Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Bonus Chapter : Sedih Tanpamu


__ADS_3

Andre telah berada di pesawat. Melepas istri tercinta tinggal sendiri disana bagai melepas bongkahan berlian termahal yang ia tinggalkan.


Helaan nafas malas terus terdengar membuat sang asisten merasa jengah mendengarnya.


“nyonya muda akan baik baik saja tuan!” ucap sang asisten


“berdoalah! Karena kalau dia kenapa napa kamu yang pertama ku penggal karena kamu terus memaksaku kembali”


“bukankah harusnya tuan besar? Tuan muda!” tanyanya


“kamu lah!” jawabnya kesal


“terserah andalah!” ucapnya berdiri meninggalkan sang tuan.


Sedang Sarah menatap malas pemandangan diluar jendela kaca mobilnya. Belum jauh mobil itu membawanya pergi dari tempat terakhir ia melepas sang suami, kini hatinya sudah dipenuhi kegalauan dan kerinduan.


Ia terus mengusap perutnya dalam sebuah senyuman mengingat dua hari yang begitu indah bersama sang suami.


“mual bu?” tanya Pak Budi


“ah tidak pak” senyumnya pada Pak Budi yang ternyata sambil mengawasinya dari kaca spion depan.


Sarah kembali bekerja siang itu, namun suasana begitu canggung saat ia memasuki kantornya.


Sang atasan yang tadinya santai kini berbicara formal padanya.


“Tolong bapak jangan seperti ini pak..” Pinta Sarah tak nyaman


“tidak apa bu, maaf kemarin saya memang sedikit curiga saat membaca laporan peralihan saham ketika nama anda tertera disana” ucapnya


Sarah hanya menunduk. Ia mulai merasa tak nyaman.


“saya kesini ingin menjelaskan pak..” ucapnya pelan


“tak apa bu.. bapak juga berpesan, kalau ibu sedang hamil muda dan sering lelah, jadi kami akan berusaha sebaik mungkin agar ibu merasa nyaman”


Sarah semakin kesal dengan Andre yang ternyata terlebih dahulu memberi ‘wejangan’ pada sang direktur.


Awas aja kamu! benaknya kesal


“saya ingin menanyakan masalah kontrak kerja pak” tanya Sarah


“untuk apa kontrak itu bu.. kan disini sekarang justru ibu berada di posisi di atas saya” jawabnya


“bagaimana pun saya asisten bapak” jawab Sarah


“itu mungkin dulu bu, sekarang kan sudah beda” senyum pak Hilman


“oya? Bapak juga menanyakan pada saya tentang pengunduran diri ibu, saya mengatakan kami bisa menerima kapan saja” Pak Hilman bicara jelas.


Hal itu membuatnya semakin kesal.


“kalau begitu saya kembali ke meja saya pak!” ucap Sarah pamit.


“bu Sarah ingin menempati ruangan sendiri?” tawar Pak Hilman


“tidak perlu Pak, cukup suruh saya kerja seperti dulu, jangan bersikap seperti ini, itu buat saya nyaman” ucapnya sedikit kesal


Pak Hilman tersenyum melihatnya.


“kamu itu aneh Sar! Punya suami yang memberikan kamu perusahaan terus perhatian, kamu malah kesal” ucapnya tersenyum


“nah gitu dong pak! Kaya dulu, jangan bu bu bu, anda anda” senyum Sarah

__ADS_1


“kamu sekarang atasan aku, ya harus gitu!” godanya lagi


“ogah! Saya gak mau pak, aduh.. gara gara mas Andre nih” keluhnya


“kok kamu gak cerita kamu istri Pak Andre?” tanyanya


“coba kalau terjadi sesuatu sama kamu disini, bisa bisa Desi batal kuliah di LN sar” ucap Pak Hilman menyebut putrinya yang akan kuliah di Luar Negeri


Sarah tersenyum


“ya gak lah pak” kini mereka kembali bersikap santai


“kamu tahu.. suami kamu bilang mulai sekarang kamu boleh kerja kalau dari jam sepuluh pagi, terus kalau kamu capek, kamu harus istirahat! Dia mengancam kalau kamu kenapa napa, perusahaan ini akan ia tutup” jelas Pak Hilman


“astaga!! Mas Andre” Sarah menggelengkan kepala tak percaya yang ia dengar


“pantes aja tadi saya tanya laporan untuk bapak semua bilang belum” senyumnya


“semua udah pada ngasih langsung ke saya”


“terus semua karyawan senang, saat kemarin kamu di jemput, semua kan dapat traktiran cake mahal yang enak dari suami kamu”


“oya?” tanya Sarah kaget


“iya! Saking banyaknya sampai pada bawa pulang, termasuk saya” ucapnya lagi tertawa


Sarah ikut tertawa.


*


*


Setelah ditinggal Andre selama tiga hari Sarah semakin tersiksa dengan keinginannya sendiri untuk selalu berada di dekat sang suami. Alhasil,  Hari ini Sarah kembali meminta ijin untuk tak mengantor pada sang atasan.


Wajahnya pucat karena setelah memuntahkan semua isi perutnya


“sayang kamu gak papa?” tanya Andre khawatir.


“kok ngidamku gak berkurang ya.. malah tambah parah gini” keluhnya dengan wajah sedih.


Hiks hiks hiks..


Suara itu terdengar lirih. Perasaannya semakin kacau karena perasaan yang semakin berkecamuk yang dia sendiri tak mengerti.


“sayang jangan nangis ya.. nanti sore aku kesana deh!” jawab Andre kemudian melirik seseorang yang berada di belakang ponselnya.


“beneran? Kamu mau kesini?” mata Sarah berbinar. Mendengar ia akan menemui sang suami, perasaannya sedikit tenang.


Andre mengangguk dan tersenyum manis pada sang istri


“sayang… nanti malam kita ketemu papah ya?” usap Sarah pada perutnya


Andre tersenyum, tapi seseorang yang menatapnya justru menatap kesal.


“mas aku kangen kamu..!” wajah itu kembali mendung


“iya.. sama sayang, aku juga kangen banget sama kamu”


Ingin sekali Andre mengusap pipi itu, memberi ketenangan, memeluk wanita yang kini begitu ia cintai ke ke dalam pelukannnya dan menghangatkanya.


“hiks hiks hiks” isakan tangis itu terdengar


“sayang sudah.. jangan menangis.. nanti malam aku pasti kesana!” bujuk Andre halus

__ADS_1


Sarah mengangguk


“aku kok gampang sedih sekarang.. gak tau kenapa..” ucapnya disela tangisnya


“sejak kamu pulang kemarin.. bawaannya ingin nangis terus” lanjut Sarah


Andre tersenyum mendengarnya, kini ia punya alasan jika Sarah harus tetap bersamanya


“makanya nanti kamu pindah kesini ya? biar dedek bayinya selalu dekat sama papahnya,… biar mamah gak nangis lagi..” rayu Andre


Sarah kembali mengangguk. Kini ia menyadari, jika bawaan bayi yang ingin selalu bersama Andre.


Seseorang yang masih betah duduk di depan Andre menghela nafas dan menutup matanya sejenak. Ekspresinya menggambarkan sebuah beban berat saat mendengar percakapan tersebut.


“kerjaan kamu banyak?” tanya Sarah baru menyadari jika sang suami sedang berada di kantor


“Tidak sayang… mau nemenin?” Andre kembali melirik seseorang yang berada dibelakang ponselnya


“gak ah… nanti kamu gak fokus” ucapnya dengan tingkah manja kembali berbaring


Ucapan Sarah terdengar di telinga lelaki tersebut. ia pun tertawa mendengar penolakan Sarah pada Andre.


“kamu gak sendiri?” tanya Sarah mendengar suara orang lain


“biasa.. nih.. pengganggu!” Andre memutar kameranya pada sang kakek


“astaga.. kakek! Maaf mengganggu kek” ucap Sarah merasa tak nyaman


“kakek hanya mengawasi suami mu bekerja, takut dia tak akan bisa fokus karena istrinya jauh” jawabnya menyapa


“iya kek” ucap Sarah menunduk sedih merasa disinggung oleh lelaki tua itu


“kamu nangis terus ya? kok mukanya gitu?” tanya sang kakek


“iya kek… gak tau kenapa … sekarang gampang nangis” keluh Sarah merasa nyaman diperhatikan.


“itu bawaan bayi..” ucap sang kakek dan dibalas senyuman Sarah


“ya sudah! Wajah suami kamu semakin masam” ucapnya


“dah kakek!” Sarah melambaikan tangan


“sayang tutup dulu ya?” ucap Sarah setelah menatap wajah suaminya


“hem.. love you” ucapnya melambaikan tangan


“love you too” ucap Sarah dan memutus panggilannya.


“cepat pulang! Jemput istrimu sekarang! Astaga… nasibku.. setelah puluhan tahun kenapa harus ketemu lagi hal ini!” keluh sang kakek berdiri sambil menggeleng pelan kepalanya.


“maksud kakek?” tanya Andre


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mohon maaf karena baru bisa update sekarang, karena kesibukan yang luar biasa akhir akhir ini..


Semoga kedepannya saya bisa menulis lagi dan menambahkan banyak cerita unik tentang mereka berdua..


Terima kasih karena masih setia menemani saya menyelesaikan novel ini


Salam


Hafila_Asda

__ADS_1


__ADS_2