
Saat membuka pintu ada seorang lelaki tampan dengan sebuah kado.
“Maaf?” tanya Daren merasa aneh, karena mereka sedang menunggu pengantar pizza bukan lelaki yang justru membawa kado cantik
Belum lagi Andre sempat merespon pertanyaan Daren.
“Berapa?” ucap Sarah mendatangi pintu
Andre seperti tersengat ribuan watt listrik. Ini kedua kalinya ia mendapati wanitanya bersama lelaki lain.
Sarah pun tak kalah Syok, ia melihat Andre yang ada di depan pintu dan Daren yang berhadapan dengannya.
Daren kini mengerti siapa lelaki itu. suami Sarah. ia pun merasa canggung.
Gerahamnya mengatup erat, matanya tajam tertuju pada Sarah dan Daren secara bergantian, jelas sudah darahnya mendidih karena cemburu. nafas itu seolah berat ia tarik karena terus mencoba menahan amukan amarah di dalam dirinya.
Kamu sama saja! Benak itu berucap menganggap Sarah dan Susan yang tak jauh berbeda.
Ia menatap Sarah penuh dengan amarah. Wajahnya memerah karena menahan emosinya pada lelaki yang ada di depannya. Tangannya mengepal kuat hingga buku buku tangannya memutih.
“Ada apa kamu kesini?” tanya Sarah memecah kesunyian tiga manusia yang merasakan emosinya masing masing. Pertanyaan itu seakan tak bersalah. Seolah tak ada kesalahan dengan perilaku Sarah yang jelas salah di mata siapapun saat itu.
Andre menatap Sarah dengan kecewa.
“D, kenalin, itu Andre” ucap Sarah tanpa menyebut status Andre
“Daren!” Daren mengulurkan tangannya. Ia melihat jelas sirat mata lelaki itu yang mengatakan amarah dalam dadanya. Uluran tangan itu disambut dengan garang oleh Andre.
“suami Sarah!” jawabnya
Daren menoleh pada Sarah yang berada disana saat tangan mereka memisah.
“Laptopnya gue bawa aja, biar gue perbaiki di rumah!” ucap Daren meninggalkan Sarah dan Andre yang masih berdiri di pintu. Ia merasa tidak nyaman saat itu.
“Gue harus ngerjain malam ini D!” Sarah ingin mengikuti Daren masuk ke dalam
Tapi tangannya langsung ditangkap oleh Andre dan menahannya
“Loe meeting jam sepuluhan, ntar subuh gue antar!” Daren sibuk memasukkan laptop dan peralatannya ke dalam tas
Andre masih menatap Sarah dalam diam, bibirnya mengatup sempurna karena takut jika terbuka bibit itu tebuka akan mengeluarkan amarah yang membara.
Sedang Sarah hanya menatapnya dengan sikap yang biasa, tak ada pancaran rasa bersalah, tak ada kekhawatiran jika Andre cemburu, ia hanya menganggap situasi itu hanya sebuah kondisi canggung yang tak nyaman.
Saat keluar kamar Daren menatap Andre sejenak. Sedang Andre menatapnya penuh kebencian. Daren pergi. Andre pun masuk ke dalam.
“Kamu ngapain malam malam kesini?” Sarah menanyakan tak mengerti dengan kehadiran Andre yang tiba tiba
“Sar.. kamu harus ingat kamu istriku!” jawab Andre dengan suara tegas
“Aku gak pernah lupa!” jawabnya dengan nada dingin
__ADS_1
“Kalo kamu gak lupa, seharusnya kamu mikir saat mengajak lelaki itu ke sini!” Jelas sudah Andre marah. Ia tak mampu lagi menahan emosinya
“Daren hanya memperbaiki laptop ku! Kamu pikir aku ngapain?” Kini Sarah yang marah seakan pertanyaan Andre yang menuduhnya melakukan hal yang bukan bukan
Andre menghela nafas mencoba menurunkan emosinya
“Aku bukan wanita murahan Ndre!! Jangan karena ciuman itu kamu anggap aku gampangan!” nada bicara Sarah kesal
“Aku bukan bilang kamu murahan, aku hanya ingin kamu ingat, bagaimana pun kita suami istri” Andre menurunkan nada bicaranya karena melihat emosi Sarah yang menyala
“Aku gak pernah lupa itu, kamu tenang aja!” Sarah duduk memalingkan wajahnya dari Andre
Mereka pun saling diam. Saling berbicara di dalam hati. Mengomel, menggerutu, menebak dan bertanya, saat ini pikiran mereka seakan sama.
Setelah diam yang lama, Sarah baru menyadari, mengapa Andre berada disana
“Kamu ngapain malam malam kesini?” ucapnya tanpa menatap Andre
“kenapa? kamu merasa kepergok?” ucapnya lagi masih dalam emosi
“tidak sama sekali!” ucap Sarah dengan senyum smirk. Senyum itu terlihat jahat dan itu menyakitkan bagi Andre
“karena aku tidak merasa melakukan kesalahan! Orang kepergok itu artinya mereka berbuat salah, sedang aku TIDAK!!” ucap Sarah menekankan kata tidak
Andre Duduk menunduk di sisi tempat tidur yang lain! Sarah pun kembali merasa bersalah dengan ucapannya yang terkesan keterlaluan.
“kamu belum jawab aku!” ucap Sarah lagi
“aku nganterin kamu laptop” ucapnya terdengar sedih
“Kenapa gak ngomong? Tau gitu aku gak minta Daren buru buru memperbaiki laptop ku!” Sarah menoleh ke Andre yang kini menunduk di belakangnya
“Tadinya pengen kasih kamu kejutan..” Ucapnya dengan nada kecewa dan seolah mengatakan justru ia yang mendapat kejutan
Sarah pun benar benar merasa bersalah.
*A*ndre pasti sangat lelah, mana perjalanan jauh malam malam begini! Benak Sarah semakin merasa bersalah. Ia pun terdiam.
“Perusahaan kamu masih disegel, kamu gak kerja kan?” akhirnya Andre mengeluarkan pikirannya
Sarah masih diam.
“Kamu pergi dari rumah apa karena ... ?” Andre ragu mengatakan pikirannya dan tidak melanjutkan kata katanya yang ingin membahas tentang ciuman mereka.
“Aku pergi karena ingin ngasih waktu sendiri buat kamu!” jawabnya setelah lama diam
“Mungkin kamu sekarang kurang nyaman dengan adanya aku di rumah, aku ingin kamu kembali memfokuskan diri kamu ke Susan, aku takut jadi pengganggu kalian” lanjutnya pelan dan merasa bersalah dengan kondisi yang Andre hadapi
“Kok bisa kamu mikir gitu?” Andre menoleh ke Sarah yang menunduk dengan raut wajah bersalah
Sarah hanya menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
“Aku gak tau aku harus ngomong apa ke kamu.. tapi soal waktu untuk sendiri yang kamu berikan, justru gak aku suka..” Ucapan Andre terdengar begitu serius dan masih menatap Sarah
Sarah pun menoleh ke Andre yang menatapnya
“Aku sering kelaparan!” Andre menunjukan raut wajah memelas dan bercanda
Sarah pun tersenyum mendengar itu. Andre pun tersenyum melihat senyum Sarah padanya.
“Sudah terbiasa dengan masakan kamu, camilan, kue kue... gak ada kamu ... bener bener menyiksa!” goda Andre yang ingin mencairkan suasana dingin mereka.
Sarah memukul kecil bahu Andre dan tertawa. Kini suasana mencair lagi.
“Kita pulang yah?” pintanya
“Aku ada meeting jam sepuluh besok!” Sarah tersenyum manis dengan raut penyesalan
“Huh... !” Terdengar keluhan Andre
“Besok kita akan bahas semuanya dengan pengacara, soalnya sidang akan dimajukan!” jelasnya lagi
Andre hanya menunjukan wajah kecewa dan raut sedih ke Sarah. Sarah pun tertawa melihat kelakuan Andre yang manis seperti biasanya.
“Tapi paling gak kita pindah, jangan disini!” pinta Andre lagi
Sarah berdiri
“Heh?” Sarah mencoba memahami maksud kata ‘kita’ pada kata kata Andre
“kamu punya uang, kamu punya kartu kredit, ngapain nginep ditempat kaya gini?” protes Andre dengan tempat kecil tak nyaman
“Makanya kamu pulang aja! Tempat seperti ini gak cocok sama kamu Ndre” jawab Sarah santai
“Ayo! Pindah ke hotel aja!” Andre berdiri dan meminta Sarah untuk pergi
“Udah malam, aku disini aja, kamu pulang aja!” Sarah menolak
“Sar.. ayolah...!” pinta Andre membujuknya dengan raut wajah lelah
Sarah pun mengalah. Malam itu mereka akhirnya menginap di salah satu hotel di sana. Sarah meminta kamar dengan double bed saat check in.
“Aku bawa buku nikah kita!” ucapnya menoleh ke Sarah yang berdiri di sampingnya saat memesan kamar
“Double bed mbak!” ucap Sarah tegas kepada petugas hotel
Andre hanya menatapnya dengan sedih dan lesu. Petugas itu pun berusaha menahan tawanya yang melihat Andre dan Sarah seolah seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar.
Pak budi sang supir pun terpaksa ikut menginap malam itu karena juragannya yang tidak pulang. Ia hanya tersenyum. Ia yakin sang tuan besok pasti akan kembali ceria.
Malam itu Sarah mengerjakan semuanya. Andre pun menemaninya Sarah menjelaskan permasalahan mereka, Andre banyak membantu saran dan mencoba menemukan kelemahan dan hal hal yang harus Sarah hindari saat memberikan data ke mereka.
Ketika Andre membantu mengecek satu persatu laporan yang menumpuk di meja Sarah. ia menoleh dan melihat istrinya itu tertidur pulas dengan tangan yang masih memegang bolpoin.
__ADS_1
Andre menatapnya, memang tidak mungkin Sarah melakukan hal seperti Susan di belakangnya. Ia baru menyadari betapa perempuan itu memiliki dedikasi yang kuat terhadap karir dan kehidupannya. Ia membawa Sarah ke tempat tidurnya. Sarah pun terlelap.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~