Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Menolak


__ADS_3

Saat memasuki gedung pertemuan yang diadakan di salah satu aula besar hotel di kota tersebut. Sarah bertemu dengan pak Teo


“Bu Sarah?” Pak Tep menyapa saat melihat Sarah yang berjalan dibelakang rombongan salah satu pengaju tender


“Pak Teo?” Sarah sedikit terkejut dan melihat lihat kembali ke rombongannya seperti tidak ingin diketahui oleh mereka


“Sedang apa disini bu?” Pak Teo senang bertemu dengan istri pimpinannya


“Perusahaan saya mengikuti tender pak!” Jawab Sarah


“Perusahaan yang mana bu? Oh.. maaf! nanti saya pasti akan diberi tahu bapak!” Ia Menyadari mungkin nanti pimpinannya akan mengajukan perusahaan istrinya yang akan menjadi pemenang


“Maaf sebelumnya pak, bisa saya minta tolong bapak pura pura tidak mengenal saya? Soalnya kalau orang orang tahu, saya jadi kurang nyaman di tempat kerja!” Sarah menoleh kembali ke rombongannya yang sudah memasuki ruangan


Pak teo sedikit bingung dengan permintaan Sarah.


“Terus, jangan bilang bapak saya disini!” Sarah tersenyum dipaksa saat meminta pada Pak Teo


Sejenak pak Teo berpikir, namun sedetik kemudian dia pun mengiyakan permintaan Sarah.


“Tolong ya pak?”  Sarah kembali mengingatkan Pak Teo sebelum mereka berpisah


Saat pertemuan tersebut, Pak Teo berpikir keras mengapa sang nyonya menyembunyikan identitasnya. Dan saat mengetahui Sarah hanya seorang assisten, Pak Teo pun berpikir kembali, apa mungkin hubungan mereka berakhir?


Memang dalam beberapa minggu ini ia hampir tidak mendengar sang nyonya mampir ke kantor mereka lagi. Teo juga mengingat seberapa aneh Andre akhir Akhir ini. Ia mencium bau kejanggalan disana.


Seminggu sudah hasil saring dari perusahaan yang mengikuti tender itu, kini hanya tersisa 3 kandidat perusahaan. Salah satunya perusahaan Sarah.


Saat pak teo memutuskan perusahaan itu yang masuk dalam tiga besar, para manager yang lain mempertanyakan, karena perusahaan tersebut masih memiliki satu kekurangan. Tapi Pak Teo tetap bersikukuh memasukkan perusahaan tersebut ke dalam tiga besar.


Akhir minggu itu Andre mencoba menjemput Sarah. Tapi Sarah justru tidak berada di tempat kostnya. Andre menemukan Sarah justru bersama Daren. Mereka sedang duduk santai di salah satu coffee shop di dekat taman


Daren menatap Sarah curiga


“Loe gak pisah rumah kan?” Daren curiga dengan ketidak pulangan Sarah


Sarah menatap tajam Daren dengan kesal


“Loe kok kepo sih sekarang?” Jawab Sarah kesal


Daren menyadari dia membuat Sarah kesal. Sarah membuang pandangannya dari Daren yang berhadapan dengannya.


“Loe makin kurus dalam sebulan ini, terus loe tu lagi kaya banyak mikir banget!” Daren semakin parah yang dibalas tatapan kesal Sarah


“Gue gak ngenal loe sehari Sar! Gue tau banget kalo loe lagi ada masalah!” Daren masih mencoba mengorek


“Loe dah tau kalo gue ada masalah sama keluarga tante dan bibi gue, jelas lah gue mikir!” Sarah berusah menutupi masalahnya


“Jadi masalah itu menyangkut laki loe juga?” Daren curiga


“Kenapa sih loe penasaran banget sama kehidupan gue sekarang?” nada bicara Sarah meninggi karena ia tersulut emosi.


Sarah memang mudah emosi akhir akhir ini. ia terlalu sensitif dengan semua hal.


Mendengar kata kata Sarah Daren terdiam. Memang dia sangat penasaran bagaimana kehidupan Sarah, ia berharap Sarah akan kembali padanya.


“Karena gue sayang ma loe!” ucapnya pelan dengan tatapan berbeda dari seorang sahabat


Sarah merubah raut wajahnya yang emosi menjadi terkejut

__ADS_1


“Karena gue berharap loe cerai sama laki loe! Jadi gue punya kesempatan buat mencintai loe!” tatap Daren tajam seakan ingin menelan Sarah seutuhnya.


Daren tak bisa lagi menahan diri menutupi perasaannya yang tersiksa. Akhirnya rahasia hatinya keluar semua.


Sarah tidak mampu mengatakan apapun. ia terlalu terkejut dengan kata kata Daren, ungkapan yang dulu ia tunggu tapi sekarang kenapa ia hanya terkejut, tak ada detak jantung yang dulu ia rasakan untuk Daren. Rasa itu telah hilang. Namun, kenapa? kenapa harus sekarang Daren baru mengungkapnya? Benak Sarah berontak


“Asal loe tau! Gue balik ke indonesia buat loe! Gue berharap merebut loe dari lelaki tua yang akan dinikahkan tante sama loe!” jelas Daren


“Daren!” bisiknya benar benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar


“Gue baru sadar gue mencintai loe saat gue di Holland! Gue ngerasa gak mampu bernafas saat gue memasuki pesawat ketika loe gak bisa gue hubungi!”


Sarah masih menatap Daren tidak percaya, mata Daren benar benar mengatakan kejujuran dan ketulusan yang mampu ia baca


“Gue mencintai loe sar... sangat!”  Dare menatap sangat hangat dan penuh dengan kasih sayang


Sarah mengalihkan pandangannya pada cangkir kopi yang ada di depannya. Ia bingung, dulu ia sangat berharap Daren mengatakan itu, tapi sekarang saat Daren mengatakan itu ia justru kecewa. Karena ia merasa akan kehilangan seorang sahabat. Karena dihati Sarah saat ini hanya diliputi cinta pada suami palsunya.


“Gue harus pergi!” Sarah mengambil tasnya


Bergegas Daren berdiri dan menahannya. Ia tahu Sarah akan kabur dari masalah ini.


“Gue akan pura pura gak denger apa yang loe bilang barusan!” ucap Sarah tanpa menatap Daren


“Sar!” Daren terus menggenggam erat lengan Sarah


“Karena gue gak mau kehilangan satu satunya sahabat gue” Sarah menatap Kecewa pada mata Daren


Daren melepaskan pegangannya. Ia menatap Sarah sedih. Sarah pun berpaling dan pergi dari sana. Dari seberang jalan terlihat mobil berwarna hitam sedang mengawasi mereka. Andre!


Apa yang mereka bicarakan? Apa yang si brengsek itu katakan sampai kamu pergi dengan marah?


‘bisa temui aku sebentar?’ tanya Andre pada pesannya


Tapi Sarah seperti menghiraukan pesan itu.


Andre kembali mengirim pesan pada Sarah, ia memohon agar  Sarah mau bertemu dengannya. Ia meminta maaf


atas keaadan mabuknya dan berjanji tidak mengulang. Ia terus meminta Sarah kembali. Tapi Sarah tetap tidak membalas pesan Andre.


Akhirnya Andre kembali tanpa bicara dengan Sarah malam itu.


*


*


Pertengahan minggu ini Andre banyak menghabiskan waktu di kantor. Ia senang menyibukkan diri, karena dengan begitu, dia mampu mengalihkan bayangan Sarah dalam kepalanya. Bahkan jika ia pulang, ia tidur di kamar Sarah karena Ia masih membayangkan malam bersama Sarah disana.


Pagi itu Pak Teo meminta waktu untuk melakukan analisa bersama Andre tapi Andre menolak dan mengatakan pada Dona agar pak Teo menyelesaikan sendiri kontrak kecil tersebut.


Andre tidak ingin disibukan oleh masalah kecil dari project yang hanya untuk support mereka yang bisa diselesaikan oleh direktur kelas Pak Teo.


Pak Teo berpikir kembali. Mungkin benar sang nyonya tidak menceritakan ikut tender di perusahaan mereka. Siang itu Pak Teo menemui Andre dengan alasan lain.


“Untuk project C, mungkin kita akan membahasnya pekan depan aja pak, soalnya lusa saya harus ke cabang R” ucap Andre memeriksa berkas dari pak Teo


“Baik pak! Untuk tender apa saya harus memenangkan perusahaan tempat ibu kerja?” Pak Teo langsung pada inti pembicaraan.


Andre mengangkat wajahnya melihat Pak Teo yang berdiri di depannya.

__ADS_1


“Bapak barusan bilang apa?” Andre merasa kurang yakin dengan pendengarannya.


“Mungkin ibu gak cerita ya pak? Tender support! Salah satu kandidatnya perusahaan tempat ibu Sarah pak!” pak Teo menjelaskan maksudnya


Andre meletakkan bolpointnya dan berpikir sejenak.


“Kenapa anda gak cerita?” gumamnya memijat pangkal hidungnya


“Ya pak?” Pak Teo tidak mendengar jelas gumaman Andre


“Tunda dulu keputusan tender itu pak!”


“Tapi pak, bulan depan proyek sudah harus mulai! Sedang support harus siap paling tidak dua minggu sebelumnya!” Pak Teo mendesak


Andre berpikir kembali


“Paling gak tunda sampai seminggu sebelumnya!” jawab Andre memaksa


Pak teo merasa gugup, kini ia seperti simalakama, jika itu tidak diputuskan, maka project terancam mundur satu minggu dan ia pasti menjadi orang yang akan bertanggung jawab akan hal itu. tapi jika ia tidak menuruti pimpinannya, ia juga akan mendapat masalah.


Pak Teo hanya bisa menunduk dan keluar dari ruangan Andre dengan lunglai.


Saat kembali dari cabang, Andre langsung menuju tempat Sarah, ia akan berbicara serius dengan Sarah kali ini. Ia akan meminta Sarah untuk melupakan malam itu, karena kini Sarah memblock semua panggilan dan pesannya.


Sarah merasa sangat terganggu dengan pesan  yang dikirim Andre. ia pun akhirnya memblacklist sang suami.


Pak Budi turun meminta Sarah keluar.


“Mba Sarah! ada tamu di depan!” panggil temannya


Sarah gugup, ia takut Daren yang menemuinya, karena sekarang ia bingung harus menghadapi Daren seperti apa.  Ia tak bisa mengatakan hubungannya dengan Andre, tapi dia juga berharap Daren masih mengharapnya saat dia lepas dari Andre.


Ahhhh... egoisnya aku! Kenapa cinta itu datang belakangan? Benak Sarah berontak.


Tapi ketika Sarah keluar,  ia melihat Pak Budi berdiri menunggunya.


“Pak budi?”


“Maaf bu, bapak menunggu di mobil!” ucap pak budi


Sarah melirik ke mobil yang terparkir di luar. Andre dapat melihat Sarah jelas, istrinya terlihat kurusan


“mungkin kamu terlalu keras bekerja sayang” ucap Andre menatap Sarah dari dalam mobil


“Pak, tolong bilang ke bapak, saya ada kerjaan di kamar!” Sarah kembali menolak bertemu Andre


Tiba tiba ponsel Pak Budi berdering dan terlihat panggilan dari Andre


Pak Budi menjawab dan menyerahkan ponsel ke Sarah


“Bapak bu!” memberikan ponsel


Sarah  terpaksa mengambil ponsel itu, Pak Budi pun menjauh karena mengerti mereka akan bicara!


“Kamu temui aku sebentar? Atau aku turun dan membiarkan teman teman kamu tau aku suami kamu?” ancam Andre karena ia sudah tak tahu harus membujuk Sarah seperti apa


“Gak perlu mengancamku kaya gitu, kamu turun dan bilang suamiku pun mereka gak akan percaya!” jawab Sarah kesal


“Kamu jangan lupa kalo aku selalu bawa buku nikah kita!” Ucapnya yang membuat jantung Sarah kembali bersenam.

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2