
Hari masih senja saat ia memasuki rumah. Tidak ada terdengar suara Sarah yang biasanya sudah sibuk menyiapkan untuk makan malam mereka atau sibuk dengan mencoba resep resep baru di dapurnya. Andre memanggil manggil Sarah beberapa kali. Sarah pun keluar dari kamar mendengar Andre memanggilnya. Terlihat beberapa bercak merah di wajah dan lengannya.
“Wajah kamu sayang?” Andre panik mendekat ingin melihat lebih jelas ada apa dengan wajah Sarah
Sayang?Ucapan itu terasa ambigu.
“Alergi!” jawabnya santai
“Kok bisa?” dia menanyakan kenapa Sarah bisa kena alergi padahal ia tahu dia harus menghindari makanan yang menyebabkan alerginya kumat
“Tadi ada demo masak di mall, aku ikut, pas nyoba gak sadar ada bahan dari udang!” jelasnya
“Sakit?” tanyanya khawatir masih melihat wajah Sarah dan mencoba menyentuh salah satu bercak yang terlihat membesar
“Gak.. Cuma gatal!” ia menunjukkan bercak bercak di tangan dan lengannya
“ayo! Kita ke dokter ya?” tatapnya semakin khawatir
“Gak perlu! Aku punya obatnya!”
“Tapi wajah kamu parah kayanya” protes Andre
“nanti kalau minum obat akan hilang sendiri” jelas sarah
“gatal banget ya?” Andre terus memperhatikan semua bercak itu.
“banget! Tapi harus ku tahan, kalau gak, bisa iritasi”
“Udah minum obat?” kilatan khawatir itu tak bisa lagi Andre tutupi lagi karena melihat Sarah seakan menderita dengan bercak yang terlihat dimana mana.
“belum!” ia menggeleng pelan
“kenapa? obatnya habis? Kamu gak punya obat? Mana resepnya? Biar aku belikan!” pertanyaan itu menggambarkan betapa khawatir Andre saat itu.
Sarah mampu membaca kekhawatiran itu dan hanya membuatnya tersenyum.
“Obatnya ada, aku minum nanti malam.. soalnya obatnya bikin super ngantuk! Kalo ku minum sekarang aku langsung tidur!”
“Ya gak ‘papa kamu tidur sekarang! Ayo minum obatnya!” perintah itu seakan begitu tegas
“Aku belum masak buat makan malam kita!” jawabnya merasa tak nyaman
Andre terdiam, ia merasa bersalah mendengar Sarah mengatakan kata kata seakan dia adalah pembantu di rumah mereka
“Sar.. kamu bukan pembantu disini yang wajib masak buat tuannya” Perasaan Andre terasa sakit mengucapkan hal itu.
Andre berpikir mungkin Sarah berpikir ia memberikan tunjangan karena Sarah harus bekerja sebagai pengurus rumah tangga mereka.
__ADS_1
“bukan gitu! Tapi kamu pasti belum makan kan?” jawabnya merasakan kekecewaan dalam nada bicara Andre. kata itu seperti angin bagi Andre, ditengah derita sakitnya, Sarah justru masih memikirkannya.
“aku memang belum makan! tapi kita bisa pesan, kamu gak harus masak” Wajah andre terlihat sedih. Sarah hanya bisa diam menatap wajah kecewa Andre.
Andre menoleh pada tangan Sarah yang memegang salep yang ingin ia oleskan. Andre menarik Sarah dan mengajaknya duduk.
“Sini ku bantu!” ucapnya mengambil salep dari Sarah
Sarah pun menurut, Andre mengoles salep di semua bercak yang ada di wajah Sarah dengan hati hati. Wajah mereka begitu dekat. Sejenak Sarah menatap wajah Andre yang serius mengobatinya. Ada detak jantung aneh yang dia rasakan. Sarah pun merasa gugup. Wajahnya memerah.
Andre melirik mata Sarah yang menatap. Ia berhenti sejenak mengoles saat mata meraka bertemu. Bergegas Sarah mengalihkan pandangannya dan merasa canggung, Andre tersenyum melihat wajah Sarah yang merona. Ia merasa senang Sarah mampu merasakan kehangatan yang coba ia berikan. Andre mengambil tangan Sarah dan kembali mengoleskannya.
“jangan pikirin aku makan atau belum, Gak usah masak! Kita pesan aja!” ucapnya sambil mengoles salep
“kamu istirahat!” Andre menutup kembali salep tersebut setelah selesai dan memberikan kembali pada Sarah
“Hemm...!” Sarah hanya menurut. Ia tak ingin menambah kecewa Andre.
Andre memesan makanan di salah satu aplikasi online. Saat makanan tiba ia bahkan menyiapkan di meja makan mereka.
Waktu masih menunjukkan pukul 6:40. Meja makan mereka sudah siap dengan banyak sajian.
Andre memasuki kamar Sarah, terlihat Sarah masih berusaha menahan gatalnya dengan memukul pelan ruam ruam dengan jari jarinya.
“masih gatal?” tanya Andre mendekat tak tega. Ruam dan bentol terlihat lebih banyak.
Rasa tak tega dan sakit terlintas di dada Andre melihat Sarah yang begitu menderita menahan gatalnya.
“ayo kita makan, biar kamu bisa cepat minum obatnya” pinta Andre
“makan apa?” tanya Sarah
“udah.. ayo keluar!” ajaknya keluar kamar
“aku gak mungkin keluar dengan badan seperti ini ndre!” jawab Sarah
Andre terkekeh kecil menyadari kesalah pahaman sarah
“maksudku keluar kamar Sayang” ucap Andre kembali menyebut kata yang terdengar nyaman di telinga namun terasa palsu saat masuk ke dalam hati sarah.
Sarah tersenyum mendengar kata sayang.
“iya suamiku, ku pikir tadi keluar rumah” jawabnya menganggap kata sayang itu sebuah candaan seperti yang sering mereka lakukan.
Andre hanya tersenyum kecut menanggapi sikap Sarah yang bersikap palsu dan seakan mengoloknya, sedang kata itu tulus ia ucapkan
Jam makan malam pun mereka percepat. Sarah terus gelisah menahan gatalnya saat ia menikmati makan malam mereka.
__ADS_1
Selesai makan malam, Andre langsung meminta Sarah meminum obat agar dia bisa lebih nyaman.
“Biar aku aja!” ucapnya mengambil piring Sarah saat Sarah ingin membereskan meja mereka.
“kamu istirahatlah!” lanjutnya
Sarah memang merasakan banyak perubahan pada sikap Andre. Lebih perhatian dan lebih hangat. Bukan seperti dulu, Kedekatan mereka kebanyakan karena bercanda karena kepalsuan.
Sejenak ia menatap punggung Andre yang merapikan meja mereka.
Terima kasih Ndre! Ucapnya dalam hati.
Meski sikap itu hanya sebatas kasihan denganku, tapi aku senang! Benaknya yang masih berdiri menatap Andre. ia pun berpaling memasuki kamarnya.
Andre mencuci piring sisa makan malam mereka dan merapikan kembali dapur sarah. Ya! sejak awal mereka tinggal bersama, daerah dapur seakan diklaim sebagai milik sarah. karena Andre tak pernah memasukinya.
Andre yang selama ini adalah tuan muda yang selalu dilayani tidak pernah sekali pun menyentuh pekerjaan dapur. Tapi kali ini demi Sarah, ia lupa dirinya sebagai tuan muda, ia rela melakukannya karena kini perasaan dan hatinya telah tertuju untuk sang istri.
Andre kembali bekerja. Ia membuat kopi instan untuk menemaninya seperti biasa. Tapi Kopi itu terasa berbeda dengan kopi buatan Sarah selama ini.
“sepertinya aku mulai terbiasa dengan kopi kamu” gumamnya menatap kopinya yang terasa lebih pahit.
Setelah sekian jam asyik dengan pekerjaan, Andre kembali mengecek email. Sesaat ia baru mengingat email Sarah yang masih log in di laptopnya.
Saat mengecek email spam, ternyata ada pesan dari Daren yang mengatakan ia akan kembali ke indonesia bulan depan. Andre pun merasa khawatir. Andre termenung, lelaki itu adalah lelaki yang sarah ceritakan dengan penuh cinta.
Apa kamu masih mencintanya? Pertanyaan itu muncul diiringi rasa sesak dan berat. Dia pun melangkah pergi ke kamar Sarah.
Terlihat Sarah tertidur dengan pulas. Andre mendekat padanya. ia duduk ditepi tempat tidur dan menatap wajah itu.
“apa raut wajahmu selalu seperti ini?” ucapnya melihat kesedihan dalam tidur sarah.
Andre memeriksa ruam yang ada di tangan Sarah yang sudah mulai berkurang. Ia membenahi selimut Sarah dan kembali duduk menatap wajah itu
“sepertinya cinta itu mulai tumbuh” gumam Andre masih menatap detail wajah Sarah.
Kita cerai! Andre kembali mengingat kata kata Sarah saat ia menanyakan jika hubungannya dengan Susan berakhir.
“bagaimana cara ku mengatakan cinta padamu? Jika itu justru menjadi bumerang bagiku!” ucapnya lagi menghela nafas berat.
Suara nafas dengkuran tipis Sarah terdengar. Andre tersenyum sendiri melihatnya. Sepertinya istrinya tidur dengan sangat nyenyak.
“Mimpi indah istriku!”
Ia pun mengecup keningnya dan tersenyum. Namun tiba tiba Sarah membuka matanya. Mata mereka bertemu, dan membuat jantung Andre terasa melompat keluar saat itu juga.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1