
Mansion Keluarga Albian
Albian tiba di mansionnya, dengan langkah cepat ia langsung menuju tempat dimana ia biasa berkumpul bersama para sahabatnya yang letaknya di belakang mansion keluarganya.
Disana sudah ada Robby, Arvin dan juga Dimas. tak lupa Ray yang kini sedang tidak sadarkan diri.
"Siram dia" titah Albian saat ia baru saja masuk kedalam markas mereka.
"Siap bos" sahut Dimas lalu ia mengambil air es di dalam kulkas.
Byuuuuurrrrr.....
"Haah...hah.... " Ray yang langsung tersadar.
"Kenapa lo? abis mimpi indah? haha" ledek Arvin
"Indah sekali bro, saking indahnya sampai tidak mau lagi bangun hahha" lanjut Dimas.
"Kalian, lepasin gue. cih.. dasar pengecut beraninya keroyokan" decih Ray menatap sinis kearah Albian dan para sahabatnya.
"Wah nantangin dia bro" ujar Arvin yang mulai geram
Albian yang mendengar ucapan Ray itu justru hanya menyunggingkan senyumnya.
"Kalian duduklah di kursi penonton" seru Albian yang sudah mengelus-elus pisau kecil kesayangannya.
"Ck,,, padahal aku ingin merasakan bagaimana rasanya membunuh orang" gerutu Robby kesal
"Sudahlah by, kita sisanya saja" seru Dimas mengajak Robby duduk di sofa dekat sana.
Albian mulai mendekat kearah Ray, membuat Ray sedikit cemas namun ia tetap berusaha terlihat tenang dan biasa saja.
Sreeettt....
Albian melepaskan ikatan di tangan Ray, membuat Ray tersenyum. dengan cepat ia pun berusaha menonjok Albian. namun dengan cepat pula Albian menepis tinjunya.
"Tangan ini terlalu lemah untuk membuatku terluka" ujar Albian sinis sembari mencengkeram tangan Ray kencang hingga Ray meringis kesakitan.
"Aaaaa... lepaskan Breng*k" teriak Ray saat tangannya di patahkan oleh Albian. sudahlah patah masih saja di cengkeram oleh Albian dengan sangat kuat.
Robby, Arvin dan Dimas yang melihat dan mendengar ringisan Ray itu pun hanya bisa bergidik ngeri.
"Apa Albian ini pernah jadi geng mafia, kenapa sangat sadis?" bisik Dimas pada Arvin.
"Gue juga baru lihat sisi Albian yang seperti ini, walaupun gue berteman dengannya sejak kecil" balas Arvin yang juga terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
"Sudahlah, ini juga salah Ray sudah membuat Albian marah. kita tau sendiri bagaimana bucinnya dia sama Ayza eh malah Ray dengan beraninya menculik dan bahkan hingga berani menampar Ayza. jelas saja Albian murka" ungkap Robby.
"Lo benar by, sebaiknya kita jangan buat masalah sama Ayza maupun Albian. gue takut tulang gue patah semua" ujar Dimas bergidik ngeri
"Bukankah Ayza juga jago bela diri? kenapa dia menerima saja Ray menamparnya?" tanya Arvin penasaran.
"Gue dengar dari Amel, Ray itu sangat baik pada Ayza dan juga Amel makanya Ayza tidak melawan hanya untuk membalas kebaikan Ray itu tapi dia tidak akan semudah itu juga membawa Ayza jika pun kita tak datang Ayza pasti sudah membuat Ray patah tulang" terang Dimas.
"Tapi bukankah Ayza sudah mau dibawa ke helikopter?" Robby ikut berbicara.
"Iya, itu karena Ayza sedikit lemas sepertinya di makanan yang Ayza makan di rumah itu ada obat tidur dengan dosis dua kali lipat tapi sepertinya pertahanan Ayza cukup bagus sehingga dia bisa tetap sadar. namun tetap saja Ayza hanya wanita, makanya saat kita datang Ayza langsung pingsan" jelas Dimas kembali.
"Dokter itu juga sih yang bilang ke gue, beliau nanya apa Ayza meminum obat tidur? tapi karna gue takut Albian keburu datang jadi gue minta tolong ke dokter itu" sambungnya.
"Waw... jadi dokter itu apa lo yang suruh untuk mengatakan kalau Ayza hanya terkejut akibat kejadian ini?" tanya Arvin kembali.
"Iya, saat lo nelpon Al tadi dokter keluar jadi sempet ngobrol gitu dan gue minta tolong aja tuh dokter ngomong gitu. kalau sampai Albian tau lo tau kan apa yang akan Al lakukan?" ujar Dimas.
"Maka semua yang kerja dengan Ray akan kena masalah" celetuk Arvin dan di angguki oleh Dimas.
Mereka pun paham dengan situasinya, jadi mereka cukup mengerti tindakan Ayza yang tak mau melawan atau pun tak bisa melawan Ray itu. kini mereka hanya akan fokus melihat apa yang akan seorang Albian lakukan kepada Ray.
"Aaaaaaa..... sakit.... aaaa" pekik Ray yang kini tangannya sudah benar-benar Albian potong.
"Itu akibatnya kalau tangan ini berani menyentuh wanitaku" ujar Albian sinis.
"Dengan senang hati bro, gue ingin ngerasain darah nempel di baju gue" ungkap Robby menyeringai.
"By, lo jangan ikutan kayak Al dong. ngeri tau" bisik Dimas namun tak di hiraukan oleh Robby.
Kini Robby mulai melangkah mendekat kearah Ray.
"Gue mau kerumah sakit lagi, jadi urusan cecunguk ini gue serahin ke kalian" seru Albian yang melangkah menjauh dari mereka semua.
Setelah keluar dari markas mereka berempat, Albian pun menuju kediamannya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia kembali ke rumah sakit.
"Albian" panggil papa Fernand.
"Eh pa, belum tidur?" tanya Albian lalu menyalami papanya.
"Papa haus, air di kamar habis makanya papa turun. kamu kenapa penuh darah di bajumu? dan dari mana sampai jam segini baru pulang?" tanya papanya bertubi-tubi
"Nanti saja ya pa, Al mau mandi dulu karena Al harus kerumah sakit lagi" ujar Albian.
"Yasudah sana, jelaskan sama papa dulu nanti. papa tunggu di ruang kerja papa" pinta papa Fernand.
__ADS_1
Tokk... tokk...
"Masuk"
"Pa, kirain udah tidur hehe" canda Albian.
"Papa kan ingin mendengar cerita kamu. sudah cepatlah ceritakan karena papa sudah tidak sabar"
"Emmm... begini pa... " Albian pun menceritakan semuanya kepada papanya itu.
"Apa? kurang ajar, terus bagaimana keadaan menantu papa?" tanya papa Fernand khawatir
"Ayza sekarang baik-baik saja pa, tapi wajahnya sedikit memar dan bengkak" jelas Albian dengan sendu
"Hemm... terus pernikahan kalian apa perlu kita undur dulu?" tanya papanya kembali.
"Tidak perlu pa, Ayza tidak mau pernikahannya diundur. tapi kita lihat nanti bagaimana keadaannya, karena bagi Al kesehatan Ayza yang terpenting" terang Albian dan papanya pun mengerti akan itu.
"Baiklah sekarang kamu segera kerumah sakit, besok papa akan kesana bersama mamamu. oh ya apa keluarga Arsenio Pradja sudah kamu beritahu Al?"
"Belum pa, belum sempat mungkin besok pagi Al akan menghubungi keluarga om Arsenio Pradja" seru Albian
"Yasudah, pergilah" Albian hanya menganggukkan kepalanya lalu bergegas keluar setelah berpamitan dengan Papanya itu.
Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Albian pun mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang, ia segera menuju rumah sakit untuk menemui Ayza.
Tiba di sana Albian langsung berjalan menuju kamar inap Ayza, disana masih setia para bodyguard yang ia tugaskan tadi.
"Selamat pagi tuan" sapa kedua bodyguard itu.
"Pagi" setelah menjawab sapaan bodyguard itu Albian pun langsung masuk kedalam untuk melihat keadaan Ayza.
Disana nampak Ayza yang sedang terlelap, begitu pun Amel yang ikut tertidur di sofa dekat brankar Ayza.
"Hem... sepertinya sudah mengempis, dan memar ini apakah sakit sayang?" Albian berucap sendiri sembari mengelus wajah Ayza dengan sangat pelan.
"Eergghhh... " Ayza merasa ada yang menyentuh wajahnya pun terbangun, dan ia tersenyum ketika yang dilihatnya itu adalah Albian.
"Sayang kamu sudah kembali?" tanya Ayza dengan suara khas baru bangun tidur.
"Hemm,, iya sayang baru saja. maaf ya aku membangunkanmu" ujar Albian
"Tidak masalah sayang" jawab Ayza tersenyum manis.
"Sudah sekarang kamu tidur lagi ya, aku akan disini menemanimu sayang" pinta Albian lalu ia membenarkan selimut yang Ayza pakai dan menyelimutinya.
__ADS_1
"Iya sayang, aku juga masih sangat mengantuk. kamu juga istirahat ya"
"Iya sayang" Albian pun mengecup dahi Ayza lalu duduk disamping brankar Ayza. hingga tak lama ia pun ikut tertidur sembari menggenggam tangan Ayza.