Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Dua garis merah


__ADS_3

Sarah mencoba mengingat kembali, sejak terakhir berhubungan dengan Andre, ia belum mendapat datang bulan sama sekali.


Panas dingin mulai terasa di tubuhnya, diikuti detak jantung yang semakin cepat, Sarah mulai gugup, tubuhnya gemetar. Semua rasa seakan menyerang seketika saat ia baru mengingat, sudah 2 bulan ia tidak datang bulan.


Dalam Sesaat wajahnya memucat memikirkan hal yang tak seharusnya terjadi. Sesuatu yang tak bisa ia bayangkan jika hal itu memang terjadi.


HAMIL? Sebuah situasi yang tak mampu ia bayangkan masa depannya.


Sabar sabar Sarah! kita cek dulu kepastiannya! Benak Sarah menggumam mencoba menurunkan detak jantung yang meningkat dengan memejamkan mata dan mengatur nafasnya.


Pak Budi memperhatikan sang nyonya dari kaca spion. Ia mendengar jelas suara nafas Sarah yang tersengal.


“ibu baik baik saja?” tanya Pak Budi yang memperhatikan raut wajah Sarah yang semakin memutih.


Dadanya naik turun. Entah serangan apa yang melanda tubuhnya, namun serangan kepanikan jelas terlihat dari mata Pak Budi.


“bu Sarah? anda baik baik saja?” tanya Pak Budi lagi


Pak Budi akhirnya menepikan mobilnya.


Ia menoleh kebelakang melihat kondisi Sarah.


“Ibu baik baik saja?” tanya Pak Budi dengan suara lebih nyaring dan akhirnya membuyarkan kepanikan Sarah.


“ya.. saya baik baik saja pak” jawabnya yang seketika dilanda mual pada perutnya.


Sarah menyadari jika mobil mereka menepi dan bergegas membuka pintu mobil. Ia pun mengeluarkan semua sarapannya.


“apa kita perlu ke rumah sakit bu?” tanya Pak Budi lagi


“tidak pak!” jawabnya kembali menyandarkan diri dan menerima minuman dari Pak Budi.


Sarah meminta Pak Budi untuk mampir di salah satu apotek yang mereka lewati. Ia pun bergegas menuju toilet. Dan saat memeriksa garis tanda kehamilan, tampak dua garis merah terlihat. Seketika tubuh Sarah lemas. Rasa bahagia menyelimuti tubuhnya.


Ia mengusap perutnya diiringi air mata bahagia. Ia menjadi seorang ibu sekarang, ada makhluk kecil yang kini hadir di dalam rahimnya yang akan ia sebut anak. Rasa itu melambungkan semua rasa dalam tubuhnya.


Namun beberapa saat kemudian, hantaman perasaan kacau kembali datang.


Ayah? Ayah dari anaknya? Lelaki itu akan menjadi suami orang lain kelak. Apa yang akan terjadi? Apa yang

__ADS_1


akan ia hadapi? Bagaimana nasib anak yang dia kandung ini kelak?


Pemikiran itu kembali menghadirkan air mata. Jika sebelumnya air mata itu adalah wujud haru, rasa syukur dan kebahagiaan, kini air mata itu berganti rasa takut, khawatir, sedih dan kecemasan yang luar biasa.


Sarah memeluk erat perutnya seakan memeluk anak tersebut. rasa sakit seketika menggores dada hingga perutnya. pedih pada ulu hati yang selama ini ia gambarkan sebagai maag yang ia derita semakin menoreh dan diikuti berimbas pada pemikiran yang negatif


Aku harus gimana? Benak itu kembali bertanya. Isak tangis itu tak bisa ia tahan. Kini ia mengerti mengapa beberapa minggu ini dia begitu sensitif dan begitu cengeng.


Setelah puas dengan tangisnya. Sarah bercermin dan membenahi kembali riasannya. Ia menatap wajah dan melirik pada perutnya terlihat masih rata.


Dia anakku! Yang pasti dia anakku! Benak itu membuatnya kembali tersenyum


Mamah ada untukmu sayang! Batin Sarah mengusap perutnya dan senyum itu semakin lebar.


Setelah keluar dari tempat itu. Emosi berkecamuk dalam dadanya. kebingungan dan kebahagiaan datang silih berganti. Perasaan menjadi wanita sempurna yang kini menikmati menjadi seorang ibu membuatnya tersenyum, tapi bayangan masa depan begitu suram juga membuatnya merasa takut.


Sarah mengirim pesan ke Andre jika ia tidak pulang malam itu. Pak Budi yang menjemputnya pun ia minta untuk kembali sore itu karena ia akan menginap disana.


Sarah kembali mengingatkan Andre jika ia memiliki janji makan malam bersama rekan rekan kerjanya malam itu.


Tapi apa yang mengejutkan, Andre justru menjemput Sarah sendiri. Ia menunggu di depan tempat  kost Sarah hingga ia pulang dari makan malam mereka.


Rasa senang seketika mengalir di tubuhnya, perasaan itu hangat, Andre yang tadinya terasa lelah dan malas, kini tenaganya seakan terisi kembali.


Andre melihat kembali foto foto Sarah yang ada di ponselnya. ia tersenyum mengingat Sarah yang dulu makan pedas dan lari mencari susu di dalam kulkas. Andre Tersenyum melihat setiap foto foto yang memiliki banyak kenangan dalam setiap fotonya. Ia seakan kembali ke masa masa bahagia mereka saat ia belum sepenuhnya menyadari perasaannya pada Sarah.


Sarah berjalan dengan lelah melewati jalan menuju kostnya. Ia baru menyadari keberadaan mobil Andre yang menunggunya disana. Ia pun menghampiri.


Sarah memasuki mobil dengan malas. Ia sangat lelah malam itu. Namun yang ia suka, ketika memasuki mobil Andre. ia menyukai aroma itu. ia baru menyadari bahwa morning sicknya mungkin tertolong dengan oleh bau bauan dari aroma tubuh Andre. bau khas dari parfum dan keringat suaminya, ayah dari anak yang ia kandung.


“Capek..?” tanya Andre lembut pada Sarah yang bersandar lelah


“Hhmmm..” Sarah mengiyakan tanpa membuka matanya


Saat di perjalanan


“Aku kan dah bilang aku nginap disini!” Sarah memecah kesunyian diantara mereka saat mobil mulai meluncur menuju jalan keluar kota tersebut


“Istirahat dirumah akan lebih baik, disini berisik! Kamu perlu istirahat, kondisi kamu lagi kurang fit!” jelas Andre yang masih fokus pada jalan dan tanpa menoleh sedikitpun pada Sarah

__ADS_1


Sarah menoleh ke Andre dan menatapnya lama. Andre hanya merasakan tatapan Sarah. tidak membalas tatapannya atau mengatakan apapun.


“Mamah bilang bulan depan akan ada acara ulang tahun perusahaan sekaligus pengumuman penerus kakek!” Ucapan Sarah membuat  Andre menoleh ke Sarah.


“mamah telpon kamu?” tanyanya


“hem!” jawabnya lagi kemudian memejamkan mata


Kesunyian kembali terasa.


“Akhirnya!” gumam Sarah menghempas nafas seakan lega.


Andre memahami kata kata Sarah yang seakan mengatakan akhirnya ia akan berpisah dengannya dan setelah itu mereka tidak peduli lagi dengan sandiwara pernikahan mereka yang akan terbongkar atau tidak.


Segitunya kamu ingin pergi dari ku, tapi tidak dengan ku! Benak itu tegas


-------------------


Sarah menjaga kehamilannya dengan baik. Mengkonsumsi susu anti mual untuk ibu hamil sangat membantunya mengatasi morning sick. Kini kondisinya terbilang mulai bisa ia atasi. Ia juga menyimpan satu kaos Andre yang belum dicuci, karena dengan mencium aroma kaos tersebut sangat membantunya mengurangi pusing.


Andre memperhatikan Sarah yang sering membuat susu. Tak ada kecurigaan sedikit pun pada Sarah. ia hanya menganggap Sarah sekarang rajin menjaga kesehatan karena ia sekarang lebih menyukai buah buahan.


Kehidupan pernikahan mereka kini seakan kembali normal. Meski Sarah tidak pernah lagi membuat berbagai camilan ataupun cake. Karena mencium terlalu banyak aroma makanan akan membuatnya semakin pusing.


Pagi itu Andre memasuki kamar Sarah yang sedikit terbuka. Ia mendengar Sarah yang muntah muntah di kamar mandi. Andre bergegas ingin masuk, tapi ia menahan kembali tangannya, mengingat jika Sarah di kamar mandi dalam posisi tanpa busana. Ia menggelengkan kepala, menetralkan dirinya yang tersiksa karena tak tega mendengar suara itu begitu menderita. Ia pun menunggu Sarah keluar.


“Kamu belum sembuh?” tanyanya saat Sarah keluar dari kamar mandi


Wajah itu begitu pucat, matanya sayu, berjalan pun seakan sulit karena tubuhnya yang lemas setelah tak ada lagi yang bisa ia muntahkan.


Sarah mengelap wajah dan mulutnya. Ia hanya menatap Andre sebentar tanpa menjawab. Tangannya masih memegang pintu berusaha untuk tidak jatuh. Andre mendekat dan menggandeng Sarah menuju kursi meja riasnya.


Menghirup aroma tubuh Andre sesaat membuat Sarah sedikit terasa segar.


“Kita ke dokter sekarang!” pinta Andre


Dan dalam sedetik membuat kepanikan melanda tubuh Sarah


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


__ADS_2