
Ayza sadar sikapnya tadi pasti menyakiti Albian tapi ia juga tak ingin Albian terus mengharapkannya. karena Ayza sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikannya di paris jadi jika ia terus bersikap baik pada Albian ia takut hatinya makin goyah dan ia takut akan menyakiti Albian dengan kepergiannya.
Ayza terus berjalan menyusuri koridor, disana ia bertemu dengan bu Lisa. Bu Lisa yang melihat Ayza pun langsung memanggilnya dan mengajak Ayza keruangannya.
"Bagaimana Ayzaila, apa kamu sudah putuskan?" tanya bu Lisa saat mereka sudah berada diruangan bu Lisa.
"Iya bu sudah, saya sudah diskusikan ini dan saya akan mengambil beasiswa ini bu" ujar Ayza sambil tersenyum kepada bu Lisa.
"Baguslah Ayza kamu mengambil keputusan ini. ibu akan bantu kamu mengurus semuanya. kamu tinggal persiapkan diri saja. nanti info lebih lanjut ibu akan mengabari kamu" ucap bu Lisa juga dengan senyumnya
"Baik bu, terimakasih banyak bu sudah banyak membantu saya" ungkap Ayza sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah Ayza, kamu mahasiswi berprestasi di kampus kita. jadi sudah seharusnya ibu membantumu agar kamu bisa semakin mengembangkan bakat kamu" sahut bu Lisa.
Setelah cukup lama perbincangannya bersama bu Lisa, Ayza pun kembali kekelasnya untuk melanjutkan mata kuliahnya. disana ternyata sudah ada Amel.
"Dari mana lo Ay?" tanya Amel ketika Ayza baru saja duduk disebelahnya.
"Biasa bertemu bu Lisa" jawab Ayza singkat.
"Oh ya, terus?" Amel penasaran
"Yah gue akan melanjutkan studi gue di paris mel" jawabnya
"Yah gue bakal sendiri dong disini" ucap Amel sambil memasang wajah sedihnya.
"Dih kan elo yang nyuruh gue keparis, kenapa sekarang begitu?" Ayza mengernyitkan dahinya.
"Hehe gue bercanda, gue ikhlas kok lo lanjut disana. asalkan...."
"Apa?"
"Asalkan lo terima Albian jadi pacar lo"
"Ck... apaan sih mel, lo kan tau hubungan jarak jauh itu gak banget buat gue. apalagi fans dia bejibun mel" ujar Ayza.
"Jadi lo masih ragu sama Al itu karena fans-fansnya?" selidik Amel dan Ayza pun hanya mengangguk malu karena mengakuinya.
__ADS_1
"Hadduh Ay, percaya deh sama gue, Albian gak mungkin ngelirik cewek-cewek yang keganjenan itu. lihat gue Ay, lo kira Dimas fansnya sedikit? geng Albian tu fansnya bejibun. tapi gue pede aja karena apa? karena Dimas sendiri yang memilih gue Ay dan gue jauh lebih cantik" ungkap Amel dengan percaya dirinya.
"Hahaha pede banget lo mel mel" kekeh Ayza sembari menggelengkan kepalanya.
"Harus dong say"
"Gue bisa lihat bagaimana tulusnya Albian sama lo Ay, gue yakin dia benar-benar mencintai lo. nah gue aja bisa ngerasain ketulusannya masa lo yang dikejar enggak ngerasa sama sekali sih Ay" cibir Amel.
"Hemm... benar kata lo mel, gue rasa gue harus bilang masalah beasiswa gue ke dia" ujar Ayza.
"Iya Ay, lo harus janji jangan cuekin dia lagi. kasihan tau Ay Albian lo cuekin terus, padahal dia kan selalu baik sama kita" jelas Amel dan Ayza pun hanya bilamg "Iya".
"Yess Ayza dengarin gue" batin Amel ia merasa gembira mendengar ucapan Ayza barusan.
Tak lama itu dosen mereka datang dan mulai menjelaskan mata kuliah mereka saat ini. Setelah menyelasaikan mata kuliahnya, mereka pun pergi kekantin.
Tak lama berselang Albian CS pun datang dan langsung duduk di meja Ayza dan Amel.
"Hai Ay" sapa Albian sambil tersenyum ramah.
"Hai" jawab Ayza singkat lalu tiba-tiba Amel menyikut Ayza.
"Mau makan apa?" tanya Ayza kepada Albian yang langsung membuat Albian bengong.
"Hello, hei" Ayza melambai lambaikan tangannya di depan wajah Albian.
"Woi Al, awas tuh lalat masuk kemulut lo yang nganga itu.... hahahhaa" celetuk Arvin dan sontak membuat Albian tersadar dan malu seketika.
Ayza yang melihat tingkah konyol Albian dan sahabatnya pun tanpa sadar ikut tertawa. membuat keempat pria itu menatapnya saking tak percayanya. karena selama ini memang mereka belum pernah melihat seorang Ayzaila Reina pradja itu tersenyum apalagi bisa tertawa seperti sekarang ini.
"Woi perhatikan mata kalian, mau gue cungkil satu-satu?" ancam Albian kesal melihat lelaki lain menatap Ayza tanpa berkedip meskipun itu sahabatnya sendiri.
"Yaelah bro, udah posesif aje" sindir Dimas. dan Albian langsung memberikan tatapan tajamnya.
Disela mereka asyik bercanda, dan memakan makanannya. tiba-tiba Nadya and the geng datang...
"Haisshh.... sih bekicot datang pula" kesal Robby yang melihat kedatangan Nadya dan teman-temannya.
__ADS_1
seketika itu Albian, Dimas dan Arvin pun melihat kearah mata Robby yang tertuju ke arah Nadya.
"Heh, ngapain kalian duduk disini? sungguh tidak level" hina Nadya
"Lo ngomong apa barusan?" bentak Dimas yang tak terima pacarnya dikatain Nadya.
"Kenapa lo sewot banget dim, gue kan ngomong faktanya" cibir Nadya sambil menekankan kata Faktanya.
Amel sudah sangat geram dengan nenek lampir didepannya itu tapi tangannya kini ditahan oleh Ayza. Ayza hanya diam tak bergeming, sungguh malas meladeni wanita sableng ini, fikir Ayza.
"Al, mereka sungguh merusak mataku" rengek Nadya pada Albian.
"Mending lo yang pergi dari sini, mata gue yang bisa rusak bila lihat lo" sinis Albian yang tanpa melihat kearah Nadya.
"Noh denger tuh,, hussh husshh" usir Amel yang membuat Nadya sangat marah.
"Heh, berani lo yah. orang seperti kalian ini hanya mengotori kampus elit ini tau gak? mending kalian cari kampus yang isinya orang-orang kamseupay kayak kalian aja sana" bentak Nadya yang mulai menunjukkan emosinya.
"Diam" teriak Albian lalu ia menatap Nadya tajam, lalu ia mulai mencengkeram rahang Nadya dengan keras hingga Nadya sedikit meringis.
"Jangan berani mulut sampah lo meghina pacar gue, dia jauh lebih baik dan tentunya jauh lebih sempurna dari pada lo" ungkap Albian sontak membuat Ayza menatap Albian dengan intens.
"Pa... pacar? si.. si. a. pa Al?" tanya Nadya terbata karena rahangnya masih dicengkam oleh albian.
"Lepaskan Al, kau bisa membunuhnya" ujar Ayza yang langsung berdiri menahan tangan Albian.
"Tapi Ay... " Albian melihat wajah damai Ayza pun akhirnya menuruti perkataan Ayza dan melepaskan Nadya.
uhuukk.. uhuukk....
Albian CS serta Ayza dan Amel pun berlalu meninggalkan Nadya yang masih terbatuk karena cengkeraman Albian tadi.
"Awas kalian tidak akan gue biarin kalian hidup, Albian hanya milik gue seorang" gumam Nadya.
Ia pun di bantu kedua temannya untuk berdiri.
"Ayo jalankan rencana kita waktu itu" ucap Nadya dengan tatapannya yang penuh amarah.
__ADS_1
Kedua sahabatnya itu pun mengerti dan akan membantu Nadya menjalankan rencana yang telah ia susun lama.