
“sayang..” Andre mendekat ingin merengkuh tubuh Sarah ke dalam pelukannya.
Namun tangan itu ditepis kasar oleh Sarah
“jangan menyentuhku!” ucapnya dengan lirikan mematikan pada Andre dan suara yang sangat dingin dan meninggi.
“sayang semua tidak seperti yang kamu lihat!” Andre terus mencoba mendekati Sarah
Sarah mencoba menahan nafasnya, meredam semua emosi yang muncul di pikiran dan hatinya.
“aku kesini Cuma mengantar makan siang kamu, jadi.. aku akan pergi” ucapnya tanpa menatap Andre sedetik pun.
Bergegas Andre merengkuh tubuh itu dalam pelukannya. Apa yang sebelumnya Susan lakukan, kini ia lakukan pada Sarah. Memeluk wanita tersebut dari belakang
Sarah berintak dan mencoba melepaskan diri.
“aku tidak sudi dipeluk olehmu yang bekas wanita lain” tolaknya melepas kasar tangan Andre yang melingkar di dadanya.
“nikmati makan siangmu mas! Bekerjalah, lain kali aku tidak akan mengganggu lagi” perkataan dingin itu keluar dari bibir lembut istrinya
“sayang! Aku gak akan bisa bekerja, kita pulang aja!” ucapnya beranjak menuju gantungan tempat jasnya berada
“aku akan pulang sendiri! Terserah jika kamu mau pulang atau bekerja” ucap Sarah beranjak keluar kantor Andre dan memegang perutnya yang terasa nyeri.
Andre belum sempat menjawab, tapi Sarah telah menghilang di balik pintu.
Sarah memberi tahu Pak Midun jika dia menuju lantai bawah.
Mungkin ini adalah jebakan susan tapi tetap saja sakit itu luar biasa menyesakkan dadanya. Ia berusaha menahan semua, nafasnya memendek terus mencoba menahan desakan matanya yang kini memanas.
Menahan tangis semakin membuatnya sesak. Putranya di dalam kandungan seperti ikut merasakan sakit sang bunda.
“ah..” Sarah meringis menahan nyeri pada perutnya.
Sedang Andre menunggu lift seperti cacing kepanasan. Ia takut Sarah pergi tanpa penjelasan olehnya.
Sarah berdiri tak sabar menunggu pak Midun. Saat ia memasuki mobil, tepat ketika Andre keluar dari lift. Andre berusaha mengejar Sarah, namun mobil itu telah meluncur meninggalkan gedung itu.
Mobil baru berjalan beberapa meter, isak tangis Sarah terdengar jelas dari kursi kemudi, membuat pak midun melirik dari spion.
“hiks hiks hiks” suara tangis itu seakan tertahan, namun terdengar jelas begitu nyakitkan.
Sarah sudah tak mampu menahan air matanya. Kepercayaan itu kini retak oleh pemandangan yang tak bisa ia lupakan.
“ahh..” rasa nyeri itu kembali melanda.
"maaf... ibu baik baik saja?" tanya Pak Midun bingung ingin bertanya
“pak.. kita ke rumah sakit!” jawab Sarah
“apa yang sakit bu?” tanya Pak Midun merasa panik dan menoleh padanya
__ADS_1
“antar saya ke rumah sakit biasanya, saya perlu cek up hari ini” ucapnya menahan rasa sakit
“baik bu baik!” jawab Pak Midun melajukan mobil mereka.
Suara dering telpon Sarah terus bersuara nyaring, tak henti henti sejak ia meninggalkan gedung tempat suaminya bekerja. Hingga akhirnya ia mematikan ponsel itu karena merasa terlalu terganggu.
Andre semakin panik karena Sarah mematikan ponselnya. Ia pun menghubungi rumah dan menanyakan supir yang mengantar Sarah.
Andre melajukan mobilnya menuju rumah mereka, namun saat tiba di rumah, Andre tak mendapati sang istrinya berada disana.
“mah! Sarah mana?” tanya Andre tak menemukan keberadaan Sarah
“lho.. Sarah kan ke kantor kamu Ndre!” jawab ibunya
“tadi dia pulang mah... addduhhh.. dimana kamu sayang?” keluh Andre panik mengusap wajahnya kasar sembari memandangi ponsel yang ia pegang
“ada apa? Kalian ribut?” tanya Nensi curiga
Andre terdiam, tak berani menceritakan apa yang terjadi. Karena jika Nensi mengetahuinya, dia pasti akan mendapat pukulan dari ibunya.
“Tadi Sarah pulang duluan mah” jawabnya canggung berlari ke kamar mereka
Pasti terjadi sesuatu! Benak Nensi menatap Andre dengan kening menyatu.
Andre menghubungi Pak Midun.
“ibu di rumah sakit pak! Tadi perut ibu sakit dan minta di antar ke rumah sakit yang biasa ibu periksa” jelas Pak Midun
Dalam sedetik keringan Andre membanjir, perasaan bersalah, panik dan khawatir menjadi satu dalam dadanya
“iya pak, sekarang ibu masih di dalam” jelas Pak Midun yang membantu Sarah menuju ruang UGD.
Andre mematikan ponselnya berlari keluar.
“Andre!!!” panggil ibunya menahan langkahnya
“Sarah di rumah sakit mah! Andre kesana sekarang” ucapnya dengan cepat meninggalkan Nensi yang masih mematung mencerna informasi yang terbaca seakan kengerian akan terjadi.
“cucuku!” gumamnya menatap Andre yang telah menghilang
Suara deru mobil Andre dengan cepat keluar dari pekarangan rumah mereka. Ia memacu laju mobilnya, takut dan cemas menjadi satu. Jika terjadi sesuatu pada Sarah dan putranya, maka ia tak akan pernah memaafkan dirinya.
“sayang.. bertahanlah..” gumamnya melalui padatnya lalu lintas siang itu.
Di rumah sakit
Sarah masih terbaring di atas brankar setelah mendapat penanganan dari dokter. Matanya menerawang menatap langit langit kamar yang tampak terang.
“sebaiknya ibu jangan terlalu stress, karena itu akan sangat berpengaruh pada bayi dalam kandungan ibu” saran dokter padanya saat membaca mata Sarah yang memerah dan sembab karena tangisan.
Sedang Sarah hanya tersenyum menanggapinya dan berdalih jika ia menangis karena rasanya nyeri yang ia derita.
__ADS_1
Sarah kembali menghela nafas melupakan kejadian memalukan tersebut. Ia masih fokus menatap langit langit hingga akhirnya mata itu tertutup dan terlelap dalam kenyamannya sendiri.
Kontraksi yang ia alami hanya kontraksi palsu, tapi untuk memastikan kondisi Sarah, dokter akan melakukan observasi terhadapnya dalam dua jam ke depan, mengingat kontraksi yang Sarah alami melebihi dari kontraksi palsu normal seperti biasanya.
Nafas Andre terengah memasuki ruang UGD, ia melihat jelas lelaki paruh baya yang mengantar istrinya.
“dimana istri saya pak?” tanyanya panik
“di dalam pak, tadi dokter mencari bapak!” jelasnya
“saya akan menemui dokter dulu pak” Andre beranjak
Gestur tubuhnya terlihat jelas jika saat ini lelaki itu dalam kondisi sangat panik, cemas dan takut. Ia seperti layang layang yang terbang tanpa benang. Menoleh kesana kemari dan bertanya dimana dokter yang menangani sang istri.
Setelah menemui dokter dan mendapat penjelasan, Andre memejamkan mata menghela nafasnya. Ia pun kini merasa tenang, karena dokter menjelaskan jika Sarah dan kandungannya sekarang dalam kondisi baik baik saja dan hanya melakukan observasi padanya.
Andre pun memasuki kamar observasi dengan perlahan. Terlihat perempuan yang sangat ia cintai terpejam dalam lelapnya.
“sayang..!” ucap Andre lirih mengambil tangan itu dan menggenggam.,Menghujaninya dengan kecupan kecupan.
Andre melupakan semua yang barusan terjadi, kini yang ada hanya ketenangan antara mereka berdua. Perasaan sedih menggelayuti dalam diri, melihat tubuh yang kini berbaring miring memeluk perutnya, wajah Sarah terlihat sembab pertanda ia banyak menangis sebelumnya.
Getar ponsel Andre membuyarkan semua lamunannya menatap sang istri.
“gimana Sarah?” tanya Nensi
“Cuma kontraksi palsu mah”
“huh.. syukurlah.. terus? Nginep atau gimana?”
“bentar lagi kami pulang, Sarah sedang istirahat sekarang” jelas Andre
“ya sudah kalau gitu.. nanti sore papah pulang, jadi mamah mau jemput di bandara, jadi mungkin nanti waktu kalian pulang mamah gak dirumah, gak papa ‘kan?” jelas ibunya yang akan bersiap diri menyambut sang suami tercinta
“iya mah, gak papa” jawab Andre lega.
Ia takut saat ia kembali ke rumah Sarah langsung mengadu pada ibunya dan hal itu akan membuat dirinya mendapat siksaan baru, ya! Pukulan dan jeweran Nensi memang tak bisa ia hindari saat ia berbuat salah.
Andre kembali duduk disamping brankar, menggenggam kembali tangan Sarah, mencium dan membelainya, terus menggenggam takut jika sosok itu kembali pergi.
“hhmmmm..” gumaman Sarah membuka perlahan terbangun. Ia merasakan tangannya yang di pegang erat oleh seseorang.
Perlahan mata itu terbuka dan samar suara panggilan sayang di tangkap oleh rungunya.
“kamu dah bangun? Masih sakit sayang?” tanya Andre kini berdiri dan wajah mereka begitu dekat.
Pandangan kedua mata saling melekat seerat penyatuan tangan mereka yang saling menggenggam.
Sarah menatapnya tanpa berkedip, lelaki itu tampak cemas dan berantakan. Namun tetap menghadirkan senyum menenangkan perasaannya.
Perlahan sudut bibir Sarah terangkat ingin mengulas sebuah senyum, namun memori menyakitkan itu kembali hadir hingga sudut bibir itu kembali mengerucut diiringi tubuhnya yang berbalik membelakangi Andre.
__ADS_1
“sayang...”
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~