
Sarah kembali mencuci mulutnya. Ia menatap dirinya di cermin.
Sayang! Bertahanlah bersama mamah, bertahanlah! Pintanya dalam hati pada sang anak sambil mengelus perut.
Ya Allah buat dia kuat! Benak Sarah terus menangis.
Suara hening pun terdengar dari dalam kamar mandi. Tidak ada suara air atau suara Sarah lagi.
“Sarah pleasee.. buka pintunya!” Andre terus mengetuk pintu
“Sarah buka pintunya sayang!” ibu Andre tak kalah khawatir.
Mendengar ada mertuanya disana. Sarah pun baru menyadari. Ia berada di dunia lain saat ini, dunia dimana ia harus menunjukan keindahan pada mereka.
Ceklek!
Sarah membuka pintu, matanya sembab karena menangis. Ia menunduk!
Sang mertua langsung merangkulnya
“Kamu gak papa sayang?” tanyanya penuh dengan kecemasan
Hembusan nafas lega Andre terdengar jelas. Namun Sarah kembali mengartikan lain.
Sarah memeluk mertuanya itu dan menangis.
“Saya ingin pulang mah! saya ingin pulang!” ucapnya dalam tangisannya
“Ssssttt.. iya, nanti kamu pulang! Nanti pulang kok!” menepuk punggung menantunya
Andre pun memejamkan mata menghilangkan cemasnya. Ia bernafas lega ketika melihat Sarah baik baik saja.
“mah.. saya gak ingin disini” ucapnya mengadu pada sang mertua.
“Ayo .. kita ke kamar mamah!” sang ibu mengajak menantunya
Sarah masih menangis. Andre mengikuti mereka. tapi sang ibu melarangnya. Ia pun turun berinisiatif meminta bubur untuk Sarah.
“bi.. bisa buatkan bubur? Istri saya kondisinya drop lagi” ucap Andre sedih dan khawatir.
“baik tuan muda” ucapnya
Mertuanya mengambil bubur dan minum jahe hangat yang dibawa Andre.
Sarah membuang wajahnya saat Andre memasuki kamar itu. ia masih terisak.
“makanlah! Perut kamu kosong” ucap Andre lembut.
Tapi Sarah masih diam dan hanya suara sisa isakan tangisnya yang terdengar.
“keluarlah, biar mamah yang temani Sarah” ucap Sang ibu yang mengerti
Andre sedih menatap sang istri, wajahnya sangat pucat. Seandainya bisa ia gantikan, ia ingin menerima sakit itu.
“mahh... maaf!” ucapnya masih menangis
Sang mertua hanya tersenyum
__ADS_1
“mamah tidak akan bertanya, Cuma mamah hanya minta, jangan siksa diri kamu sayang” ucapnya begitu lembut dan perhatian
“kita ke rumah sakit aja ya sayang?” bujuk sang mertua
Sarah menggeleng
“dokter bilang, penyebabnya stress mah.. jadi percuma, obatnya juga akan sama saja, berkali kali saya ke dokter, jawabannya pasti gitu” jelas Sarah
Hati Sarah sakit, ia merasa berdosa pada wanita yang kini begitu perhatian padanya. ia telah membohongi wanita ini.
“oo.. ya sudah... Sekarang makan buburnya yah..? sedikit aja.. buat ganti yang tadi keluar” senyumnya mengusap bahu Sarah yang duduk bersandar di sandaran ranjang.
Mertuanya mencoba menenangkan Sarah. Ia pun meninggalkan Sarah ketika Sarah memejamkan mata. Ia minta Sarah beristirahat di kamarnya. Ia pun keluar mendatangi putranya.
Andre yang masih berdiri bersandar di tembok samping pintu kamar sang ibu menoleh pada suara pintu yang terbuka.
“Kalian ribut gara gara Susan ‘kan?” tatap sang ibu dengan tatapan tajam pada putra satu satunya itu.
****! Mamah tau! benak Andre menatap ngeri pada ibunya.
Andre menoleh ke arah sang bunda yang duduk disampingnya.
“Kok mamah tau?”
“Mamah liat tadi malam kamu menarik Susan”
Andre menghela nafas berat. ia bingung bagaimana menceritakannya pada sang bunda
“Sebenarnya Bukan masalah Susan yang kami ributkan mah! masalah itu Sarah sudah mengerti, tapi keegoisan Sarah yang bikin kita ribut!”
“Cobalah mengalah dulu dengan Sarah ndre.. dia sedang sakit!”
“Coba bujuk dia pelan pelan mungkin dia bisa mengerti bagaimana kamu mengkhawatirkan dia, cinta kamu pasti bisa ia pahami!”
Andre hanya tersenyum kecut pada sang bunda. Ia menghela nafas singkat dan terdengar lelah.
Cintaku? Cinta yang sepertinya tak pernah Sarah rasakan! Benak Andre meratap
Suara ponsel Andre menghentikan obrolan mereka. Andre diminta ke kantor untuk mempersiapkan meeting pertamanya sebagai komisaris utama. Andre pun menutup ponselnya
“Mah... tolong bantu Andre! Bujuk Sarah untuk tinggal beberapa hari dan beristirahat disini!” Andre memegang tangan sang bunda dan meminta dengan penuh ketulusan dan kekhawatiran
Sang bunda hanya mengangguk meyakinkan putranya yang kini memiliki sinar mata penuh kekhawatiran pada sang istri.
Ia pun mempersiapkan diri untuk pergi, langkah Andre terhenti sejenak di depan pintu kamar orang tuanya dimana Sarah sekarang berada. Perlahan ia membuka pintu, terlihat Sarah yang kembali tidur dengan pulas.
Sesaat Andre melatakkan jasnya, ia duduk ditepi ranjang dan menatap wajah sang istri. Wajah Sarah terlihat pucat, matanya masih sembab.
“aku pergi bentar! Istirahatlah sayang!” ucapnya mengecup dahi Sarah pelan takut membangunkan cintanya yang terlihat begitu tenang.
Andre mengambil guling yang berada dibelakang Sarah, Ia meletakkan guling itu perlahan dibawah tangan Sarah, dan Sarah pun tergerak memeluknya.
“kamu gak pernah bisa tanpa guling!” senyum Andre membenahi rambut sang istri.
“kelak aku yang akan jadi guling kamu sayang!” ucap Andre tersenyum
Ia pun melangkah keluar.
__ADS_1
*
*
Sarah mengalah ketika sang mertua terus membujuknya untuk tinggal dulu dan membicarakan perlahan tentang keinginannya untuk pulang.
Setelah makan siang, Sang mertua seperti biasa akan tidur siang hingga membuat Sarah sendirian di rumah itu. Ia pun berpikir keluar dari ruang kamar yang ia rasa sangat sumpek.
Sarah memasuki ruang baca, ia mengambil salah satu buku untuk ia nikmati sambil bersantai. Sesaat Sarah
membaca disana, tapi setelah ia melihat keluar jendela, terlihat sebuah pohon begitu rindang di halaman belakang.
Ia berjalan dan mendapati sebuah gazebo begitu nyaman disana. Ia duduk sendiri di salah satu gazebo mansion di pojok halaman belakang rumah yang luas. Sarah menghirup udara, mencoba menghilangkan pikirannya. Ia menikmati udara sejuk disana. Gazebo yang berada dibawah rimbunnya pohon membuat Susana disana semakin nyaman.
Sarah membaca bukunya, buku tentang psikolgi anak dan ibu, ia tersenyum membaca setiap kata di buku tersebut.
Hati Sarah sedih saat membaca ketika wanita hamil sangat disarankan untuk tidak tertekan dan stress. Ia pun mengelus kembali perutnya yang terlihat masih rata.
Mamah mencintai kamu sayang! Maafin mamah ya.. mulai sekarang mamah hanya akan fokus ke kamu dan gak akan peduli dengan apapun lagi! Mamah janji! Senyumnya
Perlahan rasa jenuh ia rasakan, Sarah menopangkan kepalanya pada tangannya dan berbaring di bangku pinggiran gazebo. Ia menutup bukunya, Pikirannya kini hanya ingin menyelesaikan semuanya dan ingin pergi.
Ia kembali dihadapkan dengan pikiran yang kacau saat ia mengingat jika dia tak mempunyai tabungan lagi. Pikiran itu kembali sakit. Bagaimana nasib sang anak nantinya.
Sarah meletakkan tanganya di perut seakan memeluk anaknya.
Haruskah mamah menyerahkan kamu ke papah sayang? Biar masa depan kamu lebih baik?
Ahhh... tidak!! Kita akan berjuang bersama sayang, mamah akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu.
Sarah teringat dengan tunjangan yang Andre berikan. Mungkin mulai sekarang akan menyimpannya, meski hannya tersisa beberapa bulan, paling tidak ia memiliki sedikit uang disaat ia pergi
“Mamah akan berusaha keras sayang.. mamah janji! Mamah gak akan berpisah dari kamu!” bisiknya lagi
Lambat laun udara sejuk membuat mata Sarah terpejam, terlarut dalam mimpinya sendiri. mimpi yang membuatnya tersenyum, berjalan bersama seorang anak lelaki yang terus menatapnya dengan senyuman.
Sedang Andre harus melalui pertemuan panjang siang itu. Jam sudah menunjukan pukul 3:00 siang. Andre kembali teringat Sarah yang tadi ia tinggalkan di ruamh. Ia lupa menghubungi cintanya untuk menanyakan makan siangnya. Ia terlalu sibuk.
“bagaimana jadwal ku setelah ini?” tanyanya
Sang asisten pun mengatakan bahwa ia hanya memiliki jadwal padat mulai besok. Ia terus menghubungi Sarah. Namun tak ada jawaban darinya. Kecemasan tampak tergambar di raut wajahnya.
“Ada apa Ndre?” tanya sang kakek.
“Sarah gak ngangkat telpon Andre kek!”
“tidur siang paling” jawab kakeknya santai
Raut wajahnya semakin cemas ketika panggilan itu tak pernah terjawab.
Andre menghubungi sang ibu.
“Mah! Sarah dimana?” tanyanya langsung
“Tadi sih di kamar!” jawab sang ibu kemudian berjalan menuju kamar menantunya
“Saya telpon dari tadi dia gak ngangkat!”
__ADS_1
Sang ibu memasuki kamar dan ternyata Sarah tidak disana
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~