Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Ketahuan


__ADS_3

Susan tersenyum smirk. Ia puas saat sarah keluar dengan penuh amarah! Dia yakin jika Andre dan istrinya akan perang setelah ini.


Suara rekaman tersebut adalah pesan suara yang dulu dikirim Andre ketika mereka masih bersama, namun Susan


sengaja menunjukkan pada Sarah agar perempuan itu akan meminta perpisahan pada Andre.


“aku akan menunggu kamu sayang!” ucap Susan tersenyum puas. Ia merapikan kembali lipstiknya, menyisir kembali rambutnya dan bercermin dengan percaya diri.


Aku akan merebutmu kembali! Ucapan benak itu diiringi senyum jahat Susan di cermin yang ia pandang.


Andre yang merasa sang istri keluar begitu lama pun mulai khawatir, ia pergi menyusul Sarah. Andre menunggu di depan toilet, tapi yang keluar dari sana justru Susan.


“Susan???” ucap Andre kembali kaget


“ngapain kamu kesini? Bukannya kamu seharusnya di Paris?” tanya Andre mendekat dengan khawatir.


“kenapa? kamu kaget aku disini? Kamu khawatir aku bertemu seseorang? Kamu takut istri kamu tau?”


Andre menarik Susan menuju keluar, ia menarik Susan hingga ke balkon hotel yang terlihat kosong dan tak ada siapapun disana.


“lepas Ndre, lepas!” Susan berontak


“apa yang ingin kamu lakukan disini heh?” ucap Andre pelan. Ia ingin teriak, tapi justru akan mengundang perhatian orang lain.


“kamu ternyata mengkhianatiku! Kamu menikah! Kamu jahat Ndre!” ucap Susan menangis.


“kamu bilang kamu akan sabar menunggu aku lulus, tapi sekarang apa?”


“jangan menjadikan aku sebagai pelaku, kamu harus ingat itu!” ucap Andre tegas


“sekarang kita impas! Tapi.. aku akan tetap menunggu kamu, cintaku gak akan berubah! Dan aku yakin kamu juga mencintaiku”


Derai air mata memang tulus, hatinya memang sangat sakit. Menatap Andre yang tak lagi miliknya. Ia hancur. Bagaimana pun kebersamaan mereka tidak mampu terhapus begitu saja dari hidupnya


“Sudahlah San! Sebaiknya kamu pergi! aku gak ingin kakek melihat kamu disini” Nada bicara Andre melemah. Tak tega melihat tangis Susan yang menghiba.


“aku hanya kangen sama kamu!” ucapnya lagi dengan lirih.


“sudahlah.. pergilah!” ucap Andre


Andre memanggil salah satu pengawal yang ditempatkan berjaga disana. Ia meminta lelaki itu mengantar Susan. Susan pun hanya menatapnya sedih.


“aku tunggu kamu sayang! Aku akan menunggu kamu!” ucapnya sebelum melangkah pergi.


Andre berjalan melangkah menuju pagar Balkon. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya mencoba menenangkan diri.


Dia baru menyadari ada seseorang yang berdiri dibalik tiang besar disana. Saat menoleh, ia melihat Sarah yang meringis kesakitan menahan perutnya.


“Sarah!!” Andre seperti disengat ribuan watt. Belum lagi terlalu terkejut menemukan Sarah disana. Ia baru menyadari wajah Sarah yang meringis kesakitan.


Sesaat Sarah melihat ke Andre, matanya semakin sayu. Tubuhnya seperti semakin lemah. Bergegas Andre mendekatinya. Belum lagi Andre meraih tangan Sarah. wanita itu pun jatuh lemas tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Sarah!!” Andre berusaha menahan tubuh Sarah sebelum jatuh ke lantai.


Andre bergegas menggendongnya dan membawa Sarah ke salah satu kamar di hotel yang sudah ia pesan untuk menghabiskan malam bersama sang istri.


“Cepat panggil Om Ardi!” perintahnya pada salah satu bodyguard yang mengikutinya.


“sayang!  Sadarlah! Sayang..!” Andre panik melihat Sarah seperti mayat.


Ardi adalah saudara ibunya yang berprofesi menjadi dokter yang pernah ia ceritakan pada Sarah.


Andre membaringkan tubuh Sarah yang semakin ringan di gendongannya.


“sayang bangunlah!” Andre sangat panik.


Tangan dan pipi Sarah terasa sangat dingin. Ternyata Sarah berdiri disana begitu lama hingga angin malam membuat tubuhnya terasa seperti di guyur air es. Bergegas ia membungkus tubuh itu dengan selimut hangat.


Andre melihat wajah Sarah yang sembab, ia baru menyadari! Mungkin Sarah mendengar semua obrolan ia dan Susan.


“ya Tuhan!” keluh Andre menggeleng membayangkan pemikiran Sarah yang salah padanya.


Andre Kembali membenahi menyelimuti tubuh Sarah. kemudian dia duduk dan terus mengusap tangan Sarah agar menghangat.


Ia menggosok telapak tangannya agar menghangat dan meletakkan di kedua pipi Sarah yang terasa sangat dingin


“eh!” lenguhan itu terdengar tipis, gerakan tubuh Sarah membuat hati Andre sedikit melega. Ia sadarkan diri.


“sayang! Apa yang sakit?” tanyanya


Sedang di dalam Aula, Sang kakak melihat ardi keluar setelah seseorang berbisik padanya. lelaki itu berjalan cepat langsung menuju kamar dimana Sarah terbaring.


Ia duduk memeriksa nadi Sarah. ia masih menunggu seseorang yang mengambil peralatan dokternya di kamar inapnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai tak sadarkan diri?” Ardi bertanya pada Andre yang panik  dan khawatir melihat istrinya


“Tadi dia bilang ingin ke toilet. Pas di balkon tiba tiba meringis kesakitan. Habis itu pingsan!”  Jelas Andre


“Dia sakit maag om!” lanjut Andre lagi


Sarah pun benar benar sadar dari pingsannya.


“Sayang..?” ucap Andre yang masih menggenggam tangannya dan membelai wajah itu


“ini om Ardi yang dulu ku ceritakan! Masih ingat kan?” tanya Andre


Sarah tersenyum melirik Ardi dan dibalas senyuman olehnya.


“kita periksa kamu ya?” pinta Ardi terus mengeluarkan peralatan kedokterannya dari dalam tas


Sesaat senyum Sarah hilang, matanya seperti panik menatap Ardi. Ardi mengerutkan keningnya menerima


tatapan Sarah.

__ADS_1


Tiba tiba ponsel Andre bedering. Tapi dIa tidak mempedulikannya.


Seeorang memasuki ruangan dengan membawa tas khas dokter milik ardi. Ponsel Andre terus berdering mengganggu keheningan.


“Angkat!” Pinta Sarah menatap Andre sayu.


Ardi masih memegang stetoskop miliknya dan berdiri menunggu Andre beranjak dari sisi Sarah.


Andre menggelang, ia terus menggenggam tangan Sarah dengan cemas.


“Angkat!” pinta Sarah lagi


Andre pun mengangkat panggilan dari ibunya. Ia diminta kembali karena sebentar lagi sang kakek akan mengumumkan siapa penerusnya.


“Sarah pingsan mah! ..... Sekarang ada om ardi disini!............. Andre gak bisa kesana!” Andre pun menutup panggilannya


“Pergilah!” pinta Sarah


“Aku gak mau ninggalin kamu” jawabnya


“Pergilah ndre, om juga gak bisa periksa Sarah kalo kamu terus pegangin tangan Sarah gitu” tegas Ardi yang dari tadi menunggu Andre beralih dari tempatnya.


“Aku tetap disini!” jawabnya


“Pergilah! Aku akan istirahat disini” paksa Sarah


“Tapi Sar?” Andre kembali protes


“Pergilah sayang.. kakek akan kecewa kalau kamu gak ada disana!” ucapan itu terdengar tulus, ia berharap bujukannya barusan bisa membuat Andre beranjak.


Sarah takut jika Ardi akan menyebut tentang kehamilannya.


“Tapi kamu?” Andre masih protes dan melihat cemas


“Aku gak ‘papa, ada om ardi juga, ya kan om?” Sarah melirik Ardi


“Iya, kamu pergilah, biar om yang jaga Sarah!” Ardi ikut meyakinkan Andre


“ayolah, jangan bikin aku merasa bersalah!” ucap Sarah menatap Andre


Sesaat Andre ragu meninggalkan istrinya. Tapi akhirnya ia menuruti keinginan Sarah karena takut Sarah semakin mengkhawatirkannya.


“baiklah aku pergi!” ucapnya beranjak berdiri, tapi


“Aku pergi bentar ya?” seperti biasa Andre mengecup kening Sarah


Setelah pintu tertutup, Ardi memeriksa Sarah. ia mendengar detak jantung Sarah begitu cepat. Sesaat Ardi menatap Sarah yang melihatnya penuh dengan ketakutan. Ardi memeriksa bagian perut Sarah. Ia menatap Sarah tersenyum. Memang asam lambung Sarah meningkat, tapi ia mendengar sesuatu yang lain.


Sarah menatap cemas pada Ardi yang tersenyum kecil. Ia tidak mungkin menutupi hal itu karena om Ardi seorang dokter yang pasti mengetahui kehamilannya yang sudah memasuki 12 minggu.


Ardi tersenyum pada Sarah yang cemas menatapnya

__ADS_1


“Sepertinya Kamu hamil Sar! Selamat ya!” ucapnya dengan senyum lebar penuh kebahagiaan


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2