
Sebuah pemberitahuan pesan baru masuk dari WA web milik Andre yang online disana. Pesan itu menunjukkan sebuah foto wanita yang mengirimnya. Susan!
Foto Susan terlihat begitu seksi, Foto itu memperlihatkan Susan tanpa busana dengan kedua tangannya yang menutupi bagian dada.
Sarah terperangah. Dalam sedetik aliran kebahagiaan itu sontak membeku, sebeku pikiran dan hatinya saat ini.
Hatinya seketika hancur bak sebuah kepingan kaca yang terhempas ke sebuah batu yang keras.
‘Aku merindukan kamu, aku berharap kamu juga, seharusnya tangan ini adalah tangan kamu yang memegangnya dan meremmasnya seperti dulu’ pesan itu tertulis jelas dengan sebuah icon ciuman
Mata Sarah memanas menahan tangis, dadanya perih terasa teriris. Rasanya seperti luka yang di lumuri dengan jeruk nipis. Sarah pun meringis.
Hatinya sakit dan sangat sakit, Sarah menyesali diri. Mengingat kembali semuanya, kontrak, penghinaan, kekejaman, semua yang telah ia hapus seminggu ini telah kembali muncul.
Andre sama! Sama seperti mereka, hanya sebuah kepalsuan! namun kepalsuan kami masih lebih baik dari mereka.
Kini Sarah baru menyadari, Andre milik Susan. Sarah kembali mengingat, selama ini saat ia mengirim pesan ke Andre pasti dibuka dalam jeda waktu yang lama, tapi saat foto Susan barusan, Andre pasti langsung melihatnya karena foto itu hilang seketika.
Sarah termenung menyadari kesalahannya. Bagaimana mungkin ia larut dalam kemesraan palsunya selama ini? Ia pun membeku disitu. Ia menelan ludahnya sendiri dengan berat, seakan menelan sesuatu yang sangat mengganjal di dalam tenggorokannya.
Sarah menutup mata dan mengatur nafas. Wajahnya yang tadinya terlihat ceria pun kembali murung. Senyumnya kembali menghilang, hatinya kembali membeku. Ia kembali terpuruk. Kembali menemukan fakta yang menyakitkan.
“Ya tuhaan.. bagaimana mungkin aku lupa!” ucapnya merutuki dirinya sendiri
Ia kembali melihat email yang tadi miliknya dengan tangan gemetar. Ia berusaha menahan sesak di dalam dada. Beberapa hari ini ia seperti melambung dan kini ia jatuh terhempas dengan sangat sakit. Kebahagiaan selama beberapa hari ini justru membuat luka itu semakin perih dan sakit.
Sarah pun mengsign out email miliknya di laptop Andre. Ia kembali duduk di sofa tengah. Matanya kembali menerawang.
Berkali kali ia menutup mata dan menggeleng kan kepalanya. Seakan berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tapi tetap saja rasa sakit itu menusuk hingga ke dalam jantung.
Andre adalah orang yang bertanggung jawab, dia selalu tak tega melihatku, Sarah.. dia hanya kasihan dengan kondisimu sekarang, dia hanya orang baik Sarah! apa yang ada di pikiran kamu heh? Kenapa kamu dengan bodohnya menganggapnya ada, kenapa kamu tertipu dengan mata kamu sendiri dan beranggapan tatapan itu berbeda dan bersirat cinta! Bodohnya kamu Sarah.. bodohnya! sejak kapan kamu lupa siapa diri kamu? astaga.. bodohnya aku!!!
__ADS_1
Sarah terus menyalahkan dirinya. Nafanya tertahan, ia seolah tak mampu lagi menarik nafasnya, seketika lambung itu mengeluarkan rada pedih.
Suara Pintu kantor yang terbuka membuat Sarah tersadar dari lamunan. Andre tersenyum melihatnya yang sudah duduk disana. Sarah berusaha tersenyum, meski nampak jelas senyum itu palsu dan menutupi sesuatu yang menyakitkan.
“Kamu pasti mikirin itu lagi?” ucapnya mendekat dan mampu membaca senyum Sarah yang terpaksa. Ia pun duduk di samping Sarah
Sarah hanya menggeleng kecil dan tersenyum lagi pada Andre, tapi senyum itu kembali menyakitkan
“Sayang, Lupakan itu!” ucapan Andre terdengar begitu tulus di telinga Sarah
Kata kata ‘sayang’ yang beberapa hari ini memang sering Andre ucapkan memang terdengar begitu indah, tapi
entah mengapa hari ini kata kata itu terdengar begitu palsu dan menyakitkan baginya. Mungkin Andre membuat ia melambung hanya karena ingin membantunya melupakan masalah yang sedang ia hadapi dengan keluarganya.
“Ayo makan!” ajak Sarah langsung
Andre pun melihat pada bekal yang Sarah bawa untuknya.
Andre pun menghela nafas. Ia sedih melihat cintanya yang kini kembali berwajah murung. Bahkan saat makan siang hanya Andre yang makan sendiri. Sarah mengatakan bahwa ia masih kenyang karena terlalu banyak menyicipi makanan yang ia masak tadi siang.
Andre terus menatap Sarah yang kini tidak menatapnya lagi. Sarah sibuk menatap ponsel yang ia mainkan.
Bahkan saat Andre ingin mengantar Sarah turun. Ia pun melarangnya.
“Sayang, Aku bisa turun sendiri..!” pintanya melepaskan genggaman tangan Andre di depan pintu lift yang sudah terbuka.
Sekretaris Andre yang melihat itu pun tersenyum. Mereka terlihat mesra.
“Aku akan pulang cepat hari ini!” seperti biasa saat mereka berpisah Andre mengecup kening Sarah.
Jika beberapa hari ini kecupan itu begitu hangat, tapi siang itu kecupan itu seakan menyakitkan. Sarah harusnya tertawa seperti dulu, karena merasa lucu dengan sandiwara mereka, tapi kali ini, dia merasa dirinya semakin menyedihkan, menyimpan rasa pada seseorang yang memang bukan miliknya, seseorang yang tak pernah memiliki rasa padanya. dia telah terkecoh oleh kepalsuan yang dari dulu pandai Andre mainkan.
__ADS_1
Sarah tersenyum dan melambaikan tangan saat pintu lift mulai tertutup. Andre tak henti hentinya tersenyum hingga wajah istrinya menghilang di balik pintu yang menyatu.
Selesai meeting, Andre mengecek berkas berkas di mejanya. Andre termenung dengan memegang bolpoin miliknya. Ia kembali memikirkan wajah Sarah yang tadi kembali terlihat sedih. Ia memikirkan bagaimana agar Sarah melupakan masalah itu. apa ia harus memberi kejutan padanya? atau ...? ia terus memikirkan bagaimana membuat Sarah tidak sedih lagi. Ia bahkan tidak mendengar saat Dona memasuki ruangannya.
“Pak?” untuk kesekian kali Dona memanggil atasannya
Andre pun tersadar dari pikirannya
”Apa sudah selesai pak?” Dona ingin meminta kembali berkas yang seharusnya sudah Andre tanda tangani
Andre mengangkat kepalanya menatap pada Dona yang berdiri di depannya.
“Pesanin aku satu buket bunga mawar merah yang besar” jawab Andre
Dona terlihat kaget mendengar ucapan Andre yang justru memintanya untuk memesan bunga. Matanya memutar seakan berpikir, tapi ia pun menyadari jika atasannya saat ini mungkin sedang memikirkan istrinya.
Saat di perjalanan pulang, wajah Sarah berubah seratus delapan puluh derajat dari pada saat tadi ia berangkat menuju kantor Andre. ia telah kehilangan keceriaan.
Pak budi yang meliriknya dari spion merasa aneh, apa yang terjadi dengan mereka? mengapa sang nyonya terlihat sedih saat kembali dari kantor suami tercintanya?
Sore itu Andre kembali dengan membawa buket bunga yang sangat besar. Saat membuka pintu, Sarah tersenyum melihat bunga yang Andre bawa untuknya. Tapi sesaat kemudian ia menyadari Andre hanya ingin membantunya keluar dari kesedihan dari masalahnya saat itu.
Kamu memang baik, dan aku memang bodoh yang salah mengartikan! benak Sarah menerima bunga dari Andre
Ketika melihat senyum Sarah. Andre merasa senang, mungkin ia harus menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya agar Sarah mampu melupakan masalah itu dan perlahan mampu memasukkan namanya ke dalam hati Sarah.
Sarah menyiapkan makan malam. Ia seperti biasa Andre membantunya menyiapkan meja. Sesekali Andre melirik Sarah yang hari ini terlihat jarang menatapnya.
Kemana tatapan dan senyum manis itu? Andre merindukannya. Kemesraan mereka seakan hilang sejak tadi siang, dan Andre tidak mampu memecahkan misterinya.
Bahkan saat makan malam, Sarah menyantap cepat makanannya. Andre memperhatikan perubahan sikap Sarah hari ini. Ia sungguh tidak menyadari bahwa foto tadi siang merupakan pemicu perubahan sikap Sarah padanya, karena sesaat tak berapa setelahnya, foto itu langsung Andre hapus tanpa ia pedulikan seperti apa foto yang Susan kirim.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~