Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Arti cinta bagi Sarah


__ADS_3

Seharian Andre seperti lebih banyak diam. Dia banyak mengurung diri di kamar sekaligus ruang kerjanya. Dia hanya keluar untuk makan siang dan sesekali mengambil air minum.


Andre yang seperti ini baru Sarah ketahui. Ternyata Andre sangat fokus pada pekerjaan dan cuek dengan keberadaannya, hanya itu pemikiran yang muncul dalam pikiran Sarah.


Sarah yang merasa bosan di rumah akhirnya memilih untuk pergi belanja.  Membeli beberapa bahan makanan untuk dapur mereka yang mulai kosong. Sarah meninggalkan pesan untuk Andre yang ia tempel di kulkas, ‘aku keluar belanja’.


Saat mengambil minuman Andre menemukan pesan tersebut. Ia baru menyadari kalau istrinya sedang tak berada di rumah.


Andre kembali menatap tulisan Sarah. Ia kembali memikirkan dirinya yang sekarang tidak lagi terlalu merindukan Susan.


Sebuah pesan muncul pada ponsel Andre


‘Ada keperluan kamu yang sekalian ku belikan?’ tulis Sarah


Andre kembali menatap pesan tersebut. Perhatian Sarah membuatnya merasakan sesuatu yang tak bisa ia artikan.


‘tidak ada’ Andre hanya menjawab pesan tersebut singkat


Malam menyapa, Cuaca yang akhir akhir ini terasa panas membuat Sarah duduk sendiri di teras belakang untuk menikmati sejuknya angin malam yang berhembus dari halaman belakang mereka yang rimbun.


Ia memilih bermain game sendiri dan tak berani mengganggu Andre yang sejak siang mengunci dirinya di kamar. Sarah hanya berpikir jika lelaki itu mungkin sedang melakukan hubungan jarak jauhnya dengan sang kekasih. Dia harus berpikir seperti itu untuk melawan pikiran negatifnya.


Sarah mengingat beberapa waktu lalu, ia tanpa sengaja mendengar suara dessahan Andre di tengah malam. Tadinya ia khawatir, tapi ternyata ia sedang melakukan solo dengan sambungan video call panas bersama Susan.


Andre mendekati Sarah yang asyik memainkan game di ponselnya. Tidak memiliki pekerjaan seperti sekarang membuatnya sering memainkan permainan permainan pada ponsel jadulnya.


“Serius amat!” ucapnya mendekati Sarah


“Kalah terus aku!” keluhnya melihat ia kalah lagi dalam permainan itu


Andre menghela nafas saat duduk disalah satu kursi. Ini kesekian kali Sarah mendengar dengusan suara nafas lelah Andre.


“Hasil meeting kemarin gak bagus ya?” Sarah mencoba menanyakan kenapa Andre yang terlihat stress sejak ia kembali dari tugasnya.


Sarah berhenti bermain dan meletakkan ponselnya


“Aku diminta mengurus cabang cabang yang lain juga!” keluhnya


“Makin sibuk dong?”


“Sekarang sih gak! soalnya programnya dimulai minggu depannya” jelas Andre terdengar lelah


“Berarti kamu sempat dong ke Paris?” Sarah mencoba mengingatkan Andre  tentang Susan


Andre menoleh memandang Sarah.


“Susan! Iyah... Susan!” ucapnya seperti ragu menyebut nama itu


“Aku gak tau kalian kenapa? Tapi kamu jangan sampai melewatkan ultah dia... jangan membuat dia berpikir kamu berubah!” Sarah menatap Andre dengan tatapan mengkhawatirkan hubungan mereka


“Kamu khawatir hubunganku dengan Susan terpengaruh?” Andre meyakinkan diri dengan menanyakan arti tatapan Sarah padanya


“Ya! Aku khawatir!”


Andre hanya menatap Sarah tanpa menjawab lagi.


Bagaimana mungkin Sarah yang mengkhawatirkan hubungan kita, bukan kamu san! Benak itu bicara

__ADS_1


“Serpertinya aku ketangkap sama kamu” Andre berpaling kembali


Sarah masih menatap Andre yang terlihat lelah. Ia menatap kosong pada gelapnya malam.


“Aku berpikir kembali tentang aku dan Susan!” kesunyian kembali terpecahkan


“apa itu penyebab kamu murung hari ini?” tanya Sarah lagi


“hem!” Andre mengiyakan


“Kok bisa kamu gitu? Apa yang bikin kamu meragu?”


“Entahlah.. Saat kamu gak ngubungin aku kemarin, aku bertanya tanya dalam hati, kenapa kamu gak nelpon, kenapa kamu hari ini gak menanyain sarapan ku, kenapa sore ini kamu gak nanyain apakah aku sudah pulang, kenapa malam ini kamu gak memberi ku peringatan jangan minum kopi.Aku menanyakan kebiasaan kamu ke aku selama ini!” cerita Andre menunduk


“Semua itu terlintas dalam kepalaku. Akhirnya aku kirim pak Budi dan kamu bilang HP kamu error beberapa hari itu. Aku pun tenang” Andre tersenyum  kecil dan menghela nafasnya.


“Tapi Susan! pernah aku gak ngubungin dia beberapa hari karena terlalu sibuk, dia bahkan gak menghubungi aku sama sekali. Aku biarin itu, aku diam,aku nunggu, apa Susan akan menanyakan kenapa aku gak menghubunginya” Tarikan nafas berat Andre kembali terdengar.


“hingga sampai hari ke 20 gak ku hubungi, akhirnya dia menghubungiku. Awalnya aku senang, tapi apa, bukannya ingin menanyakan keadaanku atau kangen, dia hanya bilang, ‘kok kartu kredit ku ditolak ya.. belum kamu bayar ya.??’”  kemudian Andre terdiam dengan expresi  kecewa


Sarah masih bingung ingin menanggapi curhatan Andre padanya.


“Aku tidak tahu perasaan Susan seperti apa, tapi... entah karena apa, aku seolah menyadari bahwa aku hanya sebatas keuangan buat dia” keluh Andre lagi


“Kamu mencintai Susan kan?” berpaling menatap Andre yang disampingnya


Andre menatap mata Sarah yang menanyakan itu padanya.


“kamu mencintai dia?” tanya Sarah lagi karena Andre hanya diam membalas tatapannya


“saat kamu mencintai seseorang, bukankah kita harus lebih banyak memberi dari pada meminta. Cinta itu bukan sebuah tuntutan bagaimana orang yang kita cinta harus membahagiakan kita, tapi bagaimana kita bisa membahagiakan orang yang kita cintai. kalau kamu belum merasakan itu, itu berarti kamu belum mencintai Susan sepenuhnya” jelas Sarah


“Tapi Sar, bukankah seharusnya perasaan dia dan aku sama?” Andre meragukan kembali perasaan Susan padanya


“Itu yang ku bilang tuntutan. Jika kamu tulus menyayanginya, jika dia lupa, maka kamu yang mengingatkan, jika dia jatuh, maka kamu yang membantu dia bangun, jika dia berbuat salah, bantu dia membenahinya.. Itu yang ku maksud memberi”


“Kamu sendiri? Apa kamu kaya gitu?” menoleh kembali ke arah Sarah


“Hmm..” angguk Sarah


“aku gak pernah meminta orang yang kucintai untuk selalu ada untukku, tapi aku selalu berharap aku ada untuk dia disaat dia jatuh, saat dia lelah dan saat dia lupa...”


“kamu mencintai lelaki mu seperti itu”


“dulu!” jawab Sarah berpaling menghadap ke depan. Andre masih menatap sisi wajah Sarah yang mendung saat mengucapkan kata tersebut.


“Sekarang kamu masih mencintai dia?”


“Gak, sekarang aku udah terlarang..”


“Terlarang? Dia udah menikah?”


“entahlah.. aku tidak tahu apakah sekarang mereka sudah menikah atau belum”


“dia meninggalkan mu?” tanya Andre dan dijawab gelengan kepala sarah


“aku yang dulu memutuskan hubungan dengannya!” lanjut Sarah

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena dia mampu membuatku sadar, bersamanya justru menjadi cela untuknya”


“Cela?”


“Iya, saat itu, aku tanpa sengaja melihat pesan dari temannya, pesan itu tertawa, aku penasaran apa yang membuat temannya tertawa seperti itu, setelah ku lihat history pesannya, ternyata temannya mengejeknya saat dia tanya keluar jalan dengan ku” Sarah terdiam.


Entah rasa sakit atau kecewa yang membuatnya seakan menahan kata kata itu hingga tak mampu ia lanjutkan yang pasti, Andre tak bisa mengartikan


“Ternyata dia membalas pesan itu, dia bilang bahwa aku tidak selevel dengannya, jadi bagaimana mungkin jalan dengannya. Saat membaca itu, aku sadar!” sarah berusaha mengedipkan mata menahan tangis karena mengingat betapa sakit penghinaan itu baginya.


“Huh...” Andre menghela nafas


“emang dia orang seperti apa?” lanjutnya bertanya


Sarah menunduk


“Dia dari keluarga berada, dia memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari ku, dia memiliki jabatan yang lebih  juga, dia lebih segalanya dari ku, saat aku bercermin, aku sadar, aku memang tidak pantas bersama dengannya”


“Aku sangat berterima kasih pada pesan itu, akhirnya aku mampu bercermin. Aku sadar, cinta ku salah, sehari setelah itu, aku putus dengannya tanpa memberikan alasan apapun. Menjauh demi kebaikannya. aku hanya bisa mencintainya melalui doa, berharap dia menemukan orang yang memang pantas untuknya” Sarah tersenyum pahit berusaha menahan luapan emosi yang kini terasa menusuk dalam dadanya.


“Aku berdoa agar dia selalu diberi kebahagiaan. Saat doaku dikabulkan, aku menangis. Karena sejak saat itu dia hanya akan menjadi kenangan untuk ku” ucapnya kembali menunduk


“Kamu menyesal melepaskannya?”


“Hmmm..” Sarah menggeleng


“karena aku mencintai dia, bukan ingin memilikinya. Bagiku itu sudah cukup”


Andre tersenyum bangga melihat Sarah, sedang Sarah hanya tersenyum dipaksa disela sedihnya dengan tatapan yang menggambarkan betapa pedih hatinya saat itu.


“Kamu masih mencintainya kan? Itu sebabnya kamu merasa seperti sekarang!” Andre menilai ekspresi sedih Sarah karena masih mencintai lelaki di masalalunya


”Bukan!” Sarah menghela nafasnya


“aku menangisi nasib ku! orang seperti ku seakan tidak layak untuk dicintai!” ucapnya  memandang kembali ke depan seolah ia ingin mengadu pada pohon yang kini mulai bergerak di tiup angin.


“Sar....” Andre memegang bahunya, menanggapi pemikiran Sarah seperti itu


“Seakan karena aku terlahir yatim piatu, aku tidak berhak menerima cinta” Ucap Sarah menoleh pada Andre yang duduk di sampingnya, Sarah menatapnya begitu sedih


Andre membalas tatapannya dengan sedih, ia mampu merasakan sedalam apa luka itu bagi sarah


“Aku ditinggal orang tuaku saat aku berumur satu tahun, aku dibesarkan oleh nenek ku, dan saat aku berumur sepuluh tahun nenek pun pergi, aku dibawa ke tempat paman sodara ayahku, disana aku lebih diperlakukan sebagai pembantu kecil, bukan anak ataupun keponakan oleh istri pamanku. Aku disekolahkan oleh mereka, dan aku sangat bersyukur masih ada orang yang mau menampungku, jadi aku tidak pernah meminta lebih. Aku mencari uang jajan dari bekerja sambilan membantu tetangga dekat rumah” cerita Sarah tentang dirinya


Sarah menunduk, ia berusaha menahan tangisnya


“setelah lulus SMP, aku udah gak tahan sama perlakuan bibi, dan aku mengadu pada tante ku sekarang, dia mengambil ku dari tangan paman, dan menyekolahkan ku hingga SMA, tante selalu bilang, aku harus sukses untuk membayar semua biaya hidupku selama dengannya, dia terus memotifasiku, Dia terus mendorongku menjadi orang sukses dengan berbagai cara”


Sarah menarik nafas berat. Ia hanya mengartikan perintah sang tante sebagai motivasi untuknya, tak pernah mengartikan lain karena ia menganggap perempuan itu begitu sayang padanya.


“Saat pacaran dengannya, aku berpikir paling tidak ada satu orang yang tulus dengan ku selain tante, tapi ternyata aku juga salah, dia gak pernah menganggap ku ada, bahkan malu dengan keadaanku, kehadiran Daren sangat membantu kepercayaan ku kembali. Ia selalu meyakinkan ku bahwa aku orang yang berarti untuk dia sebagai sahabat. Aku sangat menyukai Daren, menyayanginya.. tapi dia hanya sahabat ku” senyumnya pada Andre menggambarkan betapa berartinya Daren baginya.


Andre menatapnya dengan senyuman yang tak bisa Sarah gambarkan, tatapan itu terasa berbeda lagi kali ini.


“Kamu mencintai Daren?” tiba tiba Andre bertanya dengan tatapan itu

__ADS_1


Deg!


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2