Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Berbedanya istriku


__ADS_3

Kebersaman mereka dalam beberapa minggu ini membuat Andre menjadi betah dirumah, Sarah sering membuat camilan camilan yang semakin hari semakin Andre sukai.


Beberapa kali Sarah membuat kue gagal karena peralatan dapur mereka yang seadanya. Namun Andre masih memberi tanggapan positif.


Andre sekarang malah memilih pulang untuk makan siang bersama karena masakan Sarah lebih cocok di lidahnya dari pada makanan yang ia beli di luaran.


Sore itu tidak seperti biasanya. Andre pulang lebih awal. Ia bahkan diantar supir.


Sarah membuka pintu dan melihat Andre yang terlihat sangat lelah. Andre memberikan tasnya pada Sarah, hal itu seakan tidak biasa.


“Kepalaku sakit banget!” keluhnya berjalan mendekati ruang tengah


“Aku bikinin teh hangat dulu” ia membantu Andre duduk dan kemudian meninggalkan Andre


Tak lama datanglah Sarah membawa teh hangat untuk Andre. Andre langsung menyeruputnya.


“Awas panas!” melihat Andre meminum tehnya


Andre setengah membuka matanya menahan sakit kepala.


“Aku ambilin obat sakit kepala ya?” Sarah ingin beranjak pergi, Tapi Andre menahannya dan justru berbaring di pangkuan Sarah


“Dulu kamu pernah pijit kepalaku, enakan!” pintanya pada Sarah


Andre memejamkan mata saat Sarah mulai memijit kepalanya. Ia merasa nyaman dengan kemanjaannya pada Sarah akhir akhir ini. Andre pun terlihat tidak kesakitan lagi.


Perlahan Sarah memindahkan kepala Andre pada bantal sofa. Ia meninggalkan Andre yang tertidur pulas disana. Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.


Senja mulai menyelimuti hari. Andre masih terlelap dengan pulas. Sarah pun akhirnya membangunkan Andre, karena dia sudah tidur lebih dari satu jam.


“Dre!” Sarah memanggil pelan karena takut mengejutkan Andre yang mungkin akan memicu kembali sakit kepalanya.


“Dre... Andre.. “Sarah memanggil berkali kali baru Andre membuka mata. Ia benar benar tertidur pulas.


“Udah senja, bangun dulu!” pintanya duduk disamping Andre


Andre pun bangun dengan malas. Ia benar benar masih merasakan kantuk yang sangat berat.


“Masih sakit?” menanyakan kepalanya


Andre hanya menggeleng memegang kepalanya.


“Aku mandi dulu!” Andre beranjak ke kamar mandi

__ADS_1


Selesai makan malam, mereka pun ngobrol bersama di teras belakang.


“Apa yang membuat kamu begitu mengejar kerjaan kaya gini? Sarah penasaran karena dari posisi Andre seharusnya ia tidak perlu terlalu memforsir dirinya


“Pembuktian ke kakek, aku layak untuk menggantikannya”


“Apa kakek gak punya penerus lain?” tanyanya lagi


“Ada! Sepupuku, putra dari tanteku! Tapi kakek selalu ingin aku yang menggantikannya”


“Kakek gak punya anak laki laki ya?” tanya Sarah lagi


“Ada dua orang, satu om ku gak berminat di bisnis. Dia lebih mendedikasikan dirinya menjadi dokter di pedalaman membantu orang orang yang tidak mampu. Pekerjaannya itu dibiayai oleh yayasan milik mamah. Om yang satu lagi di bisnis tapi dari pernikahan tidak sah kakek. Sekarang menduduki perusahaan cabang sumatra”


“oo...”


“Kakek mengenal omku yang di Sumatra sebagai orang yang ingin menguasai. Itu sebabnya kakek menginginkan aku untuk menjadi penerusnya... tapi aku harus membuktikan ke dia aku mampu”


Sarah hanya mengangguk anggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan Andre


“Kamu sendiri?” tanya Andre


“Ya seperti profilku!” jawabnya singkat


“Maksudku kamu kerja untuk membuktikan apa?”


“Cita cita kecil?”


“Iya, pulang ke rumah ku sendiri” ucapnya tersenyum


Andre mempertanyakan maksud dari kata kata Sarah dengan tatapan.


“Iya, Cuma itu!” tegasnya


“Bukannya sekarang kamu pulang ke rumah kamu sendiri?” mengingatkan jika mereka memang sudah tinggal dirumah sendiri


“Bukan, sekarang masih numpang di rumah kamu” senyumnya


“Itu sih gampang Sar, rumah seperti ini tidak terlalu mahal” Andre memang memandang materi gampang ia dapatkan sedang Sarah harus memperjuangkannya


“Untuk kelas kamu mungkin iya, beda dengan perjalanan hidupku” Sarah menunduk melihat pada cangkir yang ia pegang


Sarah mengalihkan pandangannya ke pohon pohon yang tampak tak bergerak sama sekali.

__ADS_1


“Hidupku banyak ku habiskan untuk mencari sesuap nasi. Ku habiskan untuk membangun masa depan ku yang lebih baik. mungkin bagi kamu hal itu biasa. Tapi buatku itu sebuah perjuangan. Tidak semua orang seperti kamu Dre.. mendapat sesuatu hanya dengan jentikan jari. Aku harus bekerja keras untuk hidupku dan sekarang aku memiliki karir yang menjanjikan masa depan lebih baik untuk ku, tapi di saat melihat temanku yang lebih membutuhkan, aku lupa dengan ambisiku”


“Emang dia lebih perlu?”


“Bapaknya mengalami stroke, lumpuh gak bisa ngapa ngapain, dia harus bayar orang untuk menjaganya waktu siang, membayar pengobatan, belum lagi ... “ Sarah tak mampu lagi melanjutkan ceritanya dan menghela nafas


“saat melihat pengumuman dia yang dirumahkan aku langsung kaget, memikirkan bagaimana dia menghadapinya...


bagiku masalahnya sangat berat, tapi dia seperti selalu tersenyum dan sabar”


Andre hanya menatap Sarah yg terlihat sangat sedih menceritakan temannya


“Dulu aku hampir gak pernah cuti karena selalu ingin menambah pundi pundi tabunganku. Agar aku bisa mengembalikan biaya hidupku yang dulu ditanggung tante dan terbebas dari aturan dia. Tapi setelah mengetahui temanku yang berjuang untuk orang tuanya, perjuanganku untuk diriku sendiri seperti sangat kecil seakan bukan apa apa dibandingnya” Menoleh ke Andre dengan seyum kecut


“Kalo kamu ingin menambah pundi pundi tabungan kamu, kenapa kamu kembalikan uang tunjangan yang kuberikan?”


Sarah kembali menatap pohon pohon di depan mereka


“Karena itu bukan hal yang seharusnya ku dapatkan!” jawabnya tegas


“Suami ngasih uang belanja istrinya kan wajar?”tanya Andre lagi


“Makanya bulan tadi ku kembalikan cuma sepuluh, karena sisanya buat belanja di rumah” jelas Sarah


“Jujur sar! aku gak suka kamu kembalikan uang itu. itu hak kamu!” tegasnya dengan serius


“Kita saling menguntungkan aja udah cukup. Aku gak mau membebani siapapun” jelas Sarah lagi


Andre terenyuh mendengar kata kata Sarah, ia tidak ingin menjadi bebannya padahal uang yang ia berikan sangat jauh dibanding kebutuhan Susan di Paris yang ia kirim setiap bulan.


“Aku merasa gak terbebani, nanti ku transfer semua dan jangan kamu kembalikan lagi!” suara Andre terdengar sangat tegas


Sarah berdiri ingin masuk


“Transfer ke yayasan mamah aja” Sarah beranjak meninggalkan Andre


Andre hanya menatap Sarah yang meninggalkan dia sendiri disana.


Sarah menceritakan hidupnya yang ingin menambah pundi pundi keuangannya tapi ia justru menolak pemberian Andre yang ia anggap bukan miliknya, sepertinya Sarah memang gadis baik yang tak tergiur dengan materi orang lain. Andre terdiam sendiri disana, ia seperti berpikir sesuatu yang berbeda.


Ia menatap langit yang dipenuhi bintang.


Hanya kamu yang seperti itu, kamu seperti om Ardi tak menyukai kekayaan, tak silau dengannya! Benak Andre membuatnya seolah tersenyum bangga memiliki istri seperti Sarah

__ADS_1


-------------------------


Kakak kakak yang cantik... Jangan lupa kasih dukungan buat yang nulis ya.. terima kasih 🙏


__ADS_2