
Albian baru saja tiba dikantornya bersama dengan Robby dan juga Arvin.
"Kenapa kalian belum pulang?" tanya Albian kepada para karyawannya.
"Pak Albian, kami ingin merampungkan pekerjaan kami yang belum selesai saja pak" jawab salah satu karyawan itu.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu" ucap Albian ramah.
Albian langsung masuk kedalam ruangannya, begitupun dengan Robby dan Arvin.
Mansion Arsenio
Ayza dan Amel kini tengah berada dikamar Dara, mereka hendak melanjutkan percakapan mereka yang tadi belum selesai.
Bahkan saking penasarannya Amel sampai rela menginap di mansion Ayza.
"Ayo buruan cerita, gue gak udah kepo maksimal" seru Amel seraya duduk disamping Ayza.
"Mel" tegur Ayza
"Hehe... sorry Ay, kepo gue" ucap Amel sembari menunjukkan barisan gigi putihnya.
"Hemm.... kak sebelumnya Syasya mau minta maaf karena gak bicara yang sebenarnya selama ini. Syasya memang kabur dari rumah kak karena..... " Syasya menceritakan kehampaan hidupnya selama ini, mempunyai keluarga tapi berasa sebatang kara.
__ADS_1
Ayza yang mendengar penuturan Syasya pun langsung memeluknya untuk mencoba memberi ketenangan untuk Syasya. begitu pun dengan Amel dan Dara yang hanya bisa diam, karena mereka tak tau harus berbuat apa.
"Sya, walaupun kakak tidak mengalaminya tapi kakak sangat mengerti bagaimana perasaan kamu Sya, tapi kakak juga tidak membenarkan langkah kamu untuk kabur dari rumah. kamu bisa lihat sendiri kan bagaimana khawatirnya abang kamu itu. belum lagi orang tua mu pasti lebih khawatir lagi Sya" nasihat Ayza yang masih memeluk Syasya sembari menepuk-nepuk bahunya.
"Mereka hanya memetingkan bisnis mereka saja kak, mana mungkin mereka mengkhawatirkanku" sanggah Syasya yang sangat hafal dengan kesibukan kedua orang tuanya itu.
"Sya, gak ada orang tua yang tidak mengkhawatirkan anaknya, apalagi tau anaknya pergi dari rumah pula" ujar Amel ikut berbicara.
"Tapi ka... "
"Sya, gue yakin orang tua lo sekarang sedang menyesal dan menyalahkan diri mereka sendiri, jangan egois Sya fikirin baik-baik jangan sampai lo nyesel" sela Dara yang ikut menasihati Syasya
"Sudah sekarang kamu istirahat saja jangan difikirkan dulu Sya. kami hanya ingin kamu mengambil keputusan yang benar, benar kata Dara jangan sampai kamu menyesal nantinya" ucap Ayza kembali
Syasya hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Arsenio kini sedang duduk di meja makan menunggu anak-anaknya berkumpul untuk sarapan bersama. tak lama Ayza dan Amel pun turun dengan pakaian seperti biasanya mereka kekampus.
"Morning Ayah" sapa Ayza yang langsung mencium pipi Arsenio
"Morming bunda" Ayza mempelakukan bundanya sama seperti yang ia lakukan tadi kepada Ayahnya.
"Pagi om, tante" sapa Amel ramah lalu duduk bersebelahan dengan Ayza.
__ADS_1
"Pagi juga sayang" jawab Arsenio dan Sonia.
"Mana Dara Ay?" tanya Arsenio
"Sebentar lagi juga turun Ayah" jawabnya yang masih sibuk mengambil makanan diatas meja.
Benar saja, Dara dan Syasya kini sedang menuruni anak tangga di mansion itu.
"Selamat pagi bunda selamat Ayah" sapa Dara yang baru saja turun bersama Syasya.
"Hei, pagi bayinya Ayah"
"Ayah... Dara udah gede yah" Dara langsung cemberut karena dirinya dipanggil bayi.
"Lah memang kamu bayinya ayah sama bunda" goda Arsenio
"Bunda lihat Ayah sangat menyebalkan" adu Dara pada Sonia.
"Beruntung sekali lo Dara, lo dikasih keluarga yang sangat hangat seperti ini, gak kayak gue butuh banyak cara agar diperhatikan kelurga sendiri" batin Syasya sambil terus melihat kearah keluarga sahabatnya itu.
Amel yang melihat wajah Syasya terlihat sedih pun lalu menyikut Ayza dan memberi kode agar Ayza melihat kearah Syasya. Setelah itu ia paham harus berbuat apa.
Dengan segera ia menendang kaki Dara pelan dari bawah meja. Dara yang merasa kakinya ada yang menendang pun langsung menoleh kearah Ayza yang sudah menatapnya lekat. ia sangat tau apa maksud dari tatapan kakaknya itu.
__ADS_1
"Emm.... bunda nanti Dara mau ngomong tapi nanti ya setelah makan" bisik Dara pada Sonia
Bunda hanya menjawabnya dengan anggukan dan mereka memulai acara sarapan mereka.