
Tujuh bulanan Baby Albian dan Ayza.
Hari ini tiba saatnya mereka menggelar acara tujuh bulanan acara itu dilaksanakan cukup sederhana dengan mengundang anak yatim piatu serta para kerabat dekat.
"Baby, yang baik ya di dalam, jagain Mommy" ucap Albian seraya mengelus-elus perut buncit istrinya.
"Yes daddy, baby akan menjadi anak yang super baik di sini" jawab Ayza dengan senyum manisnya.
"Hahaha... kamu tuh sayang" gemas Albian sambil mengacak rambut Ayza.
Acara pun di mulai dan nampak semuanya khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-quran sampai acara terakhir yaitu doa.
Seusai acara, mereka kembali bercengkerama dengan para kerabat dan pengurus panti. tak lupa Albian dan Ayza mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan doa yang di berikan kepada keluarga kecil mereka.
"Hah.... alhamdulillah akhirnya selesai juga, gigi papa sampai kering kebanyakan senyum" keluh papa Fernand.
"Iya, aku juga lelah tersenyum terus" sahut ayah Arsenio.
"Hahaha.... baguslah kalian sekarang jadi lebih sering tersenyum dong" goda mama Denisa dan di benarkan oleh bunda Sonia.
Ayah Arsenio dan papa Fernand hanya memutar bola matanya sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
"Demi cucu kok begitu sih ayah" ujar Dara
"Tau nih papa juga begitu banget" sahut Syasya.
"Sayang kami tidak bermaksud begitu, huh jadi merasa bersalah kan ayah jadinya" sesal Ayah Arsenio
"Iya papa juga jadi merasa bersalah jadinya" timpal papa Fernand.
Akhirnya mereka hanya bisa tertawa melihat ayah dan papa mereka seperti itu.
"Istri cantikku" panggil Albian setelah mereka masuk kedalam kamar mereka.
"Hemm.... mau apa suamiku yang ganteng?"
"Hehe.... enggak kok sayang, sini aku ingin bicara" Albian menepuk sebelah menyuruh istrinya duduk di sampingnya.
"Ada apa hubby?" tanya Ayza setelah ia duduk disebelah suaminya.
"Sayang, kamu mulai besok serahkan pekerjaan kamu ke Amel dulu saja ya. aku tidak mau kamu kelelahan sayang" pinta Albian.
__ADS_1
"Tapi by, aku masih bisa kok sekedar mendesain busana"
"Sayang"
"Hufhh.... baiklah besok aku akan bicarakan dulu dengan Amel ya by" Ayza lebih memilih mengalah dari pada nanti suaminya itu bikin kehebohan di butiknya.
"Nah gitu kan enak dengarnya" ujar Albian dengan senyum kemenangan.
"Kamu sih enak dengarnya, aku yang mengucapkannya tidak enak" Ayza memonyongkan mulutnya.
Cup....
"Jangan menggemaskan begitu sayang, nanti aku khilaf" bisik Albian setelah ia berhasil menc*ium bi*br merah Ayza.
"Hubby, aku sedang hamil besar jadi jangan macam-macam" Ayza memberi peringatan.
"Haha iya sayang iya..."
"Padahal sih gapapa juga kalau kita melakukannya" gumam Albian namun masih bisa di dengar Ayza.
"Apa?" tanya Ayza seraya menatap tajam Albian. Sedangkan yang ditatap hanya nyengir dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Sudahlah, aku ingin istirahat by"
"Enggak, biar kamu gak sentuh aku" celetuk Ayza dengan santainya.
"Apa??? sayang kamu jorok deh, sana mandi dulu. bau tau kamu tadi keringetan dan - " belum selesai Albian bicara tiba-tiba terdengar suara.
Khoogggg.....khoggg.....
"Eh... sudah tidur? pasti Ayza sangat kelelahan, sampai ngorok begitu tidurnya" gumam Albian sambil tertawa mendengar istrinya yang ngorok seperti itu. ini pertama kalinya ia mendengar seorang Ayza tidurnya ngorok. tentu saja momen ini tidak di sia-siakan oleh Albian, ia segera mengambil ponselnya yang ada diatas nakas dan mulai merekam istri cantiknya.
"Hahaha.... mau ngorok kek, ngiler kek, mau jungkir balik kesana kemari kek kenapa kamu masih aja cantik sayang, aku mencintaimu, apapun yang kamu lakukan aku tetap akan mencintaimu.... cup... cup" ujar Albian pelan lalu mengecup kening Ayza dan perut buncit Ayza.
Setelah meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Ayza lalu tertidur dengan memeluk tubuh sang istri.
...........
Markas Blackwoe...
"Heh... botak, cepat masakan makanan untuk kami" perintah anggota Blackwoe kepada Nadya.
__ADS_1
"Masak saja sendiri memangnya gue pembantu lo apa? mana rambut gue lo botakin" gerutu Nadya.
"Berani sekali lo ngebantah hah" salah satu anggota Blackwoe itu mencengkeram dagu Nadya kencang.
"Lepaskan istri saya" ucap Yanuar sambil berusaha mendekat.
"Iyuuhh... menji*jikan kepalamu itu sudah di lalatin jangan mendekat kemari" ujar anggota Blackwoe dan melepaskan menyeret Nadya keluar dari tahanan.
"Cepat masak itu, beruntunglah nyawamu belum melayang. begini saja masih bertingkah" sinisnya.
"hhhhaaaaaa.... sangat menyebalkan. awas kamu Ayza. hidupku hancur gara-gara kamu, aku bersumpah akan keluar dari sini dan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ucap Nadya dengan penuh penekanan.
Begitulah rutinitas yang Nadya lakukan di markas Blackwoe, tak akan ada yang bisa lolos. jika musuh sudah masuk di tahanan Blackwoe maka harus bersiap menemui ajalnya cepat atau lambat, tinggal menunggu waktunya saja.
"Om Fernand" Panggil seorang pria dewasa menghampiri Fernand dan Arsenio yang baru saja tiba di markas milik pria itu.
"Ari... astaga om kangen sekali denganmu nak. kenapa tidak pernah kerumah om lagi sih?" tanya pak Fernand setelah melepaskan pelukannya.
"Haha... iya om tau sendirilah pekerjaan Ari ini cukup berbahaya, jadi Ari tidak mau keluarga om jadi ikut kena sasaran. makanya Ari tidak bisa seperti dulu yang datang seenaknya ke mansion om Fernand. harap om memakluminya" jelas Ari dengan sopan.
"Iya om mengerti kok ri, oh ya kenalkan ini besan om namanya om Arsenio Pradja. pemilik Pradja group" pak Fernand mengenalkan besannya itu.
"Oh... halo om saya Ari sepupunya Arvin" Ari mengulurkan tangannya dengan ramah.
"Saya Arsenio, kamu pria yang gagah dan juga tampan ri, wajar saja Arvin selalu membanggakan sepupunya ini" puji Arsenio.
"Wah.. om terlalu memuji. mari kita masuk dulu om" ajak Ari mempersilahkan kedua orang tua itu masuk.
Setibanya mereka di ruangan Ari, mereka memulai percakapan mereka mulai dari pembicaraan ringan sampai ke pembicaraan yang menyangkut keluarga Nadya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan untuk keluarga itu?" tanya om Fernand.
"Ari menunggu kabar dari Al saja om, begitu Al menginginkan untuk menghabisinya maka Ari dengan senang hati mewujudkannya" jawab Ari santai sembari menyeruput kopinya.
"Sesuai dengan permintaan Albian saja fer, tunggu Ayza melahirkan baru kita ambil tindakan untuk mereka" ujar Arsenio.
"Benar itu om, kita tunggu saja sebentar lagi. om tenang saja di sini penjagaan kami ketat, tidak akan ada yang berhasil lolos dari sini" terang Ari.
"Baiklah kalau begitu, kami percayakan cecunguk itu padamu ri" ujar Fernand.
"Siap om, dengan senang hati" sahut Ari sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah percakapan itu pun mereka berpamitan dan langsung meninggalkan markas Blackwoe. meskipun Fernand tidak puas karena belum bisa membalas keluarga Nadya tapi ia cukup senang karena dapat bertemu Ari lagi setelah sekian lama tidak bertemu.