Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 66 - I Miss You


__ADS_3

Didalam perjalanan menyusul mobil keluarganya, hanya ada kesunyian disana. Entah keduanya antara bingung untuk mengatakan banyak hal setelah sekian lama tidak bertemu atau mungkin masalah dari yang membuat Han canggung untuk membicarakan hal lain.


“Han?”


“Ya, ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu?”


“kamu marah?”


Pertanyaan yang Lisa ajukan membuat Han tidak sengaja menginjak rem mobilnya di tengah jalanan kota Seoul yang masih banyak disana, dengan terpaksa Han memilih untuk menepi di jalan.


“aku? Lisa bagaimana aku bisa marah? Tidak ada alasan yang jelas untukku memarahi atau mendiamimu” ucap Han, dia menarik tangan Lisa dan sedikit menggeser posisi duduknya menghadap ke arah Lisa. 


“aku pikir kamu marah padaku? Karena ...”


“tidak, sudahlah kita baru saja bertemu, bukankah sangat merusak suasana baik ini jika melibatkan orang lain?”


Dia menatap Lisa yang sedikit kebingungan untuk menjawab, tak mau berpikir panjang dan mencoba mencairkan lagi suasana yang menjadi canggung, dengan romantis Han mencium kedua tangan Lisa secara bergantian lalu mengecup keningnya sebagai tanda jika dia benar-benar tidak marah atau kesal pada Lisa.


“bagaimana jika kita membeli beberapa makanan? Aku dengar ayah dan ibumu ingin melakukan pesta penyambutan kembalinya mereka” 


“baiklah, aku kita pergi berbelanja” 


Han tersenyum, dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke jalan dengan satu tangan kiri yang masih menggenggam tangan Lisa dan tangan kanannya yang sibuk menyetir mobil sang istri.


“kamu sudah mengabari Sean?” tanya Lisa, dia begitu bahagia ketika tanpa sengaja melihat cincin pernikahan itu masih melekat di tangan Han, mereka berdua bergandengan tangan dengan jari yang dilingkari oleh cincin pernikahan mereka.


“Sean? Aku belum memberitahunya”


“dia masih suka memotret?”


“Sean bahkan sudah punya galeri seni miliknya sendiri”


“itu sangat hebat, kamu sudah pernah mencoba berkunjung?”


“belum, aku tidak punya banyak waktu”


“dimana dia tinggal?”


“inggris”


Sesampainya di sebuah supermarket yang jaraknya tidak jauh dengan rumah orangtua Lisa, Han memilih untuk berbelanja disana. Dengan satu tangan dia bisa memarkirkan mobilnya dengan baik.


Keduanya secara bersamaan membuka sabuk pengaman dan berjalan bersama menuju supermarket dengan bergandengan tangan seperti mereka ingin menyebrang jalan.


“setelah menikah banyak sekali waktu yang kita lewatkan” ucap Han, saat dia memilih beberapa daging bersama Lisa, entah kenapa ucapan itu terdengar begitu sedih ketika Lisa mendengarkannya, dari nada yang disampaikan Han juga terselip semua kesedihan disana. 


Enam bulan, hanya dalam hitungan 180 hari yang berlalu, bukan sebuah waktu yang lama tapi melewati 4.320 jam dan melewati 2 musim. 


Enam bulan juga bisa disetarakan dengan ratusan kenangan yang terbentuk karena sebuah kegiatan atau liburan ataupun perencanaan lainnya, jadi perpisahan itu tidak bisa dikatakan cepat atau lambat yang juga tidak bisa tergantung pada banyak waktu yang dihabiskan bukan? 


Jadi ini masalah waktu atau sebuah pilihan?


“tapi banyak kisah yang bisa kita jadikan sebuah pelajaran” ucap Lisa, saat dirinya akan memasukan beberapa ubi manis kedalam keranjang yang Han dorong, sambil menunjukan senyumannya pada sang suami.


“aku pikir saat aku kembali, aku akan banyak menerima ocehan darimu atau mungkin sebuah pukulan” 


“jika kau kembali bersama wanita lain mungkin sebuah pisau yang akan aku berikan padamu!” 


“jika itu terjadi?”


“oh jadi kau berada di Busan hanya untuk menemui selingkuhanmu?” ucap Lisa, dia menghentikan langkah Han untuk dorong keranjang.


“aku berselingkuh dengan banyak dokumen dan juga beberapa proposal” 


Dengan kesal Lisa melemparkan sekantong kimchi pada Han yang tentu saja Han langsung menangkapnya dan sedikit tertawa ketika Lisa kembali melangkahkan kakinya.


“kau tahu Lisa? Aku tidak punya banyak waktu untuk mengencani seorang wanita, jika diriku selalu sibuk memikirkanmu”


“jadi aku sebuah pengganggu?” 


“tidak, maksudku hatiku sudah sepenuhnya milikmu bagaimana orang lain bisa menempatinya” 


Lisa tersenyum sekilas, lalu kembali menatap Han dengan tatapan tajamnya sambil mengulurkan dua jarinya sebagai peringatan jika dirinya terus mengawasinya.


Lalu setelah itu hanya ada canda tawa dan sedikit kekonyolan yang mereka lakukan selama berbelanja hampir lebih dari setengah jam, kedua menikmati pertemuan kali ini yang tidak ingin buru-buru melewati waktu yang terus berjalan. Apalagi memutuskan untuk mengambil cuti untuk melakukan honeymoon yang tertunda.

__ADS_1


“semua bisa masuk?” tanya Lisa yang melihat Han baru kembali setelah beberapa menit memasukan semua belanjaan mereka yang seperti belanjaan bulanan yang biasa ibu-ibu lakukan jika awal bulan.


“sudah, ayo kita segera pulang”


Lisa mengangguk, dia memasang sabuk pengaman dan tak lama mobilnya meninggalkan supermarket yang buka 24 jam. Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman kedua orangtua Lisa, yang di depan pintu masuk rumah ada sebuah pasangan kekasih yang sedang berpelukan.


Lisa berjalan lebih dahulu untuk mengatakan apa yang terjadi pada sahabatnya, “Son--”


Namun belum lengkap memanggil nama sahabatnya, tubuh Lisa langsung ditarik oleh Han untuk menjauh dari mereka dan membawa dirinya masuk kedalam rumah lamanya.


“Han! Kamu ingin kenapa?”


“kamu ingin mengganggu mereka?”


“aku? Untuk apa?”


Han menghentikan langkahnya sejenak, untuk sekedar menatap Lisa. “sudahlah sebaiknya jika menyiapkan kebutuhan untuk pesta nanti malam”


Waktu segera berganti dengan malam hari, semua orang sibuk menyiapkan segala kebutuhan pesta yang diadakan di belakang halaman rumah dengan suasana malam yang begitu indah, semua orang menikmati daging yang baru saja matang ditambah dengan gelas Soju sebagai pelengkap.


Lisa dan Sona, kedua seperti sedang melakukan reuni mereka disana, entah itu Lisa atau Sona keduanya sibuk menuangkan gelas mereka dengan Soju dan kadang akan menyuapi makanan secara bergantian. 


Semua orang sangat menikmati, kecuali Kevin dan Han, keduanya dari seberang Lisa dan Sona hanya bisa terus mengawasi istrinya dari sana hingga melupakan pesta yang terjadi. Setelah melihat Lisa mulai mabuk Han terpaksa menudahi wanita itu untuk berhenti meneguk Soju lagi yang langsung dari botolnya.


“Lisa hentikan, seorang dokter tidak boleh banyak minum” ucap Han, dia menjauhkan botol Soju dari Lisa dan menahan dirinya untuk mengambil lagi. 


“Han! Kenapa kamu begitu padaku?” ucap Lisa dengan menggembungkan pipinya didepan Han, dia juga tidak canggung untuk melingkarkan tangannya diarea leher Han.


“Lisa, disini masih ada ibu dan ayahmu” ucap Han, dia mencoba melepaskan tangan Lisa yang semakin kencang saja. 


“Han-ku yang tampan, satu gelas lagi boleh Ya?” 


“tidak Lisa”


“tidak?” tanya Lisa dengan sedikit lucu.


Han mengangguk, dan kembali membuat Lisa berhenti menariknya.


“ibu! Lihatlah menantu jelekmu ini! Dia sangat pelit pada putrimu” ucap Lisa, dia menatap sang ibu.


“seperti aku akan membawa Lisa kembali ke kamarnya” ucap Han, dia menarik satu tangan Lisa agar wanita itu merangkul dirinya, lalu Han segera membawanya masuk kedalam kamar.


“mungkin”


Han melepaskan sepatu dan juga kaos kaki yang dikenakan Lisa, kemudian menyuruh Lisa untuk meminum segelas air sebelum tidur. 


“kau tahu? Aku sangat merindukanmu! Sampai--sampai rasanya aku tidak sanggup untuk menghitung dimana kita bisa bertemu” ucap Lisa saat dia melihat Han yang masih duduk ditepi ranjang, sambil memberikan selimut pada tubuhnya.


“Ya, aku tahu Lisa, aku juga merindukanmu”


“jika kamu tahu kenapa tidak pernah menemuiku!”


“karena aku tidak ingin melihatmu menangis saat berpisah denganku” ucap Han, dia mengecup kening Lisa selama 5 detik, sebelum kembali menatap Lisa.


“seberapa besar cinta yang kamu miliki untukku?”


“tidak bisa dihitung dan bisa diukur oleh apapun”


“kau bisa besar mencintai hingga membuatku takut--” 


Ucapan itu terputus karena Lisa yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya hingga akhirnya dia tertidur tanpa melanjutkan kalimatnya yang membuat Han sedikit penasaran, namun tidak ingin memaksa Lisa melanjutkan.


“mimpi indah dan selamat malam” Han tersenyum, setelah merasa genggaman tangan Lisa melonggar dan segera menyalakan lampu tidur, lalu kembali ke halaman belakang untuk membantu lain mungkin sedang merapikan sisa-sisa pesta mereka.


Lisa bangun lebih awal ketika perutnya terasa begitu ingin mengeluarkan seisi didalamnya, sama seperti Sona, dirinya bukanlah seorang peminum yang baik jadi keesokan harinya hal pertama dia lakukan memuntahkan semuanya, Lisa terus mengeluarkan suara saat didalam bathroom hingga mengusik tidur Han.


Pria itu tahu jika akan terjadi seperti ini pada Lisa, jadi sebagai mantan dokter dia akan lebih mengambil sesuatu untuk meredakan rasa mual dan juga efek alkohol didalam tubuhnya, pria itu kembali beberapa saat setelah mengambil sup buatan Lisa dan juga air hangat untuknya.


Setelah meletakkan nampan pada meja, Han berjalan mendekati Lisa yang masih sibuk memuntahkan seisi perutnya, dari suara yang Han dengar dia bisa memastikan jika Lisa akan lemas setelah selesai dengan urusannya, pria itu membantu Lisa dengan mengelus punggungnya. “jangan dipaksakan, itu bisa melukai dirimu”


Lisa mengangguk, wanita itu membersihkan wajahnya diwastafel dan menatap Han dengan rasaan yanh begitu merasa bersalah, Lisa tahu jika dirinya bukan peminum yang baik tapi dia sangat jarang melakukan itu jadi Lisa pikir dia akan membiarkan dirinya untuk kali ini melakukan apapun sesukanya tapi dia lupa semua kebebasannya memiliki resiko dan juga akibatnya.


“maaf”


Han sedikit menaiki alisnya, dia bingung untuk sejenak sebelum akhirnya mengerti apa yang Lisa maksud, dia tersenyum sejak lalu memberikan handuk dan membersihkan sisa-sisa air yang masih berada diwajah Lisa. “aku mengerti, jangan merasa jika dirimu salah, aku tidak melarangmu untuk minum tapi aku lebih menyarankan dirimu untuk menjaga kesehatan Lisa”

__ADS_1


Han membawa Lisa keluar dari bathroom, memerintahkan wanita itu untuk duduk disofa dengan dihadapan oleh semangkuk sup dan segelas air.


“bagaimana-pun juga dirimu seorang dokter Lisa dan akan menjadi seorang ibu” ucap Han, pria itu menyerahkan sendok untuk Lisa sebagai tanda jika dirinya harus memakan sup yang sudah dibawakan.


“menjadi--seorang--ibu?” tanya Lisa, dia mencoba ulangi kalimat yang disampaikan Han dengan nada sedikit terkejut, dia sampai hampir jatuhkan sendok yang ada ditangannya saat matanya menatap Han disampingnya.


“Ya, kamu akan mengandung anakku, seorang ibu hamil tidak boleh minum-minuman beralkohol”


“Han! Bukankah kita sudah sepakat?” ucap Lisa, dia menghentakan sendok ditangannya pada meja, sebenarnya Lisa sangat tidak suka membahas sesuatu yang berhubungan tentang anak, bukan dirinya tidak mau tapi di usia Lisa yang belum sampai 23 tahun dia tidak akan bisa mengandung apalagi melahirkan, ada banyak juga hal yang ingin dia dalami dalam dunia kedokteran, dan bahkan Han baru saja memulihkan perusahaannya dari kebangkutan.


“Lisa, aku sudah kembali, jadi bukankah akan baik jika kamu seperti hamil? Maksudku setidaknya kita bisa mencoba” 


“Han, aku mohon bisakah kamu mengerti? Aku ingin--”


“baiklah, kamu bisa memakan sup itu, jangan biarkan perutmu sakit, aku akan kembali nanti” ucap Han, pria meninggalkan Lisa begitu saja, entah apa yang menjadi beban pikiran Han akhir-akhir hingga pria itu menjadi lebih seperti seorang suami yang terlalu banyak menuntut pada istrinya. 


Dengan sedih Lisa melihat semangkuk sup yang dipenuhi dengan beberapa sayuran disana, mereka baru saja bertemu tapi kenapa suasana ini menjadi seperti mereka sudah bosan dalam hubungan pernikahan, selama enam bulan ini mereka bahkan saling mengatakan ingin segera bertemu dan menceritakan banyak hal dengan waktu yang telah terlewatkan begitu saja. 


Tak ada niat bagi Lisa untuk melukai hati Han, dia hanya takut jika semua yang di katakan dokter park akan terjadi, sebelum pulang dari rumah sakit Lisa pernah sempat berbicara dengan dokter park untuk membicara suatu yang mengakut dengan operasi yang telah berhasil, dokter park berkata jika juga memiliki masalah lain pada rahimnya dan akan beresiko jika dia memaksakan untuk hamil lebih awal, mengingat usia Lisa yang masih muda juga menjadi sebuah pertimbangan baginya untuk selalu berhati-hati.


“aku harus bagaimana? Aku hanya tidak ingin membuat Han kecewa apalagi harus menjadi wanita egois” ucap Lisa, dia kembali meletakkan sendok itu dengan helaan nafas yang panjang dan lebih memiliki untuk menyadarkan tubuhnya di sofa, bagi Lisa ini adalah pilihan yang sulit daripada dirinya harus berada diruang operasi.


‘apa pikiran yang menganggu dirinya akhir-akhir ini?’ 


Saat Lisa sedang larut dalam pikiran, Han kembali lagi ke kamar mungkin ada sesuatu yang ingin pria itu ambil atau mungkin pria itu ingin mengatakan sesuatu pada dirinya, namun saat dikamar dia malah melihat Lisa yang belum menyentuh sup yang dibawakan, melihat itu sedikit membuat Han merasa bersalah seharusnya dia tidak membahas itu pada Lisa, seharusnya dia mengerti dengan apa yang sudah dia janjikan. “supnya tidak enak?”


“atau kamu ingin sesuatu?”


“tidak--maksudku, aku hanya tidak bisa memakan-makanan yanh terlalu panas” ucap Lisa, dia kembali dengan posisi sebelumnya dan kembali mengambil sendoknya, mengambil sedikit sup untuk merasakannya. “ibu yang membuatnya?”


“Ya, saat aku turun aku melihat ibumu membuat sup dan menyuruhku untuk menghantarkannya padamu, kamu masih mengingat dengan baik rasa masakan ibumu?”


Lisa mengangguk, dia pikir sup ini buatan Han jadi dia sedikit ragu dengan rasanya, namun dia tidak tahu jika ini adalah buatan sang ibu yang tentu saja dirinya tidak akan membiarkan sup ini tersisa sedikit-pun.


“yang lain sudah berkumpul dibawah, hanya Sona saja yang tidak ada” ucapnya, pria itu sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari koper untuk mencari sesuatu entah itu pakaiannya atau peralatan mandinya.


“kamu tidak sarapan?” tanya Lisa sambil menegukkan segelas air setelah menghabiskan satu mangkuk sup buatan sang ibu, setelah memakan sup rasa mual dan juga perih diperutnya mulai berkurang.


“aku akan sarapan setelah mandi, sudah merasa lebih baik?” tanyanya, dia membawa satu handuk di bahunya, dia berjalan mendekati Lisa bermaksud untuk mengambil nampan.


namun Lisa menolak. “aku yang akan membawanya, kamu bisa pergi mandi” 


Han mengangguk, dia berjalan mendekat lagi untuk memcium sekilas bibir Lisa, lalu membiarkan wanita itu untuk lewat dengan nampan yang sudah ada ditangannya, Lisa sedikit terkejut namun bukankah ini akan menjadi kebiasaan mereka? 


*******


Sore harinya ….


Han dan Lisa memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, keduanya memutuskan untuk beristrahat hari ini dan bersiap untuk kembali kerumah Han nanti malam, karena keesokan harinya Lisa harus kembali pada aktivitasnya lagi jadi mau tidak mau keduanya harus kembali, lagi pula Han juga harus mengurus perpindahannya kekantor lama sang ayah.


Kini keduanya sedang duduk ditaman belakang sambil menikmati beberapa makanan dan juga tea.


“maafkan aku, aku salah telah mengatakan kata itu, aku akan menunggu saat dirimu siap untuk mengandung bayiku” ucap Han, dia menarik tubuh Lisa yang sedikit menjauh dari dirinya, melingkarkan tangannya di bahu Lisa.


Dalam lubuk hati Lisa yang paling dalam ingin sekali mengatakan jika dirinya juga ingin segera membuat kehidupan rumah tangga mereka menjadi lebih berwarna dengan kehadiran bayi lucu yang akan membuat rumah mereka lebih merisik ketika dia akan menangis. Jadi Lisa terdiam, tangan menarik tangan Han untuk mengenggam tangan mungilnya didalam tangan besarnya.


“bagimana rencana dengan honeymoon?” 


Mendengar itu, Lisa langsung menatap pria disamping, dia bingung untuk mengatakan apakah dia juga menginginkan ini karena sebenarnya Lisa masih ingin bersama dengan Han, memang honeymoon lebih banyak membuat mereka menghabiskan waktu bersama bahkan lebih inters. “ayo kita coba”


“Lisa, kamu tahu bukan tujuan dari honeymoon itu sendiri?” ucap Han, dia mengelipkan rambut Lisa di belakang telinganya, dan kembali menatap wanita itu.


“aku tahu, mungkin kita bisa mencoba, aku tidak bisa terus memaksamu bukan?”


Han mengangguk, kemudian pria itu menarik Lisa untuk sedikit lebih mendekat darinya hingga dia bisa menyatuhkan kebibir mereka, melakukan ciuman di musim yang akan menjadi dingin bisa mencairkan segalanya, setelah enam bulan berpisah dan sudah bertemu tidak ada lagi hal yang perlu mereka sampaikan. 


Jadi mari menikmati waktu, hingga takdir menentukan nasib selanjutnya.


“kamu ingin honeymoon kemana? Swiss? paris? London? Eropa? Atau Hawaii?” tanya Han.


Lisa hanya lebih memilih untuk menyadarkan kembalinya pada dada bidang Han, tujuannya Lisa sangat menyukai detak jantung Han berdetak lebih kencang ketika mereka bersama, daripada membalas jawaban apa yang ingim dia sampaikan.


“kemanapun, asal aku selalu bisa melihat wajahmu ketika pagi hari”


“itu tidak mungkin, karena setiap hari kamu akan selalu kelelahan Lisa”

__ADS_1


“Kau!”


Lisa memukul dada Han dengan kesal, pria itu sangat berubah ketika mereka menikah, dia lebih banyak mengatakan hal vulgar dan lebih bersikap seperti anak kecil.


__ADS_2