
Mata Andre terasa panas menatap Sarah yang memohon padanya. hatinya begitu sakit melihat wanita yang begitu ia cintai meratapi nasibnya.
“jika tidak ingin dia ku ambil! Maka hiduplah denganku” ucap Andre menatap tajam Sarah.
“kamu jahat, kamu pembohong, kamu penipu!” ucap Sarah kesal
“Sarah! aku mencintai kamu... aku mohon percayalah” ucap Andre
“bohong!” jawab Sarah
“harus dengan apa aku membuktikannya? Apa kurang perhatianku selama ini menunjukkan sebesar apa aku mencintai kamu?” ucap Andre lagi
“aku tidak percaya, kamu hanya bersandiwara” ucapnya lagi
“AKU BILANG AKU MENCINTAI KAMU!!!” teriak Andre kesal pada penolakan Sarah
Dalam seketika, Sarah tersengal, ia seperti tak bisa menarik nafasnya setelah diteriaki Andre seperti itu. nafasnya memendek, matanya mengabur
“sayang! Sayang!” suara panik Andre memegang Bahu Sarah yang limbung. Ia semakin lemah
Perlahan pandangan itu menggelap. Sarah tak sadarkan diri!
“Sarah! Sarah!” Andre menahan tubuh bersandar padanya.
“sayang! Bangun.. maafin aku!” ucapnya terus menepuk pipi Sarah. tapi dia tetap memejamkan matanya
Andre merangkum tubuh Sarah kedalam gendongannya. Ia membawa Sarah ke rumah sakit.
“sayang aku mohon kamu gak papa” ucapnya terus menyetir dengan cepat.
Sarah ditangani langsung oleh dokter spesialis. Andre menunggu cemas di luar ruang penanganan. Andre begitu panik dan berkali kali menghembuskan nafasnya.
Ya Allah, aku mohon jaga istri dan anak ku! Ucap Andre dalam doanya
Pintu terbuka, Andre langsung menyambar sang dokter
“gimana istri dan anak saya dok?” tanyanya langsung
“mari pak ikut saya” ucapnya membimbing Andre menuju ruangannya.
Setelah duduk bersama
“dokter tolong katakan kondisi istri saya” ucap Andre tak sabaran
“sebelum saya menjelaskan, saya ingin bertanya terlebih dahulu” ucapnya
Andre menghela nafas
“apa istri anda bekerja?”
“iya!”
“apa pekerjaan itu membuat ia begitu stress?” tanya dokter lagi
“kalau itu saya kurang mengetahuinya” jawab Andre
“istri anda mengalami stress berat, kita bersyukur janinnya kuat dan masih sehat, tapi hal ini tidak bisa kita biarkan!” ucap Sang dokter
Andre tertunduk. Ia menyadari stressnya Sarah bukan karena pekerjaannya, tapi karena masalah mereka.
“mungkin anda kurang mengerti, wanita hamil sangat sensitif, emosinya naik turun, dan tak bisa terbaca, saya harap Anda mampu membantunya lebih nyaman” beritahu sang dokter.
Setelah dokter menjelaskan semua tentang kondisi Sarah, Andre kembali pada Sarah yang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Memasuki ruang ruang rawat inap sang istri, hati Andre terasa teriris. Rasa sesal menyelimuti seluruh hati dan jiwanya. Teriakannya yang membuat Sarah kini terbaring disana.
“maafin aku sayang..” ucap Andre duduk disamping Sarah. Genggaman tangannya erat seakan ingin membuat
Sarah menyatu dengannya.
Suara ketukan pintu terdengar, seorang perawat masuk membawa beberapa obat untuk Sarah.
__ADS_1
“kenapa istri saya belum bangun sus?” tanyanya
“sepertinya nyonya merasa nyaman dengan tidurnya pak! Cobalah mengajaknya bicara” jawab sang perawat
“terima kasih sus”
“sama sama pak” jawab sang perawat
Andre terus menunggu mata itu terbuka. Ia menatap wajah yang kini tak terlalu pucat lagi.
“sayang maafin aku.. aku hanya takut kamu tidak mempercayai ku dan terus meminta kita berpisah” gumamnya
“aku hanya ingin meyakinkan kamu kalau aku benar benar mencintaimu” ucapnya lagi
“tak ada sedikitpun niat ku ingin menyakitimu sayang” ucap Andre dengan sedih.
Malam menyelimuti bumi. Perawat kembali datang mengganti infus Sarah yang hampir habis. Mereka memberikan obat melalui injeksi karena Sarah tak kunjung bangun.
“Pak, ini makan malam nyonya kalau udah bangun!” perawat meletakkan makanan.
“terima kasih!” ucap Andre tak semangat.
Raut wajahnya sangat terlihat begitu sedih. Ia seperti orang putus asa. Perawat tersebut pun meninggalkannya.
“sayang bangunlah!” bujuk Andre memohon. ia terus menggenggam tangan itu dan menciumnya.
“sayang maafin aku! Aku mohon bangunlah!” pintanya lagi mengecup kening sang istri yang terpejam dengan damainya.
Sesaat jemari Sarah pada tangan yang lain bergerak. Ia tersadar, namun Andre yang menunduk menggenggam tangan yang lain tak menyadari.
Suara pintu terdengar kembali terbuka. Sarah kembali memejamkan mata.
“mah!” ucap Andre melihat Nensi yang memasuki ruangan itu.
“astaga! Apa Sarah baik baik aja? Apa cucu mamah baik baik aja?” tanyanya panik memberondong Andre dengan pertanyaan sembari mendekati Sarah yang terbaring nyaman.
“mamah tau dari mana?” tanya Andre
“astaga kakek!” Andre mengeluh, ternyata orang tua itu sudah mengetahuinya.
“gimana kondisinya Ndre?” tanya Nensi membelai puncak kepala Sarah lembut.
Hati Sarah meringis, ia menyukai ibu mertuanya yang sangat menyayanginya. Selalu berkomunikasi dengannya dengan baik selama ini. Selalu perhatian. Ia merasa kembali memiliki seorang ibu. Tapi.. Bagaimana dengan si Kakek yang berkuasa?
“dokter bilang dia nyaman dengan tidurnya mah” ucap Andre sedih
“maksudnya? Sarah gak bakalan bangun?” ucapnya panik
“bukan gitu, tapi dokter bilang dia masih nyaman seperti itu” ucap Andre
“mah.. tolong bilang ke Sarah, Andre sangat mencintainya” ucapnya sedih menunduk
“memangnya kenapa? kenapa harus bilang gitu?” Nensi mencoba mencari tahu
“tadi Andre bertengkar dengannya, Sarah tidak percaya Andre mencintainya” ucap Andre
Andre tak mungkin menceritakan jika Sarah menggugat cerai dirinya.
“Astaga, kamu kenapa gak mengalah Andre?? wanita hamil itu sangat sensitif, kamu salah bicara saja dia akan salah paham, kamu kalau gak bisa mengerti kondisi wanita hamil jangan buntingin istrimu!!!” ucap ibunya emosi
“bukan gitu mah!” Andre bingung
"kalau bukan gitu terus apa? ini buktinya Sarah terbaring disini, ini gara gara kamu! TAU??" Nensi semakin emosi
“mah!” ucap Sarah perlahan membuka matanya, ia tak kuat mendengar omelan sang mertua pada Andre
“sayang! Kamu sadar!” Andre menghambur memeluknya, ia menangis terharu. Akhirnya cintanya membuka mata.
Perlahan Sarah mendorong tubuh Andre.
“sayang maafin aku!” ucap Andre lagi menggenggam tangannya dan mencium kening Sarah
__ADS_1
Sarah menarik tangannya. Ia masih tak percaya dengan Andre.
“mah.. maafin Sarah” ucap Sarah lemah pada sang mertua.
Ia tak melirik Andre sedikit pun. Nensi menyadari dinginnya sang menantu pada anaknya.
“maaf untuk apa sayang?” Sarah mendekat dan menggenggam erat tangannya.
“Sarah minta maaf mah... Sarah tidak bisa menjadi menantu mamah yang baik” ucapnya menangis
“sudah sudah sayang.. jangan sedih, kamu tidak boleh sedih” ucap Nensi menggenggam erat tangan Sarah.
“kamu menantu mamah yang baik, kamu perhatian sama mamah dan papah, oh ya.. papah mungkin nanti menyusul” ucap Nensi
“terima kasih mah, terima kasih.. maaf bikin mamah khawatir, Sarah selalu ngerepotin mamah” ucapnya
“gak kok! Mamah senang mamah bisa disini” ucapnya lagi
“mah... sebenarnya...” Sarah mulai serius menatap Nensi
“sayang sudah!” tahan Andre
Nensi menoleh pada Andre dan curiga
Andre menekan tombol panggil dokter
“sayang, ini ada makan malam dari rumah sakit, atau kamu ingin yang lain?” tanya Andre mengalihkan pembicaraan mereka.
Sarah menghela nafas. Kecurigaan Nensi semakin menjadi.
“sayang! Apa ada yang kamu sembunyikan dari mamah?” tanya Nensi
“mah! biarkan Sarah makan dulu! Dia belum makan dari siang” ucap Andre menahan
“Andre apa yang kamu sembunyikan? Kenapa Sarah kamu larang bicara?” Nensi mulai menaikkan nada bicaranya.
“bukan gitu mah!” Andre kembali mengelak.
Tim dokter memasuki ruangan. Mereka bertiga pun kembali hening. Setelah melakukan pemeriksaan, mereka menjelaskan beberapa hal pada Sarah dan Andre, kemudian mereka kembali meninggalkan ruang VVIP tersebut.
Andre kembali duduk di tepi tempat tidur Sarah, sedang mata Sarah tak sedetik pun menatap Andre. hatinya seperti membeku.
Video rekaman Andre yang bercinta dengan Susan begitu berat ia hapus saat Andre mengatakan ia mencintanya dan ucapan Susan tentang siapa dirinya yang miskin membuat Sarah semakin berkecil hati. Penghinaan dulu yang ia terima dari Gio meninggalkan trauma kepercayaan diri padanya. perasaan ia tak pernah pantas atau diterima orang lain selalu membayanginya.
Semua itu membuat Sarah hampir tak mampu memiliki apapun untuk bersama Andre.
“Sarah akan bercerai dengan Andre mah!” ucap Sarah memecah kesunyian sekaligus meledakan sebuah bom
di ruangan tersebut. Bom yang langsung menghantam kedua manusia tersebut.
Andre seolah mendapat serangan Jantung ketika ucapan itu tertangkap rungunya, sedang Nensi mematung membeku tak percaya dengan apa yang ia dengar.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Alhamdulillah bisa double up hari ini setelah pulang dari rumah sakit!
Maafin ya kak.. kemarin janji mau crazy up justru tertunda ke hari ini..
Bentar lagi novelnya akan tamat mungkin kak! karena terlalu sepi pembaca
Mungkin benar apa yang kakak semua katakan, konfliknya terlalu panjang
Salah saya yang seharusnya tak menulis novel yang menceritakan konflik hati pasangan ini..
Mohon maaf karena membuat ketidak nyamanan selama ini..
terima kasih buat kakak semua yang sudah mendukung hingga kembali membuat saya menyelesaikan novel ke 3 saya..
Salam & love you
H_A
__ADS_1