
Kini sarah duduk bersandar di dada Andre, mereka berdua tak merasakan kantuk.
“Kalau kamu benar benar ingin tetap bekerja disini, aku akan mundur dari komisaris utama. Kita akan tinggal bersama disini...” Andre menggenggam tangan istrinya
Sarah menatapnya dengan tatapan sangat kaget. Bagaimana mungkin Andre melepas sesuatu yang sangat ia dambakan selama ini. Ia baru saja menjalaninya selama tiga minggu.
“Karena aku hanya ingin bersama kamu dan anak kita!” lanjut Andre dengan senyuman bahagia
Sarah menggeleng.
“Jangan mengambil keputusan seperti itu, jangan korbankan apa yang sudah kamu perjuangkan hanya untuk bersama ku!” Sarah menunduk menatap tangan Andre yang menggenggam tangannya
“Aku rela melepaskan segalanya hanya untuk bersama kamu sayang!” Jawab Andre mengangkat dagu Sarah dengan ujung telunjuknya.
Sarah masih diam menunduk. Andre mengangkat wajah Sarah lembut. membelai pipi Sarah lembut dengan buku buku jarinya.
“Aku hanya ingin bersama kamu, karena aku sangat mencintai kamu!” matanya berbinar mengucapkan kata kata itu, Mata yang penuh dengan tatapan cinta yang begitu dalam.
“Kalau boleh? aku ingin kita memutuskan itu bersama, bukan hanya keputusan kamu!”
“Hhmm..!” Andre mengangguk dengan senyuman setuju pada Sarah
Sarah hanya tersenyum kecil padanya. Andre pun mencium kening Sarah lembut.
“I love you so much!” bisiknya
Sarah tetap diam dengan sedikit senyum tersungging dibibirnya.
“Say something baby!” bisik Andre yang kini wajahnya sangat dengan Sarah
“Happy birthday!” bisik Sarah
Andre tertawa mendengar jawaban Sarah. ia tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Memang waktu ulang tahunnya hampir saja habis.
Perlahan bibir itu mendekat, melummat dan menyesap dan semakin menyesap.
“hhhmmmm” gumam Sarah mendorong tubuh Andre yang tak mau menjauh
“nanti! Kita masih di rumah sakit” ucap Sarah tersenyum dengan nafas yang juga memburu.
“Kalau begitu kita pulang sekarang!” ucap Andre beranjak
Alhasil, mereka meninggalkan rumah sakit malam itu karena kondisi Sarah yang susah membaik.
Malam Semakin larut, Sarah masih bergelayut manja di lengan suaminya disaat perjalanan pulang. Ia enggan menjauh dari Andre. ia seperti kecanduan aroma tubuh Andre. Ia tidak mual dan pusing jika terus mencium aroma suaminya.
“sayang!” panggil Andre yang merasa Sarah mulai tertidur bersandar padanya.
“hmmm..” jawab Sarah malas masih memejamkan mata.
“jangan tidur! kamu belum makan sama sekali"
"aku pusing!" ucapnya kembali memejamkan mata
"hah! kenapa tadi bilang gak papa waktu minta pulang?" Andre panik
__ADS_1
"aku ingin tiduran di kamar aja" ucapnya tersenyum
"tapi kamu belum makan sayang! tadi kamu gak mau makan makanan di rumah sakit" keluh Andre
"kita beli aja ya.. aku pengen bakmi sama batagor" ucapnya
"oke! kita beli!" kecup Andre pada puncak kepala Sarah
Pak Budi yang menyetir di depan tersenyum senang.
"kita makan dulu! Kamu dari siang belum makan!” Saat mereka tiba di rumah mereka
Sarah menatapnya dengan setengah membuka mata.
“kamu mandilah dulu, aku akan siapkan air hangatnya” Ucap Andre sangat pengertian
"Gak mas! aku siapin sendiri aja" ucapnya malu.
Sarah meninggalkan Andre masuk ke kamar untuk mandi. Andre menyiapkan meja makan malam. Tak lama setelahnya Sarah keluar dengan cantik. ia memakai dress pendek sepaha. Wajahnya kini segar, tidak pucat seperti beberapa bulan ini. Mungkin karena ia sedang berbunga bunga dan kasmaran, atau karena ia telah bisa menemukan keinginan sang bayi yang ingin berada di dekat sang ayah.
Andre mematung terpesona, rasa cinta dan sayangnya membuat matanya menatap Sarah seakan seorang ratu yang sempurna. Detak jantung itu semakin cepat, Andre menelan ludah dengan berat karena tubuhnya bereaksi lain terhadap pemandangan di hadapannya.
“Ayo!” ajak Andre
Mereka memikmati makan malam dalam diam, bukan karena saling marah, tapi saling bertatap seakan membaca mata masing masing.
Andre terus menatap istrinya dengan senyuman tipis, ia ingin sekali tersenyum lebar, tapi ia tahan, ia seakan malu menunjukan betapa bahagianya dia malam itu.
“Kok liatin aku terus?” Sarah menatap dalam mata Andre
Andre tidak menjawab, ia mengambil gelasnya dan meminum tanpa mengalihkan pandangannya pada Sarah
Entah mengapa tatapan Andre seperti ingin menerkamnya. Andre hanya seperti menunggu waktu yang tepat untuk memakannya saat itu.
“Kamu dah selesai?” tanya Andre masih terus menatap Sarah
Sarah menunduk melihat piringnya yang mulai kosong.
“Hmmm..!” Sarah mengiyakan dan berdiri ingin mengambil piring kotor Andre
Andre bergegas berdiri mengambil piringnya dan meletakkan kembali di meja makan. Ia menarik pinggang Sarah
kedalam pelukannya. Mendekatkan wajahnya pada Sarah, hingga terasa deru nafasnya yang dari tadi mungkin ia tahan.
“Sayang?” Sarah mencoba menanyakan keinginan Andre
Andre menarik wajah Sarah dan menyambar bibir Sarah. Lummatannya semakin mendalam dan membuat Sarah mengimbanginya.
“bernafas sayang!” lepas Andre pada ciumannya.
Sarah pun bernafas, namun kembali bibir itu disesap olehnya. Perlahan bibir itu terbuka, Andre dengan bebas memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Sarah.
Sarah semakin larut, lidahnya kini mulai bertaut, menyambut kenakalan sang suami.
Malam ini tubuhnya begitu menikmati sentuhan dan ciuman Andre. tidak ada lagi pertengangan dalam jiwanya. Yang ada hanya gumaman kenikmatan yang ia rasakan.
__ADS_1
Andre mengangkat tubuh Sarah. Ia seperti bayi koala yang menikmati cumbuan bibir sang suami. kaki Sarah melingkar erat di pinggang Andre. Ciuman itu tak terlepas hingga langkah mereka memasuki kamar.
Sarah kini justru agresif, ia menekan kuat kepala Andre seakan ingin memperdalam pertautan lidah mereka.
“aku mencintai kamu” ucap Sarah ketika membimbing bibir Andre ke lehernya.
Ungkapan yang begitu indah di telinga Andre dan membuat ia semakin menikmati ciuman dan kecupannya.
Andre terus mengecup leher itu, ia membawa Sarah ke kamar tanpa melepaskan ciumannya sedikit pun. Malam itu pun menjadi malam kedua mereka.
Kini tubuh mereka telah polos, Andre pun sempurna menindih Sarah. sejenak ia melepas ciumannya.
“kamu yakin?” tanya Andre merasa takut dengan kondisi Sarah.
Dengan merona Sarah mengangguk. Tak dipungkiri, ia juga merindukan sentuhan itu.
Andre kembali menatap dalam mata Sarah yang jelas berkabut gairah. Sarah juga mampu merasakan sudah sekeras apa gairah Andre dibawah sana.
“aku bagai mimpi” ucap Andre membelai wajah Sarah yang memerah.
“rasanya aku tidak percaya kamu juga mencintaiku” ucap Andre
“mas.. aku mencintai kamu” ucap Sarah
“mas?” tanya Andre lagi
“kamu tetap ingin ku panggil Andre?” senyum Sarah
Andre menggeleng
“aku suka panggilan kamu sayang” senyumnya
“panggil lagi sayang!” pintanya
“mas ..” Sarah menurutinya tapi suara itu seperti meminta
“lagi!” pinta Andre kembali
“maaa..sss” Suara Sarah seperti mendessah yang membuat Andre tarasa gila saat itu juga.
Akhirnya Andre menghempaskan keinginannya, tapi ia teringat Sarah yang mengandung dan baru keluar dari rumah sakit membuatnya harus menahan diri.
Pertarungan malam itu pun seakan tak maksimal. Tapi masih mampu memuaskan kedua insan yang merindukannya.
Sarah terengah, tubuhnya melemah, nafasnya mendessah. Ia lelah, telah diporak porandakan suaminya. Ternyata malam kedua begitu berbeda, tak ada rasa sakit tak ada nyeri, yang ada hanya puncak puncak kenikmatan yang berkali kali ia rasakan.
Sarah yang merasa terpuaskan oleh Andre tersipu malu ketika Andre mengecup keningnya saat mereka telah terhempas bersama.
“terima kasih sayang.. terima kasih” ucap Andre dengan nafas memburu setelah selesai menyemburkan cairannya.
“Aku sangat mencintai kamu” ucap Andre
Andre menyandarkan Sarah di tubuhnya. Ia memeluk sang istri yang kini terkulai tak mampu lagi melayani sang suami. Andre Kembali mengecup pelipis Sarah. Sarah pun tertidur pulas.
“mimpi indah cintaku” ucapnya dengan mata terang, seterang neon. Tak bisa memejamkan mata karena sesuatu yang membuatnya tetap terjaga.
__ADS_1
Dan aku masih ingin! Benaknya meronta meminta tubuh itu lagi, namun apalah daya! sang istri sudah mendengkur halus.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~