Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Jangan Bebani dirimu


__ADS_3

Andre melihatnya sejenak dan tidak peduli.


“Angkat aja! aku akan diam!” senyumnya


Andre menoleh ke Sarah karena ia ingin melihat ekspresi istrinya


“Kamu gak cemburu?” tanyanya terdengar serius.


Sarah pun kaget mendengar pertanyaan Andre. untuk apa pertanyaan itu? Ekspresi Andre terlalu serius saat menanyakannya hingga membuat Sarah tak bisa mengartikan itu sebagai sebuah candaan.


Andre mengambil ponsel dan meletakkan makannya. Ia terlihat kesal. Kenapa juga Susan menelponnya justru saat Sarah bersamanya. Benak itu menggerutu.


Andre membawa ponsel keluar. Bukan menghubungi balik Susan, tapi justru memblokir panggilannya.


'jangan hubungi aku lagi! Kita sudah selesai!!!'


Pesan itu terkirim seakan tertulis kekesalannya saat itu


Andre masuk dengan meletakkan ponselnya di meja kerja. Sarah menatap Andre dengan perasaan bersalah. Ia merasa menjadi seorang pengganggu disana. Mungkin selama ini setiap makan siang Andre selalu di temani oleh Susan. Hanya itu pikirannya.


“Seharusnya aku gak kesini hari ini!” ucapnya merasa menyesal


“Sar..! pliss! Kamu jangan merasa bersalah gitu!” jawab Andre langsung yang memahami Sarah yang merasa tidak nyaman.


Bukan itu yang Andre inginkan, Ia berharap Sarah menatapnya kesal, mengeluarkan semua kecemburuannya. Tapi Sayang, itu hanya harapan Andre, tidak dengan Sarah.


“Kamu tahu kita udah sepakat untuk gak terbuka! Tapi hari ini kamu minta aku sendiri yang ngantar.. mungkin lebih baik Mulai besok biar Pak Budi aja yang ngambil makan siang kamu!” Sarah mencoba mengingatkan Andre tentang isi kontrak dimana mereka berdua tidak terbuka dengan hubungan mereka di dunia kerja masing masing.


“bisakah kita gak ngebahas itu dulu?” tanya Andre dengan tatapan sendu


“aku hanya mengingatkan kamu Dre, siang ini apa Susan gak curiga, tiba tiba kamu gak bisa ngobrol sama dia? Dia mungkin nungguin dimana waktu kamu bisa komunikasi ma dia” lanjut Sarah


“aku hanya mengingatkan kontrak kita biar kamu tidak larut sendiri” lanjut Sarah lagi


“Sar.. pliss!!” Andre mengulang lagi


“aku hanya mengingatkan kamu” ucapnya Merasa tak nyaman


“aku ngerti, tapi Sar.. please.. kamu tahu seberapa besar tekanan ku saat ini” keluh Andre


“Tolong support aku saat ini! Dari semua tekanan, paling gak kamu jangan mengungkit masalah itu dulu! Aku benar benar tertekan saat ini! Kakek yang terus menekanku agar mampu mengatasi semua krisis di cabang, mamah yang menekanku agar kita cepat punya momongan! Kerjaan yang semakin...” Andre menghela nafas dan menggeleng


Perasaan bersalah Sarah semakin mengurat, karena mungkin dia juga salah satu tekanan untuk Andre saat ini.

__ADS_1


“Aku minta maaf! Aku yang salah” ucapnya lagi menunduk


Andre meraih tangan Sarah. Ia menggenggamnya


“Paling gak bantu aku merasa nyaman.. heum?” tatapan pengharapan itu jelas tersirat


“cukup kita jalani hari hari kita seperti ini, tak perlu mengingat apapun atau seperti apa.. cukup kita jalani saja .. heum?” Andre menatap sayu dan meminta


Namun hanya dibalas tatapan sedih Sarah. Memang wajah Andre terlihat sangat stress saat ini.


“Sekarang kita makan! jangan mikir kamu bersalah atau apapun yang membebani kamu. Oke?” Senyum Andre terlihat tulus Sarah pun tersenyum melihat Andre yang kembali tersenyum.


“Aku laper banget!”  ucapnya mengambil piringnya dan mulai menikmati makan siang buatan sang istri


Sarah pun juga menikmati makannya. Ada perasaan sedih melihat Andre yang seperti seorang budak ambisi. Menyantap makanan sederhana yang ia buat seolah begitu enak. Sarah kembali merasa kasihan padanya.


Sarah masih membereskan perlengkapan makan siang yang sudah selesai. Andre mengambil ponselnya dan memotret Sarah yang sibuk sendiri. dia melihat ke Andre dan justru berpose tersenyum!


“Pasti Pamer ke mamah lagi!” Ucapnya setelah berpose


“Hemm,,..” Andre tersenyum seperti mengirim pesan foto tersebut pada ibunya. Padahal Andre hanya menyimpan foto itu untuk mengisi galerinya.


Setelah selesai Sarah ingin pergi dari sana.


“Tunggu bentar lah... ! ngapain buru buru?” Andre menahan Sarah


“Biarin!” jawab Andre cuek


“Heeeiiiss..” protesnya


“aku hubungi Pak Budi dulu!” ucapnya lagi dan mencoba mengambil ponsel dari dalam tas


Andre bergegas mengirim pesan ke Pak Budi agar mengatakan belum selesai!


‘pak, bilang belum selesai!’ tulis Andre


Pak budi menatap pesan majikannya yang aneh. namun tak berselang beberapa detik, Sebuah panggilan masuk terlihat di ponsel miliknya


Sarah menanyakan apakah beliau sudah selesai makan siang. Pak budi pun mengerti maksud pesan majikannya.


“Maaf bu, ini saya baru makan!” padahal saat itu dia sedang duduk santai dengan teman temannya yang baru saja selesai makan siang.


Mereka pun melihat Pak Budi dengan tatapan curiga

__ADS_1


“Nanti tunggu saya di parkiran aja pak, jangan di pintu masuk ya pak!” pintanya


“Baik bu!” ucapnya kemudian panggilan itu berakhir


“Wanita yang tadi diminta jemput pak Andre?” tanya temannya penasaran


“Iya!”


“Pacar pak Andre?” tanya temannya yang lain


“Istrinya!” jawabnya tegas


Mereka pun memperbincangkan siapa istri pimpinan mereka selama ini. Pak Budi tidak berani menceritakan siapa dan dari mana istri Andre berasal. Ia hanya bilang tidak mengetahuinya, meski dia sangat mengetahui sejak awal bagaimana hubungan mereka, bahkan seperti apa berbunga bunganya juragannya tersebut saat mereka pacaran, hingga rela pulang pergi ke tempat istrinya tersebut tanpa merasa lelah.


Andre mengantar Sarah ke parkiran, meski dia menolak diantar.


“Antar ibu belanja pak!” perintahnya pada Pak Budi


“Baik pak!”


“Gak usah, aku bisa sendiri!” Sarah menolak


“Biar diantar Pak Budi aja sayang! Aku gak mau kamu terlalu lelah hari ini” ucapnya tersenyum


Dalam sesaat ia mengecup kening Sarah sebelum masuk ke mobil. Mereka saling tersenyum seperti pasangan yang sedang berbunga bunga. Dan saling melambaikan tangan saat roda mobil mulai membawa Sarah menjauh. Andre memandangi mobil  itu hingga menghilang. Pak Budi yang melihat di spion tersenyum.


Betapa cinta majikannya pada istrinya..! benaknya menatap tersenyum di kulum. Dan kembali melirik sang nyonya yang ikut tersenyum.


Maafin aku ndre! Benak itu terucap. Namun maaf itu untuk apa?


-----------------


Andre memilih pulang lebih awal hari ini. Kini dia lebih senang mengerjakan pekerjaannya di rumah karena lebih menyenangkan di temani oleh Sarah. meski ia akan mendengar kecerewetannya yang selalu protes jika ia kembali lembur hingga tengah malam.


Sekarang setiap pulang menuju rumah, wajahnya terus tersenyum. Jika dulu ia tersenyum ingin bertemu Susan karena membayangkan hal panas bersamanya, kini.. Andre hanya membayangkan senyum istrinya yang selalu setia menunggunya. Membayangkan suguhan apa yang akan ia sajikan sore ini untuk menemani kopinya. Membayangkan wajahnya yang menunggu komentar Andre saat makanan itu mulai masuk ke mulutnya. Andre kembali tersenyum sendiri seperti anak remaja yang jatuh cinta.


Hari masih senja saat ia memasuki rumah. Tidak ada terdengar suara Sarah yang biasanya sudah sibuk menyiapkan untuk makan malam mereka atau sibuk dengan mencoba resep resep baru di dapurnya.


"Sar.. Sarah!"


Andre memanggil manggil Sarah beberapa kali. Sarah pun keluar dari kamar mendengar sang suami memanggilnya.  Terlihat beberapa bercak merah di wajah dan lengannya.


“Wajah kamu sayang?” Andre panik mendekat ingin melihat lebih jelas ada apa dengan wajah Sarah

__ADS_1


Sayang? Ucapan itu terdengar ambigu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2