dia menjadi sosok yang selalu ada untuk ibunya.


Kevin tahu bagaimana Sona menjalani kehidupannya yang hanya tinggal bersama sang ibu tanpa ada sosok sang ayah yang tidak pernah dia temui sepanjang hidupnya, Sona … dia wanita yang hebat namun juga butuh perlindungan, dia yang membuat Kevin hingga saat ini ingin selalu melihatnya dan menariknya dalam pelukannya, membuat dirinya ingin selalu mempercepat waktu untuk segera bertemu dengannya namun juga ingin memperlambatnya saat bersama seperti ini.


“kamu sudah punya daftar tempat apa saja yang ingin kamu kunjungi?” tanya Kevin, pria itu melakukan banyak hal untuk menarik perhatian Sona dengan sesekali menyentuh pipinya dan terkadang memainkan rambut wanita itu.


“aku akan menulisnya nanti” ucap Sona, matanya sibuk menatap kearah TV dihadapannya sedangkan mulut dan tangannya sibuk memegang cemilan dihadapannya, dia jarang punya waktu untuk menonton drama seperti ini dirumah sebelum menikah, karena dia terlalu disibukan dengan tugas kuliah dan terus mempertahankan beasiswanya.


“kenapa kamu tidak mau menatap kearahku?” 


Dengan sedikit segaja Kevin menarik wajah Sona untuk melihat kearah dirinya yang ada diatasnya, namun yang dia terima sebuah pukulan yang langsung mengenai keningnya. 


“Kau! Tidak bisakah kau diam? Aku sedang tidak ingin diganggu?” 


“Why? Apa aku salah? Kenapa kau sangat suka memukul suamimu daripada memberikan ciuman?” tanya Kevin, dia mengusap keningnya yang mungkin sedikit memerah karena pukulan yang cukup kuat hingga rasanya bagi Kevin wanita itu cocok untuk bekerja di pembangunan.


Seperti Sona memang benar-benar sudah dalam mode dilarang menganggunya, wanita begitu serius seperti wanita lainnya ketika menonton drama yang begitu mengalihkan dunianya hingga lupa segalanya terutama tempat dia menyandarkan kepalanya.


“Sona ..”


“Sona ...”


“Sona!!!” teriak Kevin tetap ditelinga Sona yang membuat wanita itu bangkit dari posisinya karena begitu terkejut, dia hampir saja melemparkan makanan yang ada ditangannya karena terlalu terkejut.


“apa!!? Apa kau ingin membuat telingaku sakit? Aku hanya ingin menonton drama ini untuk satu jam, tapi kenapa kau sangat suka menganggu!”


“aku mencintaimu” ucap Kevin, ini merupakan sikap menyebalkan Kevin yang terkadang dia akan bersikap random dalam waktu yang sama, pria itu bahkan tersenyum pada Sona seakan-akan merasa tidak bersalah telah melakukan kesalahan padanya.


Dan Sona, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba kembali fokus pada drama, Sona tidak mengerti kehidupan rumah tangga apa yang sebenarnya sedang mereka jalani semua terkadang serasa seperti hubungan sepasang kekasih diluaran saja, mereka juga masih muda jadi mungkin ini bukankah suatu hal yang harus dilakukan terburu-buru, lagi pula dimasa yang akan datang pernikahan mereka akan menghadapi berbagai permasalahan dan sebuah rintangan, untuk saat ini mungkin hanya sebuah waktu untuk saling mengerti.


“kamu marah?”


“tidak sayang, bukankah lebih baik jika kamu diam? Itu akan sangat membantu dirimu”


Kevin memutuskan untuk diam, dia kembali menarik Sona untuk bersandar dipahanya, membiarkan sang istri menikmati drama kesukaannya. Lagipula besok adalah hari libur jadi Kevin tidak akan melarang Sona untuk tidur lebih larut sedikit, dia juga sedang tidak ingin memikirkan pekerjaannya untuk kali ini.


Memikirkan pekerjaan, Kevin jadi teringat sedang sikap sekertaris Yoona yang semakin aneh, wanita itu seperti menghindari Kevin namun diam-diam akan memperhatikan dirinya, wanita itu juga terkadang mengambil libur disaat Kevin benar-benar membutuhkan dirinya hingga terpaksa membuat Kevin menelponnya sepanjang hari. 


Jika memang Yoona sudah tidak mampu untuk bekerja dengannya bukankan seharusnya Yoona mengatakan itu padanya dirinya, daripada dia terus memaksakan suatu yang membuatnya tidak nyaman. 


“apa yang kamu pikirkan?” tanya Sona, saat sedang iklan dia sesekali akan menatap kearah Kevin atau memakan cemilannya, namun saat dia menatap Kevin tanpa tidak sengaja Sona melihat Kevin yang sedang melamunkan sesuatu hingga keningnya berkerut.

__ADS_1


“bukan hal penting” ucapnya, Kevin mencoba menghentikan pemikirannya yang sudah terlalu diluar batasnya, namun jika dia hanya diam saja bukankah itu akan mempersulit dirinya. 


Aku harus bagaimana? Mencari sekertaris baru?


“kamu tidak menonton?”


“aku tidak suka, bukankah semua itu tidak nyata untuk apa terlalu mendalami drama itu, aku lebih suka melihat dirimu daripada melihat kearah lain”


“bagaimana jika besok kita pergi ke pulau jeju?”


“jeju? Aku sudah sangat lama tidak kesana, ayo kita kesana”


Sona mengambil remot dan mematikan TV, kemudian dia menarik Kevin untuk meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamar mereka “bukankah kita harus beristirahat? Perjalanan kesana bukankah cukup lama? Aku juga harus menyiapkan beberapa makanan dan pakaian untuk kita bukan?”


“kamu ingin bermain kepantai?” 


“untuk apa kita kesana jika tidak ke pantainya Kevin”


“baiklah ayo kita siapkan yang dibutuhkan besok”


Dan kedua di sibukkan dengan rencana yang begitu tiba-tiba, namun itu adalah kesamaan mereka yang lebih suka memutuskan sesuatu secara tiba-tiba dan langsung melakukannya daripada menyiapkannya dari jauh-jauh hari, lagipula bukankah pernikahan mereka juga terjadi secara terburu-buru, jadi ini merupakan satu kebiasaaan untuk mereka.


Keesokan harinya di hari libur yang begitu indah untuk menghabiskan waktu akhir pekan dengan mengunjungi ketempat yang bisa mengembalikan semua energi setelah aktivitas selama bekerja.


Hari ini Sona bangun sebelum cahaya matahari masuk kedalam kamar mereka, wanita itu membuka kedua matanya sebelum alarm ponsel mengusik mimpi indahnya, dia terbangun seperti dikejutkan oleh seseorang namun ketika dia membuka matanya dia tidak melihat apapun disana, semua masih sama seperti sebelumnya namun kenapa rasanya Sona baru saja melihat kejadian aneh dalam mimpinya.


Sona melihat kearah sang suami yang masih tertidur disana dengan memeluk bantal gulunginya, tidak ada yang aneh disini tapi kenapa dalam mimpinya Sona melihat Kevin tidur bersama orang lain ditempat lain, jantungnya berdebar begitu kencang seperti memang akan terjadi sesuatu yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangganya atau mungkin memang akan terjadi.


Sebelum bangkit dari ranjang, Sona menyempatkan untuk merapikan pakaian tidurnya dan segera meminum segelas air yang ada diatas laci dekat dengan dirinya, dalam hitungan 5 detik minum itu habis seperti dia benar-benar habis berlari sejauh 1 mil atau dirinya baru saja mengikuti lari maraton, mimpi yang aneh yang tidak bisa Sona ingat secara sepenuhnya.


‘itu hanya mimpi, bukan suatu hal yang bisa di khawatirkan Sona, tidak akan terjadi sesuatu jika Kevin tetap jujur padamu dan saling percaya, jadi berpikirlah positif’ ucap Sona dalam hatinya, semua orang akan mengalami mimpi buruk yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya jadi Sona mencoba menganggap ini hanya mimpi buruk yang akan berlalu jika dia bisa melupakannya.


Dia menatap jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, dan sebentar lagi mereka akan melakukan perjalanan ke pulau jeju, jadi sebelum Kevin bangun Sona harusnya menyiapkan segala kebutuhan mereka, sebelum memulai Sona lebih memilih untuk membersihkan dirinya.


45 menit berlalu …


Karena hari ini sudah memasuki awal musim dingin, jadi wanita itu memilih untuk tidak memakai pakaian biasa jadi dia memilih memakain pakaian sedikit tebal namun hari ini jika mereka berkunjung ke pulau jeju itu berarti disana udara akan lebih dingin lalu untuk apa Kevin mengajaknya kesana? Seharusnya saat musim panas waktu yang tetap untuk berkunjung ke pantai bukan? 


Saat Sona keluar dari ruang pakaian, dia melihat Kevin yang sudah bangun, kini pria itu sedang menatap kearah luar jendela sambil meregangkan tubuhnya dengan beberapa gerakkan sederhana, entah kenapa melihat itu membuat Sona semakin yakin jika mimpi buruk itu hanyalah bunga tidur yang tidak akan menjadi kenyataan, dia melangkah mendekati Kevin setelah memasang anting ke telingannya.


Sona memeluk tubuh Kevin dari belakang, aroma Kevin adalah hal terfavoritnya setelah kebiasaan dirinya yang selalu memeluk Kevin entah itu dibelakang atau didepan, dia meletakkan tangan mungilnya di perut kotak Kevin. 


Kevin, dia tentu saja sedang ketika semua ini membuatnya begitu bahagia dengan tindakan sederhana Sona yang mampu membuat jantungnya selalu berdekat dengan adanya disisinya, Kevin membiarkan Sona memeluk tubuhnya yang hanya berlangsung 5 menit setelah itu Kevin membalik tubuhnya untuk menatap sang istri yang sudah sangat rapi dengan pakaian musim dinginnya.


“bukankah aku sudah mengatakan, jangan meninggalkanku, aku tidak suka saat aku bangun aku tidak menemukan dirimu” ucap Kevin dengan nada lembutnya dan suara seraknya, kini gantian Kevin yang memeluk Sona dengan posesifnya. 


“apa yang kamu takutkan? Saat bangun aku tidak ada disisimu?”


“aku takut jika aku membuka mata bukan dirimu yang kulihat, aku takut itu orang lain dan aku takut kamu meninggalkanku” 


Sona seperti baru saja terkena sebuah hantaman di kepalanya yang terasa sangat sakit, kata-kata itu seperti pernah dia dengar beberapa menit yang lalu namun dia tidak tahu kata itu kapan terucapkan dan siapa yang mengatakannya, untuk sesaat dia terdiam hingga pandangan menjadi kosong.


“Sona?”


“Sona?”


Kevin sedikit menaiki alisnya melihat Sona yang tidak merespon apapun yang dia katakan baru atau ketika dia berusaha memanggilnya.


“Ah? Ya … apa?” ucap Sona sedikit bingung, dia baru sadar saat Kevin menguncang tubuhnya.


“apa kamu pikirkan?” 


“a-aku, bukan hal penting” 


Tiba-tiba saja Sona seperti bingung mengatakan, pikiran dan hatinya ingin mengutarakan alasan sendiri hingga dia terbata-taba, Sona melangkah mundur beberapa langkah dari Kevin secara tidak sadar seperti dia takut akan sesuatu yang tidak dia mengerti, perasaan ini begitu menganggu memenjak dirinya membuka kedua matanya. “aku--lupa--jika ada suatu yang harus aku lakukan didapur”


Sona menghapus keringat dinginnya dikeningnya, dia berjalan tergesah-gesah meninggalkan Kevin yang masih bingung menatapnya.


“kamu baik-baik saja?”


“ya, tidak usah dipikirkan”


Kevin sedikit menyempitkan matanya menatap kepergian Sona yang terkesan seperti ingin menghindari dirinya bukan karena dirinya ada urusan, Kevin yakin jika ada satu hal yang menganggu pikiran wanita itu.

__ADS_1


Setelah sampai didapur Sona mencoba mengatur nafas, kata itu dan susana ini bukan sesuatu yang aneh tapi kenapa hatinya begitu gelisah, kejadian apa yang akan terjadi sampai Sona takut untuk melangkah dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, sekali lagi Sona mencoba berpikir positif dan menganggap semua ini akan berlalu.


Alih memikirkan hal yang tidak masuk akal, Sona memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga Kevin, karena berjalanan ini membutuhkan waktu yang lama, akan lebih baik mengisi energi lebih baik daripada harus menundanya, Sona mengeluarkan bahan yang sudah dia tentukan untuk menu sarapan kali ini.


Kevin keluar setelah Sona hampir selesai membuat sarapan untuk mereka, seperti biasa Kevin akan langsung memeluk tubuh Sona dari belakang sambil melihat apa yang sedang wanita buatkan untuknya. 


“kamu baik-baik saja? Apa kita batalkan saja pergi ke Jeju?”


“aku baik, tadi aku hanya sedang memikirkan menu untum sarapan kita saja, tidak ada masalah yang sesang akan pikirkan” 


“tapi--”


Sona terpaksa menutup ucapan Kevin dengan mencium pria itu secara tiba-tiba, ini satu cara yang baik untuk mengalihkan topik bukan? 


Ciuman itu hanya berlalu 5 menit. 


“kamu ingin mencobanya?” 


“aku suka caramu mengalihkan pembicaraan”


*****


“kenapa kita pergi ke Jeju? Bukankah disana udara sedang dingin?” 


Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju pulau jeju menggunakan mobil, barang yang mereka bawa tidak terlalu banyak karena mereka tidak berencana untuk menginap disana, ini adalah perjalanan satu hari jadi saat hari akan menjelang malam mereka akan kembali.


“aku tahu”


“lalu kenapa kamu ingin kesana?”


“aku ingin merasakan dinginnya air laut jeju”


Mendengar itu Sona langsung mendaratkan satu pukulan di lengan besar Kevin, jika mereka kesana hanya akan merasakan dinginnya air lalu jeju bukankah itu hanya akan membuang waktu berharga yang bisa Sona lewatkan untuk menonton dramanya? 


“apa kau gila? Apa air disini tidak cukup dingin untukmu?”


“ayolah Sona, apakah salah berkunjung kesana saat musim dingin? Jeju juga terkenal bukan hanya pantainya bukan? Ada banyak  tempat dan restoran bagus disana, lagipula kita belum pernah kesana setelah menikah bukan?”


“ya, tapikan jika akan berlibur, satu minggu lagi kita akan ke ‘swiss’ Kevin, bukan seharusnya jika melihat-lihat tempat yang akan kita kunjungi?”


“kita masih bisa melakukannya besok bukan? Sudahlah nikmati saja perjalanan kali ini”


“kamu sudah punya rencana jika akan kemana?”


“aku akan membawamu kesatu tempat dan mungkin kamu akan menyukainya”


Setelah menempuh waktu yang cukup lama dalam berjalanan kini keduanya langsung di diberikan imbalan dengan sebuah pemandangan pantai yang tenang dengan ombak lautan yang tidak terlalu tinggi, dengan angin yang cukup kencang membuat semua rasa lelah hilang dalam sekejap. 


“mungkin ini sedikit berlebihan tapi aku ingin menutup matamu sebelum melihat tempat yang ingin aku tunjukan” ucap Kevin, dia menutup mata Sona dengan sekain berwarna merah.


Sona hanya mengandalkan Kevin sebagai penunjukan langkahnya, dia tidak pernah Kevin akan melakukan hal ini padanya, selama menikah dia jarang melakukan hal romantis seperti ini. Setelah berjalan cukup lama, Kevin menghentikan langkahnya dan secara perlahan dia membuka kain yang menutup mata Sona.


Hal pertama yang Sona lihat adalah sebuah meja makan di dekat pantai dengan sebuah renda yang sekelilingnya ada kain putih dengan bunga disana, di bagian bawah ada lampu yang langsung menuju kearah meja makan itu, Sona terdiam, dia tidak pernah diberikan sebuah kejutan seperti ini dalam hidupnya, antara kagum dan juga ingin menangis, wanita itu melangkah mengikuti lampu-lampu.


Kevin juga mengikutinya dari belakang, tepat ketika Sona berdiri didepan meja makan tersebut tiba-tiba saja kelopak mawar berjauhan kearah tubuhnya, dirinya seperti disiam oleh bunga yang berjatuhan ditubuhnya, saat dia menatap kearah belakang dia melihat Kevin yang berdiri dengan sebuket bunga tangannya yang diarahkan kepadanya.


Reaksi Sona tentu saja bahagia, wanita sangat menyukai sebuah kejutan, dia begitu bahagia hingga rasanya tidak bisa berkata apapun ketika Kevin memberikan buket bunga itu dan menariknya untuk duduk di kursi.


“kamu suka?” 


Sona mengangguk, ingin sekali rasanya Sona berteriak bahagia atau mungkin sebaliknya menangis. 


“saat melamarmu dan menikahmu aku tidak bisa melakukan hal romantis seperti pasangan lainnya jadi aku ingin mengulang semua ini sebagai satu kenangan indah dalam hidupku dan dirimu, aku ingin menikahimu secara romantis di pulau ini” 


Kevin berlutut dihadapan Sona, dia memakaikan cincin ditangan Sona yang sebenarnya ingin sekali dia berikan pada Sona saat mereka memiliki cincin pernikahan yang sudah dia siapkan sebelumnya. 


“maukah kamu hidup bersamaku, sebagai istriku dan ibu untuk anak-anakku?”


“Ya, aku mau, aku bersedia”


Sona menangis saat itu juga, dia langsung memeluk tubuh Kevin dan mengutarakan semua perasaan harunya yang belum bisa disampaikan dengan kata-kata, ini terlalu manis untuk dikatakan dan terlalu indah untuk cepat dilupakan.


“aku sangat menyukainya, terimakasih Kevin, aku mencintaimu”

__ADS_1


“aku juga Sona”


Keduanya menikmati liburan satu hari itu dengan mengunjungi bebetapa tempat dan juga toko asesoris disana, Sona tidak pernah akan melupakan moment yang sampai saat ini masih membuat jantungnya berdebar kencang dan juga tubuhnya yang terus bergetar, satu hal yang Sona yakin semua akan bahagia pada waktunya.


__ADS_2