
Disaat pagi mulai menyentuh bumi. Cuaca dingin membuatnya malas beranjak, selimut yang hangat membuatnya nyaman, namun saat dia membuka mata, dia berbantalkan lengan dan memeluk suaminya. Sarah mencoba mengangkat tangannya melepaskan pelukannya pada Andre yang masih tertidur pulas. Saat mulai melepaskan diri, Andre justru menariknya lagi.
“Bentar lagi, aku masih ngantuk!” kini ia memeluk erat Sarah
Sarah pun menahan dirinya. Tubuhnya terasa panas karena otot Andre yang memeluknya erat terasa berbeda. Detak jantung Sarah memompa, menahan rasa gugup karena pelukan itu menggambarkan hubungan mereka sebagai suami istri. Karena saat ini mereka sedang tidak bersandiwara di depan siapapun.
Nit Nit Nit .. Nit Nit Nit
Suara dering telepon Sarah memaksa Andre untuk melepaskan pelukannya.
“lanjutkan tidur kamu!” ucap Sarah beranjak mengambil ponselnya yang berada di nakas. Ia duduk mejuntai membelakangi Andre yang masih terlelap.
“hem! Hem! Hem!” hanya itu yang Sarah ucapkan saat menerima telponnya.
Sarah kembali menunduk saat panggilan itu berakhir, diam membeku memegang ponsel yang kini ia pegang dengan kedua tangan yang masih ia pangku
Kabar bahwa peninjauan kembali kasus project lama disetujui pengadilan. Perusahaannya pun kembali harus ditutup.
Sarah yang masih duduk disana pun menunduk dan menutup wajahnya merasa tidak percaya. Ia berkali kali menghela nafas berat hingga membuat Andre tersadar jika ada sesuatu yang sedang Sarah hadapi. Andre yang masih berbaring menatap Sarah yang sedih saat itu.
“Ada apa?” ucapnya bangun dan memegang bahu Sarah
“Kacau! Semua semakin kacau!” keluhnya menunduk
“Ada apa sar? Apanya yang kacau?” ia mendekat pada Sarah
“Kami baru saja berpesta tapi sekarang semua harus ditutup. Peninjauan kembali disetujui, dan kita harus ditutup lagi!” Sarah memegang kepalanya
Andre menarik Sarah ke dalam pelukannya
“Tenanglah.. semua akan baik baik aja! Ada aku!” ucapanya mengusap lembut bahu Sarah
“Aku masih gak ‘papa! Tapi teman teman yang kasian, kemarin kemarin Luna datang mengeluhkan tunggakannya, Dian, Sari, Buyung! Aku dan tim bekerja ekstra selama sepuluh hari ini agar kami cepat kembali beroperasi, tapi sekarang .. !” Keluh Sarah sedih
“Sssttttt...” Andre terus mencoba menenangkan dan memeluk lebih erat agar Sarah tidak terlalu sedih
Sarah pun menangis, ini pertama kali Andre melihat Sarah menangis! Ternyata dia salah menilai Sarah yang cuek dengannya selama sepuluh hari ini. Bukan karena lelaki tadi malam, tapi karena dia terlalu sibuk memperjuangkan nasib teman temannya yang tidak seberuntung dirinya.
Andre terus menenangkan Sarah. Sarah pun menghela nafas, ia kini harus lebih tegar. Ia melepaskan pelukan Andre dan pergi ke kamar mandi. Sarah bercermin dan melihat dirinya. Pikirannya kini hanya perusahaan dan kelangsungannya. Dia lupa kehidupan pernikahan palsunya.
Saat keluar kamar mandi, Sarah menatap Andre yang sibuk dengan ponsel miliknya.
“Kamu gak kerja?” tanya Sarah yang sudah mengganti pakaiannya
“Gak!” Menoleh ke Sarah yang sudah terlihat segar meski wajahnya sembab
“Project baru udah dapat solusi?” Sarah masih menanyakan kondisi Andre
“Hmmm..” Geleng Andre
“tapi ada kemajuan!” Lanjutnya
Sarah mengambil ponsel miliknya dan tas yang ia letakkan di samping tempat tidur. Andre menahan tangannya
“Mau kemana?”
__ADS_1
“Pulang!” Ucapnya melepaskan tangan Andre
“Biar ku antar!”
“Kamu tunggu disini aja, aku Cuma ngambil tas, kita pulang ke rumah!” jelasnya
Andre tersenyum mendengar itu.
akhirnya.. ! benak Andre girang seakan bersorak dan berdansa menyukai kata kata itu.
“Gak pengen nginep disini lagi ya?” Godanya
Sarah memukul bahunya seakan menolak manja, Andre pun tertawa. Mereka pun pulang bersama. Sarah banyak diam karena terus memikirkan rekan rekannya yang harus berhadapan dengan kondisi mereka sekarang.
“Mungkin tuhan sudah mengatur semuanya, di saat aku seperti ini, aku seperti memiliki tempat untuk pulang!” ucapnya masih menatap keluar jendela mobil
Andre mendengar itu menoleh ke Sarah. Mungkin pikiran Sarah saat ini hanya masalah yang melanda. Sarah pun menghela nafas dan Andre kembali fokus menyetir ke arah depan.
“Aku akan selalu disisi kamu!” ucapnya pelan
Sarah pun menatap Andre, karena meskipun pelan, kata kata Andre masih dapat ia dengar dengan jelas.
“Aku masih penasaran soal tadi malam, seingatku kamu tidur di sofa!” menatap Andre curiga
Andre hanya melirik sekilas ke Sarah mengingat tadi malam
“Kamu pikir aku tega liat kamu meringkuk kedinginan gitu tanpa selimut?” Jawab Andre tanpa melihat Sarah
Sarah memicingkan kedua matanya masih berpikir curiga
Sarah mengingat kembali saat bangun memang tangannyalah yang memeluk tubuh Andre. Dia mencoba mengingat kembali kata kedinginan yang Andre sebut, tapi ia tak bisa mengingat apapun. Mungkin karena tidurnya terlalu pulas.
Wajah Sarah memerah karena merasa malu mendengar kelakuannya pada Andre. Padahal yang terjadi malam itu. Saat dengkuran Sarah membuat Andre terbangun, dia mendatangi Sarah, perlahan naik dan dia mengangkat kepala Sarah dan menaruhnya di lengannya. Dia pun memeluk Sarah tertidur bersama. Beruntung saat subuh Sarah memeluknya karena menganggap Andre sebagai guling. Andre pun tersenyum mengingat itu.
Saat tiba di rumah, Andre terus mencoba melucu agar Sarah tidak memikirkan masalahnya. Ia berusaha agar Sarah tidak memikirkan permasalahan di perusahaan itu.
“Aku punya kejutan buat kamu!” ucapnya membuka kunci rumah mereka.
Saat dia memasuki ruang tengah, terlihat dapur baru yang terang berwarna putih dengan meja ditengah. Lengkap dengan peralatan dan oven besar yang masih terlihat sangat baru.
Sarah seakan kagum dan tak mampu menutup mulutnya melihat dapur impian yang ia inginkan.
“Waaahhh... kapan kamu ..?” ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena rasa kagumnya
Ia membuang tas begitu saja di sofa dan mendekati dapur mereka yang memang terlihat lebih sempurna
Sarah terus mengelilingi dapur barunya yang super lengkap. Menyentuh setiap detailnya, membuka lemari yang terisi lengkap dengan semua peralatan yang ia butuhkan
Andre mendekati Sarah
“Kamu suka?” pertanyaan itu terdengar seperti membanggakan dirinya yang berhasil membuat Sarah senang
Sarah mengangguk berkali kali dengan senyum yang terus mengambang tanpa bisa ia akhiri.
“Suka banget!” ucapnya terus tersenyum lebar dan mengangguk
__ADS_1
Sarah berbalik ingin menunjukan betapa senangnya dia ke Andre, tapi Andre terlalu dekat dengannya hingga justru jatuh kepelukan Andre. Kini wajah mereka pun menjadi sangat dekat. Bergegas Sarah melepaskan diri dan merasa canggung.
“Sorry.. aku terlalu senang” ia pun pura pura membuka lemari lemari disana
“Kamu boleh peluk aku kok!” Andre justru membuka kedua tangan meminta dipeluk dan tersenyum lebar menanti Sarah mendekapnya.
“Pasal 7a tidak boleh melakukan kontak fisik kecuali hal hal tertentu yang disebutkan di pasal sebelumnya!” Sarah menyebut salah satu pasal kontrak mereka
Andre tertawa mendengar Sarah membacakan itu.
“Seharusnya kita menuliskan aturan konsekuensi pasal tersebut jika dilanggar!” Andre ikut melihat lihat dapur tersebut
“Maksudnya?” Sarah melirik cemberut
“Kan tadi malam kamu peluk aku?” ucapnya menggoda Sarah
“Awu ah!” Sarah membuka laci yang ternyata berisi bermacam pisau
“Kamu gak mau bunuh aku kan?” Andre ikut melihat laci yang Sarah buka dengan wajah takut.
Mereka pun tertawa bersama!
Malam itu Danu dan istrinya mengundang Sarah ke rumah mereka karena mengadakan pesta kecil untuk ultah anak mereka yang pertama. Sarah pun meminta Andre pulang lebih awal dan mampir di toko anak anak untuk membeli hadiah kecil untuk fino.
Mereka pun tampak serasi dengan kombinasi setelah berwarna biru muda. Andre tampak tampan dan Sarah terlihat sangat manis.
Saat Sarah keluar kamar, Andre yang bersandar pada pintu kamarnya pun terpesona karena Sarah terlihat lebih cantik di matanya. Dia pun tersenyum tipis melihat penampilan Sarah yang baginya begitu sempurna untuknya. Sarah pun melihat Andre yang menatapnya
“Kadonya kamu taruh mana tadi?” tanya Sarah tak menanggapi pandangan Andre padanya yang melekat
Andre menunjukan kado yang dia letakan di atas meja. Mereka pun pergi menuju rumah Danu. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, Andre memperhatikan setiap langkah Sarah berjalan.
“hati hati” ucapnya
“lebay!” jawab Sarah tertawa
Ingin rasanya Andre memperlambat langkahnya agar tak segera sampai di rumah Danu. Berjalan bersama menyusuri jalan hitam di sela temaram lampu jalanan terasa begitu romantis baginya, melebihi makan malamnya dulu saat makan malam di sebuah resto dengan menatap menara Eifel di Paris.
Saat memasuki rumah Danu, hiasan balon dan pernik anak anak menghiasi ruang tamu mereka. Sarah dan Andre pun diminta memakai topi khas ulang tahun. Sarah menggendong Fino saat Danu dan istrinya menyiapkan makanan dan camilan. Andre memotret Sarah dengan ponselnya. Dia tampak cocok sebagai seorang ibu.
“Awas kalo kirim ke mamah ya!!” ancamnya pada Andre yang beberapa kali memotretnya
“Tenang aja” wajahnya terlihat sangat senang
Danu yang datang membawa minuman menyuruh Andre berfoto dengan Fino. Andre pun melakukannya.
“Coba loe di belakang Sarah ndre!” Danu meminta agar Andre berpindah tempat
Andre pun ke belakang Sarah dan memeluknya dari belakang, Fino yang digendong tampak tertawa. Foto itu pun sangat sempurna, senyum Andre dan Sarah seakan menampakkan kebahagiaan luar biasa. Baru beberapa foto diambil oleh Danu, tiba tiba ponsel Andre berdering karena panggilan masuk.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1