
H-2 sebelum acara pernikahan Albian dan Ayza, mereka masih disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Albian yang sibuk di ALsan Development dan Ayza yang juga sibuk di butiknya.
Tokk.. tokk... tokk...
"Masuk" teriak Ayza dari dalam ruangannya.
"Permisi mbak Ayza, maaf saya mengganggu. sedari tadi ada seorang pelanggan yang menghubungi butik mbak, beliau memesan gaun dari satu bulan yang lalu dan memang akan di ambil hari ini. namun hari ini beliau terus-terusan menelpon butik dan ingin meminta mbak sendiri yang menghantarkan gaunnya jika mbak tidak bersedia maka ia akan membatalkan orderannya mbak" jelas Mawar langsung to the point. karena memang Ayza tidak terlalu suka berbasa basi.
"Mengapa seperti itu? apa kalian tidak bisa menjelaskan kepada pelanggan itu tentang siapa yang biasa menghantarkan pesanan?" tanya Ayza serius.
"Sudah mbak, namun pelanggan ini tetap kekeh ingin mbak sendiri yang menghantarkannya. kata beliau..."
"Cukup" stop Ayza seraya mengangkat tangannya.
"Beritahu alamatnya dan siapkan gaunnya itu, biar saya antarkan sekarang" ujar Ayza dengan malasnya.
"Ba... baik mbak. kalau begitu saya permisi" pamit Mawar sedikit menundukkan tubuhnya.
"Hemm"
Setelah Mawar keluar ia segera membereskan alat desainnya dan ia langsung menyambar tasnya lalu keluar dari ruangannya. Diluar ia bertemu dengan Amel yang hendak keruangan Ayza untuk meminta tanda tangan Ayza.
"Ay, mau kemana lo?" tanya Amel yang baru keluar dari ruangannya.
"Menghantarkan pesanan pelanggan" jawabnya malas
"Hah!!! bukannya itu tugas Andre?" bingung Amel karena memang tugas menghantarkan pesanan pelanggan adalah Andre.
"Hemm... pelanggan memintanya sendiri kalau tidak dia akan batalkan pesanannya" sebal Ayza
"Yasudah batal saja, toh pelanggan kita banyak kok Ay" Amel yang ikut kesal dengan permintaan pelanggan mereka itu.
"Lo lihat dong gaunnya, itu modalnya aja udah berapa mel. kalau sampai dia cancel kita bisa mengalami kerugian yang lumayan. lagian hanya menghantarkan ini sampai ke alamatnya saja kok tidak masalah" ujar Ayza menenangkan Amel.
"Dih padahal dia tadi yang sewot duluan"
"Heheh... karena memang agak kesal saja, masalah begini saja gue yang harus tangani"
__ADS_1
"Yasudah lah gue mau pergi dulu" tambah Ayza namun segera ditahan oleh Amel.
"Eh... Ay tunggu dulu. tanda tangani ini dulu" Amel menyodorkan sebuah berkas kepada Ayza.
"Apa ini?"
"Laporan pengeluaran kita bulan ini, karena lusa akan masuk bulan baru jadi ini udah gue buat laporan keuangan kita pada bulan ini" terang Amel dan dibalas anggukan dari Ayza.
Diraihnya berkas laporan tadi dari Amel dan diceknya sebentar kemudian barulah ia menanda tangani berkas tersebut.
Seusai masalah pekerjaannya itu selesai dengan Amel, Ayza segera menuju keluar gedung butiknya. dengan taxi online yang sudah menantinya di luar.
"Dengan Mbak Ayza?" tanya sopir taxi online itu
"Iya pak, ayo pak segera berangkat sesuai alamat yang saya tulis diaplikasi tadi ya" ujar Ayza yang baru saja masuk kedalam taxi.
"Baik mbak" Sopir itu pun langsung melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedang, mereka mebembus ramainya jalanan kota J. hingga tibalah mereka di sebuah rumah yang cukup luas.
Setelah membayar taxi online tadi ia segera keluar dan menuju kedalam perkarangan rumah itu.
"Permisi" sapa Ayza pada security yang menjaga rumah itu.
"Saya dari Ayza Boutique pak, saya kemari untuk menghantarkan gaun pesanan pemilik rumah ini" jelas Ayza
"Gaun wanita? bukankah dirumah ini hanya dihuni oleh tuan Ray?" batin Security itu.
"Baik mbak tunggu sebentar ya, biar saya coba tanyakan dulu ke majikan saya"
"Baiklah pak, silahkan" Ayza mempersilahkan security itu untuk menghubungi pemilik rumah tersebut.
Beberapa menit kemudian, Ayza pun dipersilahkan masuk oleh security tadi. Ayza pun dipersilahkan masuk, dan sembari menunggu tuan rumah ia pun dipersilahkan untuk duduk oleh art disana.
"Apa pesanan saya sudah tiba?" tanya seorang pria yang tak lain ia adalah Ray.
"Ray" lirih Ayza yang cukup terkejut setelah mengetahui jika yang memesan gaun itu adalah Ray, teman kampusnya dulu.
"Hai Ayza, apa kabar? sudah lama sekali kita tidak bertemu" sapa Ray yang langsung duduk di sofa depan Ayza.
__ADS_1
"Baik, dan ini gaun pesanan anda" ujar Ayza sembari meletakkan gaun itu dengan hati-hati di diatas meja.
"Hemm... gaun itu saya belikan untukmu Ay" ungkap Ray dengan senyumnya yang terus mengembang.
"Tidak, terimakasih. kalau sudah tidak ada lagi saya permisi" tolak Ayza dan hendak keluar dari kediaman Ray namun dengan segera Ray menahannya.
Ayza mencoba menepis genggaman Ray namun semua itu sia-sia hingga Ray memaksa memeluk Ayza. Ayza berusaha melepaskan dirinya dari Ray namun tetap kalah tenaga dengan Ray.
"Ray lepaskan, lo gila ya" teriak Ayza yang sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi.
"Ray...lepas.... " berontak Ayza sembari berteriak dan terus meronta ingin melepaskan diri dari Ray.
"Ay, aku sangat mencintaimu Ay. jadilah istriku dan hidup bersamaku selamanya" ujar Ray yang masih memeluk Ayza dengan erat.
"Gue mohon Ray lepasin gue. gue hanya mencintai Albian Ray" ujar Ayza dengan jelas.
Sontak saja perkataan Ayza itu membuat Ray marah, orang yang selama ini ia cintai lebih memilih lelaki lain daripada dirinya.
Plakkk....
Sebuah tamparan berhasil mendarat di wajah Ayza yang putih itu.
"Kau hanya boleh mencintai ku Ray Sofyan, bukan orang lain dan ingat Ayza tidak ada yang boleh menikahimu kecuali aku. jika tidak akan ku bumi hanguskan orang itu" ancam Ray lalu ia menyeret Ayza dan di masukkannya kedalam sebuah kamar yang memang sudah Ray persiapkan untuk Ayza.
"Ray, tidak... gue mohon Ray lepasin gue..." ujar Ayza dengan isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan lagi. rasa perih akibat tamparan yang Ray berikan membuat wajah Ayza sedikit bengkak dan berwarna merah.
Para ART yang sedari tadi menyaksikan perdebatan antara tuannya dan Ayza dari balik tembok pun hanya bisa diam. mereka terkejut dengan apa yang tuan mereka lakukan tadi, karena yang mereka tau tuannya itu adalah sosok yang pendiam dan tidak pernah marah kepada mereka disana.
"Kasihan sekali nona cantik itu" ujar salah satu Art disana.
"Saya tidak menyangka tuan teh meni begitu, memaksaken cintanya begitu" timpal art lainnya.
Sedangkan di lain tempat, ada Albian yang merasa tidak enak di hatinya. perasaan gelisah yang entah apa yang akan terjadi atau sedang terjadi saat ini.
"Kenapa ini, perasaanku sungguh tidak enak" gumam Albian sembari memegang dadanya.
"Ayza... " tiba-tiba fikirannya mengarah kepada calon istrinya dan dengan segera ia menyambar Handphone nya dan menelpon Ayza. namun berapa kali ia mencoba tetap saja panggilannya itu tak terjawab oleh Ayza. bahkan saat ini nomor Ayza sudah tidak aktif lagi.
__ADS_1
"Ada apa dengan mu sayang.... kenapa aku sangat mengkhawatirkanmu" gumam Albian dengan cemas.