Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Semua terungkap


__ADS_3

Tubuh Sarah melemas ketika melihat sosok yang memasuki ruangan sang direktur adalah Andre. Mereka saling bertatap sesaat hingga Sarah mengalihkan pandangannya.


“Silahkan pak!” sambut sang Direktur.


“maaf mengganggu waktu bapak” ucap Andre memasuki ruangan itu dan kembali menatap Sarah.


“ah tidak sama sekali pak?” jawabnya


Sarah sedikit canggung. Dan kembali lirikan Andre ke arahnya.


“Pak Hilman!” Andre menyebut nama direktur itu namun arah matanya menatap Sarah.


“iya pak!” jawabnya


“maaf sebelumnya... seharusnya saya tidak melakukan ini.. boleh saya pinjam ruangan ini?” ucapnya lagi


Deg!


Sarah memejamkan matanya sesaat, ia menyadari apa yang akan terjadi. Ini mungkin efek dari sikap kerasnya memblock semua panggilan Andre.


“tentu boleh pak!” jawabnya


Sarah menatap Andre lekat dan dibalas tatapan tak kalah tajam oleh Andre.


“saya ingin bicara pribadi berdua dengan istri saya” ucap Andre masih menatap Sarah


Sarah menelan ludah dengan berat. Sang Direktur menoleh pada asistennya yang terlihat pucat dan gemetar.


“iya pak! Sarah adalah istri saya” ucap Andre seakan menjawab gerakan pertanyaan Pak Hilman.


Mata Pak Hilman sedikit membulat menemukan fakta di hadapannya. Ia menoleh pada Sarah yang masih menatap Andre dengan tajam.


Sepertinya mereka ribut! Benak Pak Hilman mencoba membaca fakta.


“ah’ ehm’ anu..” Pak Hilman langsung tergagap.


“tolong pak!” Andre lagi


Sedang Sarah hanya mematung menatapnya dan Pak Hilman secara bergantian.


“baik.. silahkan!” ucapnya masih bingung mencerna yang terjadi di depannya.


Lelaki paruh baya itu berjalan keluar ruangan dan menutup rapat.


Sedang Andre dan Sarah masih berdiri saling menatap dan mematung.


“puas kamu?” ucap Sarah memecah kesunyian


“jangan salahkan aku! Ini harus ku lakukan karena kamu terus menghindari ku” ucap Andre mendekat


“kita sudah selesai Ndre!” jawab Sarah dingin


Hatinya telah membeku untuk Andre, keputusan untuk melawan cintanya memang bisa ia buktikan. Ia mampu menahan tubuhnya yang begitu ingin memeluk dan mencium aroma tubuh itu.


Fakta yang ia dapati dan kiriman kiriman pesan panas dari Susan telah membuat hatinya membeku, lelaki di depannya adalah orang lain, meski ia mencintainya, tapi dia tetaplah bukan seseorang yang tak mungkin bersamanya.


“kita tidak akan pernah selesai!” Andre semakin dekat.

__ADS_1


“jangan mendekat! Aku..” ucapan Sarah tak bisa selesai karena Andre langsung memeluknya.


“kenapa kamu begitu kejam Sar!” ucap Andre dengan nada sedih


Sarah memejamkan mata, aroma itu, aroma itu! aroma tubuh Andre yang dia suka, ia terus menghirup sebanyak mungkin seolah menghilangkan pusing dan mualnya. Ternyata Anaknya begitu menyukai sang Ayah.


“Kenapa kamu sangat ingin berpisah dengan ku, padahal aku sedikit pun tak ingin berpisah denganmu” ucap Andre lagi mengeratkan pelukannya.


Sarah membuka matanya. Ia kembali tersadar, pelukan itu bekas perempuan lain. Andre kembali berbohong padanya.


Sarah melepas pelukan Andre, tapi Andre masih memegang pinggangnya.


“untuk apa kebohongan ini Ndre? Disini tidak ada siapapun?” ucapnya lagi


Hati Andre kembali sakit mendengar Sarah yang selalu menganggapnya bersandiwara.


Sarah melangkah menjauh. Kini ia duduk di sofa tengah ruangan sang direktur.


“kamu datang kesini dan mengatakan aku istrimu disaat akhir! Kamu sadar? Kamu hanya akan mempersulit ku disini” ucap Sarah mengeluh


"kamu tahu.. untuk seseorang seperti ku sangat sulit mencari pekerjaan, jika kejadian hari ini dipermasalahkan oleh atasanku, aku gak akan bisa melanjutkan kontrak kerjaku" keluhnya memijat kembali kepalanya


“Aku ingin kita bicara! Kita bicara dari hati ke hati bukan dalam keadaan emosi, tidak pula ditempat yang seperti ini”  mata Andre menatap perut Sarah, ia pun tersenyum. Perut itu seolah memanggilnya papah, hati Andre menghangat.


“Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan!” Sarah berbalik menatap Andre yang terlihat sangat senang


“Kita hanya akan bicara di pengadilan!” jawabnya tegas


Andre baru mengingat gugatan cerai yang Sarah ajukan. Ia menghela nafas dan melangkah.


Wajahnya menengadah menatap wajah sendu Sarah yang duduk santai


Mata Sarah seperti mau keluar mendengar kata kata Andre. Jantungnya kembali memompa cepat. Wajah itu seketika pias


“Aku sangat bahagia Sar!” Andre memeluk Sarah


Sarah masih diam terpaku di pelukan Andre. Dalam seketika darahnya berhenti mengalir, tubuhnya membeku, nafasnya pun ikut berhenti. Ia memejamkan mata. Yang ia takuti telah terjadi, Andre mengetahui kehamilannya! Sarah pun begitu panik.


“dia bukan anakmu!” ucapan itu keluar dari mulut Sarah seakan membelah dada Andre dalam seketika.


Andre melepas pelukannya, mata Sarah sayu namun tak bisa ia baca.


“sebaiknya kita tidak bicara disini!” ucap Andre yang takut ruangan itu memiliki penyadap atau rekaman.


“tidak! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi” ucap Sarah


“banyak Sar! Banyak yang harus kita bicarakan!” jawab Andre tegas.


“ikutlah dengan ku! Kita pulang! Aku tidak ingin menutup perusahaan ini hanya karena aku ingin bicara denganmu!” ucapan itu begitu tegas. Andre mengeluarkan kekuatannya sebagai pemilik.


Sarah meliriknya kesal, ia hanya bisa menunduk. Tak berani lagi menjawab. Ia kembali kalah pada lelaki itu. ia memang terlalu tunduk setiap suara tegas memerintahnya.


Mungkin karena sejak kecil diperlakukan sebagai pembantu yang sering menerima perintah dengan nada dingin. Hal itu membuat nyali Sarah kembali menciut saat suara tegas Andre mendominasi ruangan itu.


“Ayo!” Andre berdiri dan mengulurkan tanganya.


“aku... aku akan ambil tasku  dulu” ucapan itu lemah dan gugup. Andre mampu merasakan jika Sarah tertekan.

__ADS_1


Sarah melangkah keluar dan diikuti oleh Andre. Sarah berjalan menuju mejanya dan memasukkan beberapa barang ke dalam tas. Sedang Andre mencoba menghubungi Pak Hilman dan mengatakan ia mengajak Sarah pulang.


Sang direktur bergegas mengantar mereka.


“terima kasih pak!” ucap Andre mengulurkan tangan dan disambut oleh Pak Hilman.


“maaf pak! Saya pulang dulu” ucap Sarah


“tidak apa apa bu!” jawab Pak Hilman yang kini terlihat takut dengan Sarah.


Sarah merasa tak nyaman dengan sikap sang direktur. Lelaki itu biasanya bersikap hangat padanya. perhatian pengertiannya selama Sarah mengidam sangat membantu Sarah melalui masa masa berat kehamilannya.


Tapi kini, lelaki itu terlihat begitu hormat padanya. hati Sarah merasa sakit.


“Ayo sayang!” ajak Andre memasuki mobil mereka.


Keheningan menemani selama perjalanan mereka. ketegangan sangat terasa di dalam mobil tersebut, termasuk sang supir, Pak Budi. AC yang disetel dengan suhu tak terasa dingin justru suhunya dinginnya seakan terasa menusuk tulang.


“Pak! Bisa berhenti!” pinta Sarah menutup mulutnya.


“Sar!” Andre mendekat.


Dalam sesaat mobil telah menepi, Sarah bergegas keluar dan memuntahkan isi perutnya. Andre mengikuti Sarah. ia merangkum semua rambut Sarah agar tak kena muntahan.


“apa sering seperti ini?” tanya Andre


Tapi Sarah kembali memuntahkan isi perutnya tanpa menjawab Andre. Andre pun memijak lembut tekuk leher Sarah. Setelah beberapa saat, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Andre menarik Sarah ke dalam pelukannya. Ia meminta Sarah bersandar di dadanya tapi Sarah menolak.


“Sayang Please!” pinta Andre berbisik.


Sarah melirik pada Pak Budi sesaat dan dia pun menerima rangkulan Andre. ia memejamkan mata. Aroma tubuh ini yang ia suka. Dalam seketika mual dan pusing itu menghilang. Sandaran itu begitu nyaman. Tak bisa Sarah pungkiri, anaknya mungkin menginginkan Andre selalu berada di dekatnya.


Ya Allah! Jika anak ini begitu ingin dekat dengannya apa yang harus ku lakukan? Benak Sarah dalam pejamnya di dada Andre.


Sarah terlelap dalam nyamannya rangkulan Andre. Ia tak menyadarinya hingga mobil itu memasuki halaman rumah mereka.


Andre memberi kode Pak Budi untuk diam. Dia membiarkan sang istri terlelap tanpa ingin membangunkannya.


Pak Budi perlahan pergi meninggalkan mereka yang masih berada di dalam mobil.


Perlahan Andre menggerakkan badannya untuk membawa Sarah keluar dari mobil, tapi Dia terbangun karena gerak tubuh tempat bersandar itu memisah.


“Sorry bikin kamu kebangun! Tadi aku mau bawa kamu masuk” ucap Andre dengan tatapan begitu hangat


Sarah keluar dari mobil dengan perlindungan lengan Andre agar kepalanya tak terantuk.


Ia mengambil tangan Sarah dan tersenyum. Mereka memasuki rumah dengan tangan yang menyatu, Andre seolah takut Sarah kabur darinya.


Saat memasuki Rumah. Andre berjalan dan melihat rumah mereka.


“bicaralah!” ucap Sarah dingin


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Semoga hari ini bisa crazy up ya... 

__ADS_1


__ADS_2