Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Kumohon Kembalilah


__ADS_3

Perut itu semakin mengocok, rasa gugup dan ketakutan Sarah pada Andre saat itu semakin membuat perutnya terasa diremmas.


Keringat mulai mengalir di tulang belakangnya. Ia mengalami kepanikan sendiri saat tatapan Andre semakin tajam.


Sarah mampu bernafas lega ketika ucapan Andre yang menginginkan keluar dari ruangan itu seperti angin segar baginya


“Sekarang kamu pilih, sore ini pulang bareng aku atau aku akan ngomong ke direktur kamu siapa kamu!” Ancam Andre menahan lengan bahu Sarah dengan tatapan begitu tajam menggambarkan keseriusan ancamannya


“huek!” Sarah mual dan seketika memegang perutnya


“Maag kamu kumat?” Andre menahan lengan Sarah dan menatap khawatir


Sarah melepaskan pegangan tangan Andre


“Kamu pengen nambah parah maag ku?” Tatap Sarah kesal dengan ancaman Andre


“Ini satu satunya cara agar kamu pulang dan kita bicara! Aku gak main main Sar, aku akan kasih tau mereka siapa kamu, kalau kamu masih menolak untuk pulang dengan ku sore ini!” Andre menegaskan meski wajahnya terlihat cemas


Sarah menekan perutnya yang benar benar mual. Wajahnya semakin memucat. Andre pun kembali menahan tubuh Sarah yang membungkuk karena menahan perutnya yang terus terasa di kocok


Sarah melepaskan pegangan tangan Andre.


“Ok! Aku ikut kamu sore ini! Tapi ingat, kita hanya bicara, bukan pulang!” tatap Sarah tegas disela mualnya


Andre menatap cemas ketika melihat Sarah seperti meringis. Hatinya sakit melihat wanitanya yang terlihat menderita.


Jelang jam tiga sore pertemuan mereka berakhir. Sarah pun meminta izin kembali lebih awal karena kondisinya yang semakin pucat. Sarah berjalan menuju halte saat iring iringan mobil Andre keluar dari area perusahaan mereka.


“Pak budi, saya akan bawa mobil sendiri!” ucapnya melihat Sarah yang berjalan


Pak budi pun berhenti tepat di depan Sarah. Tora sang asisten merasa bingung. Andre langsung turun dan mendekati Sarah. Pak budi mengajak Tora turun.


“Saya pulang sama pak Andre aja pak” tolaknya


“Kamu gak denger pak Andre mau bawa mobil sendiri?” tegas Pak budi


Pak Teo yang melihat dari belakang pun menghentikan mobilnya dan ikut turun.


“Pak Teo kembali sama Pak Budi dan Tora!” ucapnya melihat Pak Teo turun


Pak Teo mengerti jika Andre ingin pulang bersama istrinya.


Tora pun masih bingung dengan kejadian itu.


Andre menarik tangan Sarah dan mengajaknya memasuki mobil. Pak Budi pun membuka pintu untuk Sarah.


“teirma kasih Pak” ucapnya tidak banyak bicara dan memasuki mobil


Saat di perjalanan. Pak Teo pun membicarakan tuan dan nyonyanya. Pak Budi dan Pak Teo saling menduga mereka sedang ribut. Tora pun mempertanyakan siapa nyonya mereka. Pak Budi pun mengatakan jika assisten direktur barusan adalah nyonya mereka.

__ADS_1


“apa???” Tora syok mendengar wanita yang tadi terlihat sederhana itu adalah nyonya di perusahaan mereka.


Selama di perjalanan, beberapa kali Andre menoleh ke Sarah yang hanya diam. Sarah  tidak berani menatap Andre. Ia terlalu gugup dan entah mengapa tubuhnya seakan sangat ingin mendekat pada Andre. Reaksi aneh yang selalu berlawanan dengan otaknya membuat ia semakin tersiksa.


“Kita bicara disini!” Ucap Sarah saat melewati bukit ketika mereka bicara pada malam minggu yang lalu


“Kita bicara di rumah aja!” jawabnya tegas


“Aku gak ingin ke sana!” jawabnya membuang tatapan keluar


“Kita bicara di rumah atau disini sama aja!” Andre menjawab lagi tak mau kalah


Sarah pun hanya pasrah dan diam, ia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Andre saat itu.


Jarak perjalanan memang hanya memerlukan 20 menit, tapi hal itu terasa sangat lama, meski Andre memacu mobilnya dengan cepat.


“berhenti!” pinta Sarah menahan mualnya. Andre bergegas menepikan mobilnya karena melihat Sarah yang siap mengeluarkan isi perutnya


Baru saja Sarah membuka pintu mobil. Ia langsung memuntahkan semua isi perutnya. Ia semakin pucat. Karena sudah seminggu ini makanan seperti tak bisa ia serap. Karena terlalu mual dan sering muntah.


“Sejak kapan maag kamu kumat gini?”  tanya Andre mengusap pundak Sarah. tatapan itu sangat cemas dan terlihat jelas saat ia memberikan minum untuk Sarah


“Dalam beberapa hari ini!”  jawabnya sambil memejamkan mata bersandar kembali dengan lemas


“Kita langsung ke rumah sakit aja ya?” pintanya lembut


“Gak usah, kalo habis muntah, pasti aku langsung baikan! Lagian juga obatnya juga itu itu aja” jelasnya pelan seakan kehabisan tenaga


Kini Wajah itu seputih kapas dan raut matanya semakin sayu.


“Please..! aku pengen banget baringan saat ini! Aku hanya perlu istirahat!” jelasnya menutup mata


Sarah melipat kedua tangannya. Andre pun mengurangi dingin suhu ac pada mobilnya. Andre menghentikan lagi mobilnya dan meletakkan jasnya pada Sarah.


Sarah membuka mata ketika Andre melakukan itu. mata mereka bertemu. Jantung Sarah pun semakin berdebar kencang. Tapi yang heran, saat aroma Andre dari jas itu tercium olehnya, Ia seperti merasa nyaman. Mual itu seakan menghilang, dan pusing di kepalanya telah lenyap dalam seketika. Ia pun memejamkan mata lagi.


Sarah tertidur selama sisa perjalanan menuju rumah mereka. bahkan saat sampai, Andre tetap membiarkan Sarah yang tertidur pulas. Andre hanya menunggu hingga waktu semakin sore.


Andre ingin mengangkat tubuh Sarah dan membawanya ke kamar mereka, tapi ia takut Sarah akan salah paham padanya. ia pun mengurungkan niat.


“Sar...!”


“Hmm...!” Sarah terbangun dengan mata setengah terbuka


“Kita udah nyampe!” Andre memberitahu


Andre turun dan membuka pintu untuk Sarah. Saat masuk ke rumah, Rumah itu terlihat sangat berantakan dan kotor. Sarah menoleh ke Andre dan meliriknya dengan kesal.


“Sorry, aku lupa bersiin!” ucapnya tersenyum ngeri

__ADS_1


“kamu istirahatlah, biar aku yang bersih bersih” Andre menggandeng bahu Sarah untuk ke kamar


Sarah melepaskan bahunya dari tangan Andre, ia masih membawa jas Andre di tangannya. Andre masuk ke kamar dan membersihkan tempat tidur.


Sesaat Sarah terbayang apa yang terakhir terjadi di ranjang itu. ia pun mengelengkan kepalanya seakan ingin membersihkan kenangan itu.


“Tidurlah!” Ucap Andre saat dia selesai merapikan ranjang


Sarah langsung berbaring dengan memeluk jas Andre. Andre pun keluar.


Seperti bapak rumah tangga yang takut dengan seorang istri. Sore itu Andre merapikan rumah mereka dan membersihkannya. Ia tidak merasa lelah, karena senang Sarah kembali hari itu.


Andre pun membersihkan dirinya. Ia mencukur bulu bulu halus di wajahnya. Kini ia seperti Andre yang dulu selalu tampil sempurna.


Saat mendekati jam makan malam. Sarah pun keluar. Kini ia lebih segar, begitu pula dengan Andre. kehidupan mereka seperti kembali. Namun masih terasa canggung.


Malam itu mereka pun bicara. Andre meminta Sarah untuk tetap tinggal disana.


“Aku kerja, dan aku gak mau kehilangan itu. lagian permintaan kamu jelas tidak mungkin!” balasnya atas permintaan Andre


“Jarak tempat kerja kamu Cuma 20 menit. Kamu bisa pulang pergi” pinta Andre


Sarah tertawa kecil kecewa. Ia tidak menyangka Andre tidak memikirkan kondisinya yang akan sangat lelah naik bis setiap hari jika ia harus pulang pergi.


“Aku tau permintaan aku terlalu egois... !”


“Kamu sakit sakitan seperti ini.. disana sendiri, aku sangat khawatir!” menatap Sarah yang masih memegang gelasnya


Sarah masih diam.


“Nanti Pak Budi yang akan jadi supir kamu, aku akan bawa mobil sendiri!” jelasnya lagi


Sarah mengangkat tatapannya pada Andre saat mendengar itu


“Aku gak bisa!” jawabnya pelan


“Aku tau aku gak berhak minta kamu untuk ini, paling gak untuk beberapa minggu ini sebelum keputusan akhir kakek saja!” Andre menatapnya lelah


“Akhir akhir ini aku seakan dihimpit sebuah batu besar, project baru ku yang terancam gagal, aku gagal menyelamatkan cabang Mora, mamah selalu menyidangku setiap akhir pekan karena saat video call kamu gak ada, Danu yang selalu menatapku curiga ada sesuatu di pernikahan kita, kakek yang menekanku untuk...” Andre tidak


mampu lagi melanjutkan kata katanya, ia hanya menunduk lemas


Sarah menatapnya penuh iba. Ia sungguh tidak tega melihat Andre yang sekarang. Hatinya perih mendengar masalah Andre.


“Bantu aku sar! Hanya dengan menyambutku ketika pulang, paling gak, aku punya seseorang yang menungguku.. please..!!” dengan tatapan memohon pada Sarah


Andre memijat mijat antara kedua matanya.


Lama Sarah menatap Andre yang seperti itu dalam diam. Ia berpikir kembali. Selama ini Andre telah menolongnya, dengan uang, tenaga dan perhatian. Mungkin tak apalah jika ia mau berjanji untuk tidak mengulang kesalahannya.

__ADS_1


“Janji gak mabuk lagi?” Sarah mengungkit masalah mereka


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2