
Sarah pun tak bisa bicara lagi. Ia akhirnya menemui Andre yang berada di dalam mobilnya. Pak Budi pun tetap diluar menunggu mereka bicara, tapi saat Sarah memasuki mobil. Andre memanggil pak budi untuk meninggalkan tempat itu.
“Kita bicara disini aja!” Cegah Sarah tanpa menatap Andre
Sarah bukan tidak sudi menatap Andre, tapi ia takut tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk orang yang ia rindukan itu, tapi ia tahu, ia tidak berhak memilikinya.
“Kita bicara ditempat lain” tegas Andre
Pak Budi memasuki mobil dan berangkat. Saat berada di rest area dekat bukit, dimana terdapat tempat yang indah untuk berhenti sejenak dan melihat pemandangan malam yang indah, Andre meminta Pak Budi berhenti. Sarah keluar dari mobil.
Andre meminta Pak Budi membuka bagasi, ia mengambil buket bunga mawar merah yang besar.
“Aku minta maaf!” Ucap Andre seraya memberikan bunga pada Sarah
Sarah melihat bunga itu, Sarah mengambilnya. Ada senyum kecil di bibirnya sesaat, ia pun memberanikan menatap Andre sejenak. Wajah Lelaki itu terlihat lelah.
Sarah kembali mengalihkan pandangannya pada pemandangan malam di bukit itu karena tak kuat lama menatap wajah sedih itu. hatinya seakan teriris melihat wajah lelah Andre.
“Aku salah, aku janji gak akan mengulanginya lagi!” ucap Andre memecah kesunyian
Sarah masih diam, ia merasa sangat tidak nyaman dan sangat dingin disana. Karena Ia yang hanya menggunakan kaos dan celana kain tipis rumahan.
“Sar! Katakan sesuatu!” pintanya lembut
“Kamu maunya apa?” ucapnya pelan
“Aku ingin kita seperti dulu!” ucapnya meragu. Bukan karena takut, tapi ia tak sanggup mendengar jika Sarah kembali menolaknya.
Sarah menoleh pada Andre. Angin malam di bukit itu membuatnya semakin kedinginan. Beberapa kali Sarah mengangkat bahunya karena merasa dingin. Melihat itu Andre melepaskan jasnya dan meletakkan di bahu Sarah.
Andre mencium bau parfum Sarah yang lembut membuatnya memejamkan mata menahan dirinya yang begitu merindukan istrinya. ia berusaha menahan diri agar tak memeluk wanita kesayangannya yang kini berada di depannya.
“Lebih baik seperti ini! Toh kita bisa membuat sejuta alasan mengatakan pada orang orang kenapa kita saat ini tidak serumah!” ucapnya lemah dan berbalik menatap Andre
“Aku tau aku salah, aku dah bilang aku gak akan ngulanginnya lagi, aku mohon.. please kasih aku kesempatan” Andre meyakinkan Sarah
Kesempatan? Kesempatan apa? Benak Sarah
“tolong kembali” lanjut Andre
“Aku belum siap kembali!” jawab Sarah menunduk
“ok, mungkin kamu butuh waktu, Tapi paling gak, jangan block semua panggilan dari ku!” ucap Andre mengalah
Sarah hanya diam. Malam itu Sarah kembali ke tempatnya dan Andre pun begitu. Hasil pertemuan mereka hanya untuk menjalin komunikasi kembali. Andre belum berhasil membujuk Sarah kembali ke Rumah mereka.
Alasan ia tak ingin kembali karena Sarah benar benar tidak ingin larut dalam perasaannya. Ia harus menghapus perasaannya ke Andre karena ia tahu bahwa ia hanyalah seseorang yang akan berpisah dengannya kelak. Ia tidak ingin ketika itu justru ia akan sangat terpuruk dan jatuh.
Sarah menangis. Ia menyadari Ia menyayangi Andre sekarang. Hatinya teriris ketika melihat Andre yang kini terlihat agak kurusan dan terlihat semakin tak terurus dan kusut.
__ADS_1
“ya allah..dia suamiku tapi bukan suamiku” gumamnya dalam tangis merasakan pedih di dalam dadanya.
-------------
Senin pagi,
Tanpa sebab, pagi itu Sarah muntah muntah.
“Ada apa denganku?” Ia mencoba mengingat makan malam dan beberapa cemilan yang ia makan, seharusnya semua makanan itu tidak memicu maagnya. Mual itu semakin menyiksa dan kini kepalanya terasa berputar.
Sarah mencoba tetap berangkat kerja meski dengan kondisi yang kurang baik dan terus tersiksa dengan rasa mual yang luar biasa.
“Kamu baik baik aja sar?” tanya sang direktur melihat Sarah yang pucat dan beberapa kali mual di depannya.
“Saya baik baik aja pak! cuma maag saya lagi kumat” Sarah menahan mualnya
Sarah berpikir, mungkin stress akhir akhir ini yang memicu maagnya kumat. Ia mengambil obat penahan mual dan saat siang mual itu mulai berkurang. Alhasil membuatnya tak selera untuk makan siang.
Sekarang hari ke tiga kondisinya seperti itu. Sarah berencana ingin ke dokter sore itu. Tapi harus batal karena pihak penyelenggara tender meminta refisi akhir terkait akan diputuskannya vendor mana yang akan menjadi pemenang tender.
Karena proposal tender saat ini adalah pekerjaan Sarah yang pertama semenjak menjadi assisten disana, ia berharap tender itu bisa mereka menangkan.
Siang itu Pak Teo kembali meminta Andre untuk memutuskan vendor mana yang menang.
Mendengar itu Pak Teo terasa bisa bernafas lega.
*
*
Hingga jumat pagi, Sarah masih menghindari Andre, pesan Andre kembali tak ia balas.
'Sar.. cukup katakan kamu baik baik aja, biar aku tenang' Akhirnya pesan itu ia kirim. Namun seperti biasa, pesan itu hanya dibaca.
Siang itu Andre memutuskan untuk mendatangi salah satu vendor yang mengikuti tender mereka.
“Apa gak salah pak?” tanya sang asisten setelah mendengar Andre ingin mengunjungi salah satu perusahaan tersebut
Andre meminta Pak Budi untuk membawa salah satu mobil perusahaan dan seperti biasa ia akan ditemani Tora dan Pak Budi.
Pak Teo merasa mubazir karena di mobil Andre masih cukup untuknya. Tapi seperti perintah Andre, mereka pun berangkat menggunakan dua mobil.
Pihak Sarah menerima pesan jika Pak Teo akan berkunjung ke tempat mereka. ia pun sibuk mempersiapkan berkas yang akan mereka cek.
Saat Andre memasuki ruangan dan diikuti oleh Tora dan Pak Teo, Sang direktur seakan tidak percaya, CEO penyelenggara sendiri yang datang ke tempat mereka. ia pun merasa terhormat.
Seharusnya pertemuan itu hanya cukup dihadiri oleh direktur pengembang, dan itu pun seharusnya mereka yang datang ke perusahaan penyelenggara.
__ADS_1
Sarah masih sibuk memoto copy berkas yang akan mereka bicarakan, karena dia baru mendapat kabar jika utusan dari sana menjadi tiga orang. Ia terlalu sibuk hingga tidak menyadari Andre telah memasuki ruang meeting.
Sarah masuk menyerahkan berkas yang akan mereka periksa bersama. Ia merasa seperti tersengat ribuan watt listrik saat melihat Andre yang duduk santai disana.
Andre menatap Sarah lekat. Ia mengabaikan semua orang. matanya tertuju pada Sarah yang terlihat pucat.
Kamu sakit! Gumam benaknya sedih
Sarah seakan tidak mampu bernafas saat memberikan berkas berkas itu. ia sangat gugup. Andre mampu melihat perubahan wajah Sarah. Ia pun mampu memahami jika Sarah ingin diam. Andre kembali menatap Pak Teo dan memberi kode untuk diam tentang hubungan dia dan Sarah.
“Maaf sebelumnya mengganggu jam istirahatnya pak” Ucap Andre yang tiba disana saat jam istirahat
“Bapak bisa datang kapan saja” jawabnya tersenyum bangga di kunjungi orang sekelas Andre
“Suasana kantor bapak sangat nyaman. Saya sangat suka!” ucapan basa basi sebelum mereka membicarakan hal serius
Seaat ia melirik ke Sarah yang duduk berseberangan dengan Tora.
“Saya merasa sangat terhormat bapak berkunjung ke tempat kami yang kecil ini, dan merasa nyaman” jawabnya merendah
“Pak Teo! Silakan bicarakan masalah tender, boleh saya melihat lihat kantor ini pak?” tanyanya ke Direktur
“oh.. tentu pak!” jawabnya ikut berdiri dengan Andre yang siap ingin melihat lihat
“bapak tidak perlu ikut, bicarakan saja dengan Pak Teo, tolong asisten anda saja yang menemani saya melihat lihat” Andre menatap tajam pada Sarah.
Mata Sarah sedikit membola, Andre begitu nekat. Ia merasa ketakutan.
“baik pak! Sar! Tolong temani pak Andre melihat lihat kantor kita” ucapnya
“mari pak!” ucap Sarah mempersilakan Andre
Pak Teo melihat interaksi suami istri tersebut dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Sarah mempersilakan Andre keluar dengan sopan dan Andre pun mengikutinya seakan mereka berdua tak saling mengenal.
Saat mereka berjalan di koridor kantor yang terlihat kosong. Andre mulai tak mampu menahan dirinya.
“sekarang aku disini!” ucap Andre
“kenapa kamu harus kesini?” tanya Sarah dengan mulut setengah mengatup.
“Karena kamu terus mengabaikan ku! Aku jadinya harus ngelakuin ini!” jawabnya berbisik
“Please Ndre, aku baru kerja satu bulan disini! Aku gak mau kena masalah!” pinta Sarah memohon
“Sekarang kamu pilih, sore ini pulang bareng aku atau aku akan ngomong ke direktur kamu kalau kamu istriku!” Ancam Andre menahan lengan bahu Sarah dengan tatapan begitu tajam menggambarkan keseriusan ancamannya
“huek!” Sarah mual
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1