
Suara keributan terdengar di luar kamar Yuni. Yuni yang asyik mendengarkan musik dengan headsetnya pun akhirnya mematikan musiknya. Salah satu bibi Sarah yang merawatnya ketika kecil mendatangi rumah mereka. Yuni sekilas mendengar pembicaraan ibunya dan sang bibi menyebut nyebut nama Andre.
Bibi Sarah yang merupakan istri dari pamannya tersebut tiba tiba berkunjung ke rumah mereka.
“aku dah minta Andre untuk kesini!!” ucap sang bibi ke pada tante Dilla (ibu Yuni)
Mendengar itu Yuni pun melotot tidak percaya.
Apa yang tadi mereka bicarakan hingga seribut ini? benak Yuni
Yuni pun mengirim pesan pada Sarah. Ia hanya melirik pesan Yuni yang terlihat di layar ponselnya. ia memilih mengabaikan pesan penting itu karena meeting sudah hampir saja selesai.
‘Cepetan kesini ka! ada masalah besar!’ Isi pesan tersebut
Saat meeting selesai. Sarah menghubungi Yuni, dan Yuni menceritakan tentang keributan di rumahnya. Mendengar Andre yang dipanggil kesana, Sarah pun langsung pergi menggunakan taksi menuju rumah sang tante.
Saat memasuki halaman rumah terlihat mobil Andre terparkir disana. Perlahan Sarah masuk ke dalam rumah. Ada Andre yang duduk mendengarkan sesuatu yang dijelaskan sang Bibi.
“Bibi?” Sarah melihat sang bibi saat memasuki rumah
Andre berdiri melihat Sarah yang datang
“Ada apa ini?” tanya Sarah curiga menatap Andre dan bibinya secara bergantian
Andre langsung menghampirinya.
“Bibi Cuma mengajak silaturahmi” ucap Andre ingin menutupi pembicaraan mereka
“Silaturahmi?” Sarah menatap ke arah sang bibi dengan kening berkerut.
Bibinya tampak canggung. Tiba tiba Yuni keluar dari kamarnya.
“Bibi minta modalin bisnis kuliner sama mas Andre” ucap Yuni nyaring
Yuni yang dari dulu tidak menyukai sang bibi akhirnya sudah tidak mampu menahan diri lagi
“Yuni!” bentak sang bibi
“Apa apaan bi? Ngapain minta ke Andre? kenapa gak ngomong ke saya?” Sarah kesal
“Iya Sar, tante gak ikut ikutan ya?” ucap Dilla yang duduk dari sisi lain
Andre hanya diam melihat kejadian itu.
“Sebagai orang yang menampung kamu sewaktu kamu kecil, bibi berhak dong meminta bantuan pada suamimu yang memiliki kemampuan lebih?” ia berbicara dengan nada sangat lembut tapi bertolak dengan kata kata yang ia ucapkan
“Apa bibi bilang? Jadi bibi ingin saya membayar kembali biaya hidup saya selama enam tahun di rumah bibi? Begitu?” Sarah benar benar marah mendengar kata kata sang bibi
__ADS_1
“Sudah sayang, tidak apa apa!” Andre mencoba menenangkan Sarah yang mulai emosi
“Bibi merawat dan menyekolahkan kamu dengan baik, wajar dong?” ucapnya dengan senyuman lembut dan menawan.
Akhirnya Sarah benar benar naik pitam. Dadanya yang sedari tadi bergemuruh akhirnya keluar
“Merawat?” ucapnya meninggi. Dada terlihat naik turun karena nafasnya memburu oleh kekesalan dalam dadanya
“Saya menjadi pembantu di tempat bibi selama enam tahun, bibi hanya memperlakukan saya seperti budak. Makan dari sisa makanan kalian.. itu yang dibilang merawat?” Sarah teriak mengeluarkan semua beban dadanya
“Menyekolahkan? Tidak ada seribu perak pun bibi mengeluarkan uang untuk biaya sekolah saya, saya bekerja sendiri untuk membiayai sekolah, menjadi penjaga toko kelontong, pesuruh di toko bu mini, membersihkan rumah pak joko, pengumpul di toko bekas, itu biaya sekolah saya, bibi tidak pernah memberi saya uang sepersen pun, jadi tidak perlu mengatakan semua itu kalau ingin meminta balasan!” ucapnya
“Tapi tetap saja bibi menampung kamu!” jawabnya
Sarah berusaha menahan tangisnya. Ia sangat kesal dengan sang bibi.
Yuni tidak pernah tahu seperti apa kehidupan remaja Sarah. yang ia tahu saat Sarah diajak tinggal dengannya saat kelas 1 SMA, saat itu ia terlihat sangat kurus.
“Jadi seperti itu kamu memperlakukan Sarah?” Dilla ingin terlihat membela Sarah dan seakan ikut merasa marah
Sarah berusaha memalingkan wajahnya dan menahan tangisnya
“Elleh.. kamu dilla! kaya aku gak tau, kamu juga memperlakukan Sarah kaya gitu kan?” balasnya
Andre menatap Sarah yang menahan emosinya. Ia baru mengetahui perjalanan hidup Sarah bukanlah sebuah perjalanan hidup yang mudah dan indah. Hatinya seakan teriris oleh semua kejadian yang ada di depannya
“Iya!” Bela Yuni pada sang ibu
“Menyayangi? Cuih! Kamu juga memperlakukan dia seperti pembantu! Terus dengan bilang kamu menyemangatinya agar dia lebih semangat bekerja dengan mempunyai tanggung jawab, kamu sebenarnya minta agar dia memebiayai kuliah Yuni... heh? Kamu pikir aku gak tau jalan picik pikiran kamu?”
Sarah begitu geram mendengarnya. Meski benar apa yang diucapkan sang bibi, tapi tetap saja ia masih memakluminya karena sang tante memang terlihat lebih baik dari pada wanita itu.
“jangan dengarkan dia sarah! dia hanya mengada ada agar kamu marah dengan tante” ucap Dilla merasa takut
“dan satu lagi... Kamu ingin menikahkan Sarah dengan duda tua itu karena kamu dibayar‘kan? Kaya aku gak tau, kamu terima tiga puluh juta dari Andre saat dia meminta untuk menikahi Sarah!” jelasnya gamblang
Sarah seperti disengat ribuan watt listrik saat mendengar itu. lututnya melemas tiba tiba, ia masih berusaha tetap berdiri meski dengan tubuh gemetar.
“Apa bibi bilang?” mulut dan mata Sarah seakan tak mampu menutup mendengarnya
Yuni pun ikut terkejut mendengar itu. Andre hanya menutup mata mendengar ucapan sang bibi.
“Apa bibi bilang barusan?” Sarah seakan salah mendengar
“Bilang Dilla, bilang sama Sarah!” bibinya pun akhirnya ikut emosi karena ia merasa terpojok
“Bibi jangan sembarangan bicara!” Yuni marah merasa tak terima ibunya difitnah
__ADS_1
“Asal kamu tau Sarah, Andre harus menyerahkan uang itu! kalau tidak Dilla tidak akan menerima lamaran Andre waktu itu!” jelasnya berapi api
“jaga mulut kamu!!” teriak Dilla
Rumah itu seperti pertarungan mulut yang membuat semua mata tetangga mengintip.
Sarah menatap Dilla, air matanya jatuh. Tante Dilla pun tidak bisa mengatakan apa apa lagi padanya. ia hanya menatap Sarah tanpa ekspresi.
“Tante katakan itu bohong!” pintanya pelan dan sedih dengan tetesan air mata yang mengalir
“Tante hanya minta untuk persiapan pernikahan kamu!” Jelas Dilla dengan canggung dan merasa tidak nyaman
Sarah pun terduduk lunglai. Mulutnya masih menganga, Ia tidak percaya ia telah dijual oleh tantenya sendiri yang ia anggap sebagai wanita pengganti ibunya.
Andre mencoba menahan tubuh Sarah jatuh terduduk dan tak mempunyai tenaga
“Sarah!” Andre menahan bahu Sarah
“sudahlah... kita pulang!” ucap Andre ingin membantu Sarah berdiri
Sarah menepis tangan Andre dan berdiri lagi. Ia mengambil tasnya. Ia mengeluarkan kartu ATM miliknya dan meletakkan disana.
“Di rekening ini ada uang delapan puluh juta, kalian ambil! Anggap aku melunasi biaya hidup ku pada kalian, aku minta maaf karena telah repotkan kalian selama hidupku. Sejak saat ini, aku bukan siapa siapa kalian lagi, nanti
jika kalian selesai menghitung dan kurang” ucapnya seraya menulis pin dari kartu ATM itu
“kalian bisa katakan berapa lagi yang harus ku bayar” lanjutnya
Yuni menangis melihat kejadian di depan matanya. Sedang Andre hanya bisa terdiam melihat perilaku Sarah pada kedua wanita disana.
Sarah menoleh ke Yuni.
“Maaf yun, kakak gak bisa lagi biayai kuliah kamu, anggap itu pelunasan biaya hidup kakak ditempat ibu kamu!” ucapnya masih dengan derai air mata yang tak terhenti
Sarah berlari keluar, ia menangis sejadi jadinya.
Andre pun ikut marah melihat semua kejadian itu. ia mengambil sebuah buku cek dari dalam kantong jas yang ia kenakan dan menuliskan cek sebesar seratus juta. Dan masing masing ia berikan pada kedua wanita itu.
“Saya membayar lunas biaya hidup Sarah. mulai detik ini, kalian jangan mengganggunya lagi. Karena jika ada satu saja pesan yang masuk ke Sarah dari kalian. Saya akan tuntut!” ucap Andre dengan tegas.
Ia mengambil kasar ATM milik Sarah yang dia tinggalkan di atas meja
“ingat! Saya tidak mengancam, tapi jangan pernah kalian lakukan!” ucap Andre dingin dan beranjak pergi dari sana.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Terkadang memang banyak manusia yang terlihat baik di depan kita tapi justru mengharap sesuatu dibelakang itu semua. Namun, kita terkadang buta karena kebaikan mereka.
__ADS_1
semoga kita selalu dikelilingi orang orang yang tulus.