
Andre menyalakan lampu tengah apartemen itu, hingga terlihat jelas wajah Susan yang syok melihatnya dengan posisi berada diatas seorang lelaki yang memegang kedua benda kenyal dadanya.
“Andre???” tatap Susan pada sosok Andre yang berdiri membeku dengan geraham mengantup keras menahan amarah.
Andre terpaku melihat Susan yang tidak senonoh. Ia berpaling dan ingin meninggalkan tempat itu.
Susan mengejarnya meski tubuhnya tanpa mengenakan apapun. Tapi Andre terburu menutup pintu dan pergi meninggalkan tempat maksiat tersebut.
“Andre tunggu!!!” teriakannya terdengar dari dalam
Tapi Andre telah memasuki lift. Ia sangat kecewa dengan apa yang dia lihat, dia marah, kecewa, emosi, bingung, panas, entahlah! Semua seperti menjadi satu dalam pikiran dan dadanya.
Ia berjalan dengan rasa seperti terbakar, namun sebuah bayangan senyuman membuatnya bingung, mengapa rasa marah itu berbeda ketika ia mendengar Sarah mengatakan mencintai Daren?
Ada perasaan lain di balik semua itu. Andre seolah menemukan pembenaran atas perasaan bersalahnya pada Sarah selama ia pergi ingin bersama Susan.
Andre pun menuju hotel. Rasanya ia tidak ingin menemui Susan lagi selamanya. Tapi entah mengapa meski marah melihat perilaku Susan, ia justru tertidur pulas malam itu. apa mungkin karena terlalu lelah diperjalanan? Mungkin. Yang pasti ia terlelap dengan mimpi justru bersama Sarah dan Fino.
Susan pun menghubungi Andre pagi itu. Ia mengirim pesan jika ia meminta maaf. Dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Andre hanya membaca pesan pesan Susan. Melihat pesannya yang tak dihiraukan, Susan terus menghubunginya.
Karena tidak tahan lagi dengan gangguan Susan, Andre akhirnya memutuskan untuk menemui Susan, ia mengajak makan siang bersama. Andre ingin menyelesaikan masalah mereka, Ia ingin bicara dan berniat mengakhiri hubungannya dengan lantang, meski tanpa terucap pun, hubungan itu memang telah berakhir tadi malam.
‘tunggu aku di resto xxx nanti siang’ tulis pesan itu
Andre meminta Susan menemuinya di resto hotel itu. Namun Susan bersikeras ingin menemuinya di kamar, tapi Andre menolak.
Susan ingin merayu Andre agar Andre tidak lagi marah padanya. tapi sayangnya, kali ini Andre tidak bisa memaafkan perbuatannya.
Sarah menunggu sambil menikmati secangkir cappucino. Andre datang dan duduk begitu saja. Tidak ada ciuman ataupun pelukan kerinduan pada Susan seperti yang biasa mereka lakukan.
“Dre...!” Susan menatapnya seakan memelas
Andre menatap Susan seperti tatapan biasa seseorang yang baru bertemu. Tidak ada tatapan kehangantan cinta padanya. Tatapan itu begitu datar bahkan Andre memindai tubuh Susan seakan menjijikkan baginya.
“Kita makan dulu!” ucapnya dingin
Susan hanya mengiyakan, ia tak berani mengatakan protesan, atau apapun. ia hanya menjadi penurut saat ini.
Mereka pun makan siang, Meski semua rasa itu tak terasa di lidah Susan. Matanya terus membaca sikap Andre yang seakan sangat tenang dan sangat menikmati hidangan yang ia santap.
__ADS_1
“Dre! Katakan sesuatu!” Ucapnya setelah melihat Andre terus diam
“Kamu ingin aku mengatakan apa?” jawabnya dingin dan kaku
Sarah meraih tangan Andre di meja. Tapi Andre menariknya.
“Aku minta maaf. Aku mabuk!” kilahnya
“Jadi ini yang terjadi kalo aku datang tanpa memberitahu?” tatapannya menggambarkan kemarahan
“Gak.. aku gak pernah kaya tadi malam, aku bener bener mabuk dan membayangkan itu kamu!” Susan terus berkilah
“Aku gak bisa nerusin ini san!” ucap Andre semakin dingin
“Dre..?” Ucapan Susan lirih memelas
“Kamu gak perlu khawatir, biaya belajar dan hidup kamu disini tetap ku tanggung, sampai kamu wisuda dan pulang” jelasnya menatap Sarah tanpa adanya sedikitpun perasaan di dalamnya
Susan menganga mendengar kata kata Andre. kengerian mulai membayanginya, bukan karena diputuskan olehnya, tapi pemberhentian finasial dari Andre yang akan membuatnya seperti mahasiswa miskin di negeri orang, itu juga akan membuatnya menjadi mahasiswa biasa yang tak akan di anggap oleh teman temannya lagi.
Selama ini Susan mengatakan jika ia putri dari seorang pengusaha di negara asalnya. Dengan kemampuan finansial yang di dukung Andre, Susan membuktikan jika omongannya sesuai sebagai putri salah satu orang terkaya di negaranya.
“Aku udah gak bisa San! Aku gak bisa memaafkan pengkhianatan kamu di depan mataku sendiri” tegasnya
"Pleeaseee! aku di jebak! aku mabuk!” berbisik menangis, ia terlihat begitu sedih
“Aku berharap kamu bisa berubah. Demi kebaikan kamu!” Andre menelan ludahnya menahan dirinya yang kecewa
“Aku akan berubah... aku janji .. aku gak akan mabuk lagi... Pleeeaseee maafin aku yang!” pinta Susan di tengah tangisnya
Hanya kata kata maaf dan permohonan yang mampu ia keluarkan.
Andre meminta bill pada pelayan. Dan memberikan kartunya. Sang pelayan pun kembali setelah selesai pembayaran. Andre pergi meninggalkan Susan disana tanpa peduli Susan ingin tetap disana atau pergi. Susan mengikutinya yang ingin kembali ke kamar. Namun Andre menahannya.
“Jangan permalukan diri kamu lagi san! perilaku kamu tadi malam sudah cukup memalukan,tak perlu kamu tunjukkan seperti apa diri kamu, aku sudah cukup tahu!” Ucapnya dengan nada dingin
Susan tidak mampu mengatakan apa apa lagi saat Andre mengatakan itu. Kata kata itu seakan menjadi hinaan baginya, dimana ia di mata Andre selama ini adalah perempuan yang Andre puja.
Andre kembali ke kamar dan memesan ulang penerbangannya. Tiga hari yang seharusnya ia habiskan bersama Susan kini telah terbatalkan. Saat ini ia akan berada disana hanya tinggal hitungan jam saja
__ADS_1
Andre berjalan sebentar ke pusat perbelanjaan. Saat melewati sebuah toko dengan brand terkenal ia pun memasukinya, Ia membeli sebuah tas branded untuk Sarah. Ia menatap tas itu tersenyum, berharap sang istri akan senang menerimanya.
Andre justru seperti bahagia dengan kejadian Susan. Emosi dan kemarahan akan pengkhianatan Susan seolah menjadi penenang bagi perasaannya yang kacau akhir akhir ini. Kejadian itu seakan sebuah akhir pemikirannya yang terbagi. Ia bersyukur dan memutuskan untuk kembali pada Sarah.
Andre sangat antusias untuk pulang. Susan terus mengirim pesan sedih ke Andre. Tapi dia mengacuhkannya. Saat transit di Singapura, Andre menghubungi Danu untuk meminta foto yang dulu dia ambil ketika ia dan Sarah menggendong Fino bersama.
Ting!
Suara pesan masuk, foto mereka bertiga terlihat di papan pesan Andre. Seperti keluarga bahagia sempurna dengan satu putra.
“So cuet!” ucap seseorang tak sengaja melihat foto pada pesan yang Andre buka.
“My family” ucapnya bangga dengan senyuman bahagia
“You must be missed them!” ucapnya lagi
“So much!” Andre tersenyum sangat bahagia
Panggilan pun terdengar. Andre terus menatap foto itu dengan senyuman, tak ada lelah sedikitpun terasa di badannya. Ia tiba di indonesia saat senja. Sunset yang indah seakan menggambarkan kebahagiaannya.
Detak jantung tak beraturan menggambarkan gugupnya seorang pecinta yang ingin menemui kekasihnya. Membuat senyum Andre terus mengambang menuju arah keluar Bandara.
Pak budi menunggunya dan mengambil cover, Andre memasuki mobil. Ia mampir sebentar di toko bunga membeli satu kuntum bunga mawar merah untuk Sarah. Ia ingin memberi kejutan pada istrinya.
“Bisa minta tolong bawa tas saya ke dalam pak?” pinta Andre bergegas keluar dari mobilnya
“Baik pak!” Pak Budi mengambil tas dari bagasi
Andre langsung berlari masuk ke rumah.
Sarah sedang mencuci piring kotornya, ia baru saja selesai makan malam. Ia masih mengenakan handuk di kepala untuk mengeringkan rambut. Sarah tidak mendengar suara pintu di buka karena suara air cuciannya.
Tiba tiba Andre mendekat dan langsung memeluknya dari belakang! Sarah pun sontak dikejutkan dengan sekuntum bunga mawar merah di depannya.
“Ahh!!” sarah menjatuhkan sendok ke washtafel
“aku pulang!” ucap Andre dengan nafas yang terasa hangat di telinga Sarah.
“Dre?” Sarah ingin melepaskan tangan Andre karena merasa janggal dengan kejadian itu, tapi...
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~