
"Tunggu saja... sekarang ayo kita persiapkan agar busana itu selesai tepat waktu agar kita tidak disalahkannya" ucap Ayza dengan senyum penuh makna.
"Rin, dia mau ambil jam berapa?" tanya Ayza datar sembari melihat detail busana yang belum jadi itu.
"Jam 10 kak" jawab Arin.
"Oke... kalau kalian mau pulang silahkan. gue bisa kerjakan sendiri" ucap Ayza yang terus melihat kearah manekin tanpa melihat Amel dan Arin.
"Enggak gue juga mau disini" Amel langsung membuka blazernya dan menggulung kemejanya sampai kesiku.
"Arin juga mau disini kak" ujar Arin langsung mengikat rambutnya keatas agar tak menghalangi pandangannya.
"Hemm... Amel oke, tapi Arin no... besok kamu sekolah jadi kakak gak izinin" tegas Ayza
"Aku bisa izin kak, ini juga tanggung jawab Arin karena busana tante inka merupakan tugas Arin" jawab arin sambil menunduk.
"Rin, kakak gak izinin kamu gak masuk sekolah, kamu sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri rin, jadi kakak gak izinin adik kakak bolos sekolah karena kerja" ujar Ayza
"Sudah sana pulang rin, kita bisa kok lagian besok kami berdua libur" ucap Amel sambil tersenyum.
Arin pun menuruti perkataan Ayza dan Amel ia pun keluar dari ruangan Ayza dan mengambil tasnya untuk pulang.
Diruangan Ayza, mereka berdua sudah memulai pekerjaannya. mereka terlihat sangat fokus dalam mengerjakannya tanpa terasa malam pun tiba.
triinnggg... trriiinggg...
๐
"Halo" jawab Amel yang masih fokus membetulkan manik-manik pada busana tante inka.
"Honey, kamu sedang apa? kenapa aku chat gak dibalas?" gerutu Dimas
Amel langsung melihat notifikasi di handphonenya ternyata benar sudah 50 pesan yang belum ia baca.
"Maaf beib, aku masih dibutik lembur sama Ayza, aku sibuk banget beb, nanti lagi aja ya bye" ucap Amel dan langsung menutup panggilannya.
"Masih dibutik? aaaa.... " terlintas sebuah ide di otak Dimas.
__ADS_1
tutt... ttutt....
๐Halo...
"Al, keluar yuk" ajak Dimas
๐Males
"Yakin???? padahal gue pengen ke Ayza butik loh. denger-denger sih Ayza lembur dan kayaknya belum makan deh" goda Dimas
๐Gue on the way... " Albian langsung menutup panggilan tersebut lalu bersiap-siap.
"Hahahahahhahaa.... Al.. Al... gak sangka gue lo bisa begitu juga" gelak tawa Dimas menggelegar.
Dibutik....
Krukk.. krruukk..
"Ah gue laper mel" ucap Ayza yang langsung mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Sama Ay... " ucap Amel ikut duduk disamping Ayza.
Tokk.. tookk...
Ayza dan Amel yang mendengar ketukan itu hanya saling menatap.
"Siapa mel? perasaan tinggal kita berdua doang disini?" tanya Ayza
"Iya Ay, gimana kalau kita lihat saja dulu" ajak amel
Mereka pun berdiri kearah pintu, Amel berada di belakang tubuh Ayza karena ia takut.
"Siapa?" teriak Ayza yang sudah berada didekat pintu.
Tokk.. tokk...
Suara ketukan kembali terdengar membuat mereka berdua terkejut. dengan segera Ayza membuka pintu dan...
__ADS_1
"Hai... " Ucap Dimas dengan cengir kuda
"Beib, ih nakutin aja sih" kesal Amel
"Maaf honey kan mau bikin kejutan hehe"
Ayza yang mendengar perdebatan sahabatnya itu merasa malas, ia pun langsung kembali duduk disofa tanpa melihat orang yang berada di belakang Dimas.
"Jadi pacar lo Amel?" bisik Albian tak menyangka
"Iya" jawab Dimas tersenyum.
"Hon, kami bawa makanan. Ini sudah jam 9 kalian pasti belum makan kan?" ucap Dimas sembari mengangkat kantung plastik yang dibawanya.
"Aaa.. beib kamu tau aja deh" Amel pun menyuruh mereka berdua untuk masuk kedalam ruangan Ayza.
"Hai Ay" sapa Albian
"Ya" jawab Ayza singkat.
"Duduk aja Al tuh disitu" tunjuk Amel disamping Ayza
Tanpa bisa protes Ayza pun hanya diam tak bergeming.
"Ayo Ay makan nih Dimas dan Albian udah bawain untuk kita" ucap Amel sambil membuka makanan yang dibawa Dimas dan Albian tadi.
"Makanlah saja" Ayza malas dan ingin beranjak menuju kursinya namun saat akan melangkah
Kruuukk...
"Ini cacing bikin malu aja deh, kenapa bunyinya gede banget sih" kesal Ayza dalam hati
"Ehem.. " Ayza kembali duduk dan langsung mengambil makanan yang sudah Amel buka tadi.
Albian yang melihat tingkah Ayza pun hanya bisa menahan tawanya
"Sungguh menggemaskan" batin Albian sembari tersenyum
__ADS_1
Mereka pun makan berempat, Ayza sama sekali tak merespon semua lelucon yang Dimas lontarkan. sedangkan Albian hanya fokus mengamati wajah cantik Ayza tanpa henti. ia sungguh ingin meminta Ayza menjadi kekasihnya, ntah sejak kapan ia mulai menyukai Ayza. namun ia sadar semua butuh proses, maka ia putuskan untuk mulai berusaha menaklukan hati Ayza.