
“Kita ke dokter sekarang!” pinta Andre
Dan dalam sedetik membuat kepanikan melanda tubuh Sarah
“Aku dah ke dokter!”
“Tapi kok maag kamu gak sembuh sembuh?” tatapan itu terbaca sangat cemas.
“Maag tidak bisa langsung sembuh hanya dengan obat!” Jawab Sarah mengelak
“Mungkin karena stress jadi agak lambat sembuhnya” lanjut Sarah agar Andre tak memaksanya ke dokter
Andre menatapnya semakin cemas. Rasa bersalah membuat Sarah Stress seketika melandanya.
“Ini udah sebulan sar, aku takut kamu kenapa napa” Nada bicara Andre terkesan hati hati
“Aku dah sering gini dari dulu! Kamu gak usah khawatir!” Senyumnya
Andre hanya menghela nafas, ia tak bisa melakukan apapun membantu Sarah untuk membuatnya nyaman saat kondisinya seperti sekarang, ke dokter, rumah sakit, hanya itu pilihan dalam pikirannya, namun Sarah sudah bersikeras menolak ajakannya.
“istirahat lagi!” Andre meminta Sarah kembali ke tempat tidurnya.
“aku harus kerja!” ucapnya lagi menolak.
“aku akan telpon tempat kerja kamu dan akan bilang kamu sakit” Andre bersikeras
Belum lagi Sarah sempat menjawab. Andre kembali mengeluarkan ucapannya
“lagian mereka kemarin liat kamu sakit, kamu juga gak akan dipecat kok. Kalau mereka pecat kamu, aku akan putuskan kontrak dengan mereka” ucapan Andre terdengar sangat tegas membuat Sarah urung melawannya. Ia hanya menuju ranjang dan kembali berbaring dengan nyaman.
“tidur ya!” usap Andre pada puncak kepala itu. mata itu masih sayu, bibirnya memucat, tubuhnya sangat lemah. Ingin rasanya Andre memasukkan tubuh itu ke dalam pelukannya dan membuat nyaman, namun ia tak berani, ia takut Sarah kembali pergi jika ia memberikan perhatian berlebih yang menunjukkan seperti apa perasaannya saat ini.
Andre memilih tidak bekerja, setelah Sarah bangun dan mencuci muka, Andre datang dengan susu hangat yang biasa Sarah minum.
Setiap hari Andre memberi perhatian lebih ke Sarah, Sarah pun mampu merasakannya. Hatinya semakin sakit, karena perhatian Andre justru membuatnya semakin sulit melawan perasaan cintanya ke Andre yang semakin besar.
Malam itu ia melamun sendiri, memikirkan kehamilannya. Sarah mengelus lembut perutnya.
“terima kasih kamu hadir disini sayang” senyumnya
“kamu akan menjadi semangat mamah” ucapnya lagi sendiri tersenyum
Membayangkan kebahagiaannya saat ia kelak menggenggam tangan mungil, membayangkan menyusui, membayangkan semua tentang anak yang akan berlari bersamanya membuat Sarah larut dalam kebahagiaannya sendiri.
Sesaat Sarah teringat pada Andre, namun senyumnya kembali pudar. Ia teringat akan kontrak ia dan Andre. ia baru menyadari, jika Andre mengetahui kehamilannya, apa mungkin kelak ia akan mengambil anak ini?
Stress memikirkan masalah kehamilan yang ia tutupi membuat asam lambung Sarah pun naik. Kondisinya semakin diperparah dengan morning sicknya yang semakin menjadi.
Saat di tempat kerja, Sarah pun semakin sering melamun. Beruntung ia memiliki atasan yang mengerti kondisinya.
“Kalau sakit, istirahat aja sar!” ucap sang direktur melihat kondisi Sarah yang semakin memburuk
“Gak pak! Saya baik baik aja..” ucapnya dengan wajah pucat
Kini Sarah sering begadang memikirkan bagaimana ia menutupi kehamilannya. Ia tidak bisa membayangkan jika kelak anaknya akan diambil oleh Andre.
Jika ia ingin memperebutkan hak asuh pun, ia pasti akan kalah dalam pertarungan sidang perebutan hak asuh anak, karena saat ini ia tidak memiliki tabungan lagi, jadi ia tidak akan pernah bisa membayar seorang pengacara handal. Sedang Andre mungkin akan membayar seribu pengacara untuk mengambil anaknya.
__ADS_1
Kengerian itu membuat Sarah semakin stress. Kengerian selalu membayanginya. Ia bahkan sering mengigau ditengah malam.
“jangan ambil dia.. jangan ambil dia!!” teriaknya terbangun lagi. Mimpi itu begitu buruk
Sarah sangat berusaha menutupi kehamilannya dari siapapun, termasuk Sahabatnya Daren.
Sedang di suatu tempat, seorang perempuan kembali ke negara asalnya untuk mengejar kembali sang kekasih, namun saat ia tiba, ia menemukan kepedihan, ia menemukan jika lelaki tersebut ternyata telah berisitri. Ia pun menunduk sedih, namun tekatnya telah bulat untuk merebut kembali sang kekasih yang sedari dulu mencintainya.
Aku yakin aku bisa merebutmu! Gumaman itu membuat dia melakukan penyelidikan pada pernikahan sang kekasih, ia menjual beberapa perhiasan mahalnya yang bernilai fantastis. Ia pun mendapatkan info tentang sang istri.
Wanita seperti ini? ini bukan selera kamu sayang? Gumamnya menatap informasi yang ia dapat.
*
*
*
Waktu pun berlalu semakin cepat. Hingga pada minggu dimana mereka akan menghadiri perayaan ulang tahun perusahaan sekaligus ulang tahun sang kakek.
“apa gak bisa aku gak datang?” tanya Sarah pada Andre saat mereka menyiapkan keberangkatan mereka.
“aku tau kondisi kamu kurang fit, tapi kakek ingin menemui kamu langsung” jelasnya
“bagaimana kalau kakek menentang kamu dan kecewa jika menikahi perempuan seperti aku” ucapnya kembali
khawatir pada Andre
“kakek udah tau siapa kamu” ucapnya tersenyum bangga
“tenang aja! Kakek sangat menyukai kamu kok” senyum Andre lagi
Jantung Sarah berasa jatuh seketika menatap senyuman itu. ia ingin sekali berada dalam pelukan sang suami, namun ia tahu, lelaki itu bukan miliknya.
Andre membuat posisi Sarah senyaman mungkin saat memasuki pesawat.
“Aku gak pernah datang ke acara sebesar itu!” keluhnya pada Andre
“Sekarang kamu akan sering menghadiri acara acara sebesar itu, karena kamu akan selalu mendampingiku!” ucap Andre tersenyum. Senyum itu lagi!
“Aku takut mempermalukan kamu!” Sarah mengalihkan pandangannya dari senyum yang membuatnya semakin gugup yang membuat debar jantung Sarah semakin menggila, ia memang mencintai suami palsunya!
“Gak akan pernah, karena aku akan selalu bangga berjalan bersama kamu!”
Kepala Sarah mulai pusing, mual mulai melandanya. Penerbangan selama 2 jam akan membuat pusingnya semakin memburuk.
“Lepas jas kamu! aku pinjem!” pintanya pada Andre
Andre menoleh melihat Sarah yang meminta itu
“Kamu kedinginan?” Andre memeriksa suhu tubuh Sarah
“Hemmm!” Angguknya
“Pakai selimut aja!” Ucap Andre ingin mengangkat tangan memanggil pramugari, ia ingin meminta selimut, tapi Sarah menahan tangan Andre
“Pake jas kamu aja, aku gak suka bau selimut pesawat!” Sarah berdalih
__ADS_1
Andre pun bergegas melepaskan jasnya dan memberikan ke Sarah. Sarah pun seakan membaik. Ia bahkan tertidur selama penerbangan. Jas Andre bahkan menutup hingga hidung Sarah.
Andre tersenyum melihat istrinya yang tertidur nyaman. Ia membenahi kembali jasnya yang mengelimuti Sarah. dan geliat kecil membuat Andre kembali menenangkan sang istri.
Sebuah senyum tersungging di bibir seseorang yang melihat Andre begitu perhatian pada sang istri.
Orang tua Andre menyambut Sarah dengan senyum bahagia. Ia sangat senang akhirnya bertemu menantu kesayangannya itu.
“Sayang, kamu kelihatan pucat!” saat melepaskan pelukannya
“Sarah belum sehat mah, maagnya masih belum sembuh!” Andre melirik cemas pada Sarah
“Cuma capek mah!” senyum Sarah berusaha membuat sang mertua tidak khawatir padanya.
“Mendingan istirahat dulu kamu Sar!” ayahnya meminta Sarah langsung ke kamar
“Kita naik dulu mah pah!” Andre menggandeng pinggang Sarah dan mereka naik menuju ke kamar mereka
Saat di kamar Sarah langsung membaringkan diri. Tubuhnya sangat lemah. Hari ini tak ada yang bisa ia makan. Andre duduk disamping Sarah yang berbaring
“Kamu istirahatlah!” memegang tangan Sarah
“Ntar malam jam berapa acaranya?”
“Jam delapan!” Andre masih betah memegang tangan Sarah
Sesaat Sarah melirik pintu, namun pandangannya tertutup tubuh tegap Andre.
“Aku belum beli dress buat nanti malam!” Sarah beranjak ingin bangun
Andre menahannya.
“Gak usah dipikir, dress kamu udah disiapin kok!” ucap Andre dengan tatapan sangat hangat. Sarah pun menatap heran.
“Gak usah khawatir, semua persiapan acara nanti malam jangan kamu pikirin. Semua udah disiapin, yang kamu perlukan sekarang kamu istirahat, hem?” Andre menenangkan Sarah
Sarah hanya menatap Andre dalam diam.
“Jangan mengkhawatirkan hal hal yang sepele seperti itu, maag kamu gak akan sembuh kalo kamu masih dalam kecemasan! Jadi usahakan semua yang membebani pikiran kamu kamu lepaskan, apa kamu tahu! Aku sangat khawatir dengan kondisi kamu sekarang”
Sarah tersenyum tipis, tapi mata itu masih menggambarkan kesedihan.
“Sekarang istirahatlah” ucapnya lagi
Sarah pun mengangguk tersenyum
“Tidurlah! Nanti aku bangunin pas makan siang!” ia kembali menenangkan istrinya dan memegang bahu Sarah lembut.
Sarah pun memejamkan mata. Andre membenahi selimut untuk Sarah. ia mengecup kening Sarah lama sebelum ia keluar. Sarah yang belum tidur merasakan itu. ada sakit di hatinya. Ia akan merindukan kecupan kening suaminya ini nanti. Tak terasa air matanya jatuh disela pejam matanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa ya kak tinggalin jejaknya kalau baca novel ini... makasih 😚😚😚🙏🙏🙏🙏
__ADS_1