
Ada apa dengan mu sayang.... kenapa aku sangat mengkhawatirkanmu" gumam Albian dengan cemas.
Ia kembali mencoba namun kali ini yang ia hubungi bukanlah Ayza melainkan Amel sahabat baik Ayza.
"Halo mel, apa Ayza masih dibutik?" tanya Albian saat panggilan teleponnya sudah terhubung.
📞 Ayza tadi menghantarkan gaun pesanan pelanggan Al, tapi kenapa dia belum pulang juga ya? gue kira dia langsung kekantor lo" ungkap Amel.
"Menghantarkan pesanan? bukankah itu tugas pegawai kalian? kenapa jadi Ayza yang harus menghantarkannya?" tanya Albian yang mulai sedikit emosi.
📞 Iya awalnya juga gue ngomong gitu, tapi kata dia tadi pelanggan ini ngotot ingin Ayza sendiri yang menghantarkannya Al makanya Ayza pergi sendiri.
"Dan lo biarin aja dia pergi sendiri? lo tau kan pernikahan gue sama dia udah tinggal 2 hari lagi. kenapa lo ikut dia atau nggak suruh pegawai kalian ikut Ayza" ujar Albian dengan nada yang sudah mulai meninggi.
📞 Karena Ayza sendiri yang tidak ingin kami ikut dia Al, karena memang sedari tadi butik sangat ramai hingga membuat kami kewalahan.
"Kemana dia menghantarkan pesanannya itu?" tanya Albian
📞 Sebentar gue tanya Mawar dulu, soalnya dia tadi yang memberitahu Ayza.
"Ck... "
📞 Al, Ayza menghantarkan pesanan pelanggan ke alamat Xy Al" beritahu Amel.
Tanpa menjawab Amel lagi, Albian mematikan panggilannya dan beralih menghubungi orang-orangnya dan ia juga meminta bantuan dari para sahabatnya untuk mencari keberadaan Ayza.
Usai ia menghubungi semua orang-orangnya, ia segera pergi menuju alamat yang sudah diberitahu oleh Amel tadi.
Perjalanan menuju alamat Xy memakan waktu lebih kurang 1 jam. begitu sudah tiba di tujuan, Albian langsung melangkahkan kakinya dengan cepat bahkan security yang menghadangnya pun ia kalahkan hingga sang security pingsan. kali ini kemarahan dari seorang Albian terlihat, ia seperti bukan Albian lagi karena kini amarahnyalah yang menguasai diri Albian.
Albian sudah berada di depan pintu rumah Ray, dengan tatapannya yang tajam Albian lantas menendang pintu rumah itu dengan sangat keras hingga pintu itu terlepas dari engselnya.
"Ayza... Sayang.... " teriaknya setelah dia berhasil masuk kedalam rumah itu.
"Tuan Al maaf kami terlambat" ujar salah satu orang Albian
"Kalian belum terlambat, cepat geledah semua ruangan jangan sampai ada yang terlewat" perintah Albian lalu mereka semua mengangguk dan mulai berpencar ke segala sisi rumah.
Albian yang hendak melangkahkan kakinya di anak tangga, tiba-tiba harus terhenti kala ada seseorany dengan gemetaran mencoba menahannya.
"Tu... tuan... sa... saya.. tau dimana nona yang kalian cari" ujarnya sambil menunduk karena takut.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya Albian dengan tatapannya yang tajam hingga membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ketakutan.
"Sa... ya.. Asisten rumah tangga disini tuan.. " gugupnya.
"Dimana tuan kalian itu menyembunyikan calon istri saya?" Albian mengintimidasi art itu.
"Tu.. an Ray membawa Nona tadi ke lapangan yang jaraknya tidak jauh dari sini. disana ada helikopter pribadi tuan Ray tuan. kemungkinan dia akan membawa nona itu pergi dari kota ini" adu nya lagi.
"Ray... " Albian berfikir sejenak lalu tiba-tiba ia ingat jika Ray adalah teman satu kuliah mereka dulu. Albian tau jika memang Ray menyimpan rasa terhadap Ayza namun ia tak pernah berfikir jika Ray bisa melakukan hal seperti ini.
"Ck. ... Cari mati kau Ray. awas saja jika terjadi sesuatu dengan calon istriku akan ku kuliti kau hidup-hidup" geram Albian lalu ia segera melangkah pergi meninggalkan art tadi yang masih terdiam ditempatnya.
"Semoga anda baik-baik saja nona. hanya ini yang dapat saya lakukan untuk membantu anda" batin ibu art tadi yang merasa sedikit lega karena sudah ada orang yang akan membantu nona cantik itu.
Flasback on...
Saat Ayza di sekap oleh Ray disalah satu kamar di rumah itu, art itu ditugaskan oleh Ray untuk menghantarkan makanan untuk Ayza. Saat dibukanya pintu kamar itu, betapa ia merasa iba kepada Ayza yang kini penampilannya tak serapi saat tadi ia datang.
Wajahnya yang sedikit bengkak dan dipinggir bibirnya yang sudah sedikit memar serta rambutnya yang sudah acak-acakan. ditambah lagi Ayza terus menangis membuatnya sungguh tak tega.
"Nona, makan lah terlebih dahulu" pinta ibu art itu serata menaruh nampan yang berisi makanan dan juga air minumnya.
"Nona lebih baik makanlah dulu, siapa tau nona bisa keluar dari sini. tapi jika nona tidak makan bagaimana nona bisa memiliki tenaga untuk pergi dari sini" ucap ibu art itu. ia sungguh tak menyangka tuannya yang pendiam itu ternyata sangat tega kepada wanita yang ia cintai.
"Tuan Ray, kenapa anda tega menyakiti nona cantik ini. lihatlah betapa tersiksanya nona ini. aku mohon ya Allah datangkanlah orang baik untuk menolong nona cantik ini" doa ibu art itu dalam hati.
"Bu, tolong saya bu keluarkan saya dari sini" pinta Ayza memohon kepada ibu itu.
"Maaf nona saya tidak berani melakukannya, tapi nona tenang saja ibu akan berusaha mencari jalan agar nona dapat pergi dari sini" ucap ibu itu mencoba menenangkan Ayza.
"Sekarang nona makan dulu agar tenaga nona pulih kembali" sambungnya.
Ayza pun menuruti ucapan ibu art itu dan mulai menyantap makanannya. Ayza merasa jika ibu itu tulus ingin membantunya.
"Saya pasti akan membalas kebaikan ibu" batin Ayza.
Namun saat Ayza baru saja menyelesaikan makannya, Ray masuk dan mengajak Ayza pergi dari sana.
"Ray, lepasin... mau lo bawa kemana gue hah?" teriak Ayza sembari terus berusaha melepaskan genggaman Ray.
"Diam Ayza... kita akan ke london dan menikah disana" ujar Ray dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Apa? enggak..... gue gak mau nikah sama lo Ray... gue cinta sama Albian... dan gue hanya mau nikah sama Albian" teriaknya lagi.
"Diam Ay, jangan sebut Albian Albian dan Albian di depan ku... atau akan ku bunuh dia didepan mu" ancam Ray pada Ayza.
"Lo gila Ray, lepasin... lepasin gue... " Ayza masih berusaha melepaskan tanggannya dari genggaman Ray.
Ray tak lagi memperdulikan teriakan dari Ayza itu, kini ia terus saja menarik Ayza berjalan terus ke arah taman yang luas dimana disana terdapat helikopter pribadi miliknya.
Flasback off...
Albian bersama dengan para sahabatnya terus menelusuri jalanan yang berada di belakang rumah Ray tersebut. hingga ia mendengar samar-samar teriakan dari seorang wanita yang ia sangat ia kenali, dengan segera Albian berlari menuju sumber suara itu.
"Al, itu suara... " Ucap Arvin
"Ayza" gumam Albian lalu mereka berlari dengan sekuat tenaga. begitu tiba mereka langsung melihat seorang lelaki yang sedang berusaha menyeret seorang wanita yang tak lain adalah Ayza.
Bugh.... "Albian langsung menonjok Ray hingga ia tersungkur ketanah.
"Sayang" panggil Albian dengan sendunya, namun melihat wajah kekasihnya yang sedikit bengkak dan memar membuatnya semakin meradang kini amarahnya kembali memuncak. ia menyuruh Dimas untuk membawa Ayza pergi dari sana sedangkan Robby dan Arvin memegang Ray.
"Sayang hati-hati" lirih Ayza yang semakin melemah hingga tiba-tiba ia pun pingsan.
"Sayang... sayang..." Albian langsung mengangkat tubuh Ayza.
"Al, nih orang diapakan?" tanya Robby dengan geram karena ulah Ray pada Ayza itu.
"Bawa dia ke mansion. kurung jangan sampai ia lepas. tunggu sampai gue kesana" ujar Albian dengan tatapannya yang tajam menuju Ray.
Setelah meminta Robby dan Arvin membawa Ray, Albian pun segera berlari sembari menggendong Ayza. ia sungguh tak ingin jika Ayzanya itu kenapa-napa. segera ia membawa Ayza ke rumah sakit milik kelurganya.
Begitu Albian tiba di rumah sakit, semua perawat dan dokter sudah menunggu mereka di depan rumah sakit lengkap dengan bankar untuk membawa Ayza keruang IGD. dengan gerak cepat mereka segera menangani Ayza yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana dokter keadaan calon istri saya?" tanya Albian yang masih cemas.
"Tenang saja pak Albian, keadaan bu Ayza baik-baik saja. beliau hanya mengalami syok, mungkin sebentar lagi beliau akan siuman" terang sang dokter.
"Baiklah" usai pembicaraannya dengan dokter, Ayza pun segera di pindahkan ke ruang VVIP.
Albian senantiasa selalu berada disamping Ayza, ia selalu ingin berada disisi Ayza. semenjak kejadian itu Albian menjadi semakin waspada dengan keselamatan Ayza, mulai saat itu ia sudah menugaskan beberapa orang untuk berjaga di depan pintu ruang rawat Ayza.
"Sayang, bangunlah. lusa adalah hari pernikahan kita sayang. maafkan aku yang tidak becus dalam menjagamu" sesal Albian yang tanpa sadar ia telah menitihkan air matanya.
__ADS_1