
Mansion Fernand Sanjaya.
Mendengar Syasya sudah ditemukan dan sekarang sudah berada dijalan kearah mansion mereka bersama Albian membuatnya sangat senang dan tak sabar menyambut putri bungsunya itu. Fernand dan Denisa kini tengah duduk disofa ruang tamu sembari menanti kedatangan Syasya.
"Assalamualaikum" panggil Albian dan Syasya mengikutinya dibelakang dengan menundukan kepalanya.
"Walaikumsalam" jawab mereka serentak
"Mana Syasya Al?" tanya Fernand cemas
Albian segera menyingkir kekanannya sedikit lalu terlihatlah Syasya yang tengah menundukkan kepalanya itu. Denisa yang sudah melihat Syasya pun langsung berhambur memeluk Syasya dan mereka menangis bersama.
"Sya maafin mama ya, sya maafin papa dan abang juga yang tidak pernah mengerti perasaanmu sya" ucap Denisa masih menangis dalam pelukan Syasya.
"Enggak ma, Syasya yang salah, syasya gak pernah mau mengerti kesibukan kalian. padahal kalian sibuk juga untuk aku, tapi dengan egoisnya aku malah seperti ini. aku sungguh malu ma, pa, abang. sungguh Syasya minta maaf sudah membuat kalian menyalahkan diri kalian dan maaf karena keegoisanku membuat kalian khawatir" ujar Syasya sendu
"Tidak sayang, kamu tidak salah. memang kamilah yang terlalu sibuk akan urusan-urusan kami hingga kamu seperti ini Sya. sekarang papa dan mama janji akan meluangkan waktu sebanyak yang syasya mau. walaupun ini sudah terlambat tapi papa ingin memperbaiki semuanya sayang. papa ingin keluarga kita menjadi hangat seperti dulu saat kita belum mempunyai ini semua" ujar Fernand seraya mengelus lembut putrinya itu.
Syasya dan Albian merasa terharu dengan ucapan Arsenio barusan. begitu pun para pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. mereka sangat tersentuh bahkan ada beberapa yang ikut terbawa suasana hingga ikut menangis.
"Makasih ya pa, ma Syasya sangat sayang sekali dengan kalian" ucap syasya sambil mencium pipi kedua orang tuanya dan juga Albian.
"Sama-sama sayang, tapi kamu janji ya gak boleh kabur-kaburan lagi seperti ini" ucap Fernand
__ADS_1
"Siap pa, syasya janji gak akan mengulanginya kembali" sahut Syasya seraya mengangkat jari kelingkingnya.
Mereka sangat senang akhirnya keluarga mereka membaik. seperti saat ini mereka sedang menikmati makan siang mereka bersama dengan diiringi canda tawa, yang tentu saja baru pertama ini Syasya merasakannya.
"Alhamdulillah ya Allah terimakasih, ini pertama kalinya kami bisa makan bersama dengan suasana yang hangat pula. semoga terus seperti ini ya Allah" batin Syasya.
*************
Mansion Arsenio Pradja.
Sore harinya Ayza baru saja tiba di mansion milik orang tuanya. ia bergegas turun dari mobilnya dan masuk kemansion. tiba di pintu utama semua pelayan menyambutnya dengan ramah.
"Assalamualaikum" Ayza mengucapkan salam ketika akan memasuki mansion.
"Walaikumsalam, selamat sore nona muda" sapa para pelayan disana.
"Sudah non, tuan dan nyonya ada di taman belakang sedangkan nona muda Dara sepertinya ada dikamarnya" jawab Pak Iko sopan.
"Baiklah, saya masuk dulu terimakasih pak Iko dan yag lainnya sudah menyambut saya" ujar Ayza sembari memberikan senyum cantiknya
Ayza berlalu meninggalkan para pelayan yang masih berdiri didekat pintu tadi. ia berjalan menaiki anak tangga satu persatu namun sebelum kekamarnya ia terlebih dahulu menghampiri Dara dikamarnya.
Tokk... tokk... tokk...
__ADS_1
"Dara ini kakak" panggil Ayza sembari mengetuk pintu kamar Dara.
"Iya kak masuk aja" teriak Dara dari dalam.
Mendapat jawaban Dara itu pun Ayza langsung membuka knop pintu dan masuk kekamar Dara.
"Weeh ngapain kamu dek?" tanya Ayza yang melihat Dara sibuk membolak balikkan sebuah kertas.
"Tabungan ku kak, aku ingin seperti kakak punya usaha sendiri" jawab Dara jujur sambil terus fokus ke kertas buku tabungannya.
"Dek kamu itu masih muda, nikmati saja dulu nanti baru mikirin masalah tabungan" ucap Ayza.
Ia tak tahu jika adik kesayangannya ini ingin seperti dirinya. disatu sisi Ayza merasa bangga dan satu sisi ia takut jika Dara tak bisa menikmati masa mudanya dengan baik. karena setahu Ayza anak-anak zaman sekarang selalu ingin hangout bareng teman, shopoing, dan pergi kemana pun yang mereka inginkan bahkan sampai ada yang merengek jika tidak dituruti.
"Hemm... Enggak ah kak. sosial memang penting tapi untuk apa jika tidak tulus. lebih baik menabung dari sekarang dan mulai memikirkan masa depan agar nantinya Dara juga bisa berdiri dengan kaki Dara sendiri kak. sama seperti kakak" ungkap Dara sambil mengedipkan matanya saat kalimat terakhirnya.
"Huft... terserah kamu saja dek, yang penting kamu happy" ujar Ayza membelai rambut Dara lembut
"Oh ya Dar, Syasya sudah pulang kerumahnya?" tanya Ayza
"Iya kak tadi siang di jemput abangnya" ungkap Dara.
"Emm.. baguslah semoga masalah mereka segera selesai yah" Ayza pun bergegas pergi dari kamar Dara tanpa Dara sadari karena sedari tadi ia masih saja sibuk mengurus buku tabungannya.
__ADS_1
"Kak sepertinya abangnya Sya... " saat Dara menoleh ternyata kakaknya sudah tidak ada lagi disana.
"Eh kemana kak Ay, udah kayak setan aja ilang-ilangan" gumam Dara lalu ia kembali fokus pada kesibukannya sedari tadi.