Idola Kampus

Idola Kampus
Eps 95


__ADS_3

Usai itu, ia kembali lagi kedalam kamar dan dilihatnya Ayza yang sudah tertidur pulas karena kelelahan akibat ulah suaminya itu.


"Istriku, yuk makan dulu" Albian mencoba membangunkan Ayza dengan lembut.


"Emmm... iya hubby, tapi aku ingin mandi dulu" Ayza pun berusaha berdiri meski rasa kantuk dan nyeri


"Aaaww... " ringis Ayza yang merasakan sakit di area sensitifnya.


"Kenapa sayang? apakah sakit sekali?" tanya Albian cemas.


Ayza hanya mengangguk menanggapi pertanyaan suaminya itu.


"Istriku maafkan aku, mari aku bantu ke kamar mandi tapi sebelumnya aku akan menyiapkan air hangat dulu untukmu" Albian segera berlalu menuju kamar mandi.


"Tidak perlu hubby, tidak masalah untukku jika harus menggunakan air dingin" ujar Ayza sedikit kencang karena Albian sudah berada di dalam kamar mandi.


Albian pun sudah keluar kembali dan tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh mungil Ayza.


"Aaaa... Hubby tutup matanya" pekik Ayza yang merasa malu karena ia kini tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Kenapa sih istriku? aku sudah melihatnya dan merasakannya. lagi pula kalau aku menutup mata bagaimana aku bisa jalan ke kamar mandi, kamu mau kepentok pentok dinding?" goda Albian yang kini sudah menggendong tubuh mungil istrinya itu.


Ayza pun langsung menunduk tak berani menatap Albian lagi. Sedangkan Albian hanya bisa tersenyum-senyum sendiri kala melihat tato yang ia buat sudah memenuhi tubuh Ayza yang putih mulus.


Albian menurunkan tubuh Ayza dengan perlahan ke dalam bathub.


"Kenapa kamu ikutan masuk?" tanya Ayza ketika Albian langsung ikut masuk kedalam bathub.


"Mau mandi bersama istriku dong" jawabnya santai.


"Hemm,,, cukup mandi saja tanpa kegiatan lain" pasrah Ayza karena ia sudah sangat lelah walau hanya untuk sekedar berdebat.


Usai ritual mandi bersama itu, mereka pun bersiap untuk turun kebawah menuju meja makan. disana sudah ada dua Art yang dengan sabarnya berdiri menunggu tuan rumah mereka turun.


"Kenapa nona muda di gendong? perasaan tadi sore masih baik-baik saja" batin mbak-mbak art disana.


"Mari mbak, bu makan bersama kami" ajak Ayza yang sudah di dudukan di kursi oleh Albian.

__ADS_1


"Maaf nona kami disini saja" tolak kedua art itu secara halus. mereka tidak enak hati jika harus makan bersama kedua majikannya itu, ditambah lagi mereka masih berfikir jika majikan mereka galak.


"Hubby" Ayza langsung memberikan Kode pada Albian.


"Huft... duduklah kalian berdua, kita makan bersama saja" titah Albian.


Dengan ragu-ragu mareka pun menuruti titah majikannya, akhirnya mereka duduk berseberangan dengan Ayza dan Albian yang duduk di tengah sebagai kepala keluarga.


Mereka semua pada akhirnya makan bersama dengan hening tanpa percakapan seperti yang biasa dilakukan Albian saat makan bersama keluarganya, tak ada percakapan yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu.


"Terimakasih tuan, nona" ucap mereka berdua setelah menyelasaikan makan mereka. Albian dan Ayza pun hanya membalasnya dengan anggukan.


....


Keesokan harinya...


Hari berikutnya mereka pun sudah bersiap untuk jalan-jalan untuk mencicipi Pane Carasau, roti khas Sardinia. italia.


Mereka menikmati setiap langkah berdua, bergandengan tangan dan saling menatap sesekali. sungguh pasangan yang serasi, membuat setiap pasang mata yang mereka lewati merasa iri.



"Hubby, I'm verry happy because of you" ungkap Ayza.


"Is it true my wife?" tanya Albian


"Yes hubby" jawabnya sembari tersenyum manis.


Setelah lama mereka berkeliling di kepulauan sardinia, Albian dan Ayza pun kembali ke villa mereka.


"Ini mbak tadi sebelum pulang kami membeli pane carasau , silahkan dimakan bersama yang lainnya" ujar Ayza seraya tersenyum.


Hingga Art itu pun melongo karena baru pertama kali ini majikannya itu tersenyum.


"Sungguh nona muda benar-benar sangat cantik" kagum Art itu


"Berapa lama kamu akan menganga begitu? apa mau sampai lebah masuk kemulutmu hingga mulutmu kesengat" cetus Albian

__ADS_1


"Hubby" tegur Ayza langsung mencubit pinggang Albian pelan.


"Hei cepat ambil, tangan istriku bisa lelah"


"Ba... baik, maaf nona.. dan terimakasih banyak tuan dan nona muda" Jawab Art itu terbatah dan sedikit membungkuk tanda hormatnya.


Semenjak dari situ, mereka merubah pendapat mereka pada majikannya itu. mereka akhirnya tau jika nonanya orang yang baik, tak secuek kelihatannya. bahkan mereka semua terpesona dengan kecantikan Ayza yang natural.


...***...


Dua hari sudah mereka berada di Sardinia, italia. di hari ketiga ini mereka memilih untuk pergi ke Sassari.


Sassari ini salah satu kota kuno di Sardinia. Kota yang kaya seni, budaya, dan sejarah, dan terkenal dengan palazzi-nya dan arsitektur neoklasiknya yang elegan. Selain di museum, seni, budaya, dan sejarahnya bisa dilihat pada bangunan-bangunan yang ada seperti istana, gereja, dan taman.


"Waahhh hubby, kota ini sangat cantik, aku sangat menyukainya" puji Ayza yang tatapannya tak lepas dari pemandangan di sekitarnya.


"Syukurlah jika kamu menyukainya istriku" Albian langsung melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Ayza kemudian mereka melanjutkan berkeliling di Sassari.


Mereka terlihat sangat senang, sesekali mereka mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan berfoto ria. hingga mereka pun mampir di sebuah resto untuk makan siang. tanpa mereka sadari, di tempat itu ternyata ada Nadya. (Nadya yang dulu di buat bangkrut dan di ungsikan ke sebuah pulau terpencil).


Nadya yang tak sengaja melihat Albian dan Ayza pun merasa geram. kini mereka adalah musuh bagi Nadya dan keluarganya. namun entah mengapa perasaannya terhadap Albian masih sama, ia selalu berfikir ini semua terjadi karena Ayza. Albian tidak akan melakukan itu jika bukan karena Ayza yang menghasutnya.


"Mi, apa yang kamu lihat?" tanya seorang pria berkepala pelontos yang sedang bersama Nadya.


"Ini saatnya gue membalas dendam kepada Ayza, suami bodoh ini pasti akan mengabulkan apapun permintaan gue" batin Nadya sembari tersenyum tipis.


"Pi, mami gak suka sama wanita yang ada disana. karena dia lah yang membuat keluarga ku bangkrut dan dia juga yang membuang kami ke pulau tak berpenghuni itu. kalau saja papi tidak datang kepulau itu mungkin mami tidak akan bisa hidup... hikss" ujar Nadya dengan tangis buayanya.


"Jadi, wanita licik itu yang sudah membuat mami menderita? kurang ajar... tak akan papi biarkan" kesal pria tua berkepala pelontos itu.


"Haha... kena lo. dasar tua bangka bodoh" cacinya dalam hati.


"Hikks... papi bunuh saja dia pi, mami tidak ingin melihatnya hidup senang seperti itu" Nadya masih menangis manja di pelukan suaminya.


"Mami tenang saja, papi akan menyuruh orang untuk membunuh wanita licik itu" ucapnya seraya menahan amarahnya.


"Yasudah lebih baik kita pergi saja dari sini, mami pasti sudah sangat muak melihat wanita itu kan?" ujar pria itu lalu dibalas anggukan dari Nadya.

__ADS_1


Mereka pun langsung meninggalkan resto tersebut, Nadya sungguh tidak sabar melihat hancurnya Ayza dan juga Albian. setelah ia melihat Ayza mati, ia akan berusaha menjadikan Albian sebagai suaminya kelak.


__ADS_2