
Setelah makan siang bersama, Sarah kembali ke bilik dan beristirahat.
“aku tinggal dulu ya..?” belai Andre pada puncak kepala sang istri dan kembali mendaratkan kecupan di dahinya.
“hem.. aku juga udah ngantuk banget” jawab Sarah kembali juga mencium pipi sang suami yang masih menunduk.
Andre merapikan selimut saat Sarah mulai memejamkan mata. Ia terpejam dalam senyum. Andre mampu membaca senyum kebahagiaan istrinya siang itu.
“apa sudah selesai?” suara bariton itu terdengar saat Andre perlahan menutup pintu.
“lho.. kakek?” tolehnya
“istrimu sudah tidur?” tanyanya
“sudah kek!”
“ayo! Dari tadi kamu ditungguin di meeting” ajaknya beranjak menuju keluar
Andre hanya tersenyum melihat wajah kakeknya yang tampak kewalahan menghadapi edisi ngidam istrinya dimana menuntut ia selalu ada untuknya.
Sarah tidur dengan pulas, kenyang dengan kedua konsumsinya membuat ia tidur dengan sangat nyaman. Hingga sore tiba dan mereka kembali ke mension utama.
*****
Berjalannya waktu, Andre akhirnya bisa kembali bekerja seperti biasa. Sarah juga sudah sangat jarang merengek dan bermanja. Ia hampir kembali menjadi Sarah yang semula, meski kadang masih memiliki keinginan yang unik dan kadang tak masuk akal.
Perhatian keluarga itu pada Sarah semakin meningkat. Mereka lebih posesif, lebih berhati hati. Sarah bahkan sekarang memiliki jadwal untuk senam hamil, konsultasi, pemeriksaan dan jadwal harian untuknya. Kamar mereka pun harus pindah ke lantai dasar karena khawatir jika ia harus naik turun tangga.
Pagi yang begitu dingin tak mengurangi semangat Sarah untuk berjalan pagi ini. Ya! Sekarang setiap pagi ia akan berjalan bersama Andre di sekitar komplek perumahan mewah mereka.
“terlalu dingin sayang!” Andre kembali merapatkan sweater sang istri
“segar kok mas” senyumnya
Tangan mereka saling bertaut berjalan perlahan menyusuri jalan yang memang masih belum disinari matahari.
Sesekali ia mengusap perut Sarah dan tersenyum.
“aku udah gak sabar mas ketemu putra kita” Sarah menunduk pada perutnya yang membuncit, mengusap dan merasakan tendangan kecil dari putranya
Andre berhenti dan sedikit membungkuk di depan Sarah.
“anak papah.. yang sehat ya disana! papah udah gak sabar ketemu kamu, tinggal dua bulan lagi ya sayang.. jangan bikin mamah repot ya..?” Andre mengusap lembut perut Sarah dan merasakan gerakan dari anaknya.
Andre mengangkat wajahnya menatap sang istri dengan senyum penuh kebahagiaan, namun senyumnya memudar saat melihat mata Sarah yang mengembun karena haru.
“kok nangis?” Andre berdiri kembali membelai pipi sang istri
“aku bahagia mas.. aku terharu.. ternyata kamu ..” ucapnya menunduk dan berakhir dengan tetesan air murni dari matanya.
Andre tersenyum. Ia senang mampu membahagiakan Sarah. Ia berharap tak ada lagi masalah dalam rumah tangga mereka.
“mulai sekarang.. yang akan kita rajuti hanya bahagia sayang” Andre mengangkat wajah Sarah dan memberi kecupan di sela kedua keningnya dan disambut dengan pejam mata Sarah yang merasakan ribuan bintang dalam dadanya yang menggambarkan betapa ia bahagia saat ini.
__ADS_1
------
Siang itu ia berdandan dengan cantik. Mengenakan dress yang berusaha menutup perut buncitnya. Kini kehamilannya telah memasuki usia tujuh bulan.
“mah.. hari ini Sarah ingin ke kantor mas Andre lagi” senyumnya meminta izin
“apa gak capek sar?” tanya mertuanya khawatir
“Cuma ngajak makan siang mah”
“makan siang apa kamu dimakan siang siang?” goda Nensi
Sarah tertawa mendengarnya. Mungkin kakek telah menceritakan ritual mereka setiap Sarah ke kantor Andre
“kali ini Cuma makan siang mah.. soalnya tadi pagi udah sarapan” kini Sarah tak lagi merasa malu mencoba mengimbangi sang mertua yang memang berbau absurb
Nensi tertawa lebar mendengar jawaban Sarah
“kamu mulai pandai bicara sekarang.. mamah suka” disela tawanya
Di kantor Andre
“Mbak.. apa benar resepsionis sebelumnya di pecat karena membuat nyonya menunggu di lobi?” tanya gadis berambut panjang tersebut.
“iya! Aku juga dapat SP karena kejadian itu” kenangnya
“emang salahnya apa mbak? Kan Cuma nunggu” tanyanya
“ooo..” gadis itu hanya mengangguk
“ku tinggal ke belakang ya.. hari ini aku minum obat diet ku” pamit sang teman
“ok mbak”
Tak berselang lama, sebuah mobil mewah memasuki pelataran gedung. Terlihat seorang wanita cantik turun dan berjalan menuju resepsionis.
“pak Andre ada?” tanyanya
“ada bu!” jawabnya tanpa bertanya
“ya sudah! Saya ke atas dulu ya” ucapnya ramah dengan senyuman yang elegan
Gadis resepsionis itu hanya menunduk hormat dan tersenyum
“ooo.. jadi itu istri pak Andre” gumamnya sendiri
Seperti biasa Sarah menyiapkan sendiri makan siang Andre. Ia pun sudah menuju kantornya.
Dalam perjalanan Sarah mencoba menghubungi Andre, ingin mengatakan jika ia sedang dalam perjalanan menuju kantornya, akan tetapi, panggilan itu tak pernah dijawab.
Sarah turun dengan perlahan karena membawa perut besarnya.
“saya akan antar ke atas bu” ucap Pak Midun saat membuka pintu untuk Sarah
__ADS_1
“tidak perlu pak.. terima kasih, kali ini saya akan naik sendiri saja” jawabnya
“tapi ini lumayan berat bu?” pak midun memberikan tas bekal ke tangan Sarah
“ah tidak pak.. saya masih bisa sendiri kok” senyumnya ramah
“baik bu.. kalau begitu saya akan ke parkiran” pamitnya
Sarah pun berjalan memasuki gedung tersebut, Ia mendapat tundukan hormat dari para security dan pegawai yang berjaga dan ia balas dengan senyuman.
Kali ini Sarah tak mampir lagi di resepsionis dan langsung menuju lift.
Suara lift terbuka terdengar jelas di telinga sang sekretaris dimana mejanya yang tak jauh dari sana.
“selamat siang!” sapa Sarah
“ibu?” perempuan itu berdiri tampak panik dan menoleh pada gagang pintu yang telihat tag menggantung.
Terus bapak sama siapa di dalam? Pikirnya
“kenapa? Bapak lagi meeting?” Sarah ikut menoleh pada tag tersebut
“ehmm.. itu .. iya bu” ucapnya gugup
Sarah mengerutkan keningnya melihat sikap sang sekretaris yang tampak canggung dan gugup.
“bapak sama siapa di dalam?” tanya Sarah curiga.
Ia meletakkan tas bekalnya di meja sekretaris. Ia pun mengambil ponsel dari dalam tasnya dan kembali mencoba menghubungi Andre. Namun, panggilan itu kembali tak dijawab.
“bapak meeting dengan siapa?” tanya Sarah semakin curiga
“eehhmm.. itu bu.. tadi saya kembali dari meeting belakangan dari bapak, ketika saya sampai disini pintu sudah diberi tanda itu, jadi saya pikir ibu yang di dalam” jawab sang sekretaris
“heh?” dada Sarah semakin turun naik mengikuti pikiran buruk dan prasangkanya.
Ia berjalan mendekati pintu dan mencoba menguping. Terdengar jelas suara perempuan terdengar dari dalam.
Sarah membulatkan mata, tak percaya jika Andre memberi tag itu dan bersama wanita.
"bukannya tag ini artinya ..." pikirannya seketika tak bisa lagi berpikir positif. Perlahan tangannya sedikit gemetar meraih gagang pintu.
Krak!
Suara pintu dibuka dengan cepat. Dan seketika pula Sarah merasa dihantam oleh ribuan jarum dalam dadanya saat matanya menatap pemandangan yang ada di depannya.
“Mas??” suara lirih keluar dari mulutnya
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Untuk kakak kakak yang cantik cantik dan ganteng ganteng... jangan lupa sentuh tanda jempolnya ya...
dan terima kasih banget jika mau sekedar memberi vote atau secangkir kopi untuk karya receh ini..
__ADS_1