Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Perubahan Andre


__ADS_3

Andre terlihat santai, tak memegang laptop seperti biasa, Sarah pun juga sibuk sendiri dengan ponsel di tangan.


“Boleh ku pinjam laptop kamu? ada file yang gak bisa ku buka di ponsel. Aku diminta balik besok pagi. Aku ingin pelajari dulu filenya!” PInta Sarah


Ternyata ia mendapat kabar terbaru dari perusahaan tempat ia bekerja yang sedang bermasalah


Andre meminjamkan laptop dan menyerahkan pada Sarah. Sarah mengecek beberapa file yang


menjadi permasalahan yang akan dibahas besok. Saking fokusnya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul jam dua belas malam.


Andre melihat Sarah yang masih sibuk  sendiri di ruang tengah. Sejak ia awal dia memberikan laptop itu, Sarah tak beranjak dari tempatnya. Andre mengambil air minum untuk Sarah, ternyata perempuan itu jika bekerja melupakan semuanya, bahkan mungkin rasa hausnya.


“Kemarin kemarin aja ngomelin aku begadang kalo kerja” Andre meletakkan minuman di meja.


Sarah tertawa mendengar komentar suaminya itu. Sarah melirik pada gelas yang diletakkan Andre, Ia baru menyadari jika tenggorokannya memang terasa kering


“Aku kan baru kali ini” dia mengambil air minum tersebut dan meminumnya hingga habis.


“Ada masalah?” Andre duduk ikut melihat pekerjaan Sarah


Sarah menoleh dan wajah mereka menjadi sangat dekat. Cepat cepat Sarah memutar kembali kepalanya menatap layar.


“Masalah kontrak?” tanya Andre setelah melihat file yang Sarah pelajari


“Iya, ada beberapa point yang seharusnya tidak berubah, tapi mereka mengubahnya menjadi lebih kecil” jelas Sarah masih mengetik beberapa hal


“Terus kamu mau nyelesain malam ini?” tanya Andre yang melihat jam sudah lewat tengah malam


“Aku usahain selesai malam ini” Ucapnya terus melihat lihat ke layar monitor laptop


Tiba tiba Andre menutup laptop sedang Sarah masih mengetik disana. Sarah kaget dengan kelakuan Andre.


“Masa pinjam kamu selesai!” ucapnya pada Sarah sangat serius


“Dre! Serius ini!” dia memelas


“Udah lewat jam dua belas, besok pagi kamu ngejar bis pagi jam tujuh, kalau ku biarkan kamu nyelesain itu gak bakalan selesai sampai pagi” omelnya


Sarah hanya menatapnya tanpa ekpresi.


“Bentar lagi ya? Dikit lagi, paling setengah jam lagi.. pleease!” pintanya


“Beneran setengah jam ya?” Andre mengancam dengan wajah tegas


 "Heum!” jawab Sarah mengangguk mengiyakan ancaman tegas Andre


Andre pun menemani Sarah hingga selesai. Akhirnya mereka berdua tertidur disana tanpa sadar.


Alarm nyaring Sarah berdering membuat Andre membuka mata, ia melihat jam masih menunjukan jam setengah enam pagi. Dia melihat Sarah yang tangannya masih memegang keyboard laptop. Dia mengambil laptop dan menutup pekerjaan Sarah.


Menyimpan data pada flashdisk agar Sarah bisa membawanya. Andre membangunkan Sarah. Ia membuka mata dengan malas, lehernya terasa kaku, tapi saat melirik ke arah jam,  Sarah bergegas karena takut ketinggalan bis.


“Aku nebeng sampai halte ya?” dia meminta Andre menunggunya saat mereka berdua sudah terlihat rapi, karena jarak rumah mereka menuju jalan utama lumayan jauh.


“Gak susah buru buru gitu, pelan pelan!” Pinta Andre melihat Sarah yang kesana sini karena panik akan terlambat

__ADS_1


“Sarapan roti aja ya?” mengingat dia belum menyiapkan sarapan


Menuju dapur sambil membenahi bajunya dan kaget melihat di meja makan sudah terlihat dua roti bakar isi yang


sudah Andre siapkan


“Kaget?” ucap Andre saat melihat Sarah yang terdiam menatap meja makan


“Kamu yang bikin?” Tanyanya sambil tersenyum senang


“Kita sarapan dulu, ntar ku antar ke terminal”


“Gak bikin kamu telat?” Sarah masih protes


Andre Cuma menatapnya dengan cemberut mendengar protes Sarah


“Yess!!!” dia tersenyum lebar pada Andre karena merasa senang ia akan mengantarnya ke terminal


Sarah melirik jari tangan Andre yang kini mengenakan cincin pernikahan mereka. tapi dia hanya diam tidak ingin menanyakan alasannya.


*Flash Back


Andre terbangun melihat jemari Sarah yang masih memegang keyboard laptopnya. Terlihat jelas cincin yang dulu ia sematkan pada jari Sarah. Andre menatap jemari tangannya, ia kembali menatap wajah polos Sarah yang tertidur pulas.


Bagaimana pun aku tetap suami kamu! benaknya bicara menatap wajah itu.


Saat ia selesai mandi dan menyiapkan diri, Andre memakai cologn untuk menyegarkan wajahnya, ia melihat kembali jari tangannya yang polos dan terdiam menatap cermin. Ada desiran rasa bersalah mengingat jemari Sarah yang ia sadari pagi ini.


Andre menarik laci pada nakas kamarnya dan mengambil cincin pernikahan miliknya. Dengan tersenyum ia mengenakan cincin itu kembali.


*


*


Minggu itu Sarah diminta kembali ke perusahaan karena ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Rumah pun terasa sepi bagi Andre. Ia merasa tidak nyaman karena sendiri disana. Bahkan ketika dia memilih kembali ke apartemen, tetap saja ia merasa ada yang kurang.


Nada dering panggilan video pun terdengar. Bergegas Andre melihat ponsel miliknya, ia berharap Sarah yang menghubungi, namun yang ada panggilan itu justru dari Susan sang kekasih.


Sejenak Andre baru menyadari jika sudah lama tidak saling berkomunikasi dengan kekasihnya itu.


Ada apa dengan ku? Benak itu sejenak terucap kemudian ia mengangkat panggilan sang kekasih


Susan terlihat seperti sedang bosan di kamar. Andre pun mengobrol dengan Susan, tapi ada yang beda kini, dia merasa biasa saja, obtolan bersama Susan tidak merasa menyenangkan.


Susan menceritakan tentang tas terbaru yang baru lounching di salah satu rumah mode, dia tidak bisa membelinya karena limit kartunya sudah hampir habis.


Andre termenung mendengar keluhan Susan tentang uang dan uang, ia kembali mengingat Sarah yang mengembalikan uang tunjangan darinya yang tak seberapa, berpikir dirinya yang telah menjadi bebannya, dan selalu mencoba untuk tidak menjadi bebannya.


Melihat Andre yang sedang berpikir, Susan tidak berani melanjutkan keinginannya untuk membeli tas tersebut.  Susan merasa aneh, melihat perubahan sikap Andre malam itu, biasanya setiap dia mengeluh akan sesuatu, Andre langsung memberinya solusi, Setiap ia meminta, dia selalu mengirim uang untuk membeli apa yang ia inginkan.


Setelah menutup panggilan Susan, Andre kembali termenung.


‘Kita saling menguntungkan aja udah cukup. Aku gak mau membebani siapapun’


Ia mengingat kekhawatiran Sarah padanya saat krisis, saat pindah rumah, saat dia bekerja larut. Sedang susan tidak tahu menahu tentang kondisinya. Andre pun bingung, mengapa kini ia justru membanding Susan dengan orang lain? Bukankah sebelumnya ia tak pernah mengeluh dan membanding kekasihnya tersebut?

__ADS_1


Andre pun menghubungi Sarah saat itu juga.


Untuk pertama kali Andre yang menghubungi Sarah tanpa alasan. Namun sangat disayangkan, panggilan itu tidak diangkat.


Andre melirik jam, waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, tidak mungkin susah sudah tidur? Benak Andre, Pertanyaan itu menghilang ketika  tiba tiba pesan masuk pada ponsel Andre.


‘aku masih meeting’ tulis pesan dari Sarah


Andre menatap ponselnya kembali, tidak ada satupun foto Sarah berada disana. Tapi mengapa malam ini dia ingin sekali mendengar candaan Sarah? Dia merasa aneh sendiri.


‘kapan pulang?’ tulis Andre


Sarah melirik pada pesan yang masuk. Ia terus fokus pada meeting tentang pembatalan kontrak sepihak oleh pihak kontraktor.


Andre menunggu balasan dari Sarah, tapi tetap tidak ada. Ia bahkan tidak fokus bekerja malam itu. akhirnya ia memlilih kembali pulang ke rumah mereka, karena berada di apartemen terasa sangat sepi baginya.


Selesai meeting Sarah pun menghubungi Andre


“Sorry! aku meeting tadi!” Sarah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam


“Baru selesai?” tanya Andre terdengar nada khawatir


“Hmm..” Sarah mengiyakan


“Masih dikantor?” tanya Andre lagi


“Masih” suara Sarah terdengar lelah


“Sendirian?”


Sarah merasa seperti diinterogasi


“Gak, masih ada beberapa orang!” ucapnya sambil menggerakkan lehernya, memuta mutar dan berusaha meregangkan otot lehernya yang terasa kaku


“Kapan pulang?”  Andre menanyakan pulang ke rumah mereka


“Bentar lagi, ini aku dah mau siap siap” Sarah mengira Andre menanyakan dia pulang dari kantor malam itu


Andre tertawa kecil mendengar jawaban Sarah yang tidak nyambung dengan pertanyaannya


“Kalo gitu kamu pulang sekarang, teleponnya gak usah ditutup, ku temenin!”


Sarah merasa aneh dengan sikap Andre malam ini yang seakan memberi perhatian padanya. Ia mengerutkan keningnya merasakan ada sesuatu yang berbeda.


“Gak perlu, aku pulang sama temenku.. ya udah aku tutup dulu ya? mau siap siap pulang!” Sarah langsung menutup panggilan Andre tanpa sempat Andre jawab


Saat sampai di kamar, Sarah mengirim pesan agar Andre tidak meminum kopi agar bisa tidur nyenyak malam itu. ia juga mengatakan letak teh chamomile yang ia beli dan cara seduhnya.


Membaca pesan itu membuat Andre berpikir kembali. Karena selama ini Susan tidak pernah memberikan perhatian seperti itu padanya.


Untuk pertama kali pikiran Andre dikacaukan oleh pemikiran yang ia bilang tak penting. Hubungan ia dan Susan tak pernah mengalami konflik, mereka saling setia dan saling percaya, saling terbuka dan saling mencintai tanpa pernah ada satupun masalah dan keraguan.


Tapi kini, hati itu sedikit bertanya, sedikit mengeluh, sedikit membandingkan. Ia merasakan adanya perbedaan dalam dirinya


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Terima kasih bukat kakak kakak yang sudah kasih vote, like dan gitnya, moga selalu tetap suka


__ADS_2