
Sebelum baca, izinkan saya promo dikit tentang novel saya yang lain ya..
Kalau berkenan, mampir ya kak.. !
Happy Reading!
Saat makan malam. Sarah justru memesan makanan pesan antar. Ia tidak melanjutkan cakenya. Hanya mengurung diri di kamar, bahkan ia melewatkan episode terakhir dari drama yang ia ikuti selama ini.
“Aku harap kita gak usah bahas kejadian tadi. Aku ngerti seberapa kamu tersiksanya bersamaku disini.. sedang kamu sangat merindukan Susan. Jadi aku bisa maklum! Cuman kedepannya moga kamu lebih bisa menahan, dan aku harap gak ada kejadian kaya tadi lagi..” tatapnya seolah mengerti apa yang Andre rasakan
Andre hanya diam, tidak ingin membahas apapun dengan Sarah, tadinya dia berpikir setelah ciuman itu Sarah akan merasakan tentang perasaannya padanya, tapi dia salah! Ia pun sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Sarah.
“Hemm!” Andre mengiyakan dengan nada dingin
Andre pun makan hanya sedikit. Ia mengambil minumnya. Ia membereskan bekas makannya dan meninggalkan Sarah tanpa sepatah kata pun. Ia seperti anak lelaki kecil yang sedang merajuk karena tidak mendapat permen.
Sarah melihatnya dengan bingung, bukankah seharusnya dia yang marah? Karena dia yang dicium. Tapi kenapa justru Andre yang bersikap seperti itu?
Di lain tempat Daren tiba di kota kecil tempat Sarah bekerja. Ia mendatangi tempat kerja Sarah. tampak tempat itu disegel. Ia pun mendatangi security disana dan menanyakan. Tapi mereka mengatakan tempat itu hanya ditutup sementara.
Daren pun menanyakan contact person Sarah, tapi mereka tidak bersedia memberikan contact personnya pada Daren.
Daren pun mendatangi tempat sang bibi. Bibinya yang dari dulu memang tidak menyukai bule itu, malah memintanya untuk tidak mengganggu Sarah yang sekarang sudah berumah tangga dengan bahagia.
Daren kesal! ia terlambat menyelamatkan Sarah saat itu, seharusnya ia tidak meninggalkan gadis itu, karena setelah kepulangannya ke Belanda, yang ada justru ia merindukannya dengan sangat.
Dua hari setelah kejadian ciuman itu. Sarah seakan cuek dengan Andre. Andre pun yang merasa masih kesal juga tidak menghiraukan Sarah. Mereka seperti perang dingin yang mungkin tidak akan ada akhir. Sarah memilih makan malam lebih dulu sebelum Andre pulang dan menyiapkan makan malam Andre sendiri. Mereka saling menghindari dan saling mendiamkan.
Pagi itu Sarah pun memilih meninggalkan rumah. Kembali ke tempat tante adalah hal yang tidak mungkin. Ia justru akan mendapat sejuta pertanyaan disana. Ia melihat kembali kunci rumah yang dulu Daren berikan padanya.
Sarah mengirim pesan ke Andre dan mengatakan ia kembali ke perusahaan. Andre yang sedang meeting menerima pesan itu langsung tidak fokus. Dia membalas pesan Sarah dan akan meminta Pak Budi untuk mengantarnya, tapi Sarah malah menjawab ia sudah berada di bis. Andre merasa bersalah. Sikap dinginnya mungkin membuat Sarah pergi. Ia semakin galau. Apalagi ia melihat email yang terakhir Daren kirim. Bahwa ia sudah kembali.
Sarah turun dari bis dengan malas. Ia berjalan menuju tempat Daren seperti tanpa tenaga. Ia berharap
Daren tidak meminta orang lain menempati rumah itu. Sarah membuka kunci rumah. ia melihat tempat Daren terkesan bersih. Tiba tiba ada seseorang keluar dari kamar. Sarah menoleh dan rasanya ia tidak mempercayai apa yang ia lihat.
__ADS_1
“Nyai?” Daren melihat Sarah berdiri ditengah ruang
“Daren?” Sarah merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat
Daren berlari dan memeluk Sarah erat. Ia sangat bersyukur Sarah akhirnya datang.
“Akhirnya loe datang!” ucapnya semakin erat memeluk Sarah
Sarah hanya merasakan pelukan Daren yang erat terasa berbeda. Seolah bukan pelukan dari seorang sahabat yang pergi begitu lama, tapi dari seorang kekasih yang merindukan kekasihnya.
“Kapan loe datang? Kok gak ngasih kabar ke gue?” Sarah melepaskan pelukan Daren
Daren menatap aneh pada Sarah
“Gue kirim email ke loe.. gak loe balas balas lagi..”
Mendengar itu Sarah pun mengecek emailnya, tapi tak ada satupun pesan dari daren.
“Aneh, kok gak masuk ya email loe?” ia terus mengecek email miliknya
Daren menunjukan email darinya, Sarah pun mengecek di tanggal itu tidak ada email dari Daren.
“Ya sudahlah..!” ia mengambil ponsel Sarah. Dia menghubungi ponselnya dan menyimpan nomor Sarah.
Sarah merasa canggung saat Daren melirik tas pakaian miliknya. Melihat raut wajah Sarah berubah. Ia mengerti bahwa Sarah saat itu sedang dalam masalah.
“Loe kabur?” dia menatap tajam ke Sarah dengan curiga
“Tadinya gue mau make ni rumah sementara gue lagi gini!” keluh Sarah duduk di sofa
“Loe bisa tinggal disini kalo loe mau!” jawab Daren langsung
“Sudahlah! Gak usah bahas itu! loe dulu cerita kenapa gak ada kabar sama sekali ke gue?” Ucap Sarah dengan tatapan mengancam
Daren tersenyum melihat sahabatnya yang tetap bersikap seperti dulu
“Gue ngehubungin loe waktu berangkat, loe gak ngangkat, habis itu gak bisa dihubungi sama sekali...” Daren pun menceritakan panjang lebar bagaimana ia tidak bisa menghubungi Sarah, bahwa ia kehilangan ponselnya saat tiba di Belanda, dan ia tidak mampu menemukan kontak Sarah, ia mengirim pesan di sosmed milik Sarah tapi tetap saja tidak ada balasan
“Loe tau kan tu sosmed udah gak gue buka lagi bertahun tahun” Sarah berdalih dan pergi ke dapur untuk melihat apakah ada sesuatu di dalam kulkas
“Loe sendiri? sekarang kabur dari suami loe kan?” tebak Daren
__ADS_1
Sarah yang tadinya ingin mengambil apel yang ada di dalam berhenti sejenak mendengar pertanyaan dari daren.
“Gue ke tempat tante kemarin, tante bilang loe hidup bahagia sama suami loe!” Daren menatap curiga ke Sarah
“Yah..! apa yang tante bilang emang benar! Gue bahagia!” Sarah mengatakan itu justru dengan nada mengeluh
Ucapan Sarah seakan menjelaskan pertentangan, jelas mengatakan bahagia tapi dengan nada sedih.
“Loe gak bisa nolak lelaki tua itu?” Daren berpikir Sarah menikah dengan lelaki pilihan tantenya
“Loe gila! Gue gak menikah sama dia!” Sarah kesal mengingat kejadian itu
“Terus?” Daren penasaran
“Ya sama pacar gue lah!” Sarah berdalih
“kaya gue percaya aja!” ejek Daren
Sarah terkekeh mendengarnya. Tapi ia menghindari Daren membicarakannya
“Kayanya ada sesuatu deh?” Daren penasaran
“Gue menikah? Bener! dan sekarang gue lagi ribut ma laki gue!” jelas Sarah kesal
“Loe gak mau cerita ke gue?” Daren masih menunggu cerita tentang Sarah menikah dengan suaminya sekarang
Sarah hanya menatap Daren seolah berharap Daren mengerti.
Daren pun akhirnya hanya menceritakan perjalanan pulangnya, waktu seakan berhenti saat mereka ngobrol seperti dulu lagi. Tapi ada yang berbeda dengan perasaan Sarah kali ini. Dulu ia sangat menyukai saat bersama Daren, tapi sekarang ia kenapa ia malah memikirkan Andre?
Sarah dan Daren menghabiskan waktu bersama, makan, jalan jalan dan semuanya, sama seperti dulu. tapi ada Hal yang berbeda, Kini sarah dingin dengannya.
Sarah ingin pergi. Tapi Daren meminta ia menginap disana. Sarah tidak ingin ia terkesan tinggal dengan lelaki lain disaat statusnya yang sudah menikah. Daren pun mengerti dan mengantar Sarah ke salah satu losmen disana.
Sarah melihat ponselnya. Tidak ada satupun pesan dari Andre. Sarah merenungi kesalahannya tentang ciuman itu, seharusnya saat Andre menciumnya ia menolak, tapi setelah hidup bersama Andre beberapa bulan ini, tubuhnya seperti tidak bisa mengatakan tidak untuk membalas ciuman itu.
Sarah memejamkan matanya. Ia menyudahi pemikirannya yang merasa ragu dengan semua. Baginya Andre hanyalah sebuah istana pasir yang indah di tepi pantai, dimana ketika ombak datang kembali, maka ia akan menghilang.
Sedang Andre masih menatap foto foto Sarah bersamanya. Ia tersenyum ketika ia melihat foto Sarah yang sedang makan. Ia merindukan istrinya. Ande melihat jam yang sudah menunjukan pukul 01:00 dinihari. Biasanya malam malam begini Andre akan mendapat omelan darinya. Memaksanya untuk tidur.
Tiba tiba suara pemberitahuan email masuk pada laptop miliknya yang masih menyala. Andre pun mengecek karena mengira email penting. Ternyata sebuah pemberitahuan dari facebook milik Sarah.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~