
Senin sore berita tentang krisis global semakin menjadi. Berita tentang negara negara yang menyatakan krisis pun semakin banyak. Banyak perusahaan mulai mempersiapkan diri menghadapi krisis yang pasti akan berimbas pada negara ini.
Andre super sibuk karena harus berhadapan dengan investor asing yang sementara menahan modal mereka. sedang Perusahaan Sarah belum terkena imbas langsung karena mereka hanya perusahaan kecil yang melayani perusahaan perusahaan besar.
Seperti perjanjian mereka, meski disela kesibukan mereka saling menghubungi di kala sempat. Sarah yang lebih dulu menghubungi Andre, karena dia tahu Andre akan sangat sibuk pada saat seperti ini, karena perusahaan kelas besar seperti Andre yang akan pertama kali mendapat imbas dari krisis yang melanda.
‘jangan lupa makan!’ pesan Sarah ketika siang
‘udah makan malam? Jangan minum kopi dulu! Kamu harus banyak istirahat kalo lagi gini’ pesan Sarah ketika malam
Ketika siang saat Andre menunggu makan siang, Sarah pasti menghubunginya sekedar bertanya kondisinya atau sekedar mengingatkan
Andre menghubungi Sarah ketika menunggu pesanan makan siang mereka.
“Kamu gak ’papa? Suara kamu kaya capek gitu!” tanya Sarah karena suara Andre terdengar begitu lelah
“lelah banget sih gak, Stress iya! Jadinya badan jadi gak semangat” jawabnya malas sambil memijat antara kedua matanya
“Aku ganggu ya?” tanya Sarah lagi
“Gak! Aku lagi nunggu makan”
Sarah terdiam.
“Halo?” Andre mengira hubungan telpon mereka terputus
“Hmm..” jawabnya bingung ingin mengatakan apa
“Kamu dah makan siang?” ucap Andre mencoba semangat
“udah, barusan!”
Assisten Andre yang berada di sana melirik, karena sepertinya Andre bukan berbicara pada Susan sang kekasih yang super sibuk di luar sana.
“Kamu makan dulu!” ucapnya ingin mengakhiri telpon
“Oke!” Andre pun menutup telpon
Setelah seminggu dihadapkan dengan gejolak dunia. Andre melupakan rumah yang mereka lihat pekan lalu. Sore jumat Sarah bingung ingin kemana, karena tidak mungkin ia akan kembali ke apartemen Andre.
‘sibuk?’ Sarah mengirim pesan
‘meeting’ jawab Andre
Sarah tidak mengirim pesan lagi
‘ada apa?’ tanya Andre lagi
‘aku malam ini nginap di hotel, ntar kalo tante tanya aku di rumah kamu dan kamu lagi di luar kota’ jelas Sarah
‘pulang aja!’ balas Andre
‘gak papa, aku nginap di hotel aja’ balasnya lagi
__ADS_1
Andre kembali fokus ke meeting
‘ntar supir ku suruh jemput!’ balasnya setelah beberapa waktu
‘jangan! Aku udah naik bis’ balasnya
‘kalo gitu ku suruh jemput di terminal’ jawabnya lagi
‘gak perlu!’ jawab Sarah
‘please, aku lagi meeting dan kamu nurut aja’ balas Andre
Sarah berpikir, mungkin lebih baik ia menuruti Andre, mungkin saat ini dia sedang stress dan tidak ingin menambah pelik masalahnya.
‘oke’ jawab Sarah tanpa banyak bicara
Saat turun dari bis, Sarah berjalan menuju tempat pasar kecil yang tak jauh dari sana. Ia membeli beberapa makanan untuk makan malam karena waktu terakhir ia di apartemen Andre, tidak ada makanan untuk makan malam. Saat ia membeli peralatan mandinya di minimarket ia membeli teh kamomil.
Sarah menunggu Andre mengirim kontak sang supir yang ia katakan akan menjemputnya, namun hingga lebih satu jam tidak ada pesan lagi dari Andre
Andre terlalu fokus ke meeting malam itu, hingga melupakan Sarah yang menunggu. Akhirnya Sarah kembali ke apartemen itu dengan menggunakan taksi. Ia memilih menunggu di lobi karena ia tidak mempunyai kunci apartemen Andre.
Saat meeting berakhir, ia melihat jam sudah menunjukan jam 09:15 malam. Andre baru mengingat Sarah yang dia minta menunggu supir. Ia pun bergegas menghubunginya.
“Sorry, aku lupa!” ucapnya tanpa nada rasa bersalah
“Its OK, aku udah di lobi kok!” jawab sarah juga tanpa merasa kesal
“Aku kirim kode kuncinya” Andre sambil berjalan kembali ke ruangannya
Pesan kode kunci masuk ke apartemen pun masuk. Sarah pun memasuki lagi tempat itu.
Apartemen terlihat sedikit berantakan dan kotor, mungkin karena penghuninya begitu sibuk pekan ini. Sarah meletakkan bawaannya di dapur dan membereskan tempat itu perlahan.
Ia kembali mengamati setiap foto foto yang disana, membersihkannya dari debu debu.
“terlahir kaya, cantik, pintar dan dicintai pangeran, kau wanita yang sangat beruntung Susan” ucapnya tersenyum memandang satu bingkai foto Andre dan Susan.
Sarah mengeluarkan soto yang ia beli, kuahnya sudah menjadi dingin karena terlalu lama. Ia tidak berani memanaskan makanan yang ia beli takut membuat tempat itu menjadi bau dan takut Andre tidak menyukai hal itu.
Sarah hanya bersikap selayaknya ‘dia’ seorang istri imitasi di rumah asli sang suami, posisi sebagai istri palsu yang tidak ingin menganggap tempat itu sebagai bagian dari dirinya. Bahkan setelah selesai mandi, ia pun kembali membersihkan kamar mandi milik Andre.
Andre kembali saat jam sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam. Ia meletakkan tas di meja kerjanya yang sudah rapi. Dan melihat sekitar yang terasa sangat nyaman. Andre menghela nafas lega. Terasa begitu nyaman pulang hari ini.
“Sar..” panggilnya mencari Sarah
Sarah keluar dari kamar mandi. Melihat Andre yang baru datang, Ia melihat jam.
“Wih.. jam segini baru pulang kamu!” Sarah menganggap pekerjaan Andre luar biasa
Mereka pun duduk di sofa.
“Krisis ini bikin aku kerja dua kali lipat” keluh Andre kembali memijat kepalanya
__ADS_1
“Di tempatku juga mulai ramai, tapi belum kena imbasnya sih”
“Udah makan?” menoleh ke Sarah sambil melepas kaos kaki
“Barusan!”
“Masa?” mengejek menganggap Sarah bohong
“aku gak nyium bau makanan” Andre berdiri meletakkan kaos kaki dan mengambil sendal rumah
“Udah ku beresin! Tadi beli dua porsi soto, ku pikir kamu di rumah..” jawab Sarah
Andre menoleh pada Sarah yang mengoles anti nyamuk pada kaki.
“Kok gak ada bau baunya?” Andre mencoba menemukan aroma soto yang Sarah katakan
“Tenang aja, tadi selesai makan langsung ku cuci” Sarah tersenyum melihat kelakuan Andre
“Gak kamu panasin ya?” Andre sedikit cerewet
“Iya, takut tempat kamu bau!” jelasnya menoleh senyum kecut
“Kamu!! ya wajar lah, lagian kalau masak ya baunya pasti ada” menanggapi santai dan kembali duduk
“Kadang ada orang yang gak suka tempatnya bau, kaya Daren.. dapurnya terpisah dari ruang utama, dia gak suka dengan rumah yang open konsep seperti ini, karena dia bilang kalau masak jadinya bau"
“Aku bukan Daren, aku biasa aja, jadi lain kali panasin aja.. aku gak keberatan” Andre menepuk bahu Sarah dan pergi ke kamar mandi
Sarah menyalakan tv, ia menonton berita yang saat itu masih seputar krisis.
Selesai mandi Andre sudah mengenakan baju santai. Ia mendekati Sarah yang memeluk bantal sofa dan terlihat sangat mengantuk. Namun suara kosong perut Andre membuat ia kembali membuka mata. Dan tertawa mendengarnya
“Kamu belum makan malam?” tanya Sarah di sela tawanya
“Tadi Cuma ngemil saat meeting” Andre menanggapi dengan cengengesan
“Mau ku panasin soto tadi?” tanya Sarah dengan ekspresi menggiurkan di depan Andre
“Dasar tukang ejek!” mengucek rambut puncak kepala Sarah
“kalo di depan mama aja diem dia” ucapnya lagi membalas Sarah
Sarah berdiri dan menuju kulkas. Ia mengeluarkan satu porsi soto untuk ia panaskan. Akhirnya Andre makan dengan lahap.
“Ada untungnya istri di rumah, gak kelaparan aku malam ini” ucapnya selesai makan sambil mengelus perut kenyang
Sarah mengambil mangkok yang sudah selesai dan langsung mencucinya. Andre hanya menatap punggung Sarah dengan suara percikan air, entah apa yang ada di benaknya, ada sesuatu yang berbeda saat ia menatapnya malam ini. namun dapat ia pastikan perasaan itu bukan perasaan cinta.
“Aku ngantuk, aku duluan.. dah gak kuat” Sarah menunjukkan kantuk yang tak terkira menuju sofa
“Ntar aku nyusul” ucap Andre
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Terima kasih buat kakak kakak yang udah dukung novel ini!
moga gak bosan bosan ya.. hehehe