
Semua kembali tenang, tak ada lagi pertengkaran dan tak ada lagi perdebatan, yang terlihat hanya senyum bahagia dari pasang pengantin lama yang terasa baru, Andre & Sarah.
“kakek senang kamu berbuat itu!” ucap sang kakek.
“pertahankan suami kamu, dan kalau dia yang macam macam, laporkan ke kakek, biar kakek kebiri dia!” ucapnya melirik ke Andre
“ah kakek! Gak mungkin Sarah mau mengadu kalau gitu...” ucap Andre
“kenapa?” tanya sang ibu
“mana mau dia kehilangan sumber kenikmatannya” ucap Andre tanpa malu
Plak!
Sarah memukul lengan Andre karena merasa malu dengan omongan sang suami. Belum selesai ia malu dengan semuanya, kini sang suami justru menambah merah wajahnya.
Sontak semua orang kembali tertawa. Melihat kekerasan yang dilakukan Sarah pada sang suami.
“kan bener sayang?” ucap Andre lagi yang masih duduk menjuntai di ranjang Sarah. sejak tadi tangannya menggenggam tangan sang istri. Kini wajahnya berseri dan menggambarkan kebahagiaannya saat itu.
“kek... mah! udah malam! Mending kakek sama mamah balik aja!” ucap Andre mengusir kedua orang penting itu.
“dasar anak bandel! Ngusir kakeknya sendiri” jawab sang kakek.
Sarah terkekeh.
“heh! Ingat ingat Ndre.. ini rumah sakit!” ucap Nensi
“yang bilang hotel siapa mah?” tanya Andre membela diri
“paling kalau kakek sama mamah keluar ini bisa jadi hotel” jawabnya
“tergantung mah!” ucap Andre tersenyum mengangkat alisnya
“heh! Jangan mesum di rumah sakit kamu!! malu maluin aja” ucap ibunya
“biarin aja nen! Lagian mereka lama gak ketemu, kan sama sama lapar tuh” bela sang kekek
Wajah Sarah semakin merah mendengar obrolan absurb keluarga mertuanya.
“ahh.. sudah sudah .. Sarah mau istirahat mah kek!” ucap Andre berusaha mengusir mereka.
“mamah nginap disini kok! Mamah mau jaga menantu mamah yang sakit” ucap Nensi berusaha menahan tawanya.
“aahh gak bisa!!!” jawab Andre langsung menyambar
“kamu tu! Mamah ingin menjadi mertua yang baik!” paksa Nensi menggoda sang anak
“ah.. baik apanya.. bilang aja mau gangguin Andre sama Sarah!” jawab Andre lagi
Sarah tersenyum malu, keluarga mereka semakin menjadi
“sayang! Mamah boleh kan nginep disini nemenin kamu?” tanya Nensi pada Sarah
Baru Sarah ingin membuka mulutnya untuk bicara,
“Gak! Gak boleh!!” jawab Andre
__ADS_1
Kakeknya terbahak diikuti tawa sang ibu.
“ketahuan banget kamu mau mesumnya Ndre!! Emang Sarah kuat?” goda sang ibu.
Sarah memejamkan mata, ia sudah malu setengah mati dengan kejadian tadi, ditambah sekarang mendengar obrolan mereka seakan membuatnya ingin mencari lubang semut dan bersembunyi disana.
Andre menoleh tersenyum pada istrinya yang menunduk menenggelamkan wajahnya yang memerah.
“ingat! Jangan melakukan hal memalukan disini! Disini bukan hotelll!!!” penekanan kata hotel terdengar jelas dari mulut sang ibu.
“eleh kamu Nensi! Dulu aja kamu juga sama! Ngelakuin di rumah sakit juga!” bela sang kakek
Mata Andre membulat mendengar penuturan sang kakek.
Pantes aja mamah berpikir seperti itu, ternyata beliau pernah! Sarah tersenyum tipis.
“ah papah! Buka buku lama aja! hehehehe” ucapnya tersenyum
“hah! Jadi bener mah?” tanya Andre meyakinkan
Andre tertawa.
“Berarti kalau malam ini Andre lakuin itu boleh dong?” ucapnya lagi sembari tertawa
Plak! Kembali Sarah memukulnya
Ia seperti orang bisu yang tak bisa ikut bicara dengan mereka. obrolan mereka ‘terlalu’ tak bisa ia tanggapi.
Mereka semua tertawa melihat kelakuan Sarah dan Andre.
“udah gak sabar ya?” goda sang ibu lagi
Astaga!!! Ampun deh aku punya mertua! Benak Sarah.
Andre justru menanggapi sang ibu dengan senyuman dan kening yang turun naik. Membuat sang kekek menggeleng geleng.
“ayo Nen! Jangan ganggu anak mu terus! Lagian dia mau lengkapin cicitku.. sapa tahu tangannya belum dibentuk” ucapnya beranjak dan membuat Andre tertawa.
Sarah hanya menutup muka dengan tangan menahan tawanya.
“Dah sayang! Besok mamah kesini lagi deh!” ucap Nensi mendekat dan mencium sang menantu
“yang kuat ya!” bisiknya pada Sarah membuat tubuh Sarah memanas karena kembali merasa malu.
“kakek pulang dulu Sarah! jangan berpikir yang tidak tidak ya!! jaga cicit ku dengan baik!” ucapnya dengan wibawa tapi masih mengandung perhatian yang kuat pada Sarah
“iya kek!” jawab Sarah
“tuh kamu denger kan apa kata kakek? Aku harus jaga cicitnya!” ucap Sarah pada Andre dengan tatapan mengancam.
Andre kurang mengerti dengan ucapan Sarah. tapi Nensi mengerti dan tertawa meninggalkan ruangan itu bersama sang ayah.
Setelah kepergian kedua orang yang tak habis habisnya menertawakan Andre dan Sarah. Andre mendekati dan duduk mendekati istrinya.
Ia menatap tersenyum pada Sarah dan dibalas dengan senyuman yang mengartikan penantian yang berakhir.
Andre mengambil tangan Sarah dan menggenggam tangan itu. ia menatap tangan yang terus ia mainkan, mengecup beberapa kali seolah tangan itu begitu harum dan nikmat
__ADS_1
“terima kasih sayang.. terima kasih karena kamu udah bersedia menerima ku, mempercayaiku, aku mencintai kamu” ucap Andre menatap sang istri.
Sarah menatapnya dengan berkaca kaca wajahnya memerah bersemu entah karena malu atau apa, yang pasti ucapan itu terasa berbeda.
Ia menarik Andre dan memeluk Andre erat, ia mengangis terisak. Entah karena bawaan bayi atau kerinduannya, tapi ia sangat merindukan pelukan itu.
Isak tangis Sarah terasa di dalam pelukan Andre. sedang Andre hanya bisa memeluknya erat dan mengelus pundak dan puncak kepala Sarah.
“maafin aku .. maafin aku!” ucap Sarah dalam isak tangisnya
“sssttt.... ssstttt.. lupakan semuanya, kita mulai lembaran baru” ucap Andre
Sarah semakin erat memeluknya ia membenamkan wajahnya di bahu Andre. aroma itu begitu ia sukai, dalam seketika pusing dalam kepalanya menghilang.
Lama mereka saling berpelukan, melepas semua kelelahan dan kerinduan. Membiarkan Sarah menumpahkan segalanya dalam tangis dan dekapan.
Setelah Sarah tenang, Andre melepas pelukannya, ia menyeka air mata Sarah.
“sekarang istriku sangat cengeng!” godanya mencubit kecil pipinya.
“gara gara kamu juga!” ucapnya menatap Andre dengan cemberut. Andre menaikkan alisnya seakan bertanya dan bingung.
“karena kamu gak jujur ke aku” ucapnya menunduk
“bagaimana aku bisa jujur kalau kamu bilang kalau aku putus dengan Susan kita akan cerai! Dan setelah malam itu kamu tahu aku putus, kamu beneran mengajukannya” ucap Andre mengenggam tangan Sarah
“kapan aku bilang gitu?” elak Sarah yang lupa akan omongannya sendiri
“kamu ingat waktu kita ngobrol di teras belakang? Aku tanya ke kamu, kalau aku putus sama Susan gimana? Kamu jawab kita cerai! Gitu!” ucap Andre
“masa sih?” Sarah memang tak bisa mengingatnya
“astaga!!” Andre menutup wajahnya dengan satu tangan
“aku selama ini menutupi perasaan ku karena takut akan hal itu, ternyata kamu justru lupa” ucapnya dengan wajah sedih
Sarah kembali tersenyum, ia merasa bersalah. Tapi ia memang tak bisa mengingatnya.
Andre meletakkan tangannya di perut Sarah.
“tapi aku senang! Sekarang ada dia yang mengikat kamu ke aku! Kamu gak akan pernah bisa pergi dari aku” ucapnya
Sarah hanya menangkup tangan Andre dengan tangannya.
“Sayang, maafin papah yang baru tahu ternyata kamu telah hadir!” ia pun mencium perut Sarah
Ada senyum lebar tergambar di wajah Sarah. Andre mengangkat wajahnya dan melihat Sarah yang tersenyum seperti itu. ia pun mengecup bibir Sarah lembut. Namun ciuman itu semakin menuntut. Lama mereka berciuman hingga Sarah kehabisan oksigen.
“Terima kasih sayang, hadiah ulang tahun ku yang gak akan pernah bisa aku lupakan!” ucapnya melepaskan ciumannya
Andre terus mengusap usap perut Sarah. senyumnya tak pernah hilang. Ia duduk serius menatap Sarah.
Saat Andre mendekatkan kembali wajahnya ingin mencium Sarah.
“kata mamah jangan mesum disini” ucapnya menahan bibir Andre dengan telunjuknya. Namun Andre justru mengecup ujung jemarinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1