
Albian dan Ayza yang masih tertidur pulas pun tak menyadari jika Amel sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Amel berniat membelikan mereka dan para bodyguard itu sarapan, namun saat baru keluar dari ruangan ia dikagetkan dengan adanya kedua orang tua Albian dan juga Ayza.
"Astagfirullah" kaget Amel
"Kamu kira kami ini setan mel? pakai ngucap segala" ujar ayah Arsenio.
"Hehe... abisnya ayah dan bunda mengagetkan Amel sih" ucap Amel cemberut.
"Halah, itu mah kamu saja yang sudah tua, begitu saja kaget" canda ayah Arsenio membuat semua yang disana tertawa.
"Ayah, sudahlah hobby banget sih mengganggu Amel" bela bunda sonia.
"Tau nih bunda, ayah jahat banget sama Amel" adu Amel lalu bergelayut ke bunda Sonia.
"Sudahlah kok jadi berdebat, oh ya nak Amel bagaimana keadaan Ayza?" tanya mama Denisa.
"Emm... baik tante, sepertinya juga lukanya sudah membaik" jawab Amel.
"Syukurlah kalau begitu" sahut semuanya.
"Mari jeng kita masuk" ajak mama Denisa.
"Ayo, saya juga ingin segera melihat anak saya" mereka pun sepakat untuk segera masuk kedalan ruangan itu.
"Eh tunggu dulu ayah bunda, om tante" cegah Amel yang langsung merentangkan tangannya di depan mereka.
"Duh bagaimana ini, kalau sampai mereka lihat Albian ikut tidur diatas tempat tidur Ayza. pasti ayah akan meradang" batin Amel.
"Kamu kenapa mel, awas ayah mau lihat Ayza" ujar ayah Arsenio.
"Emmm... Ayah Arsenio dan om Fernand mau sarapan apa? bunda dan tante juga mau sarapan apa?" teriak Amel berharap jika Ayza atau Albian mendengarnya.
"He... mencurigakan nih bun. ujar Ayah Arsenio
"Ayah sebentar..." halang Amel.
Mereka pun berusaha untuk masuk walaupun sempat dihalang-halangi oleh Amel namun pada akhirnya mereka pun berhasil masuk meskipun Amel harus terjatuh saat pintu terbuka.
"aaaawww" pekik Amel yang sudah terduduk dilantai.
__ADS_1
"Kalian ngapain?" tanya Ayza dengan wajah polosnya, sama halnya dengan Albian, ia sibuk berpura-pura menyuapi Ayza padahal itu adalah makanan malam tadi yang di belikan oleh bodyguard Ayza. (😆)
"Aiizsshh... mereka berdua ini gue udah rela-rela jatuh begini. bukannya nolongin malah pasang wajah bo*oh begitu" ujar Amel dalam hati.
"Hemm.. Sayang bagaimana keadaan kamu?" tanya Ayah Arsenio
"Sudah membaik kok ayah" jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Al, itu kok makanannya udah kering begitu sih?" Mama Denisa yang heran ketika melihat piring yang di pegang Albian sudah tak layak dimakan.
"hehe... ma, mama bukannya ada arisan di rumah tante nina?" Albian mengalihkan pembicaraan lalu dengan segera menaruh piring yang di pegangnya tadi dan ditutupinya dengan tisu agar tak terlihat lagi.
"Oh iya, nanti siang, mama mau menjenguk menantu mama dulu dong" sahut mama Denisa.
Krruukk...
"Oh astaga... ini perut kenapa bunyinya kenceng banget" gumam Albian.
"Kamu cari sarapan dulu gih" titah papa Fernand.
"Biar Amel aja deh om yang beli, kalau begitu Amel pergi dulu ya om tante, ayah bunda" pamit Amel lalu perlahan keluar dari ruangan Ayza.
Disela percakapan mereka, dokter dan para perawat pun datang untuk memeriksa keadaan Ayza. setelah di periksa dokter tersebut pun bilang kalau Ayza sudah bisa pulang setelah infus habis, karena keadaannya sudah jauh lebih baik, bahkan bengkak di wajahnya pun benar sudah sedikit kempis. mereka semua pun bersyukur karena luka Ayza tak parah.
"Kamu sih kenapa gak mau om Jo menemanimu terus? jadi begini kan" kesal ayah Arsenio.
"Ayah sudah lah semua sudah terjadi, kasihan Ayza" bela bunda Sonia.
"Dia ini tidak mau menurut bun, selalu saja mengelabuhi Jo, agar ia lepas dari pengawasan Jo"
"Ayah, biarkan om Jo mengawasi Dara saja. aku bisa membela diriku sendiri ayah" sahut Ayza pelan.
"Kalau kamu bisa membela dirimu sendiri kenapa bisa masuk sini?" tanya Ayahnya penuh curiga.
"itu... " belum sempat Ayza menjawab ayahnya itu, tiba-tiba Albian langsung angkat bicara dan membela Ayza.
"Ayah mertua, ini salah Albian harusnya Al yang selalu menjaga Ayza. memang Al yang ingin Ayza mengandalkan Al saja tapi malah begini jadinya" bela Albian membuat Ayza menatap Albian dan membuatnya merasa bersalah.
"Hemm... yasudah kedepannya ayah tidak mau ada kejadian seperti ini lagi" ujar Ayah Arsenio.
__ADS_1
"Baiklah ayah" Jawab mereka berdua.
.....
H-1 sebelum acara pernikahan.
"Ayza, kamu mau kemana lagi sih? kamu itu udah gak boleh kemana-mana Ay, kamu harus dirumah. besok acara pernikahan kamu sayang" larang bunda Sonia saat melihat Ayza yang sudah rapi dan cantik.
"Hemm tapi Ayza ada kerjaan bun, sebentar aja bunda" pinta Ayza
"Enggak, sekarang kamu naik" larang bunda Sonia.
Dengan sedikit kesal, Ayza pun menuruti perkataan bundanya itu.
"Kenapa kak?" tanya Dara yang bertemu Ayza di tangga.
"Ck... tuh bunda, masak kakak gak boleh pergi" adu Ayza dengan wajah cemberutnya.
"Ya kakak juga, orang mau nikah sibuk amat pergi mulu. tuh liat memar kakak aja belum hilang. mending kakak dirumah aja deh, kompresin tuh muka biar besok cantik maksimal jadi kan aku juga gak malu" ledek Dara membuat Ayza semakin kesal.
"Kamu ya Dara, dasar adik laknut" rutuk Ayza pada Dara yang sudah lari turun kebawah.
"Kamu ini Dar, suka sekali menggoda kakakmu sampai kesal begitu" tegur bunda Sonia
"Aduh bunda, kakak tuh kan kesalnya sama bunda kalo sama Dara mah kesalnya sedikit aja hehehhe"
"Lagian bunda, kakak kan mau ke butiknya. pasti ada pelanggan yang penting tuh sampai kakak harus datang sendiri" sambung Dara keceplosan
"Apa? butiknya? Ayza punya butik?" tanya bunda Sonia terkejut. sedangkan Dara hanya bisa menutupi mulutnya.
"Mampus gue, ini mulut pake acara keceplosan segala lagi" batin Dara
"Emm... bun, Dara ada janji sama Arin dan Syasya jadi Dara pergi dulu ya bun.. assalamualaikum bunda" pamit Dara lalu berlalu setelah mencium pipi bunda Sonia ia segera berlari dan keluar dari mansion.
"Kakak maafkan adikmu yang cantik ini" lirih Dara setelah ia berhasil kabur dari bundanya.
Setelah mendengar Ayza punya butik sendiri, bunda Sonia pun langsung menuju ke kamar Ayza. setibanya di kamar anak sulungnya itu Bunda Sonia langsung menanyakan soal butik dan pada awalnya Ayza terkejut perihal dari mana bundanya itu tahu, namun ia langsung menjawab dan menjelaskan semuanya kepada bundanya itu.
Mendengar penjelasan dari Ayza, bunda Sonia semakin bangga dengan anak sulungnya itu. ia bangga karena sedari dulu Ayza tak pernah meminta apapun dari bunda dan Ayahnya. ia selalu berusaha mewujudkan keinginannya dengan kerja kerasnya sendiri bahkan Ayza tak pernah menyebutkan nama kelurga Pradja untuk memuluskan jalannya.
__ADS_1