Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Bonus Chapter : Keunikan Ngidam Sarah


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Sarah begitu tersiksa tinggal di mension utama. Ia terus pusing dan mual membuat Andre tak bisa meninggalkannya kemana mana.


Terbangun dari tidur siang dan tak mendapati sang suami di sampingnya membuat Sarah kembali menangis.


Versi ngidam Sarah yang begitu manja membuat Andre kewalahan. Tak bisa mandi sendiri, istrinya yang selalu menangis dan selalu ingin dipeluk, belum lagi permintaan makanan yang aneh di tengah malam, merupakan pengalaman yang luar biasa buat Andre.


Tapi satu hal yang membuatnya suka, selama kehamilan, Sarah begitu agresif dan selalu menyukai hubungan badan mereka.


Sarah keluar kamar dengan menangis. Ia seperti anak kecil bangun tidur yang tak menemukan ibunya.


“Sarah, kamu kenapa?” tanya Nensi mendekati Sarah


“mah... mas Andre kemana ya?” isaknya


“ooo...” Nensi berusaha menahan tawanya


Selama bersama menantunya yang sedang ngidam beberapa hari ini, membuat Nensi mengerti,jika Sarah sangat sensitif.


“tadi di panggil kakek! Katanya kamu akan tidur sampai sore juga.. jadi ya ditinggal!”


Air mata Sarah semakin deras, tangisnya semakin terdengar


“lho lho lho! Cuma sebentar sayang” peluk Nensi mencoba menenangkan Sarah


“kenapa Sarah gini ya mah... kok sekarang gampang banget nangis?” keluhnya masih menangis dalam pelukan sang mertua


“itu bawaan bayi” ucap suara bariton yang terdengar begitu berwibawa memasuki rumah tersebut.


“sayang!” Sarah menoleh riang pada sang suami yang datang bersama sang kakek.


Sarah berlari kecil dan langsung memeluk Andre


“kamu kok pergi?” keluhnya


“aduh... nangis lagi deh” usap Andre pada pundak sang istri dan mengecup puncak kepalanya


Sarah merapatkan wajahnya di dada Andre terus menghirup aroma tubuh yang kini membuatnya candu. Ia melupakan adanya orang lain disana yaitu ibu dan kakek mertuanya.


“huh...!!!” keluh nafas kakek terdengar berat.


“Nensi! Mulai besok suruh suami mu bekerja lagi!!” ucapnya berjalan menuju ruang keluarga


“hah? Papah apa apaan sih?” protes Nensi berjalan mengikuti sang ayah


Andre dan Sarah mendengar ucapan kakek jadi melepas pelukan mereka dan saling menatap, saling tersenyum dan tiba tiba Andre memalingkan wajah melihat sekitar mereka


“kenapa mas?” tanya Sarah ikut melihat sekitar


Andre menarik tekuk leher Sarah dan mendaratkan bibirnya untuk menyatu dengan bibir sang istri tercinta. Perlahan menyesap dan melummat bibir kenyal tersebut penuh dengan cinta


“hhmm!” gumam Sarah memejamkan mata menikmati ciuman Andre


“pengen ini kan?” ucap Andre melepas ciumannya sedang mata Sarah masih terpejam


Wajah Sarah tersenyum merona, ia malu sendiri menyadari dirinya yang kini kecanduan dengan belaian Andre. Ia bersyukur Andre menganggap itu sebagai bawaan bayi, jadi rasa malu itu bisa ia tutupi.


“ayo kita temui kakek!” ajaknya merangkul bahu sang istri dan berjalan menuju ruang keluarga


Sarah duduk dan masih dalam rangkulan sang suami. Melihat itu semua, wajah kakek terlihat mengeluh dan bosan.


“mulai besok aku akan kembali bekerja, aduuhh.. padahal masih banyak yang harus Andre pelajari” keluhnya


“bukannya papah selama ini memang bekerja?” protes Nensi


“iya, hanya untuk peralihan kewajiban pada Andre, tapi sekarang.. huh.. terpaksa aku harus bekerja lagi” keluhnya kembali


“memang Andre masih belum bisa ya kek?” tanya Sarah


“bukan! Tapi karena kamu hamil” jawabnya terkesan tak ikhlas


“hah? Karena Sarah?” jawab Sarah merasa sedih dan menunduk


“kek!” tegur Andre yang melihat raut kesedihan pada wajah istrinya

__ADS_1


Mata Sarah kembali mengembun. Ia menjadi penyebab Andre tak bisa mendapatkan jabatan yang ia inginkan.


“maaf!” ucapnya lirih hampir tak terdengar


“kamu tenang saja sar! Andre bukan berhenti, karena kamu ngidam Sarah! Makanya Andre beberapa bulan ke depan pasti tak bisa bekerja dengan normal, suami kamu masih komisaris utama kok” jelas sang kakek yang mengerti jika wanita hamil itu mulai menangis lagi


"Tenang sayang!" bisik Andre dan mengusap lembut lengan istrinya yang ia rangkul


“hah.. sungguh nasibku..” keluhnya lagi


“kek! Sebenarnya kenapa sih?” Andre sangat penasaran


“istrimu selalu menangis jika kamu tidak ada, dia pasti akan selalu pusing mual dan berakhir dengan tangisan, tapi jika mencium aroma tubuh kamu, dia pasti akan senang, itu sebabnya kamu harus stay di dekat dia! nah.. jadi kamu tidak bisa bekerja!" jelas sang kakek yang memahami situasi ngidamnya Sarah


"Dia tidak suka aroma kamu setelah mandi, jadi kalian harus mandi bersama baru dia tidak mual dan juga kalau malam, istrimu selalu minta dipuaskan, terus .. dia akan bisa tidur nyenyak jika dia selalu memegang tongkatmu” jelas kakek panjang lebar


Ketiga manusia itu sama sama membuka mulut mereka sedikit seakan tak percaya dengan penjelasan lelaki tua itu


“apa ada yang kurang Sarah?” tanya kakek lagi menatap Sarah


Sarah kembali menunduk malu


“wahhhh... gila! Kakek pasang cctv ya di rumah Andre?” Andre merasa kesal karena semua yang di jelaskan sang kakek memang cocok dengan keadaan Sarah kecuali bagian terakhir.


“jadi bener gitu sar?” tanya Nensi yang super penasaran


Sarah hanya menunduk malu, Andre terlihat kesal dan menarik sang istri kembali dalam rangkulannya. Sarah menyembunyikan wajahnya karena terlalu malu.


Benar apa yang di katakan sang kakek, dia akan tidur nyenyak saat Andre sudah tertidur pulas dan tak sadar jika tongkatnya ia pegang.


“mah! Jangan gitu dong! Sarah kan jadi malu” ucap Andre


“kek! Kakek keterlaluan kalau menguntit kita sampai segitunya” jelas Andre terlihat kesal


“kakek bukan menguntit, tapi hanya menjelaskan!” jawab sang kakek tegas


“tapi..”


“istrimu akan seperti itu sampai dia melahirkan!” jawabnya memotong omongan Andre


“kamu sepertinya belum menjalani harus mencari pecel saat dini hari” ucap sang kakek


“kok kakek tau?” tanya Sarah


“ah! Sudah rupanya!” tawa kakek terdengar puas


“kau beli berapa tu pecel Ndre?” tanyanya pada Andre lagi


“kok kakek bisa tau?” Andre  masih bingung


Kakeknya terkekeh, ternyata apa yang dulu ia jalani kini menular pada Andre


“subuh ingin eskrim rasa vanila yang di letakkan di tengah roti?” tanya kakeknya


“kok kakek tau?” tanya Sarah tersenyum lagi


“kamu makan itu yang?” tanya Andre pada Sarah


“hem! Awal ngidam aku selalu kebangun subuh subuh, dan pengen eskrim itu” jelas Sarah


“wahh... kakek penguntit beneran” ucap Andre lagi


“penguntit penguntit.. itu semua kakek pernah jalani” ucapnya


“maksudnya pah?” tanya Nensi


“mama kamu ngidam kamu persis seperti Sarah” ucapnya


“hah?????” mereka bertiga serempak menjawab


“beneran pah?” tanya Nensi


“iya! Dan papah menjalaninya dengan sangat senang” senyumnya

__ADS_1


Andre menoleh pada Sarah dan tersenyum. Ia juga senang menjalaninya, meski memang sangat merepotkan.


“tapi dulu mamah gak ngidam sar! Malah seneng makan” senyum Nensi


“nah itu.. yang kasian anak mu itu.. sama nasibnya seperti kakeknya” jelasnya lagi dan mereka kembali tertawa


“tak apa kek.. Andre malah senang kok”


“ya senang lah! Tongkat mu diservice terus” jawab sang kakek yang tau kebiasaan Sarah dan Andre yang seperti dirinya dulu


"kakek..!" sarah kembali merasa malu


“oh iya! Kamu udah makan jambu biji yang setengah matang sar?” tanya kakeknya lagi


Rupanya ia mengingat semua proses kehamilan sang istri


“sudah kek!” senyumnya getir


“siapa yang ngambilin?” tanyanya


“ngambilin gimana?” tanya Andre


“berarti bukan kamu ndre?”


Andre menggeleng


“kasian cucu menantuku” jawab sang kakek dan dibalas senyum getir Sarah


“emang kenapa kek?” tanya Andre penasaran dengan kata kasihan


“jambunya harus di petik dari pohon! Dan yang paling sulit itu nyari rasa yang pas! Jadi harus di cari satu persatu” jelas Sarah


“terus yang metik siapa sayang?” tanyanya


“ya aku sendiri” jawabnya mengingat betapa sulit ia mencari pohon jambu tersebut


“pasti susah!” jawab sang kakek yang mengingat berapa jam ia mencari pohon dan buah yang tepat yang diinginkan sang istri


“iya kek! Sarah harus memilih lima pohon baru nemu yang sesuai keingingan” senyumnya


“sayang! Maafin aku!” Andre merasa bersalah.


“sudahlah.. yang penting sekarang kamu disini” senyumnya


“apa ada yang kamu inginkan?” tawar Andre tersenyum pada istrinya dengan rasa bersalah yang dalam


“hem! Ada!”


“apa sar?” tanya Nensi ikut tersenyum menunggu ucapan dari Sarah


“kulit bakar!” ucap Sarah


Seketika sang kakek tertawa terbahak, ia terus tertawa sedang Andre dan Nensi masih bingung


“kok kakek tertawa?” tanya Andre


“yah.. karena kulit ayam bakar itu harus kamu sendiri yang bikin!” jawab sang kakek


“heh? Beneran sayang?” tanya Andre lagi


Perlahan Sarah tersenyum, matanya membulat seperti memohon dan dikasihani.


“hem!” angguknya pelan


“plus harus ayam kampung yang jago!” lanjut sang kakek yang terus tertawa diikuti Nensi yang merasa anaknya akan sangat kerepotan melakukan semua permintaan sang istri


Selama di perjalanan pulang kakek mengingat kembali bagaimana sang istri mengidam anak anak mereka. Ia menyandarkan diri di jok yang nyaman dan tersenyum dalam pejamnya.


“besok kita khatir” ucapnya pada sang supir


“baik tuan” jawabnya yang mengerti jika sang tuan merindukan istrinya


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya kak... terima kasih


__ADS_2